09/12/2025
Di La Masia, nama Carles Puyol dulu bukan yang paling dijagokan. Terlalu pendek untuk bek tengah, terlalu “biasa” untuk jadi bintang. Ia bahkan sempat hampir dijual karena dianggap tak cukup berbakat untuk level Barcelona. Tapi justru dari titik dianggap sebelah mata itulah, Puyol memahat reputasi yang bikin banyak orang sepakat: ini mungkin kapten terbaik yang pernah dimiliki Barça dan salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola modern. Bukan karena teknik paling indah, tapi karena hati, keberanian, dan rasa tanggung jawab yang nyaris nggak manusiawi.
Puyol adalah definisi pemain yang “kalau perlu kepalanya pecah dulu, yang penting bola jangan lewat.” Rambut kribo, badan nggak terlalu tinggi, tapi duel udara jarang kalah. Ia bukan hanya bek yang jago tekel—dia adalah orang pertama yang marah kalau tim kehilangan fokus, orang pertama yang lari menutup celah, orang pertama yang berteriak menyemangati saat tim tertinggal. Di era ruang ganti penuh bintang: Ronaldinho, Eto’o, Messi, Xavi, Iniesta, Neymar… Puyol justru jadi “penjaga nilai”. Saat ada pemain berlebihan selebrasi, dia yang menenangkan. Saat tim menang besar, dia yang mengingatkan: “Kita belum juara apa-apa.”
Yang bikin Puyol dipuja bukan cuma trofi—walau ia mengangkat nyaris semua: Liga Champions, La Liga, Piala Dunia, Euro. Yang membuatnya dihormati adalah caranya bersikap. Saat rekan setim terlibat konflik, Puyol jadi penengah. Saat lawan cedera, dia yang pertama memanggil tim medis. Saat Barcelona menang Clasico, ia menarik rekan-rekannya agar tidak terlalu provokatif ke fans Madrid. Bahkan ketika ia sedang cedera dan duduk di bangku cadangan, aura kaptennya tetap terasa: berdiri, bertepuk tangan, berteriak memberi instruksi seperti pelatih kedua. Di dunia yang mengejar sorotan, Puyol memilih jadi tembok sunyi yang memastikan semuanya berdiri pada tempatnya.
Itulah kenapa pemain yang dulu diragukan ini justru dikenang sebagai kapten ideal: tidak paling berbakat, tapi paling bisa dipercaya. Ia tidak butuh kata-kata manis di media, karena seluruh kariernya sudah menjawab satu pertanyaan besar: kenapa pemain yang awalnya dipandang sebelah mata bisa dianggap kapten terbaik sepanjang sejarah? Jawabannya sederhana: ketika yang lain mengejar kemuliaan untuk diri sendiri, Puyol menyerahkan seluruh tubuh dan hidupnya untuk lencana di dada dan rekan-rekan di sebelahnya.