10/08/2026
Siapa tak kenal Monas? Ikon Jakarta yang puncaknya dihiasi lidah api
berlapis emas murni seberat 38 Kg (saat awal pembangunan).
Tapi tahukah kamu? Dari 38 Kg emas itu,
28 Kg-nya disumbangkan oleh SATU ORANG saja. Siapa orang super kaya yang berhati mulia itu?
Namanya Teuku Markam. Seorang pengusaha asal Aceh yang sangat sukses dan nasionalis.
Dia adalah sahabat dekat Presiden Soekarno.
Saking cintanya pada Indonesia, ketika Soekarno ingin membangun Monas, Markam tanpa ragu menyumbangkan 28 Kg emas murni miliknya. Ingat, 28 Kg emas jaman dulu
nilainya tak terhingga!
Di era Orde Lama, Markam adalah "Crazy Rich" yang sesungguhnya.
Perusahaannya, PT Karkam, menguasai ekspor-impor dan membiayai banyak proyek negara. la hidup mewah, dihormati,
dan menjadi aset bangsa. Tapi, roda nasib berputar kejam saat tahun 1965 tiba.
Saat kekuasaan Soekarno runtuh dan Orde Baru naik, kedekatan Markam
dengan Soekarno menjadi petaka.
la dituduh sebagai koruptor dan antek PKI,
sebuah tuduhan umum untuk menyingkirkan
orang-orang pro-Soekarno. Tanpa pengadilan yang jelas, pahlawan penyumbang emas ini
akhirnya ditangkap.
Tahun 1966 adalah awal kisah tragis ini dimulai. Teuku Markam dijebloskan ke penjara
selama 8 tahun. Hartanya? Dirampas habis.
Perusahaannya diambil alih pemerintah
dan dijadikan BUMN.
Rumah, tanah, mobil, semua disita.
Sang penyumbang emas kini tak punya apa-apa selain baju di badan.
Saat bebas tahun 1974, Markam bukan lagi siapa-siapa. Namanya sudah hancur, dicap sebagai pengkhianat negara.
la mencoba bangkit dan menuntut keadilan
untuk mengembalikan aset-asetnya, tapi sia-sia. Negara seolah lupa bahwa emas yang berkilauan di puncak Monas itu adalah hasil keringatnya.
Tahun 1985, Teuku Markam berp**ang dalam sunyi, membawa luka hati yang tak sempat
sembuh oleh zaman.
Tragisnya, hingga detik ini, jutaan pasang mata berpose bahagia di bawah bayang-bayang Monas, tanpa pernah tahu bahwa ada nama besar yang dikorbankan demi emas di puncaknya. la memberi cahaya bagi ibu kota,
namun namanya dibiarkan meredup
dalam kegelapan sejarah.
Kisah Teuku Markam adalah bukti kejamnya politik. Jasa setinggi gunung, sirna oleh politik
yang tak kenal ampun.
Teuku Markam adalah bukti bahwa pengorbanan seringkali dibayar dengan kesunyian. Maafkan kami yang telat berterima kasih, Pak Markam.
Cahayamu tetap abadi di puncak tertinggi ibu kota.