27/04/2020
Bertani Itu Jati Diri, Pariwisata Adalah Bonus
Sebelum pariwisata tumbuh dan berkembang, Bali merupakan daerah agraris yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Salah satu bukti peradaban tersebut adalah sistem pengairan tradisional yakni ‘subak’. Sistem ini bahkan mendapat pengakuan sebagai warisan dunia dari UNESCO. Berkembangnya pariwisata pun berawal dari keindahan alam pertanian yang dituangkan dalam sejumlah lukisan.
Model kebudayaan agraris masih ada hinga kini yang terlihat dari sarana banten. Hampir semua banten upacara agama Hindu menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan dari pertanian dan perkebunan. Masyarakat Bali memiliki kearifan lokal dalam bentuk penghormatan kepada tanaman khususnya di bidang pertanian.
Keindahan alam Bali, kebudayaan masyarakat Bali dengan keseharian warganya sebagai petani membuat wisatawan mancanegara tertarik ke Bali. Awal mulanya wisatawan ke Bali mencari tempat yang nyaman untuk berkesenian. Seperti melukis, menari dan berinteraksi dengan seniman lokal, seperti yang dilakukan Walter Spise. Seniman ini yang menginisiasi dan mengajak temannya ke Bali. Demikian seterusnya sampai ada video yang mengulas tentang keindahan Bali yang membuat wisatawan mancanegara ke Bali.
Pelan tapi pasti masyarakat Bali mulai menjadi pelaku pariwisata. Sektor pertanian ditinggalkan secara perlahan, profesi petani berganti menjadi dagang acung, sopir, pemandu wisata dan bekerja di hotel. Akhirnya kita lihat dengan jelas, semula pertanian pekerjaan utama masyarakat sekarang di dominasi pelaku pariwisata. Alasannya sederhana, bekerja di pariwisata lebih mudah mendapat uang lebih mudah, disamping gengsi, petani dianggap profesi kelas 2.
Bom Bali meledak 2002, pariwisata Bali seketika terpuruk dan masyarakat kelimpungan. Banyak pakar, praktisi mengatakan kembali ke jati diri Bali yaitu bertani. Pariwisata itu rapuh, pariwisata juga boros terhadap air dan membuat berkurangnya daya dukung lingkungan.
Setahun setelah Bom Bali, pariwisata mulai pulih. Suara yang meneriakan kembali ke jati diri Bali berangsur menguap tak terdengar. Malah 15 tahun setelah bom Bali, pariwisata reborn, tumbuh pesat dengan jumlah kunjungan wisatawan lebih banyak. Pemerintah, masyarakat dan stakeholder terbuai akan kenikmatan pariwisata. Seperti ‘kecanduan’, pertumbuhan akomodasi tak terkendali yang embuat banyak daerah yang tadinya air tanahnya belum intrusi, kini malah intrusi. Kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan semakin masif dan tidak terkendali.
Pada akhir 2019 lalu, virus corona muncul danmenjadi pandemic di tahun berikutnya . Semua terhenyak dan gagap, sektor pariwisata yang diandalkan Bali paling terpukul dengan penyakit yang disebut Covid-19. Industri pariwisata, hotel, restoran, obyek wisata dan biro perjalanan semua lumpuh total. Demikian juga efek multifliernya sudah jelas baik sekarang maupun ke depan.
Dirumahkan dan PHK mulai dilakukan. Badai krisis membayangi, uara lantang tentang pertanian kembali bergema di media sosial masyarakat Bali. Sejumlah tokoh pun kembali menyuarakan itu.
Agar tak kembali mengulang kesalahan kita saat tak mengambil momen kembali ke jati diri yakni pertanian saat Bom Bali, pemerintah sambil bekerja dari rumah merumuskan itu. Tentunya para tim ahlinya, sehingga ada roadmap atau peta jalan tentang pertanian Bali. Salah satunya dengan mengadakan moratorium perijinan akomodasi pariwisata, pengetatan rencana tata ruang wilayah yang berpihak ke pertanian dan stimulus pertanian kepada masyarakat.
Kalau bisa demikian, kita akan bisa menjadi Bali ke jati diri yakni pertanian dan pariwisata adalah bonusnya. Sehingga ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi lingkungan dan budaya selalu terjaga.
Penulis: Sukadana