Cahaya Sunnah Kotamobagu

Cahaya Sunnah Kotamobagu referensi :
rujukanmuslim.com
ilmusyari.com
salafy.or.id
Asysyariah.com
salafipublications.com
darussalaf.com

📡📚 HADIRILAH KAJIAN ISLAM ILMIAH KOTA KOTAMOBAGU
31/12/2025

📡📚 HADIRILAH KAJIAN ISLAM ILMIAH KOTA KOTAMOBAGU

24/12/2025

📢📚 HADIRILAH DAUROH KAJIAN ISLAM ILMIAH KOTA KOTAMOBAGU

Insyaallah bersama,
🎙️Al-Ustadz Adnan bin Abdul Majid Mampa hafidzahullah

STOP KDRTRumah tangga dibangun di atas kasih dan kelembutan. Karena itulah syariat melarang segala bentuk kekerasan terh...
10/12/2025

STOP KDRT

Rumah tangga dibangun di atas kasih dan kelembutan. Karena itulah syariat melarang segala bentuk kekerasan terhadap istri. Nabi ﷺ bersabda:

«لَا تَضْرِبُوا إِمَاءَ اللَّهِ»
(“Janganlah kalian memukul para wanita hamba Allah.”)
(Sunan Abi Dawud, no. 2146)

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

«مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً»
(“Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya, termasuk wanita.”)
(Sahih Muslim, no. 2328)

Imam Nawawi menegaskan dalam syarahnya:
“Hadis ini menunjukkan tercelanya memukul istri dan bahwa itu termasuk akhlak buruk.”
(Syarh Sahih Muslim, 15/84)

Imam Malik rahimahullah berkata:

«الرَّجُلُ يَضْرِبُ امْرَأَتَهُ ضَرْبًا شَدِيدًا هُوَ مِنَ الْفُسُوقِ»
(“Seorang lelaki yang memukul istrinya dengan keras adalah perbuatan fasik.”)
(Al-Mudawwanah al-Kubra, 2/243)

KEKERASAN ADALAH TANDA KEFASIKAN, BUKAN KEPEMIMPINAN

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata:
“Memukul istri dengan pukulan keras adalah haram dan termasuk kezaliman.”
(Majmu‘ Fatawa Ibn Baz, 21/280)

Syaikh Al-Albani berkata dalam Adab az-Zifaf:
“Memukul (istri) bukan termasuk akhlak orang mulia.”
(Adab az-Zifaf, hlm. 203)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menegaskan:
“Hukum asalnya adalah tidak boleh memukul istri. Kalaupun ada kondisi tertentu, syaratnya sangat ketat, dan meninggalkannya lebih utama.”
(Syarh Riyadhus Shalihin, 3/131)

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata:
“Kezaliman di dalam rumah lebih berat dosanya karena keluarga adalah amanah.”
(Al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan, 5/223)

Lajnah Da’imah memfatwakan:
“Tidak boleh bagi suami menyakiti istrinya baik dengan pukulan maupun penghinaan.”
(Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 19/371)

Rumah tangga yang aman adalah amanah Allah; dan amanah tidak dijaga dengan kekerasan.

PENUTUP
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah kezaliman yang dilarang syariat, bertentangan dengan akhlak Rasulullah ﷺ, dan membawa kerusakan besar dalam keluarga. Islam menghendaki rumah yang berdiri di atas rahmat, bukan rasa takut.

https://t.me/ponselmuslim/5118
https://whatsapp.com/channel/0029VaCNkCqLikg4WOZkJf2B

06/12/2025

🌾🌾SABARLAH BERSAMA ORANG SALEH

Allah 'azza wa jalla berfirman,

وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطٗا

"Dan bersabarlah dirimu bersama orang yang menyeru Rabbnya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas."

{QS. Al Kahf:28}

•┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈•
Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'dy rahimahullah mengatakan,

ففيها الأمر بصحبة الأخيار، ومجاهدة النفس على صحبتهم، ومخالطتهم وإن كانوا فقراء فإن في صحبتهم من الفوائد، ما لا يحصى.

"Di dalam ayat ini terkandung perintah untuk berteman dengan orang yang baik, serta memaksa diri untuk berteman dan bergaul dengan mereka, meski mereka fakir. Sebab, berteman dengan mereka memiliki faedah yang tidak bisa dihitung."

📚 Tafsir As Sa'dy

•┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈•
وأقل ما تستفيده من الجليس الصالح -وهي فائدة لا يستهان بها-أن تكف بسببه عن السيئات والمعاصي، رعاية للصحبة، ومنافسة في الخير، وترفعاً عن الشر، وأن يحفظك في حضرتك ومغيبك، وأن تنفعك محبته ودعاؤه في حال حياتك وبعد مماتك، وأن يدافع عنك بسبب اتصاله بك، ومحبته لك.

Faedah minimal yang bisa engkau dapatkan dari teman duduk yang saleh —dan ini bukan faedah yang remeh— engkau tidak melakukan kejelekan dan kemaksiatan dalam rangka menjaga pertemanan, berlomba dalam kebaikan, dan menjauhi kejelekan. Dia akan menjagamu saat engkau ada maupun tidak (misal ketika dighibahi,pent.). Kecintaan dan doanya akan memberikan manfaat bagimu, saat engkau masih hidup atau sudah mati. Dia pun akan membelamu disebabkan hubungannya denganmu dan kecintaan kepadamu."

📚 Bahjatu Qulubil Abrar

•┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈•


t.me/majalahtashfiyah

24/11/2025

Memang benar ungkapan "dosa ditanggung masing2"

tapi jangan salahkan mereka yg ikut menegur dan mengingatkan mu,

karena mereka hanya menjalankan kewajiban yg mereka yakini sesuai kapasitas dan kemampuannya masing2.

karena Allah ta'ala memerintahkan hal itu didalam firmannya dalam surat al imron ayat 110
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 49]

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat,"

mari terus saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran dalam menjalankan kebaikan tersebut, serta saling mengingatkan akan keburukan dan menjauhinya.
semoga kita menjadi hamba yg lebih baik lagi... Aamiin 🤲

Wallahul muwafiq...

LGBT, Sebab Kehancuran & Disegerakannya AzabLGBT (le***an, gay, biseksual, dan transgender) adalah perbuatan keji yang s...
23/11/2025

LGBT, Sebab Kehancuran & Disegerakannya Azab

LGBT (le***an, gay, biseksual, dan transgender) adalah perbuatan keji yang sangat dilarang dalam agama Islam. Perbuatan lelaki mendatangi sesama lelaki untuk melampiaskan syahwat, demikian p**a sesama wanita; bahkan—naudzubillahi min dzalik—mengganti kelamin laki-laki dengan perempuan; adalah perbuatan keji yang menyalahi syariat, kodrat, fitrah yang suci, dan akal sehat.

Allah Mengazab Kaum S***m
Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Luth alaihis salam kepada sebuah kaum yang melegalkan perbuatan homoseksual. Sebuah perbuatan keji[1] yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sejak zaman Nabi Adam alaihis salam. Nabi Luth alaihis salam mendakwahi kaumnya dengan melarang mereka dari perbuatan yang sangat keji tersebut.

Namun, ternyata kaumnya tidak menginginkan kebaikan. Tidak hanya menolak nasihat Nabi Luth alaihis salam, tetapi mereka juga menentang, melawan, dan mengancam akan mengusirnya; jika Nabi Luth alaihis salam terus saja melarang mereka dari perbuatan homoseksual.

Akhirnya, Allah subhanahu wa ta’ala menyegerakan azab di dunia (sebelum di akhirat), dengan suatu azab yang belum pernah Dia timpakan kepada kaum-kaum sebelumnya. Azab yang sangat dahsyat. Allah subhanahu wa ta’ala menjungkirbalikkan bumi yang mereka pijak. Allah subhanahu wa ta’ala tenggelamkan mereka ke dalam bumi. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala hujani mereka dengan batu-batu yang terbakar.

Begitu mengerikannya azab tersebut, sampai-sampai membuat hati ini takut seandainya kejadian tersebut berulang. Ya, seorang muslim yang baik tentu akan bersungguh-sungguh mengambil pelajaran dan ibrah dari kisah ini.

Karena begitu pentingnya, Allah subhanahu wa ta’ala mengabadikan kisah kaum S***m[2], perbuatannya, penentangan mereka setelah didakwahi, serta peristiwa turunnya azab Allah subhanahu wa ta’ala dan kehancurannya; sedikitnya di 9 tempat dalam al-Qur’an, yaitu pada surah al-A’raf: 80–84, Hud: 69–83, al-Hijr: 58–78, al-Anbiya: 71–75, asy-Syu’ara: 160–175, an-Naml: 54–59, al-Ankabut: 28–35, ash-Shaffat: 133–138, dan al-Qamar: 33–39.

Hikmah dan Tujuan Pengulangan Kisah dalam al-Qur’an
Tidak seperti para aktivis LGBT yang menganggap bahwa pengulangan kisah Nabi Luth alaihis salam hanyalah “cerita penghibur” untuk menguatkan mental Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam menghadapi penolakan Quraisy; pengulangan suatu kisah dalam al-Qur’an memiliki beberapahikmah nan mulia, di antaranya:

Menjelaskan tentang urgensi dan pentingnya kisah tersebut. Sebab, diulanginya (kisah-kisah tersebut) menunjukkan perhatian yang serius terhadap kisah tersebut.
Penegasan dan penguatan terhadap kisah tersebut, agar kukuh dan menetap di hati-hati manusia.
Menunjukkan balaghah al-Qur’an (gaya bahasa dan sastra yang tinggi lagi mulia) ketika menyebutkan kisah-kisah dengan bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan tuntutan kondisi.
Menampakkan kebenaran al-Qur’an, dan bahwasanya al-Qur’an datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala semata, ketika menyebutkan kisah-kisah dengan berbagai bentuk tanpa ada saling kontradiksi. (Lihat Ushul fi at-Tafsir hlm. 52)

Kisah Kaum Nabi Luth dalam al-Qur’an
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَمَّا جَآءَتۡ رُسُلُنَا لُوطًا سِيٓءَ بِهِمۡ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ

“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) kepada Luth alaihis salam, dia merasa cemas dan sempit dadanya karena kedatangan mereka, seraya berkata, ‘Ini adalah hari yang amat sulit’.” (Hud: 77)

Awalnya, Nabi Luth alaihis salam belum mengetahui bahwa para tamu tersebut adalah para malaikat yang menjelma dengan wujud pemuda yang tampan lagi gagah. Rasa cemas pun menghinggapi beliau, karena kaum S***m adalah orang-orang yang menyukai sesame jenis. Beliau khawatir nantinya para tamu tersebut akan dijadikan objek pelampiasan syahwat bejat mereka.

وَجَآءَهُۥ قَوۡمُهُۥ يُهۡرَعُونَ إِلَيۡهِ وَمِن قَبۡلُ كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطۡهَرُ لَكُمۡۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُخۡزُونِ فِي ضَيۡفِيٓۖ أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٌ رَّشِيدٌ

Dan kaumnya mendatanginya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth alaihis salam berkata, “Hai kaumku, inilah putri-putriku. Mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah seorang pun di antara kalian yang berakal?” (Hud: 78)

Ketika melihat para tamu itu, mereka bersegera menemui Nabi Luth alaihis salam untuk memintanya menyerahkan tamu-tamu tersebut. Mereka bertekad melakukan perbuatan yang sangat keji tersebut. Sebuah kemungkaran yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh seorang pun di muka bumi ini.

Nabi Luth alaihis salam pun berusaha menasihati kaumnya supaya mereka takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seraya menyebutkan “putri-putrinya”. Yang dimaksud beliau adalah kaum wanita secara umum karena para nabi adalah “ayah” bagi umatnya[3]. Beliau juga mengingatkan bahwa seharusnya kecenderungan mereka adalah kepada lawan jenis, bukan sesame jenis.

Perkataan beliau ini pun tidak dipahami sebagai tawaran, tetapi untuk menghentikan rencana mereka dan mengembalikan mereka kepada fitrah manusia.

قَالُواْ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ٧٩ قَالَ لَوۡ أَنَّ لِي بِكُمۡ قُوَّةً أَوۡ ءَاوِيٓ إِلَىٰ رُكۡنٍ شَدِيدٍ

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” Luth alaihis salam berkata, “Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).” (Hud: 79—80)

Nasihat Nabi Luth alaihis salam tak lantas membuat mereka tersadar untuk kembali kepada fitrahnya. Mereka justru menentang, seraya menegaskan bahwa nafsu syahwat mereka memang untuk dilampiaskan kepada sesama jenis, bukan kepada selain jenis. Benar-benar kesesatan di atas kesesatan.

Tidak hanya menolak nasihat, tetapi mereka juga menentang dan tetap bersikukuh mempertahankan kebejatannya dan tidak mau kembali kepada al-haq (kebenaran).

قَالُواْ يَٰلُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَن يَصِلُوٓاْ إِلَيۡكَۖ فَأَسۡرِ بِأَهۡلِكَ بِقِطۡعٍ مِّنَ ٱلَّيۡلِ وَلَا يَلۡتَفِتۡ مِنكُمۡ أَحَدٌ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَۖ إِنَّهُۥ مُصِيبُهَا مَآ أَصَابَهُمۡۚ إِنَّ مَوۡعِدَهُمُ ٱلصُّبۡحُۚ أَلَيۡسَ ٱلصُّبۡحُ بِقَرِيبٍ ٨١ فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا جَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ ٨٢ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٍ

Para utusan (malaikat) berkata, “Hai Luth alaihis salam, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu. Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu. Oleh karena itu, pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikutmu pada akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab sebagaimana yang menimpa mereka. Karena sesungguhnya, waktu jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”

Maka tatkala azab Kami datang, Kami balikkan bagian atas negeri kaum Luth alaihis salam itu menjadi terbalik ke bawah. Dan Kami hujani mereka secara bertubi-tubi, dengan batu dari tanah yang dibakar. Yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (Hud: 81—83)

Demikian sekilas kisah kaum Nabi Luth alaihis salam yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam surah Hud. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi taufik dan petunjuk kepada kita agar bisa mengambil pelajaran dan ibrah, sehingga kita bisa menentukan langkah dan sikap terkait dengan perkembangan LGBT di negeri Indonesia yang kita cintai ini.

Pelajaran dari Kisah Nabi Luth alaihis salam
Kisah-kisah kaum Nabi Luth alaihis salam di tempat-tempat yang lain dalam al-Qur’an juga mengandung pelajaran dan ibrah yang sangat berharga bagi orang-orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan jujur keimanannya.

Di antara pelajaran berharga tersebut adalah:

Perbuatan homoseksual kaum LGBT serupa dengan perbuatan homoseksual kaum S***m.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman secara jelas dan gamblang tentang perbuatan kaum S***m.

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ

Dan (Kami juga telah mengutus)Luth alaihis salam (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (al-A’raf: 80—81)

أَتَأۡتُونَ ٱلذُّكۡرَانَ مِنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٥ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ عَادُونَ

“Mengapa kalian mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kalian tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Rabb kalian untuk kalian? Bahkan, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (asy-Syu’ara: 165—166)

Apabila demikian keadaan kaum S***m, lantas apa bedanya perbuatan homoseksual kaum LGBT yang ada pada masa kita sekarang dengan mereka?

Ini sekaligus bantahan bagi pihak-pihak yang mengatakan, “Itu kan bukan LGBT…” atau “Jangan samakan perbuatan kaum S***m dengan LGBT.”

Bersamaan dengan perbuatan keji di atas, kaum S***m juga melakukan kesyirikan, dosa yang paling besar.
Dalam surah yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang kaum S***m,

أَتَأۡتُونَ ٱلذُّكۡرَانَ مِنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٥ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَإِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ مُّسۡرِفُونَ

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (al-A’raf: 81)

Demikian p**a dalam surah asy-Syu’ara ayat 165—166 di atas.

Imam Qurthubi menjelaskan bahwa maksud dari “melampaui batas” adalah mengumpulkan dua perbuatan, yaitu syirik dan perbuatan keji (homoseksual). (Tafsir Qurthubi 9/279)

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Nabi Luth alaihis salam berdakwah menyeru kepada jalan Allah subhanahu wa ta’ala untuk beribadah hanya kepada-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Beliau juga menyeru untuk menaati rasul yang Allah subhanahu wa ta’ala utus kepada mereka. Beliau pun melarang bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan melakukan perbuatan yang pertama kalinya dilakukan di alam ini, yang belum pernah dilakukan suatu makhluk pun sebelum mereka; yaitu mendatangi laki-laki untuk memuaskan syahwatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir 6/157)

Ini sekaligus bantahan terhadap pihak-pihak yang menyatakan bahwa azab yang ditimpakan kepada kaum S***m bukan akibat dari perbuatan homoseksual.

Allah subhanahu wa ta’ala mengungkapkan tentang kaum S***m dan perbuatan mereka dengan sejelek-jelek lafadz pengungkapan.
Di antaranya adalah,

ٱلۡفَٰحِشَةَ

“perbuatan keji” (al-A’raf: 80, al-Ankabut 28),

يَعۡمَلُونَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِۚ

“melakukan perbuatan-perbuatan yang keji” (Hud: 78),

قَوۡمٍ مُّجۡرِمِينَ

“kaum yang berdosa” (al-Hijr: 58),

قَوۡمٌ مُّسۡرِفُونَ

“kaum yang melampaui batas” (al-A’raf: 81),

قَوۡمٌ عَادُونَ

“orang-orang yang melampaui batas” (asy-Syu’ara: 166),

لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ

“sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)” (al-Hijr: 72),

ٱلۡخَبَٰٓئِثَۚ

“perbuatan yang menjijikkan” (al-Anbiya: 74),

قَوۡمَ سَوۡءٍ فَٰسِقِينَ

“kaum yang jahat lagi fasik” (al-Anbiya: 74),

ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

“kaum yang berbuat kerusakan itu” (al-Ankabut: 30),

ظَٰلِمِينَ

“orang-orang yang zalim” (al-Ankabut: 31),

يَفۡسُقُونَ

“mereka berbuat fasik” (al-Ankabut: 34),

Setelah penjelasan al-Qur’an yang sedemikian gamblang, apakah masuk akal jika para aktivis pembela LGBT berujar, “LGBT ini adalah perbuatan normal”, “Sah-sah saja seorang memilih menjadi LGBT”, “Yang penting tidak mengganggu hak orang lain”?

Apakah mereka yang berhak untuk menghukumi suatu perbuatan makhluk yang bernama manusia sebagai sesuatu yang “normal”, ataukah Allah, Sang Khaliq Yang Maha Pencipta? Mahasuci Allah subhanahu wa ta’ala atas apa yang mereka katakan.

Orang yang ridha (apalagi mendukung) LGBT, bisa-bisa dia ikut terkena azab walaupun dia sendiri tidak ikut melakukannya.
Kami tidak yakin bahwa orang-orang yang mendukung, membela, ikut mempropagandakan, bahkan mencarikan dalil pembenar perbuatan LGBT; semuanya ikut melakukan perbuatan keji tersebut. Namun, coba kita perhatikan kisah istri Nabi Luth alaihis salam.

Dia tidak ikut melakukan perbuatan tersebut. Dia hanya menginformasikan kepada kaum S***m tentang kedatangan tamu-tamu Nabi Luth alaihis salam. Dia lebih memilih untuk mengkhianati suaminya yang seorang nabi. Apa kesudahannya? Ternyata Allah subhanahu wa ta’ala juga mengazab istri Nabi Luth alaihis salam dengan azab yang sama.

Baca p**a:

Jangan Diamkan LGBT!

Dalam Majmu’ Fatawa (15/344) disebutkan,

وَمَنْ رَضِيَ عَمَلَ قَوْمٍ حُشِـرَ مَعَـهُمْ، كَمَا حُشِرَتْ امْرَأَةُ لُوطٍ مَعَهُم وَلَم تَكُنْ تَعْمَلُ فَاحِشَةَ اللِّوَاطِ، فَإنَّ ذَلِكَ لَا يَقَعُ مِنَ المَرْأَةِ، لَكِنَّهَا لَمَّا رَضِيَتْ فِعْلَهُم عَمَّهَا العَذَابُ مَعَهُمْ

“Siapa saja yang ridha terhadap perbuatan suatu kaum, dia akan dikumpulkan bersama mereka, seperti istri Nabi Luth alaihis salam dikumpulkan bersama mereka padahal dia tidak pernah melakukan liwath (sodomi) karena hal itu memang tidak bisa dilakukan oleh wanita. Akan tetapi, ketika dia ridha dengan perbuatan mereka, azab pun menimpanya bersama mereka.”

Oleh karena itu, hendaknya pihak-pihak yang terus mempropagandakan LGBT segera berhenti dan bertobat kepada Allah. Tidakkah kalian takut azab Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat pedih?

Begitu p**a jika kita tanya mereka, “Apakah Anda rela jika hal itu terjadi kepada orang-orang yang Anda sayangi? Sudikah perbuatan itu menimpa buah hati Anda? Bagaimana jika menimpa saudara/saudari kandung Anda?”

Tentu, manusia yang masih lurus fitrah dan akal sehatnya akan marah mendengar pertanyaan tersebut. Jika demikan, mengapa masih ada saja pihak-pihak yang membela LGBT dan mempropagandakannya?

أَلَيۡسَ مِنكُمۡ رَجُلٌ رَّشِيدٌ

“Tidakkah ada satu saja di antara kalian, seorang yang masih lurus akalnya?” (Hud: 78)

Azab yang menyiksa kaum S***m belum pernah Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada siapa pun dari umat-umat yang ada. Hukuman bagi para pelakunya juga khusus.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ٧٣ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ

“Mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.” (al-Hijr: 73—74)

فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّيۡحَةُ مُشۡرِقِينَ ٧٣ فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَافَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا جَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ ٨٢ مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَۖ وَمَا هِيَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ بِبَعِيدٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth alaihis salam itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (Hud: 82—83)

Setelah kaum S***m menolak dan menentang nasihat Nabi Luth alaihis salam, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan azab-Nya. Jika sedikit saja mentadaburi kisah kaum S***m, kita akan mengetahui bahwa jenis azab yang menimpa mereka sangat dahsyat dan mengerikan, serta membuat hati bergetar takut. Silakan merujuk kepada ayat-ayat yang telah kami sebutkan.

Negeri mereka dijungkirbalikkan sedemikian rupa sampai-sampai bagian atasnya menjadi bagian bawahnya. Mereka ditenggelamkan ke dalam bumi dan dihujani dengan batu-batu api yang amat panas. Kondisi azab yang demikian berlangsung terus-menerus tanpa henti.

Hukuman bagi orang-orang yang melakukan perbuatan kaum S***m pada umat ini juga sangat berat. Para ulama mengatakan,

“Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah menguji seorang pun sebelum kaum Luth alaihis salam dengan dosa besar ini. Allah subhanahu wa ta’ala menghukum mereka dengan suatu azab yang tidak pernah Dia timpakan kepada satu umat pun selain mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala gabungkan pada mereka berbagai bentuk azab: tempat tinggal mereka dihancurkan dan dijungkirbalikkan di atas mereka sendiri, tempat tinggal mereka ditenggelamkan ke dalam bumi, dan diturunkan hujan batu dari langit. Allah subhanahu wa ta’ala membalas mereka dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada umat-umat sebelum mereka. Hal ini terjadi karena besarnya kerusakan dosa mereka.

Hampir-hampir bumi ini bergoncang karena hal itu terjadi di atasnya. Para malaikat pun berlari menuju ujung-ujung langit dan bumi saat mereka melihat perbuatan itu karena takut mereka ikut tertimpa azab yang turun saat itu terhadap pelakunya.” (Lihat al-Jawabul Kafi hlm. 183—185)

Para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah sepakat bahwa hukuman had untuk pelaku dosa itu (homoseksual) adalah hukuman mati. Hanya saja, mereka berbeda pendapat dalam praktik eksekusi hukuman matinya. Sebagian mengatakan bahwa pelaku dihukum dengan dicarikan tempat tertinggi; kemudian dijatuhkan dari tempat tersebut lalu dilempari dengan batu; agar sama dengan nasib kaum Nabi Luth alaihis salam yang dihukum oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan hukuman tersebut.

Ulama lain mengatakan hukumannya dibunuh tidak dengan cara yang disebutkan sebelumnya, yakni hanya dibunuh saja, misal dengan pedang. Intinya adalah hukuman mati. Hal ini sudah menjadi ijmak (kesepakatan) para sahabat. Tidak ada maksiat yang kerusakannya lebih besar daripada kerusakan homoseks. Tingkat kerusakan homoseks tepat setelah kerusakan yang ditimbulkan oleh kekafiran. Bahkan, terkadang perbuatan ini lebih parah kerusakannya daripada dosa pembunuhan. (Lihat al-Jawabul Kafi hlm. 183—185)

Perbuatan kaum Luth alaihis salam belum pernah dilakukan sebelumnya oleh seorang pun di dunia ini.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth alaihis salam (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” (al-A’raf: 80)

Pada ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٍ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Dan (ingatlah) ketika Luth alaihis salam berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu.” (al-Ankabut: 28)

Sungguh, sekadar membayangkan saja, sudah membuat bulu kuduk berdiri dan merinding. Manusia yang normal dan fitrahnya lurus, tidak akan terbetik sedikit pun dalam hatinya untuk membayangkannya, apalagi melakukan.

Sampai-sampai salah seorang khalifah dari Bani Umayyah, Walid bin Abdul Malik mengatakan, “Seandainya Allah azza wa jalla tidak menceritakan kisah kaum Luth alaihis salam di dalam al-Qur’an, aku tidak menyangka ada seorang lelaki yang ‘menunggangi’ lelaki.”

Bahkan, hewan pun tidak melakukan perbuatan keji tersebut. Diriwayatkan bahwa Ibnu Sirin (seorang ulama tabi’in) mengatakan, “Hewan-hewan tidak ada yang melakukannya kecuali babi dan keledai.”[4]

Kedua binatang ini sering disebut dengan beragam sebutan tercela. Hewan-hewan inilah yang melakukannya.

[1] Dalam al-Qur’an, perbuatan kaum S***m diungkapkan dengan redaksi yang bermacam-macam, seperti fahisyah (perbuatan yang sangat keji), khabaits (perbuatan yang menjijikkan), dll. Semuanya menunjukkan makna yang sangat buruk.

[2] Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Luth diutus mendakwahi penduduk S***m (سَدُوم), lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/444.

[3] Setiap nabi adalah ayah bagi umatnya, sebagaimana keterangan Imam Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil (4/191–192).

[4] Lihat Tafsir al-Qurthubi 9/278



Ditulis oleh Ustadz Abu Ismail Arif

sumber https://asysyariah.com/lgbt-sebab-kehancuran-disegerakannya-azab

PERTEMUAN ASATIDZAH DENGAN ULAMA MADINAH *Petuah-Petuah Ulama*Rabu pagi 21 Jumadal Ula 1447 H. 12 November 2025. Alhamdu...
19/11/2025

PERTEMUAN ASATIDZAH DENGAN ULAMA MADINAH

*Petuah-Petuah Ulama*

Rabu pagi 21 Jumadal Ula 1447 H. 12 November 2025. Alhamdulillah Syaikh Ahmad Az Zahrani berkenan menerima.

Beliau menjanjikan untuk menyambut rombongan ustadz-ustadz dari Indonesia setelah salat Isya di Masjid Bin Ubaid, Syisah, Mekkah. Beliau imam dan khatib tetap di sana.

Syaikh Az Zahrani 30 tahun bermulazamah dengan Syaikh Rabi' bin Hadi. Di tahun-tahun terakhir, salam dan nasihat Syaikh Rabi' tersampaikan melalui Beliau. Ketika Syaikh Rabi' wafat, Syaikh Az Zahrani menjadi 1 dari 4 yang memandikan jenazah Beliau, selain satu anak dan dua cucu Syaikh Rabi'.

Asatidzah memutuskan agar tiba di Masjid Bin Ubaid sebelum Maghrib. Ada kajian kitab Asy Syamail Muhammadiyah karya Imam Tirmidzi, antara salat Maghrib Isya, yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah Al Faqih.

Syaikh Abdullah Al Faqih termasuk keturunan Ahli Bait. Beliau pernah belajar di majlis-majlis Syaikh Bin Baz, Syaikh Al Utsaimin, Syaikh Ahmad An Najimi, Syaikh Rabi', dan ulama-ulama lainnya.

Kajian bakda Maghrib itu berlangsung khidmat. Dihadiri peserta dari berbagai negara, seperti Maroko, Irak, Ethiopia, Kazakhstan, Perancis, Kep**auan Komoro, Burma, dan lainnya.

6 menit sebelum azan Isya, Kajian ditutup oleh Syaikh Abdullah Al Faqih.

Seperti kebiasaan Syaikh Az Zahrani, pintu ruangan Beliau selalu dibuka untuk menerima tamu, terutama para thalibul ilmi.

Memanfaatkan waktu jeda antara kajian hingga iqamat salat Isya, para thalibul ilmi dipersilahkan masuk ke ruangan Syaikh Az Zahrani, termasuk Asatidzah Indonesia.

Ada interaksi hangat, percakapan bersahabat, dan saling bertanya kabar antara Syaikh dengan hadirin. Saling mendoakan kebaikan pun tak terlewatkan.Walau hanya sekitar 20 menit, suasana begitu menyejukkan. Walhamdulillah

Untuk Asatidzah Indonesia, Syaikh Az Zahrani memberikan waktu khusus setelah salat Isya.

Benar saja. Selepas salat Isya', Asatidzah Indonesia dipersilahkan masuk kembali ke ruangan Syaikh. Bahkan, pintu ruangan Beliau yang selalu terbuka, saat itu ditutup agar Beliau sepenuhnya menerima Asatidzah.

Banyak nasihat, sederet petuah, dan untaian pesan yang Beliau sampaikan. Syaikh Az Zahrani juga menyemangati Asatidzah agar tetap semangat dan fokus berdakwah. Tidak perlu menghiraukan pihak-pihak yang mengganggu.

Di antara petuah Beliau adalah mengamalkan atsar sahabat Abdullah bin Mas'ud :

مَنْ كَانَ مِنْكٌمْ مُسْتَنًّا، فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ مَاتَ، فَإِنَّ الحَيَّ لاَ تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ

" Barangsiapa hendak meneladani, teladani lah yang telah meninggal dunia. Karena, sungguh orang yang masih hidup belum terjamin dari fitnah (berubah)".

Syaikh Az Zahrani menganjurkan untuk membaca kitab Al Kawakib An Nayyirat karya Syaikh Khalid Ar Raddadi rahimahulllah. Kitab tersebut secara khusus membahas atsar di atas secara takhrij dan syarah.

Asatidzah menyampaikan, " Dan Beliau (Syaikh Ar Raddadi) sendiri meninggal di atas sunnah "

Syaikh Az Zahrani mengiyakan bahkan menyebutkan bahwa Syaikh Rabi' bin Hadi sangat memuji dan menilai Syaikh Ar Raddadi sebagai pribadi yang pribadi dan cerdas.

Walhamdulillah, pertemuan malam kemarin sangat berkesan dan banyak manfaat yang didapat.

Ketika hendak berpamitan, Syaikh Az Zahrani menawarkan untuk mengantarkan sendiri Asatidzah kembali ke hotel dengan mobil Beliau. Namun, Asatidzah menyampaikan bahwa sudah ada kendaraan sendiri.

Jazaakumullahu khairan, Asatidzah. Ustadz Muhammad Umar As Sewed, Ustadz Ahmad Khadim, Ustadz Qamar Su'aidi, Ustadz Muhammad Afifudin, dan Ustadz Abdurrahman Mubarok. Kami belajar dari pertemuan kemarin malam bahwa hubungan dengan ulama' harus dijalin dan dijaga. Semoga menjadi sebab keberkahan untuk dakwah Salafiyah di Indonesia. Baarakallahu fiikum

https://t.me/anakmudadansalaf/1440

14/10/2025

أم فتحي:
بسم الله الرحمن الرحيم

*🌱🏡🌻HENDAKLAH MASING-MASING DARI SUAMI ISTRI MEMILIKI SIFAT SALING PENGERTIAN*

🎙 Assyaikh Al-Allamah Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah

🔥 Sebagian manusia menjadi seperti harimau dan singa dihadapan istrinya, keras kepadanya, bengis,

❌ Ini tidak semestinya (dilakukan),

☑ Bahkan hendaklah dia lembut tutur katanya dengan keluarganya, baik akhlaknya, bagus pembicaraannya dengan keluarganya,

☝ Demikian p**a istri, wajib p**a untuk seperti itu, bagus pembicaraannya, masing-masing dari mereka berusaha untuk melakukan kebaikan,

📖 Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda:

استوصوا بالنساء خيرا

Artinya:
"Hendaklah kalian berwasiat kebaikan kepada para wanita"

✊🏻 Wajib untuk diperhatikan hak istri,

☕ Meskipun hak suami lebih besar, hak suami besar, haknya lebih besar,

🏒 Namun meskipun demikian wajib baginya untuk tidak berbuat dzalim,

🌾 Bahkan wajib baginya (suami) untuk memiliki sifat tawadhu'(rendah hati) lagi berakhlak mulia,

🌱 Dia(suami) mengambil haknya dan memberikan hak istrinya,

📝 Berwasiat lah kebaikan kepada para wanita.

Dikutip: 💻
https://binbaz.org.sa/audios/603/24-%D9%85%D9%86-%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D8%B3%D9%89%D9%84-%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%EF%B7%BA-%D8%B9%D9%86-%D8%A7%D9%83%D8%AB%D8%B1-%D9%85%D8%A7-%D9%8A%D8%AF%D8%AE%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A7%D8%B3-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%86%D8%A9

Alih bahasa: 📲
Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu 'Umar غفرالرحمن له.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Salin Tautan dari : https://t.me/alfudhail/1667
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Sedekah Jariah*
💳 Untuk Pembangunan Ma'had Daarul Atsar Konda : 225901000505308 (BRI) AN. Yayasan Imam Syafiiy Sul
📲 Konfirmasi : 085241624389 [Abu Muhammad]
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚 🔄 Silakan ikuti dan bagikan
📡 Channel Telegram
📶 https://t.me/salafy_kendari
📶 https://t.me/Galeri_SalafyKendari
📶 https://t.me/audio_salafy_kendari_almanshuroh

Address

Kotamobagu

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cahaya Sunnah Kotamobagu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Cahaya Sunnah Kotamobagu:

Share

Category