13/04/2020
🌿BIOGRAFI
Habib Novel Alaydrus atau yang lebih akrab dipanggil dengan Habib Novel lahir dan tumbuh besar di kota Solo, 24 Juli 1975 / Kamis, 15 Rajab 1395 H. Beliau merupakan putra pertama dari pasangan Muhammad Alaydrus dengan Luluk Al-Habsyi.
Ketika masih dalam kandungan, Ibunda beliau bermimpi didatangi oleh Alm. Habib Soleh Al-hamid Tanggul kemudian memberikan sebuah kitab berbahasa arab yang cukup tebal. Sang ibupun meyakini bahwa kitab yang dimaksud adalah anak yang dikandungnya itu.
Nama Novel diberikan oleh ayah beliau untuk meneladani Habib Salim bin Jindan yang menamakan putranya dengan Nauval. Harapan ayahanda beliau agar kelak anaknya ini menjadi singa podium seperti Habib Salim bin Jindan dan putranya.
🌿CERITA HIDUP
Selepas tamat dari pendidikan menengah atas, kakek beliau memberikan nasehat
"Jika engkau menguasai Bahasa arab maka engkau akan mendapatkan ilmu laduni"
Maka saat dilarang oleh ibundanya untuk meneruskan pendidikan ke bangku kuliah di luar kota, pada akhir tahun 1994 hingga pertengahan tahun 1995, beliau berhasil merayu ibundanya untuk belajar bahasa Arab di pesantren Darul Lughah wad Dakwah untuk mengejar ilmu laduni seperti yang dijanjikan kakek beliau.
Dalam masa kurang lebih 7 bulan, beliau berhenti dari pesantren atas permintaan ibundanya. Ketika mengajukan izin untuk berhenti, Habib Hasan Baharun yang tidak mudah memberikan izin, secara mengejutkan justru berkata
"Pulanglah, yang kamu pelajari sudah cukup dan engkau telah memperoleh keberkahan."
Ucapan Habib Hasan itu terbukti selepas meninggalkan pesantren, Habib Novel secara rutin belajar kepada Habib Anis bin Alwi Al-habsi di Solo sejak tahun 1995 hingga wafatnya beliau di tahun 2006.
🌿MAJELIS AR-RAUDAH
Sepeninggal Habib Anis, Habib Novel baru secara aktif berdakwah keliling nusantara hingga ke mancanegara. Beliaupun mendirikan majelis Ar-Raudah yang bermarkas besar di Jl. Dewutan No. 112 Rt. 01 Rw. 16 Semanggi, Pasar Kliwon, Solo 57117. Majelis yang beliau asuh mendapat sambutan baik dari masyarakat luas, terbukti kajian yang beliau selenggarakan tiap jumat malam dikunjungi oleh ribuan orang dari berbagai pelosok negeri.
Satu hal yang selalu beliau sampaikan, dakwah agar berhasil maka yang dilihat, didengar, dicium, dan dirasakan haruslah enak. Oleh karena itu beliau selalu berusaha mengemas majelisnya seindah mungkin. Baik dari visual, sound system, fisik bangunan, aromanya dan sajian makanannya.
Diatas tanah seluas 1800m2 itulah majelis Ar-Raudah didirikan dan menjadi tempat yang dicari dan didatangi oleh umat.