19/04/2026
Industri pariwisata telah membuktikan perannya yang signifikan dalam pelestarian ekosistem, terutama pada kawasan alam yang rentan terhadap ketidakseimbangan akibat perilaku manusia sebagai “predator super” dalam rantai kehidupan.
Saya teringat masa kecil, sejak SD hingga SMA. Saat itu, bukan hal yang asing bagi kami untuk mencicipi kuah daging anak hiu. Dimasak dengan santan kelapa, berpadu dengan asam, daun kemangi, kunyit, dan serai. Aromanya menggoda, rasanya begitu nikmati bahkan mungkin yang terbaik yang pernah saya nikmati kala itu.
Namun waktu membawa perubahan.
Belakangan ini, di Labuan Bajo, kesadaran masyarakat—baik sebagai konsumen maupun nelayanan mulai tumbuh. Mereka semakin memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem bahari. Penangkapan anak hiu karang yang dulu lazim, kini hampir tidak terlihat lagi dipasar rakyat atau tempat penjualan ikan.
Sebaliknya, di salah satu pulau eksotis di Labuan Bajo, yaitu Pulau Kelor, fenomena yang berbeda justru muncul. Anak-anak hiu kini menjadi bagian dari atraksi alami yang dapat diamati sepanjang hari. Jumlahnya begitu banyak, seakan menjadi simbol harapan baru bagi laut yang lebih sehat.
Wisatawan; baik dari Eropa, Asia, maupun nusantara menikmati momen ini dengan rasa kagum. Hewan yang sering digambarkan menakutkan dalam berbagai serial seperti di Netflix, justru memperlihatkan sisi lain yang tenang, anggun, dan penuh misteri saat dilihat langsung di habitat aslinya.
Pariwisata, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar perjalanan. Ia menjadi jembatan—antara kenangan masa lalu dan kesadaran masa kini, antara eksploitasi dan pelestarian.
berat