04/01/2026
Bab 3: Keadilan di Pasar Rakyat
Matahari tepat berada di atas kepala saat pasar utama Azura mencapai puncak hiruk-pikuknya. Aroma rempah bercampur dengan bau ternak dan suara tawar-menawar yang riuh. Di sudut pasar, Sultan Arshad duduk di balik tumpukan keranjang rotan kosong, menyamar sebagai pedagang kerajinan kecil.
Ia sengaja memilih posisi ini—tempat di mana ia bisa melihat tanpa terlihat, mendengar tanpa dicurigai.
Sang Pemangsa di Tengah Kerumunan
Ketenangan itu pecah saat suara langkah sepatu bot yang berat menghentak tanah, diikuti oleh suara tawa yang meremehkan. Effendi, seorang pengawas pasar tingkat menengah yang mengenakan seragam kebesaran dengan kancing perak yang mengkilap, berjalan angkuh didampingi dua anak buahnya.
Effendi berhenti di depan lapak milik seorang kakek tua yang menjual buah pir. Tanpa permisi, ia mengambil sebuah pir yang paling ranum, menggigitnya, lalu membuang sisanya ke tanah.
"Pajak tambahan untuk 'perlindungan siang hari', Pak Tua," ucap Effendi sambil menjulurkan tangannya yang gemuk.
"Tapi Tuan," suara kakek itu bergetar, "saya sudah membayar pajak mingguan pagi tadi. Jika saya bayar lagi, saya tidak punya uang untuk membeli obat istri saya."
Effendi tidak peduli. Ia menendang keranjang buah hingga pir-pir itu menggelinding di atas tanah yang kotor.
"Jangan menceramahiku dengan kemiskinanmu! Jika tidak bisa bayar, pergi dari pasar ini!"
Murka yang Terpendam
Sultan Arshad, yang melihat kejadian itu dari jarak beberapa meter, merasakan darahnya mendidih. Ia melihat orang-orang di sekitar hanya tertunduk, takut akan kekuasaan Effendi. Inilah kanker yang merusak pemerintahannya: pejabat yang merasa diri mereka adalah tuhan-tuhan kecil.
Arshad berdiri. Ia melangkah perlahan menuju kerumunan yang ketakutan itu.
"Tidakkah kau tahu bahwa setiap keping uang yang kau ambil secara paksa akan menjadi bara api di perutmu kelak?" suara Arshad memecah ketegangan.
Effendi menoleh, menatap pria berpakaian lusuh itu dengan hinaan. "Siapa kau, gembel? Berani sekali mengajari hukum padaku?"
ia memberi isyarat pada anak buahnya. "Hajar dia, beri dia pelajaran tentang siapa penguasa di pasar ini!"
Terungkapnya Sang Matahari
Kedua penjaga itu maju untuk meringkus Arshad. Namun, dengan gerakan yang tenang namun pasti, Arshad merogoh balik jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah Lencana Emas berbentuk Matahari dengan Segel Kerajaan yang hanya boleh dibawa oleh penguasa tertinggi.
Kilauan emas itu memantulkan cahaya matahari, membuat semua orang yang melihatnya terkesiap.
"Aku adalah penguasa di sini," ucap Arshad dengan suara bariton yang dalam dan penuh wibawa. Ia melepas sorban lusuhnya, memperlihatkan wajah yang biasanya hanya dilihat rakyat di atas mimbar tinggi.
Suasana seketika menjadi hening mencekam. Effendi jatuh berlutut, wajahnya yang tadi merah karena amarah kini pucat pasi seperti mayat. "Ba-Baginda... Hamba... hamba hanya bercanda..."
"Keadilan bukan bahan candaan, Effendi," tegas Arshad. Matanya menatap tajam para penjaga yang kini gemetar ketakutan.
Hukuman yang Adil
Sultan Arshad tidak memerintahkan algojo untuk memancung kepalanya. Baginya, kematian terlalu cepat untuk penebusan dosa semacam ini.
"Hari ini, jabatanmu dicopot," titah Arshad. "Seluruh harta yang kau peroleh dari hasil memalak akan disita untuk kas anak yatim. Namun, itu belum cukup."
Arshad menunjuk ke arah tumpukan sampah di sudut pasar dan keranjang-keranjang berat milik para pedagang tua.
"Selama satu tahun ke depan, kau akan bekerja di pasar ini. Bukan sebagai pejabat, tapi sebagai pelayan masyarakat.
Kau akan membersihkan kotoran hewan, memanggul barang dagangan orang-orang yang kau hina tadi, dan membantu mereka tanpa dibayar sepeser pun. Kau harus merasakan beratnya keringat yang selama ini kau peras!"
Seluruh pasar terdiam sesaat, sebelum akhirnya sorak-sorai "Hidup Sultan Arshad!" menggema membelah langit. Di tengah sorakan itu, Sultan Arshad menghampiri kakek penjual pir, membantunya memunguti buah yang jatuh, dan membisikkan permohonan maaf atas kelalaiannya dalam mengawasi anak buahnya.
Bersambung......