Mabar Bicara Podcast

Mabar Bicara Podcast Media penyaluran kreatifitas dan aspirasi masyarakat dalam merespon dinamika aktual di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Its free !
(1)

Anda ingin berbagi cerita inspiratif dengan kami? Please come to MBP studio podcast di Waemata, Labuan Bajo.

Dari dalam Gereja Stasi Cangkang, berdiri kokoh Masjid Nurul Qulbu. Pelataran keduanya hanya dipisahkan oleh ruas Jalan ...
28/07/2026

Dari dalam Gereja Stasi Cangkang, berdiri kokoh Masjid Nurul Qulbu. Pelataran keduanya hanya dipisahkan oleh ruas Jalan Labuan Bajo – Rego/Bari dan Labuan Bajo – Kuwus.

Menariknya, kedua rumah ibadah ini tidak dibangun untuk saling berebut ruang untuk mendominasi arah matahari terbit. Dengan penuh kesadaran, umat beragama membangunnya pada poros utara dan selatan, seolah memberi ruang bagi satu sama lain untuk bertumbuh dalam kedamaian.

Pemandangan ini menjadi pengingat bahwa harmoni tidak lahir karena semua orang memiliki keyakinan yang sama, melainkan karena adanya rasa hormat, saling menjaga, dan kesediaan hidup berdampingan.

Dua rumah ibadah, satu kampung, satu semangat: persaudaraan yang tidak dibangun karena kesamaan, melainkan karena saling menghormati dalam perbedaan.




berat

Perjalanan menuju Kampung Nobo bukan hanya tentang menikmati udara pegunungan yang sejuk, tetapi juga tentang bertemu de...
25/07/2026

Perjalanan menuju Kampung Nobo bukan hanya tentang menikmati udara pegunungan yang sejuk, tetapi juga tentang bertemu dengan masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai adat dan hidup berdampingan dengan alam. Begitu tiba, senyum hangat dan jabat tangan dari warga menjadi sambutan pertama bagi kedua tamu kami. Percakapan sederhana pun mengalir, membawa mereka mengenal kehidupan masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Mbeliling.

Bagi masyarakat Manggarai Barat, Mbeliling memiliki peran yang sangat penting. Hamparan hutannya menjadi paru-paru hijau sekaligus daerah tangkapan air yang mengalir hingga memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Labuan Bajo. Dari salah satu titik pandang di kampung ini, bentang hutan tropis yang luas berpadu dengan siluet gugusan pulau kepulauan Taman Nasional Komodo, menciptakan panorama yang memukau, terutama saat matahari mulai tenggelam.

Menyusuri jalan kampung, hampir setiap halaman rumah dipenuhi hasil panen yang sedang dijemur. Cengkeh dan kemiri berwarna cokelat tertata rapi di bawah sinar matahari. Aroma cengkeh yang begitu khas memenuhi udara, membuat kedua tamu kami penasaran hingga mencoba menebak tanaman apa yang menghasilkan wangi yang begitu kuat.

Kami juga memperkenalkan tanaman perkebunan lain yang menjadi sumber penghidupan masyarakat, seperti kopi, kakao, vanili, serta berbagai pohon buah-buahan yang tumbuh subur di lereng Mbeliling. Di Kampung Nobo, setiap langkah menghadirkan cerita tentang alam, budaya, dan keramahan masyarakat yang membuat perjalanan terasa lebih bermakna.

Bagi siapa pun yang ingin melihat sisi lain Labuan Bajo, Kampung Nobo adalah tempat untuk memperlambat langkah, menghirup udara pegunungan yang segar, dan merasakan hangatnya kehidupan masyarakat lokal yang masih begitu dekat dengan alam.



Ketika matahari mulai beristirahat di ufuk barat, kisah sang naga purba mulai menghidupkan imajinasi para penjelajah.War...
18/07/2026

Ketika matahari mulai beristirahat di ufuk barat, kisah sang naga purba mulai menghidupkan imajinasi para penjelajah.

Warna jingga perlahan berubah menjadi kuning keemasan, memancarkan cahaya indah dari beranda restoran yang menjadi tempat terbaik menikmati sunset sekaligus early dinner sore ini.

Di hadapan kami, gugusan kepulauan yang menjadi rumah bagi satwa langka Komodo Dragon berdiri kokoh ditemani hamparan laut biru yang menari perlahan. Gelombang kecil menyapa pantai-pantai eksotis dengan warna merah muda, putih bersih, hingga cokelat yang menghiasi pesisir Taman Nasional Komodo.

Pak Gerrit dan Ibu Mayawati tampak terpesona ketika mendengarkan cerita tentang kehidupan Komodo Dragon, sang reptil purba yang telah bertahan melewati jutaan tahun perjalanan bumi. Sebuah warisan alam yang menjadi saksi kehidupan masa lampau, jauh sebelum peradaban manusia berkembang.

Rasa kagum terpancar dari wajah mereka. Dengan penuh antusias, keduanya menantikan petualangan esok hari untuk menjelajahi habitat asli sang naga purba di alam liar Komodo National Park.

Sebuah perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang cerita, pengetahuan, dan kenangan yang dibawa pulang.

Explore the ancient land of Komodo with local stories and unforgettable experiences.

Di Bukit Cinta, aku tidak hanya mengantar mereka menuju sebuah titik pandang. Aku juga menyaksikan sebuah kisah tentang ...
18/07/2026

Di Bukit Cinta, aku tidak hanya mengantar mereka menuju sebuah titik pandang. Aku juga menyaksikan sebuah kisah tentang cinta yang telah mengakar begitu dalam di hati keduanya.

Cinta itu tidak hadir dalam ungkapan yang berlebihan. Ia tampak sederhana, namun begitu nyata. Saat jalan setapak mulai menanjak, mereka saling menopang. Ketika salah seorang melangkah lebih lambat, yang lain dengan sabar menunggu. Tatapan penuh perhatian, genggaman tangan yang hangat, dan senyum yang tak pernah pudar menjadi bahasa cinta yang mereka pahami tanpa perlu banyak kata.

Perjalanan menuju puncak Bukit Cinta memang singkat, tetapi bagiku setiap langkah mereka seolah menceritakan perjalanan hidup yang jauh lebih panjang. Mungkin inilah makna sejati sebuah pernikahan: tetap berjalan berdampingan, saling menguatkan, apa pun musim kehidupan yang sedang dilalui.

Sesampainya di puncak, hamparan Laut Flores membentang luas di hadapan kami. Gugusan pulau-pulau kecil berbaris di cakrawala, sementara Kota Labuan Bajo tampak tenang dipeluk perbukitan hijau. Angin yang berembus lembut seolah membawa kembali kenangan Ibu Mayawati ketika pertama kali mengunjungi Labuan Bajo tiga puluh lima tahun silam. Kini, ia kembali berdiri di tempat yang sama, namun dengan cerita yang semakin kaya dan cinta yang semakin dewasa.

Melihat kebersamaan mereka, aku merasa momen itu terlalu indah untuk berlalu begitu saja. Aku pun meminta izin mengabadikannya dalam sebuah foto bersama.

Di depan panorama Flores yang memesona, kami bertiga tersenyum ke arah kamera. Kelak, ketika foto itu kembali mereka lihat, mungkin yang teringat bukan hanya indahnya Bukit Cinta atau birunya Laut Flores, melainkan juga perjalanan yang telah mereka tempuh bersama, perjalanan panjang yang membuktikan bahwa cinta sejati tidak diukur dari seberapa lama waktu berlalu, tetapi dari kesediaan untuk terus berjalan berdampingan hingga akhir.

Dan bagiku, sebagai seorang pemandu wisata, setiap perjalanan selalu meninggalkan pelajaran. Hari itu, Bukit Cinta tidak hanya menghadiahkan panorama yang memukau, tetapi juga mengajarkan bahwa destinasi terindah sesungguhnya adalah hati yang tetap setia mencintai, meski telah ditempa oleh waktu.

Di tepi bukit yang menyuguhkan panorama Teluk Lembajo, tampak sebuah pulau kecil yang mencolok di antara gugusan pulau-p...
18/07/2026

Di tepi bukit yang menyuguhkan panorama Teluk Lembajo, tampak sebuah pulau kecil yang mencolok di antara gugusan pulau-pulau tandus. Hanya sedikit pohon bakau yang tumbuh di sana, namun tetap teguh berdiri, menghijau lembut meski musim kemarau baru saja menghempas kawasan itu.

Ibu Mayawati mengangkat tangan, menunjuk ke arah pulau tersebut.

“Pak Aloy, itu pulau apa namanya? Our boat was anchored there that time,” katanya, mengenang kapal wisata yang dahulu ia dan suaminya beli di Singapura pada awal perjalanan mereka menjelajahi Flores.

“Itu, Bu, masyarakat di sini menyebutnya Pulau Monyet,” jawabku. “Di sana masih hidup monyet ekor panjang. Mereka sering terlihat memetik buah-buah bakau, lalu sesekali berenang menyeberang ke pulau di sebelahnya untuk mencari makanan.”

Ibu Mayawati menatap pulau itu dengan tajam. Ia tidak lagi berkata-kata. Pandangannya seolah menembus waktu. Barangkali, kenangan petualangan pada tahun 1990-an kembali hadir di benaknya. Dari puncak bukit itu, ia menyaksikan kembali lanskap yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, masih berdiri, masih memancarkan pesona yang sama, hanya waktu yang telah berlalu.



Di antara riuh langkah para pelancong yang baru tiba di ruang kedatangan Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, sepasang waja...
18/07/2026

Di antara riuh langkah para pelancong yang baru tiba di ruang kedatangan Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, sepasang wajah yang selama ini hanya kukenal melalui foto profil WhatsApp dan lembar paspor akhirnya benar-benar hadir di hadapanku. Mereka berjalan perlahan, masing-masing menarik koper berwarna perak menuju lobi penjemputan.

Aku melangkah menyambut mereka sambil menyebut nama keduanya.

“Selamat datang di Tanah Komodo,” sapaku hangat. “Sebuah tempat di mana jejak purbakala masih hidup berdampingan dengan denyut peradaban modern.”

Senyum lebar segera merekah di wajah mereka. Perjalanan panjang yang mereka tempuh seolah terbayar lunas saat kaki akhirnya menginjak tanah Flores. Empat hari ke depan, mereka akan menyaksikan keajaiban bentang alam, berjumpa dengan budaya yang tetap lestari, serta mendengar kisah-kisah yang tumbuh bersama angin, laut, dan pegunungan di ujung barat Pulau Flores.

Dalam perjalanan meninggalkan bandara, Ibu Mayawati mulai membuka lembar kenangannya.

“I was here in 1990, when I was young. I came with my boat. Our trip started from Sumba.”

Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang penuh nostalgia.

“After operating as a liveaboard for about five years, the boat was badly damaged and eventually sank into the ocean.”

Cerita itu membawanya kembali ke Labuan Bajo tiga puluh lima tahun yang lalu, ketika kota kecil ini masih berupa pelabuhan yang tenang dengan jalan-jalan sederhana dan perahu-perahu kayu yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat pesisir.

Kini, semuanya telah berubah.

Labuan Bajo tumbuh menjadi gerbang wisata kelas dunia. Hotel-hotel berdiri megah, marina dipenuhi kapal pesiar dan phinisi, serta wisatawan dari berbagai penjuru dunia datang untuk menyaksikan rumah terakhir komodo di habitat alaminya. Namun di balik segala perubahan itu, matahari masih terbenam di ufuk yang sama, lautnya tetap membiru, bukit-bukitnya tetap menghijau saat musim hujan, dan keramahan masyarakat Flores tetap menjadi sambutan pertama bagi setiap tamu yang datang.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami berhenti di spot foto berlatar kapal phinisi dan patung komodo yang menjadi ikon penyambutan di bandara. Sebuah foto sederhana berhasil mengabadikan senyum kami, bukan sekadar dokumentasi kedatangan, melainkan pertemuan antara kenangan masa lalu dan perjalanan baru yang akan ditulis di Labuan Bajo.

Setiap tamu membawa cerita.

Dan sebagai seorang pemandu, aku selalu percaya bahwa tugasku bukan hanya mengantar mereka menuju destinasi, tetapi juga menjadi bagian dari cerita yang kelak akan mereka kenang ketika pulang.




Panorama bentang alam dari Puncak Bukit Lingko Waemata di Pusut, Desa Macing, menghadirkan pemandangan yang begitu spekt...
17/07/2026

Panorama bentang alam dari Puncak Bukit Lingko Waemata di Pusut, Desa Macing, menghadirkan pemandangan yang begitu spektakuler. Dari ketinggian, hamparan sawah Lingko membentang membentuk pola menyerupai sarang laba-laba, sebuah mahakarya lanskap budaya yang lahir dari kearifan leluhur masyarakat Manggarai.

Lingko merupakan warisan sistem pertanian komunal yang membagi tanah ulayat secara adil kepada seluruh warga adat dalam satu wilayah Gendang. Setiap bidang tanah ditata dengan rapi dan simetris, mencerminkan filosofi kebersamaan, keadilan, dan gotong royong yang telah diwariskan turun-temurun tanpa membedakan status sosial.

Pada masa lalu, proses pembagian tanah ulayat ini dipimpin oleh seorang tetua adat yang disebut Tua Teno, sosok yang memegang tanggung jawab menjaga keadilan serta memastikan setiap keluarga memperoleh hak atas lahan sesuai ketentuan adat.

Seiring perkembangan zaman, fungsi Lingko pun mengalami perubahan. Jika dahulu lahan ini dimanfaatkan untuk berbagai jenis tanaman ladang, kini sebagian besar telah beralih menjadi areal persawahan dengan sistem budidaya lahan basah yang didominasi oleh tanaman padi. Meski demikian, nilai budaya dan filosofi yang melekat pada Lingko tetap hidup sebagai identitas masyarakat Manggarai sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang memukau.

Jelajahi keindahan alam dan warisan budaya Manggarai bersama Labuan Bajo Tour Guide.

16/07/2026

Self Motivation 🔥

Di tengah derasnya arus peradaban modern yang kerap dipandang lebih menarik dan mengikuti zaman, komunitas Sanggar Compa...
15/07/2026

Di tengah derasnya arus peradaban modern yang kerap dipandang lebih menarik dan mengikuti zaman, komunitas Sanggar Compang To’e di Kampung Melo memilih untuk tetap teguh menjaga akar budayanya. Melalui pertunjukan tari tradisional dan berbagai warisan leluhur, mereka terus menghidupkan identitas masyarakat Kempo agar tidak terkikis oleh waktu.

Meski rumah adat yang berdiri hari ini telah beberapa kali mengalami pembangunan kembali sehingga sebagian unsur keasliannya telah berubah, semangat masyarakat adat Melo untuk merawat dan melestarikan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang tetap menyala. Semangat itu terus diwariskan dari generasi ke generasi melalui Sanggar Compang To’e sebagai penjaga denyut budaya di Kampung Melo.

Pagi ini, kami berkesempatan mempersembahkan kekayaan budaya tersebut kepada para wisatawan asal Portugal. Mereka diajak memasuki rumah adat yang sejak dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat adat, berdiri kokoh di tengah bentang alam Pegunungan Mbeliling yang megah.

Rumah beratap ijuk itu memiliki sebuah ukiran berbentuk tanduk pada puncak bubungannya yang disebut ngando. Ornamen ini bukan sekadar hiasan, melainkan lambang penghormatan kepada Mori Jari Dedek, Sang Pencipta yang menempati posisi tertinggi dalam sistem kepercayaan masyarakat Manggarai.

Bagi orang Manggarai, rumah adat bukan hanya ruang untuk berteduh atau beristirahat. Di sanalah kehidupan dimulai, keluarga dibesarkan, nilai-nilai diwariskan, musyawarah dilangsungkan, dan pada akhirnya manusia kembali mengakhiri perjalanan hidupnya. Rumah adat adalah ruang yang menyatukan manusia, leluhur, alam, dan Sang Pencipta dalam satu ikatan kehidupan yang utuh.

Untuk pengalaman wisata budaya autentik Manggarai, Kami menghadirkan perjalanan yang tidak hanya memperlihatkan keindahan alam, tetapi juga mengajak Anda memahami kisah, tradisi, dan kearifan masyarakat lokal yang menjadikan Labuan Bajo begitu istimewa.

15/07/2026

Siang tadi, saya berdiri di hadapan Hulu Mata Air Wae Telang, menyaksikan dengan penuh rasa syukur air yang terus memancar dari perut Ibu Bumi. Jernih dan bening, mengalir tanpa henti yang menjadi anugerah yang menghidupi masyarakat adat Gendang Bonda, Gendang Lonto, dan Gendang Reweng.

“Kembus Wae Teku – Mboas Wae Wo’ang.” Merawat mata air adalah merawat masa depan.

Address

Jln. Dalu Bintang Waemata, Labuan Bajo
Komodo
86754

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mabar Bicara Podcast posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Mabar Bicara Podcast:

Shortcuts

Share

Category