Mabar Bicara Podcast

Mabar Bicara Podcast Media penyaluran kreatifitas dan aspirasi masyarakat dalam merespon dinamika aktual di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Its free !
(1)

Anda ingin berbagi cerita inspiratif dengan kami? Please come to MBP studio podcast di Waemata, Labuan Bajo.

Kita hampir lupa, bahwa pesona wisata pegunungan menyimpan daya pikatnya sendiri. Memang tak ada hamparan pasir putih, n...
06/05/2026

Kita hampir lupa, bahwa pesona wisata pegunungan menyimpan daya pikatnya sendiri. Memang tak ada hamparan pasir putih, namun alam pegunungan menghadirkan keindahan dalam wujud lain—formasi batuan tua yang tersusun alami, memanjang mengikuti aliran kali yang jernih.

Jika lautan memamerkan taman bunga karang yang berwarna-warni, maka pegunungan menyuguhkan rimbunnya hutan hijau yang sejuk, dipenuhi kehidupan daratan yang tumbuh dan bergerak dalam harmoni.

Di wilayah ketinggian ini, alam seakan tak pernah absen dalam berbagi energi positif. Ia memeluk setiap langkah bagi yang datang, menawarkan ketenangan, dan mengisi kembali semangat bagi siapa saja yang ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk drama kehidupan di dunia fana.

Tiwu Pano—begitulah warga setempat menamai kolam alam permanen ini. Airnya jernih, sejuk, dan menenangkan. Selama bebera...
06/05/2026

Tiwu Pano—begitulah warga setempat menamai kolam alam permanen ini. Airnya jernih, sejuk, dan menenangkan. Selama beberapa jam, kami menikmati terapi alami dari air yang mengalir langsung dari pegunungan Mbeliling.

Aroma bekal yang disiapkan dari rumah perlahan membangkitkan rasa lapar. Di atas batu kapur yang bergerigi, kami duduk bersila, menyantap nasi dengan telur, tahu, tempe, serta ayam goreng yang dimasak sejak pagi hingga tak tersisa sedikit pun.

Riak air yang mengalir berpadu dengan kicauan burung dari kanopi pepohonan, menghadirkan simfoni alam yang begitu magis, seolah menjadi persembahan istimewa bagi siang kami hari ini.

Dibawah teduh dalam ruangan ber-AC sebelum mengembara dialam bebas bersama mereka pecinta alam tropis Nusa Bunga, pulau ...
05/05/2026

Dibawah teduh dalam ruangan ber-AC sebelum mengembara dialam bebas bersama mereka pecinta alam tropis Nusa Bunga, pulau Flores.

Your journey start with local wisdom.

Sebab dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Ruang publik tersembunyi, sejuk, sunyi dan asrih yang terletak pada titik tertinggi di jantung kota Labuan Bajo saat ini...
01/05/2026

Ruang publik tersembunyi, sejuk, sunyi dan asrih yang terletak pada titik tertinggi di jantung kota Labuan Bajo saat ini adalah Natas Para Puar. Bagi kami, tempat ini sangat ideal untuk membentuk kebugaran fisik. Jalurnya dibuat mengikuti lekukan bukit, lebar dan mulus. Kendaraan hampir tidak ada disini.

Jogging, melepaskan segala kesumpekan dari energi negatif yang bertumpuk dalam diri, membiarkannya larut bersama alam adalah ritual rutin yang kami lakukan untuk memperoleh semangat baru yang dibagikan oleh alam yang kini dinamakan Para Puar.



29/04/2026

Om Strom lagi mandi di gua alam bernama Rangko.

Warna toska terlihat seketikaBersamaan cahaya matahari menjalang sore yang mengubah panorama kolam kecil didalam gua ber...
29/04/2026

Warna toska terlihat seketika
Bersamaan cahaya matahari menjalang sore yang mengubah panorama kolam kecil didalam gua berbatu kapur. Sususan batu alam seperti stalagtit dan stalagmit menambah estetika yang tak pernah tersentuh kecakapan kreativitas jemari manusia.

Di kolam alami yang mungil namun luar biasa indah itu, saya mengamati orang-orang dari berbagai belahan dunia menikmatinya. Mereka merasakan sejuknya air yang sedikit payau, sambil berbagi cerita, saling menguatkan jiwa, dan menghadirkan energi positif dalam pelukan alam.



Setelah pengamatan pelbagai jenis ikan dan terumbu karang disebuah tempat snorkeling, kapal phinisi kami berlayar kesebu...
19/04/2026

Setelah pengamatan pelbagai jenis ikan dan terumbu karang disebuah tempat snorkeling, kapal phinisi kami berlayar kesebuah pulau kecil yang ditumbuhi oleh tanaman bakau rimbun nan segar.

Tak lama setelah kami berlabuh, langit seakan hidup.

Puluhan, ratusan, hingga ribuan kelelawar pemakan buah beterbangan tanpa henti, meninggalkan pulau menuju daratan Flores. Sayap-sayap mereka membelah senja, membawa pesan alam yang tak terucapkan.

Malam ini, ratusan kilogram buah dari kebun warga akan “dipanen” oleh para penghuni langit itu—sebuah siklus alami yang terus berlangsung, antara manusia dan alam liar.

Formasi mereka berubah-ubah, membentuk tarian di cakrawala. Siluet hitam itu menjelma lukisan hidup, kontras dengan warna jingga yang perlahan tenggelam diufuk barat.

Sepuluh tamu kami terdiam, larut dalam keindahan yang tak dibuat-buat diatas deck kapal.

Hari yang dimulai dengan laut yang ramah, ditutup dengan pertunjukan alam yang megah—sebuah sore yang sederhana, namun tak terlupakan.


19/04/2026

Industri pariwisata telah membuktikan perannya yang signifikan dalam pelestarian ekosistem, terutama pada kawasan alam yang rentan terhadap ketidakseimbangan akibat perilaku manusia sebagai “predator super” dalam rantai kehidupan.

Saya teringat masa kecil, sejak SD hingga SMA. Saat itu, bukan hal yang asing bagi kami untuk mencicipi kuah daging anak hiu. Dimasak dengan santan kelapa, berpadu dengan asam, daun kemangi, kunyit, dan serai. Aromanya menggoda, rasanya begitu nikmati bahkan mungkin yang terbaik yang pernah saya nikmati kala itu.

Namun waktu membawa perubahan.

Belakangan ini, di Labuan Bajo, kesadaran masyarakat—baik sebagai konsumen maupun nelayanan mulai tumbuh. Mereka semakin memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem bahari. Penangkapan anak hiu karang yang dulu lazim, kini hampir tidak terlihat lagi dipasar rakyat atau tempat penjualan ikan.

Sebaliknya, di salah satu pulau eksotis di Labuan Bajo, yaitu Pulau Kelor, fenomena yang berbeda justru muncul. Anak-anak hiu kini menjadi bagian dari atraksi alami yang dapat diamati sepanjang hari. Jumlahnya begitu banyak, seakan menjadi simbol harapan baru bagi laut yang lebih sehat.

Wisatawan; baik dari Eropa, Asia, maupun nusantara menikmati momen ini dengan rasa kagum. Hewan yang sering digambarkan menakutkan dalam berbagai serial seperti di Netflix, justru memperlihatkan sisi lain yang tenang, anggun, dan penuh misteri saat dilihat langsung di habitat aslinya.

Pariwisata, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar perjalanan. Ia menjadi jembatan—antara kenangan masa lalu dan kesadaran masa kini, antara eksploitasi dan pelestarian.

berat

Pagi itu saya bergegas menuju salah satu hotel ternama di Labuan Bajo, yaitu Sudamala Resort Labuan Bajo. Hotel ini menj...
17/04/2026

Pagi itu saya bergegas menuju salah satu hotel ternama di Labuan Bajo, yaitu Sudamala Resort Labuan Bajo. Hotel ini menjadi pilihan tamu kami untuk beristirahat setelah empat hari perjalanan darat yang dimulai dari kawasan Gunung Kelimutu di Flores Tengah.

Setelah hampir 30 menit menunggu, rombongan wisatawan dari Eropa Utara, tepatnya Lithuania, akhirnya muncul dari arah belakang menuju lobi hotel. Saya menyapa mereka dengan hangat menggunakan bahasa mereka, “Labas rytas.” Wajah-wajah ceria itu seakan memantulkan antusiasme baru, sebab petualangan kami belum usai—kami akan mengarungi lautan biru Taman Nasional Komodo selama tiga hari dua malam menggunakan kapal phinisi, warisan arsitektur Nusantara yang dikenal sebagai Ata Bajau.

Setelah proses check-out selesai, saya bersama para tamu menaiki minibus menuju Marina Labuan Bajo. Di hadapan kami, ratusan kapal wisata berjejer tenang di atas permukaan laut berwarna biru toska, menciptakan panorama yang memukau.

Kami kemudian menaiki skoci berkapasitas 15 orang yang melaju lincah, membelah di antara kapal-kapal yang sesekali bergoyang mengikuti irama ombak. Dari kejauhan, nahkoda dan awak kapal kami terlihat melambaikan tangan. Sorak hangat mereka menyambut kedatangan kami, menghadirkan suasana akrab meski baru pertama kali bertemu.

Satu per satu, kami menaiki kapal layar bertiang dua itu—sebuah phinisi yang bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga rumah terapung yang aman, nyaman, dan penuh pesona. Selama tiga hari dua malam ke depan, kami akan menjelajahi keindahan alam tropis, baik daratan maupun baharinya, di jantung Taman Nasional Komodo, ditemani kapal indah yang sarat nilai sejarah dan budaya Nusantara.

Riuh anak-anak kampung yang berlarian di lorong sempit di tepi tanah landai, di bawah naungan pohon beringin raksasa, me...
15/04/2026

Riuh anak-anak kampung yang berlarian di lorong sempit di tepi tanah landai, di bawah naungan pohon beringin raksasa, menjadi penanda sederhana dari kebahagiaan yang tulus, kebahagiaan yang tumbuh dari kehidupan desa yang bersahaja. Tawa mereka menyambut kami, seolah menjadi salam hangat dari alam dan manusia yang hidup berdampingan pada punggung sebuah bukit.

Kami melangkah lebih dalam, dipandu oleh Bapa Pius, seorang Mosalaki—tetua adat yang dihormati menuju pelataran utama kampung.

Di hadapan kami, rumah-rumah adat tua berdiri melingkar, mengelilingi susunan batu alam berbentuk bundar dan lempeng. Di bagian tengahnya, berdiri sebuah pondok kecil yang sakral, tempat bersemayamnya tulang-belulang leluhur, yang dijaga dengan penuh penghormatan oleh generasi yang masih hidup.

Inilah Wologai, sebuah kampung tua milik masyarakat Ende Lio yang menyimpan jejak panjang peradaban.

Meski rumah-rumah adat itu kini tak lagi dihuni, ruh kehidupan masa lampau masih terasa kuat. Ukiran pada dinding dan pintu kayu memperlihatkan bentuk simbolik organ vital perempuan—payudara—yang dimaknai sebagai lambang kesuburan dan sumber kehidupan. Sebuah filosofi yang menunjukkan betapa masyarakatnya sangat menghargai alam, perempuan, dan keberlanjutan hidup.

Tak jauh dari sana, kehidupan terus berjalan. Tamu kami berjumpa dengan warga yang tengah menjemur hasil panen ladang mereka. Buah kemiri, cengkeh, dan vanili, komoditas yang menjadi bagian penting dari denyut ekonomi sekaligus warisan agraris mereka.

Di Wologai, masa lalu dan masa kini tidak saling meniadakan. Mereka justru berdampingan, bercerita dalam diam, tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.




Address

Jln. Dalu Bintang Waemata, Labuan Bajo
Komodo
86754

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mabar Bicara Podcast posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Mabar Bicara Podcast:

Share

Category