18/07/2026
Di antara riuh langkah para pelancong yang baru tiba di ruang kedatangan Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, sepasang wajah yang selama ini hanya kukenal melalui foto profil WhatsApp dan lembar paspor akhirnya benar-benar hadir di hadapanku. Mereka berjalan perlahan, masing-masing menarik koper berwarna perak menuju lobi penjemputan.
Aku melangkah menyambut mereka sambil menyebut nama keduanya.
“Selamat datang di Tanah Komodo,” sapaku hangat. “Sebuah tempat di mana jejak purbakala masih hidup berdampingan dengan denyut peradaban modern.”
Senyum lebar segera merekah di wajah mereka. Perjalanan panjang yang mereka tempuh seolah terbayar lunas saat kaki akhirnya menginjak tanah Flores. Empat hari ke depan, mereka akan menyaksikan keajaiban bentang alam, berjumpa dengan budaya yang tetap lestari, serta mendengar kisah-kisah yang tumbuh bersama angin, laut, dan pegunungan di ujung barat Pulau Flores.
Dalam perjalanan meninggalkan bandara, Ibu Mayawati mulai membuka lembar kenangannya.
“I was here in 1990, when I was young. I came with my boat. Our trip started from Sumba.”
Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang penuh nostalgia.
“After operating as a liveaboard for about five years, the boat was badly damaged and eventually sank into the ocean.”
Cerita itu membawanya kembali ke Labuan Bajo tiga puluh lima tahun yang lalu, ketika kota kecil ini masih berupa pelabuhan yang tenang dengan jalan-jalan sederhana dan perahu-perahu kayu yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat pesisir.
Kini, semuanya telah berubah.
Labuan Bajo tumbuh menjadi gerbang wisata kelas dunia. Hotel-hotel berdiri megah, marina dipenuhi kapal pesiar dan phinisi, serta wisatawan dari berbagai penjuru dunia datang untuk menyaksikan rumah terakhir komodo di habitat alaminya. Namun di balik segala perubahan itu, matahari masih terbenam di ufuk yang sama, lautnya tetap membiru, bukit-bukitnya tetap menghijau saat musim hujan, dan keramahan masyarakat Flores tetap menjadi sambutan pertama bagi setiap tamu yang datang.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami berhenti di spot foto berlatar kapal phinisi dan patung komodo yang menjadi ikon penyambutan di bandara. Sebuah foto sederhana berhasil mengabadikan senyum kami, bukan sekadar dokumentasi kedatangan, melainkan pertemuan antara kenangan masa lalu dan perjalanan baru yang akan ditulis di Labuan Bajo.
Setiap tamu membawa cerita.
Dan sebagai seorang pemandu, aku selalu percaya bahwa tugasku bukan hanya mengantar mereka menuju destinasi, tetapi juga menjadi bagian dari cerita yang kelak akan mereka kenang ketika pulang.