14/09/2026
Pencarian lima jurnalis dan tiga awak speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda memasuki hari keenam, Minggu (13/9/2026).
Hingga pencarian dari sisi Lampung dilakukan, keberadaan delapan orang tersebut masih belum ditemukan.
Pada hari keenam, tim SAR kembali memprioritaskan penyisiran laut setelah sebelumnya melakukan pencarian darat di Pulau Sebesi dan kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK).
RIB 02 Pos SAR Bakauheni menyisir jalur mulai dari Tanjung Tua, perairan Pulau Sebesi, GAK hingga Pulau Sangiang sebelum kembali ke Bakauheni.
Kepala Basarnas Lampung Deden Ridwansyah mengatakan, seluruh unsur SAR dioptimalkan dengan menyesuaikan sektor dan hasil pencarian sebelumnya.
"Pencarian terus kami kembangkan berdasarkan hasil evaluasi operasi sebelumnya. Setelah sejumlah wilayah darat diperiksa, penyisiran kembali dimaksimalkan di jalur perairan yang menjadi sektor pencarian," kata Deden, Minggu.
Komandan Pos SAR Bakauheni Kantor SAR Lampung Rezie Kuswara Nunyai mengatakan, pencarian dari sisi Lampung difokuskan terlebih dahulu di wilayah perairan.
"Operasi SAR hari ke-6 untuk kapal lost contact jurnalis yang hilang di perairan Gunung Anak Krakatau. Untuk hari ini pencarian area dari Bakauheni, Tanjung Tua, memasuki perairan Sebesi sampai dengan Sangiang, dan juga sampai dengan perairan Gunung Anak Krakatau," kata Rezie.
RIB 02 bergerak sekitar pukul 09.00 WIB dari Pelabuhan Muara Pilu, Bakauheni. Delapan personel berada di dalam kapal, terdiri dari empat personel Pos SAR Bakauheni, dua personel TNI AL, dan dua personel Polairud.
Penyisiran rute tersebut diperkirakan berlangsung sekitar empat jam. Jika diperlukan, tim akan kembali melakukan pencarian di pulau-pulau terdekat.
"Area darat Sebesi dan Krakatau sudah dilakukan kemarin. Hari ini kami fokus di perairan dulu sampai siang secara tentatif. Kalau masih diperlukan turun kembali, kami akan turun ke pulau-pulau terdekat dari area pencarian," jelas Rezie.
Pencarian hari keenam berlangsung dengan kondisi laut yang cukup menantang. Tim melaporkan cuaca berkabut, arus kencang, gelombang sekitar 0,5 hingga 1 meter, serta kecepatan angin 10–12 knot.
Meski ketebalan abu vulkanik di udara disebut telah jauh berkurang, tim tetap mendekati sejumlah pulau yang menjadi prioritas untuk memastikan tidak ada tanda-tanda keberadaan korban.
"Ketebalan debu di udara sangat berkurang. Tapi untuk area tertentu, di beberapa pulau kami dekati dan kami cek sebagai prioritas. Apabila ditemukan tanda-tanda, akan kami laporkan kembali," ujarnya.
Namun, hingga laporan terakhir, pencarian dari sisi Lampung masih belum membuahkan hasil.
"Untuk hari ini pencarian masih nihil," kata Rezie.
Selain RIB 02, pencarian dari unsur Lampung diperkuat KN SAR Basudewa yang bersama KN SAR Antasena bergerak di Sektor Z dengan luas area sekitar 809 nautical mile persegi (NM²).
Secara keseluruhan, operasi SAR hari keenam membagi pencarian laut ke dalam enam sektor dengan total luas sekitar 3.947 NM². Pencarian udara dilakukan di Sektor H seluas 2.063 NM² dengan dukungan helikopter HR-3604 dan dua drone thermal Basarnas.
Deden mengatakan, pengerahan berbagai unsur tersebut dilakukan agar pencarian dapat dilakukan melalui sejumlah metode.
"Kami terus mengoptimalkan pencarian dari berbagai unsur dan sarana yang ada. Tujuannya satu, menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian," ujarnya.
Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri dari tiga awak speedboat, yakni kapten Warta (55), ABK Surakman (60), dan guide Heriyanto (49).
Lima lainnya merupakan jurnalis dan pekerja media, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan pekerja freelance.
Mereka sebelumnya berangkat dari kawasan Carita, Pandeglang, Banten, menuju Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi.
Kontak dengan speedboat tersebut terputus pada Senin (7/9/2026) sore.
Hingga memasuki hari keenam, delapan orang tersebut masih berstatus Dalam Pencarian (DP).
Tim SAR gabungan dari unsur laut, udara, dan darat terus melakukan penyisiran di sejumlah sektor perairan Selat Sunda.