22/05/2018
Zero Waste Academy: Mari Mengenal Sampah!
Senja telah menggantung di langit barat. Perlahan gelap mulai menghampiri langit Sidoarjo. Saat itulah kami melihat Pak Budi (47 tahun) turun dari motor pinjamannya dengan wajah cerah. Maghrib sudah menjelang, tetapi raut Pak Budi tak sedikitpun menunjukkan lelah. Dengan semangat Pak Budi menyambut kami sambil memperkenalkan tempat kebanggaannya: TPA Jabon. TPA (Tempat Pembuangan Akhir) ini merupakan satu-satunya TPA di Sidoarjo sehingga dapat dipastikan bahwa sebagian besar sampah rakyat Sidoarjo terkumpul di TPA tersebut.
Di sinilah cerita bermula. Dengan semangat Pak Budi menceritakan tentang Zero Waste Academy; sebuah komunitas bentukan pemerintah untuk menanggulangi masalah sampah di Sidoarjo. Berikut hasil wawancara eksklusif kru Imtiyaz kepada Pak Budi, seorang pegawai Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Sidoarjo sekaligus aktivis Zero Waste Academy.
Bagaimana Zero Waste Academy Sidoarjo terbentuk?
“Pada awalnya, Zero Waste Academy ini digagas oleh Bapak M. Bahrul Amiq yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas (Lingkungan Hidup) di Kabupaten Sidoarjo. Saat ini beliau sudah pindah ke Dinas Perhubungan. Pada saat itu, tahun 2016, Zero Waste Academy didirikan dan ditujukan khusus untuk kalangan anak muda. Masing-masing kecamatan mengirimkan delegasi untuk diberikan edukasi menganai pengelolaan sampah. Pada tahun 2017, Zero Waste Academy berubah sasaran menjadi kader lingkungan, yaitu masyarakat umum yang aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan.
Mengapa dinamakan Akademi?
“Karena beliau (Pak Amiq) mencoba untuk menformulasikan sesuatu yang baru. Jika biasanya akademi itu terkesan formal, kali ini dicoba untuk menjadikan akademi hidup di masyarakat, tidak lagi di ruang-ruang kelas. Akhirnya, Daerah Sidoarjo dibagi menjadi lima kelompok: Kelompok 1, terdiri dari kecamatan Buduran, Sidoarjo, Candi, dan Tulangan. Kelompok 2, Kecamatan Tanggulangin, Jabon, Krembung, dan Porong. Kelompok 3, Kecamatan Balongbendo, Tarik, Krian, dan Prambon. Kelompok 4, Kecamatan Taman, Sukodono, dan Wonoayu. Kelompok 4, Kecamatan Gedangan, Sedati, dan Waru. Masing-masing desa mengutus 3 kader untuk penggiat lingkungan. Zero Waste Academy meliputi kegiatan persampahan di Sidoarjo dengan harapan bahwa komunitas ini akan membantu pemerintah dalam merealisasikan program Indonesia bebas sampah pada tahun 2020.
Mengapa Akademi dilaksanakan langsung di Masyarakat?
Karena masyarakat harus peduli dalam menanggulangi masalah sampah. Masalah di Sidoarjo adalah padatnya kependudukan, bukan karena angka kelahiran melainkan karena urbanisasi. Maka dari itu, masyarakat menghasilkan sampah yang juga besar. Semua masyarakat di Sidoarjo membuang sampah di TPA Jabon desa Kupang. Jika tidak mulai sekarang diberi edukasi, maka TPA akan cepat penuh, dan menjadi musibah.
Kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Zero Waste Academy?
Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah Trash Mob, Pembinaan Sampah Beres di Tempat dengan cara briefing, pemberian materi, dan akhirnya memberi edukasi kepada masyarakat. Masih banyak orang yang membuang sampah liar dan membuang sampah di sungai. Setidaknya Zero Waste Academy akan membantu mengurangi hal tersebut. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui DLHK menyediakan dan membangunkan beberapa TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu), bukan sekedar TPS (Tempat Pembuangan Sampah. TPST tidak hanya menampung melainkan juga mengolah sampah sesuai jenisnnya; basah, kering, dan residu. Harapannya, masyarakat bisa memanfaatkan sampah. Contohnya, sampah organik bisa diolah menjadi kompos, ternak cacing, dan ternak belatung, sedangkan sampah anorganik bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Dengan begitu, hanya sampah residu yang akan dibuang ke TPA.
Ada Berapakah Jenis Pengelolaan Sampah di TPA dan Apa Pengertiannya?
Ada tiga jenis pengelolaan limbah sampah yang dilakukan di TPA, yakni Open Damping, Controlled Landfill, dan Sanitary Landfill.Open Damping adalah menimbun sampah secara terbuka begitu saja. Jadi sampah hanya dikumpulkan di satu tempat dan menjadi gunung sampah. Cara ini sangat tidak ramah lingkungan karena selain baunya yang menyengat, gunung sampah juga berpotensi untuk longsor selain itu, cairan dari limbah sampah juga berpotensi mencemari aliran air tanah. Sistem kedua adalah Controlled Landfill. Sistem ini merupakan sistem penampungan sampah yang menutupi sampah dengan tumpukan tanah. Misalkan ada sampah setinggi satu meter, maka tumpukan tanahnya juga satu meter. Kemudian ditumpuk sampah lagi, diaratakan, ditumpuk dengan tanah lagi, dan seterusnya. Sistem ini bertujuan untuk mengurangi bau dan mencegah longsornya gunung sampah. Kekurangan dari sistem ini adalah pencemarannya terhadap tanah. Oleh karena itu, sistem yang paling ideal adalah sistem Sanitary Landfill. Sistem tersebut hampir sama dengan sistem Controlled Landfill, tetapi dengan cara mengeluarkan cairan dalam sampah yang akan mencemari tanah sebelum ditimbun dengan tanah. Sayangnya, sistem paling ideal ini tidak mudah untuk direalisasikan serta membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit.
Apa Pengalaman yang Paling Berkesan bagi Pak Budi Selama Menjadi Pegiat Lingkungan?
Pengalaman berharga yang saya dapatkan adalah bahwa saya tidak pernah merasa lelah, rugi, apalagi menyesal selama berkecimpung di dunia ‘persampahan’ ini. Ketika saya kemanapun pasti ada teman yang bisa dikunjungi. Itu kesan yang mendalam sekali bagi saya.
Apa Pesan Bapak kepada Para Santri Al-Amanah Serta Seluruh Masyarakat Indonesia?
Kenalilah sampah sejak dini. Setelah kenal dan mencintai sampah, kita harus mulai belajar memilah dan mengolah sampah.
Imtiyaz Edisi April 2018