31/01/2026
Sejak menikah lima tahun lalu, aku baru sadar satu hal penting: istriku, Rina, bukan benar-benar pikun… tapi selektif ingat. Terutama soal hal-hal yang menguntungkan dirinya.
Setiap pagi dimulai dengan ritual yang sama.
“Mas, kamu tahu kunci motor di mana?” tanyanya sambil berdiri di depan kulkas.
“Di tempat biasa,” jawabku.
“Tempat biasa itu yang mana?”
“Tempat yang sama sejak kita menikah.”
“Oh iya,” katanya sambil tertawa kecil, lalu lima menit kemudian bertanya lagi, “Mas, kamu lihat kunci motor nggak?”
Aku menarik napas panjang. Dokter bilang kesabaran itu kunci rumah tangga. Sayangnya, kunci rumah kami juga sering hilang.
Puncaknya terjadi malam Jumat, malam yang katanya penuh keberkahan—terutama bagi pasangan suami istri. Aku sudah mandi, pakai parfum favorit, bahkan sengaja mematikan lampu ruang tamu biar suasana agak romantis.
Rina keluar dari kamar mandi, rambut masih basah, pakai daster andalannya.
“Mas, kamu kenapa senyum-senyum?” tanyanya curiga.
“Ini kan malam Jumat,” kataku dengan nada penuh harap.
“Oh… malam Jumat,” ulangnya pelan. “Terus?”
Aku terdiam. Terus? Ini pertanyaan yang menyakitkan.
“Kita kan biasanya…” aku memberi kode dengan alis naik turun.
Rina mengangguk pelan. “Biasanya… kita nonton TV, ya?”
Hatiku runtuh perlahan.
Aku mencoba lagi. “Ingat nggak, seminggu lalu malam Jumat kita ngapain?”
Dia berpikir keras. “Hmm… kamu ngorok?”
Aku menyerah.
Tapi anehnya, ingatannya bisa tiba-tiba pulih kalau menyangkut hal tertentu.
Contohnya saat aku lupa tanggal gajian.
“Mas,” katanya manis, “besok tanggal satu, kan?”
“Iya… kenapa?”
“Kok inget tanggal ya?” tanyaku balik.
Dia tersenyum penuh misteri. “Kalau hal penting, aku nggak pikun.”
Atau saat aku lupa janji belikan tas.
“Katanya bulan lalu mau beliin aku tas,” katanya.
“Kamu masih ingat itu?”
“Jelas. Kamu yang pikun, Mas.”
Malam itu aku merenung. Mungkin istriku memang pelupa. Atau mungkin dia hanya lupa hal-hal yang tidak ingin dia ingat.
Sebelum tidur, aku bertanya pelan, “Rin… kamu ingat nggak pertama kali kita ketemu?”
Dia tersenyum lembut. “Ingat. Kamu gugup, salah pakai sepatu.”
Aku tertawa. “Kalau gitu kamu nggak pikun.”
Dia mendekat dan berbisik, “Aku cuma pura-pura lupa… biar hidup kita nggak bosen.”
Lampu kamar mati. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian malam Jumat, istriku tiba-tiba ingat semuanya.
Panci listrik cuma 60ribuan saja cek disini 👉 https://s.shopee.co.id/2LSUcN01fI