Erna irwan

Erna irwan berita artis
mini vlog
quotes
ibu rumah tangga

Kasus penganiayaan terhadap seorang lansia bernama Saudah (68) terjadi di Nagari Padang Mantinggi, Kecamatan Rao, Kabupa...
06/01/2026

Kasus penganiayaan terhadap seorang lansia bernama Saudah (68) terjadi di Nagari Padang Mantinggi, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, pada Kamis, 1 Januari 2026. Sang nenek mengalami kekerasan diduga akibat meminta aktivitas tambang dihentikan.

Warga menemukan korban dalam kondisi luka dan lebam di wajah, dengan kedua mata membiru diduga akibat kekerasan.

Iswandi Lubis yang merupakan anak korban mengatakan, peristiwa bermula saat ibunya mendatangi lokasi aktivitas tambang di sekitar tempat tinggal mereka. Dalam kondisi fisik yang masih lemah, Saudah mengaku tidak berniat melarang aktivitas tambang, melainkan hanya meminta agar kegiatan tersebut dihentikan pada siang hari.

“Ibu saya hanya minta supaya jangan siang-siang menambang. Tidak melarang, hanya minta dihentikan sementara,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).

Namun, saat korban menyorotkan senter ke arah beberapa orang di lokasi, ia diduga dilempari batu, dipukuli, lalu diseret hingga ke semak-semak di sekitar lokasi.

Akibat penganiayaan tersebut, korban sempat tidak sadarkan diri. Korban dibuang di semak-semak karena dikira sudah meninggal.

Kemudian, warga menemukan Saudah dalam kondisi terluka parah dan membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat. Hingga kini, korban masih menjalani perawatan intensif di RSUD Tuanku Imam Bonjol Lubuk Sikaping akibat luka yang dialaminya.

Sumber: liputan6. com

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan mengangkut ratusan kayu gelondongan dari Aceh, Sumatera Barat, dan...
06/01/2026

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan mengangkut ratusan kayu gelondongan dari Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, tiga wilayah terdampak banjir dan longsor sejak pertengahan November 2025.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan menyampaikan, petugas mengerahkan 28 unit alat berat untuk membersihkan tumpukan kayu yang menghambat akses jalan, halaman rumah warga, dan fasilitas pendidikan di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.

Memasuki hari ke-16, tercatat kayu yang dikumpulkan mencapai 300 batang dengan volume 469,26 meter kubik.

“Kami memprioritaskan pembersihan kayu yang menghalangi akses jalan, permukiman, dan fasilitas umum. Kayu yang masih bernilai guna kami pilah dan data agar bisa dimanfaatkan secara tertib untuk kebutuhan darurat warga,” kata Subhan dalam keterangannya, dilansir Selasa (6/1/2026).

Dirjen Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) Kemenhut, Laksmi Wijayanti menuturkan, kayu tersebut bisa dijadikan material pembangunan rumah, fasilitas, ataupun sarana prasarana.

“Kami kembali menegaskan bahwa pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan semata-mata untuk penanganan darurat bencana, rehabilitasi, dan pemulihan pasca-bencana. Ini adalah langkah kemanusiaan, untuk membantu masyarakat bangkit kembali,” jelas Laksmi dalam keterangannya, Senin (22/12/2025).

Sumber: kompas. com

Cinta benar-benar tak mengenal jarak dan batas negara. Rosmaidar, perempuan asal Gampong Tumpok Barat, Kecamatan Matangk...
06/01/2026

Cinta benar-benar tak mengenal jarak dan batas negara. Rosmaidar, perempuan asal Gampong Tumpok Barat, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, resmi dipersunting oleh pria asal Turki, Ibrahim Ogul, dalam sebuah pernikahan yang menyita perhatian publik, Selasa (6/1/2026).

Momen sakral itu menjadi bukti bahwa takdir mampu mempertemukan dua insan dari benua yang berbeda. Di hadapan keluarga besar, Rosmaidar dan Ibrahim tampak bahagia di pelaminan, memancarkan haru dan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

Prosesi pernikahan berlangsung khidmat dengan disaksikan keluarga almarhum ayah Rosmaidar, A. Agani, serta sang ibu, Nurhayati Y. Kehangatan keluarga berpadu dengan nuansa tradisional khas adat istiadat aceh menjadikan pernikahan ini sebagai peristiwa istimewa yang tak terlupakan.

Sumber: newsrbaceh

Di sudut tenda yang pengap, di bawah temaram nyala lilin yang menari ditiup angin malam, seorang ibu tampak khusyuk menu...
06/01/2026

Di sudut tenda yang pengap, di bawah temaram nyala lilin yang menari ditiup angin malam, seorang ibu tampak khusyuk menuntun jemari kecil buah hatinya. Suara lirihnya mengeja huruf demi huruf hijaiah, membelah sunyi di tengah duka pascabencana Aceh Tamiang.

Bagi sang ibu, mengajari anaknya mengaji di tengah keterbatasan bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah ikhtiar merawat keteguhan iman.

Di setiap pelafalan ayat, terselip doa dan harapan besar agar kelak sang anak tumbuh dengan jiwa spiritual yang kokoh—seperti karang yang tak goyah dihantam ombak, dan tetap bercahaya meski dunia di sekelilingnya sedang padam.

Ia percaya bahwa meski banjir telah menghanyutkan harta benda, cahaya Al-Qur'an di dalam dada adalah kekayaan yang takkan pernah bisa tenggelam. Di sanalah, dalam remang cahaya lilin, karakter sang anak sedang ditempa untuk menjadi pribadi yang tak hanya tegar menghadapi badai, tapi juga selalu rindu pada Ilahi.


Presiden Prabowo Subianto mengaku terharu dengan sebuah survei yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyara...
05/01/2026

Presiden Prabowo Subianto mengaku terharu dengan sebuah survei yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang paling bahagia.

Adapun survei dirilis Global Flourishing Study (GFS), yang diriset secara kolaboratif antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset global Gallup.

"Di mana hampir 200 negara, negara yang rakyatnya setelah ditanya, menjawab bahwa rakyat tersebut mengalami bahagia. Negara yang paling nomor satu di dunia sekarang, rakyat yang mengatakan bahagia adalah bangsa Indonesia. Ini mengharukan bagi saya," kata Prabowo di Perayaan Natal Nasional 2025 di Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2026).

Adapun perasaan haru itu muncul mengingat masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup sangat sederhana. Namun, ketika ditanya, mereka menjawab tetap bahagia.

"Saya paham bahwa sebagian besar rakyat kita sesungguhnya masih mengalami kehidupan yang sangat-sangat sederhana, yang berada dalam keadaan harus bisa kita akui keadaan yang belum sejahtera. Tetapi kalau ditanya masih mengatakan kalau dia bahagia," ucap Prabowo.

Sumber: kompas. com

Bab 5: Perjamuan di Ujung BelatiSultan Arshad mengumumkan sebuah perjamuan agung untuk merayakan "keberhasilan" panen ra...
05/01/2026

Bab 5: Perjamuan di Ujung Belati

Sultan Arshad mengumumkan sebuah perjamuan agung untuk merayakan "keberhasilan" panen raya—sebuah ironi yang ia rancang dengan sangat rapi. Ia mengundang seluruh menteri, gubernur, dan tentu saja, Wazir Mansur beserta para saudagar asing yang menjadi sekutunya.

Aula utama istana dihias dengan kemegahan yang luar biasa. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya ke piring-piring perak, sementara musik padang pasir mengalun lembut, menciptakan ilusi kedamaian.

Jebakan yang Terbuka

Wazir Mansur datang dengan senyum paling lebar, merasa posisinya semakin kuat. Ia yakin bahwa Sultan masih berada dalam "kebutaan" yang nyaman.

"Baginda," sapa Mansur sambil membungkuk dalam. "Perjamuan ini adalah bukti kemurahan hati Anda. Rakyat tentu bangga memiliki pemimpin yang begitu perhatian."

Arshad tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya.

"Paman, hari ini aku ingin merayakan kejujuran. Karena tanpa kejujuran, sebuah kerajaan hanyalah bangunan pasir yang menunggu ombak."

Sultan kemudian berdiri di atas panggung tinggi, memegang sebuah cawan emas. Suasana seketika hening.

"Malam ini," suara Arshad menggema, "aku ingin membagikan hadiah istimewa kepada kalian yang telah membantuku mengelola urusan perut rakyat. Pelayan, bawa masuk hidangan utamanya!"

Hidangan Kebenaran

Bukannya pelayan dengan nampan daging domba yang muncul, melainkan barisan prajurit bayangan yang membawa nampan tertutup kain hitam. Mereka meletakkan nampan-nampan itu tepat di depan Wazir Mansur dan para pejabat lingkar dalamnya.

"Silakan dibuka, Paman," titah Arshad.
Dengan tangan gemetar, Mansur membuka kain tersebut. Wajahnya seketika pucat pasi. Di atas piring perak itu tidak ada makanan, melainkan batu sungai yang keras dan sehelai laporan asli gudang yang telah dicuri Arshad dari ruang arsip.

"Itu adalah hidangan yang dimakan oleh rakyatku di pinggiran kota karena gandum mereka dijual ke tangan asing," ucap Arshad, suaranya kini sekeras guntur.

"Apakah batu itu terasa lezat di matamu, Wazir?"

Konfrontasi Terakhir

Mansur mencoba berdiri, matanya liar mencari jalan keluar. "Baginda! Ini fitnah! Seseorang telah meracuni pikiran Anda!"

"Diam!" bentak Arshad. Ia melempar sekantong permata ke atas meja—permata yang sama dengan yang diberikan saudagar asing malam itu.

"Para saudagar itu sudah bicara di ruang bawah tanah istana sejak dua jam yang lalu. Mereka lebih takut pada algojoku daripada pada janjimu."

Para pengawal istana yang selama ini berada di pihak Mansur tiba-tiba dilumpuhkan oleh pasukan rahasia Malik yang muncul dari balik tirai-tirai beludru.

Ruangan itu kini terkepung sepenuhnya.
Mansur jatuh terduduk, menyadari bahwa keponakan yang ia anggap "naif" telah mengunggulinya dalam permainan catur politik yang ia buat sendiri.

"Aku memanggilmu Paman karena rasa hormat, tapi hukum memanggilmu pengkhianat," kata Arshad sambil melangkah turun dari singgasana.

"Kau tidak hanya mencuri gandum, kau mencuri kepercayaan Tuhan yang dititipkan padaku."

Fajar Keadilan
Malam itu, perjamuan berakhir tanpa tarian. Wazir Mansur dan dua belas pejabat lainnya diseret menuju menara penjara. Sultan Arshad berdiri di balkon istana, menatap fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur.

Ia merasa lelah, namun untuk pertama kalinya, beban di pundaknya terasa lebih ringan. Cahaya matahari pagi itu seolah membersihkan istana dari debu-debu pengkhianatan yang selama ini menyesakkan.

"Malik," panggil Sultan tanpa menoleh.
"Iya, Baginda?"
"Buka semua lumbung istana hari ini. Pastikan setiap rumah yang memasak batu semalam, pagi ini mencium aroma roti yang hangat. Dan besok... siapkan jubah lusuhtku kembali. Perjuangan ini belum berakhir."

Bersambung......

1. Manuel Noriega (Pemimpin De Facto Panama, 1983–1989)Noriega, mantan sekutu CIA yang menjadi diktator militer Panama, ...
04/01/2026

1. Manuel Noriega (Pemimpin De Facto Panama, 1983–1989)

Noriega, mantan sekutu CIA yang menjadi diktator militer Panama, ditangkap oleh pasukan AS pada 3 Januari 1990 selama Operasi Just Cause (invasi AS ke Panama pada Desember 1989). Ia dituduh terlibat perdagangan narkoba dan ancaman terhadap warga AS. Noriega dibawa ke AS, diadili di pengadilan federal Miami, dan dijatuhi hukuman 40 tahun penjara (kemudian dikurangi).

Ia meninggal pada 2017 setelah diekstradisi ke Panama dan Prancis. Kasus ini menjadi preseden untuk penangkapan pemimpin asing atas dakwaan kriminal AS.

2. Saddam Hussein (Presiden Irak, 1979–2003)

Saddam ditangkap oleh pasukan AS pada 13 Desember 2003 di Ad-Dawr, dekat Tikrit, selama Operasi Red Dawn pasca-invasi Irak 2003. Ia bersembunyi di lubang bawah tanah setelah rezimnya runtuh.

Saddam diserahkan ke pemerintah Irak sementara, diadili oleh pengadilan Irak atas kejahatan terhadap kemanusiaan, dan dieksekusi pada 2006. Penangkapan ini bagian dari perang melawan terorisme dan tuduhan senjata pemusnah massal (yang ternyata salah).

3. Nicolás Maduro (Presiden Venezuela, 2013–2026)

Maduro, presiden Venezuela yang kontroversial, ditangkap oleh pasukan khusus AS pada 3 Januari 2026 dalam operasi militer mendadak, bersama istrinya Cilia Flores. Operasi ini mirip dengan penangkapan Noriega (tepat 36 tahun kemudian) dan didasarkan pada dakwaan narko-terorisme serta hadiah penangkapan $50 juta.

Maduro dibawa ke AS untuk diadili di New York. Kasus ini memicu kritik internasional atas pelanggaran kedaulatan, tapi AS membenarkannya sebagai penegakan hukum terhadap “kartel narkoba”.

Sumber: garuda. tv

Bab 4: Musang Berbulu DombaHukuman publik terhadap Effendi di pasar rakyat telah mengirimkan gelombang kejutan ke seluru...
04/01/2026

Bab 4: Musang Berbulu Domba

Hukuman publik terhadap Effendi di pasar rakyat telah mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh penjuru ibu kota. Namun, bagi Sultan Arshad, itu hanyalah sebuah pucuk kecil dari akar pohon yang busuk. Ia tahu, seorang pejabat kelas menengah seperti Effendi tidak mungkin berani bertindak sewenang-wenang tanpa adanya "payung" pelindung dari orang yang lebih berkuasa.

Rahasia di Ruang Arsip

Malam itu, Sultan tidak keluar istana. Ia menyelinap ke ruang arsip rahasia, sebuah ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh Sultan dan Bendahara Agung. Dengan bantuan cahaya lilin yang temaram, Arshad memeriksa buku besar distribusi logistik nasional.

Ia membandingkan catatan pengeluaran gandum pusat dengan laporan penerimaan di daerah-daerah. Matanya yang tajam menemukan kejanggalan: ada selisih 30% yang hilang secara sistematis setiap bulannya selama dua tahun terakhir.

Namun, yang membuat jantungnya berdegup kencang bukanlah jumlah kerugiannya, melainkan stempel persetujuan yang tertera di setiap lembar laporan palsu itu.

"Stempel bunga melati..." bisik Arshad, tangannya bergetar. "Ini stempel pribadi Paman Mansur."

Sang Mentor yang Berkhianat

Wazir Mansur bukan sekadar menteri senior. Ia adalah paman Sultan, orang yang membimbing Arshad sejak ia masih kecil, sosok yang ia anggap sebagai kompas moral kerajaan. Mansur adalah orang yang selalu bicara paling keras tentang kejujuran di setiap rapat dewan.

Seolah tak percaya, Arshad memutuskan untuk melakukan pembuktian terakhir. Ia tidak menggunakan jubah lusuhnya malam ini. Ia menggunakan jubah hitam pekat tanpa suara, bergerak seperti bayangan menuju paviliun pribadi Wazir Mansur di sayap utara istana.

Pertemuan di Balik Tirai

Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat, Sultan mendengar suara tawa yang sangat ia kenal. Ia mengintip melalui celah kecil. Di dalam sana, Wazir Mansur sedang menjamu dua orang asing yang mengenakan pakaian saudagar dari kerajaan tetangga.

"Jangan khawatir," suara Mansur terdengar sangat tenang, berbeda dari suaranya yang biasanya penuh wibawa.

"Sultan sedang sibuk 'bermain peran' jadi rakyat jelata di pasar. Dia terlalu naif, mengira bisa memperbaiki dunia dengan membagi-bagikan sekarung gandum."

Salah satu saudagar itu meletakkan sebuah kotak kayu di atas meja. Saat dibuka, isinya adalah permata langka yang berkilauan.

"Ini adalah angsuran pertama untuk pengiriman gandum bulan depan, Wazir," ujar saudagar itu.

"Kami akan menjualnya dengan harga tiga kali lipat di perbatasan saat musim paceklik tiba."

Mansur menuangkan anggur ke gelasnya. "Arshad adalah anak yang baik, tapi dia bukan singa. Dia tidak tahu bahwa untuk menjaga istana tetap berdiri, kita butuh emas, bukan doa dari rakyat miskin.

Biarkan dia sibuk dengan 'keadilannya' di jalanan, sementara kita memindahkan isi gudangnya ke kantong kita."

Keputusan Sang Singa

Di balik pintu, Sultan Arshad memejamkan mata. Rasa sakit karena dikhianati oleh orang yang paling ia percayai terasa lebih pedih daripada luka pedang manapun.

Namun, saat ia membuka matanya kembali, sorot matanya telah berubah. Kesedihan itu telah menguap, digantikan oleh kedinginan yang mematikan.

Ia tidak langsung mendobrak pintu itu. Arshad tahu, membasmi pengkhianat di lingkaran dalam membutuhkan strategi yang lebih rapi. Jika ia bertindak gegabah, Mansur dan jaringan pengikutnya bisa memicu pemberontakan.

Arshad kembali ke kamarnya dengan langkah yang mantap. Ia memanggil Malik, pengawal setianya, melalui isyarat rahasia.

"Malik," ucap Arshad dengan nada yang sangat rendah namun penuh otoritas. "Siapkan pasukan bayangan. Awasi setiap gerak-gerik Wazir Mansur. Jangan ada satu surat pun yang keluar dari paviliunnya tanpa seizinku."

"Baginda... apakah ini berarti...?" Malik tampak ragu.

"Ya," potong Arshad. "Penyakit ini sudah sampai ke jantung. Dan jika jantungnya sudah membusuk, maka aku sendiri yang akan membedahnya."

Bersambung.......

Bab 3: Keadilan di Pasar RakyatMatahari tepat berada di atas kepala saat pasar utama Azura mencapai puncak hiruk-pikukny...
04/01/2026

Bab 3: Keadilan di Pasar Rakyat

Matahari tepat berada di atas kepala saat pasar utama Azura mencapai puncak hiruk-pikuknya. Aroma rempah bercampur dengan bau ternak dan suara tawar-menawar yang riuh. Di sudut pasar, Sultan Arshad duduk di balik tumpukan keranjang rotan kosong, menyamar sebagai pedagang kerajinan kecil.

Ia sengaja memilih posisi ini—tempat di mana ia bisa melihat tanpa terlihat, mendengar tanpa dicurigai.

Sang Pemangsa di Tengah Kerumunan

Ketenangan itu pecah saat suara langkah sepatu bot yang berat menghentak tanah, diikuti oleh suara tawa yang meremehkan. Effendi, seorang pengawas pasar tingkat menengah yang mengenakan seragam kebesaran dengan kancing perak yang mengkilap, berjalan angkuh didampingi dua anak buahnya.

Effendi berhenti di depan lapak milik seorang kakek tua yang menjual buah pir. Tanpa permisi, ia mengambil sebuah pir yang paling ranum, menggigitnya, lalu membuang sisanya ke tanah.

"Pajak tambahan untuk 'perlindungan siang hari', Pak Tua," ucap Effendi sambil menjulurkan tangannya yang gemuk.

"Tapi Tuan," suara kakek itu bergetar, "saya sudah membayar pajak mingguan pagi tadi. Jika saya bayar lagi, saya tidak punya uang untuk membeli obat istri saya."

Effendi tidak peduli. Ia menendang keranjang buah hingga pir-pir itu menggelinding di atas tanah yang kotor.

"Jangan menceramahiku dengan kemiskinanmu! Jika tidak bisa bayar, pergi dari pasar ini!"

Murka yang Terpendam

Sultan Arshad, yang melihat kejadian itu dari jarak beberapa meter, merasakan darahnya mendidih. Ia melihat orang-orang di sekitar hanya tertunduk, takut akan kekuasaan Effendi. Inilah kanker yang merusak pemerintahannya: pejabat yang merasa diri mereka adalah tuhan-tuhan kecil.

Arshad berdiri. Ia melangkah perlahan menuju kerumunan yang ketakutan itu.
"Tidakkah kau tahu bahwa setiap keping uang yang kau ambil secara paksa akan menjadi bara api di perutmu kelak?" suara Arshad memecah ketegangan.

Effendi menoleh, menatap pria berpakaian lusuh itu dengan hinaan. "Siapa kau, gembel? Berani sekali mengajari hukum padaku?"

ia memberi isyarat pada anak buahnya. "Hajar dia, beri dia pelajaran tentang siapa penguasa di pasar ini!"

Terungkapnya Sang Matahari

Kedua penjaga itu maju untuk meringkus Arshad. Namun, dengan gerakan yang tenang namun pasti, Arshad merogoh balik jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah Lencana Emas berbentuk Matahari dengan Segel Kerajaan yang hanya boleh dibawa oleh penguasa tertinggi.

Kilauan emas itu memantulkan cahaya matahari, membuat semua orang yang melihatnya terkesiap.

"Aku adalah penguasa di sini," ucap Arshad dengan suara bariton yang dalam dan penuh wibawa. Ia melepas sorban lusuhnya, memperlihatkan wajah yang biasanya hanya dilihat rakyat di atas mimbar tinggi.

Suasana seketika menjadi hening mencekam. Effendi jatuh berlutut, wajahnya yang tadi merah karena amarah kini pucat pasi seperti mayat. "Ba-Baginda... Hamba... hamba hanya bercanda..."

"Keadilan bukan bahan candaan, Effendi," tegas Arshad. Matanya menatap tajam para penjaga yang kini gemetar ketakutan.

Hukuman yang Adil

Sultan Arshad tidak memerintahkan algojo untuk memancung kepalanya. Baginya, kematian terlalu cepat untuk penebusan dosa semacam ini.

"Hari ini, jabatanmu dicopot," titah Arshad. "Seluruh harta yang kau peroleh dari hasil memalak akan disita untuk kas anak yatim. Namun, itu belum cukup."

Arshad menunjuk ke arah tumpukan sampah di sudut pasar dan keranjang-keranjang berat milik para pedagang tua.
"Selama satu tahun ke depan, kau akan bekerja di pasar ini. Bukan sebagai pejabat, tapi sebagai pelayan masyarakat.

Kau akan membersihkan kotoran hewan, memanggul barang dagangan orang-orang yang kau hina tadi, dan membantu mereka tanpa dibayar sepeser pun. Kau harus merasakan beratnya keringat yang selama ini kau peras!"

Seluruh pasar terdiam sesaat, sebelum akhirnya sorak-sorai "Hidup Sultan Arshad!" menggema membelah langit. Di tengah sorakan itu, Sultan Arshad menghampiri kakek penjual pir, membantunya memunguti buah yang jatuh, dan membisikkan permohonan maaf atas kelalaiannya dalam mengawasi anak buahnya.

Bersambung......

Bab 2: Tangis di Pinggiran KotaMalam semakin larut, namun udara di distrik pinggiran Azura terasa gerah oleh kemiskinan ...
04/01/2026

Bab 2: Tangis di Pinggiran Kota

Malam semakin larut, namun udara di distrik pinggiran Azura terasa gerah oleh kemiskinan yang menyesakkan. Sultan Arshad, yang kini dikenal sebagai 'Musafir Abu', berjalan menyusuri gang-gang sempit yang becek. Langkahnya terhenti di depan sebuah gubuk yang dinding bambunya sudah miring, seolah hanya menunggu satu embusan angin kencang untuk rubuh.
Dari celah dinding yang bolong, Arshad melihat pemandangan yang menyayat hatinya.

Sandiwara Keputusasaan

Seorang janda tua dengan tangan gemetar sedang mengaduk sebuah kuali besar di atas tungku api yang redup. Di sudut ruangan, tiga anak kecil berwajah pucat memperhatikan kuali itu dengan mata berbinar penuh harap.

"Ibu, apakah supnya sudah matang?" tanya si bungsu dengan suara parau.
"Sebentar lagi, Nak," jawab janda itu dengan suara yang dipaksakan tegar, meski matanya sembab.

"Batu-batu—maksud Ibu, dagingnya—masih keras. Tidurlah sebentar, nanti jika aromanya sudah harum, Ibu bangunkan kalian."

Arshad menajamkan penglihatannya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat apa yang sebenarnya diaduk di dalam air mendidih itu: tiga buah batu sungai.

Itu bukan makanan. Itu adalah sebuah kebohongan yang lahir dari cinta seorang ibu agar anak-anaknya tertidur dalam harapan, bukan dalam tangisan kelaparan.

Sang janda terus mengaduk, sementara air matanya jatuh satu demi satu ke dalam kuali, menambah rasa asin pada air tawar yang ia masak.

Pukulan Bagi Sang Penguasa

Di balik kegelapan malam, Sultan Arshad jatuh terduduk di atas tanah. Air matanya mengalir deras, membasahi kain lusuh yang ia kenakan.
"Ya Allah," bisiknya dalam isak yang tertahan. "Engkau menjadikanku pemimpin agar tidak ada perut yang kosong di negeri ini. Bagaimana aku akan menjawab pertanyaan-Mu di akhirat kelak jika di bawah hidungku sendiri, rakyatku memakan batu?"

Rasa bersalah menghujamnya lebih tajam daripada pedang musuh. Ia merasa jubah sutra yang ditinggalkannya di istana adalah kain kafan bagi nuraninya jika ia membiarkan hal ini berlanjut.

Punggung Sang Sultan

Arshad tidak menunggu pengawal. Ia tidak menunggu hari esok. Ia berlari kembali menuju istana, namun tidak masuk melalui gerbang utama. Ia menuju gudang logistik darurat di sayap belakang istana yang dijaga oleh Malik, pengawal setianya yang paling bungkam.

"Baginda? Mengapa Anda terengah-engah?" Malik terkejut melihat Sultan datang dengan mata merah.
"Kunci gudang, Malik! Cepat!" perintah Arshad.

Tanpa memedulikan statusnya sebagai raja, Arshad meraih satu karung gandum seberat 50 kilogram. Ia menolak bantuan Malik saat pengawal itu mencoba mengambil alih beban tersebut.

"Jangan!" tegas Arshad. "Dosa kelalaian ini aku yang memikulnya, maka biarkan punggungku yang merasakan beratnya gandum ini sebagai peringatan."

Dengan napas yang memburu, Sultan Arshad memanggul sendiri karung gandum itu. Ia berjalan kembali menembus kegelapan malam, melewati jalanan berbatu yang melukai kakinya, hingga sampai kembali di depan gubuk reyot tadi.

Cahaya di Tengah Malam

Tok! Tok! Tok!
Janda tua itu membuka pintu dengan ragu. Ia terperanjat melihat seorang pria berpakaian lusuh bersimbah keringat, memanggul sekarung gandum di pundaknya.

"Ini untukmu dan anak-anakmu," ujar Arshad dengan suara rendah yang bergetar. Ia meletakkan karung itu di lantai tanah, lalu mengeluarkan beberapa keping emas dari saku rahasianya.

"Masaklah gandum ini. Besok, pergilah ke pasar dan belilah ternak. Jangan pernah lagi memasak batu."

Wanita itu terpaku. "Siapa Anda, Tuan? Apakah Anda malaikat yang dikirim Tuhan?"

Arshad menggeleng pelan, senyum getir menghiasi wajahnya.

"Aku hanyalah seorang pelayan yang terlambat menjalankan tugasnya."

Sebelum wanita itu sempat berterima kasih lebih jauh, Arshad menghilang ke dalam kegelapan malam, menyisakan bau keringat perjuangan dan harapan baru di dalam gubuk itu.

Namun, di dalam hatinya, Arshad tahu: perjalanannya baru dimulai. Ada tikus-tikus besar di istana yang telah mencuri jatah gandum rakyat ini, dan ia akan menemukan mereka.

Bersambung.......

Bab 1: Cahaya di Balik Jubah LusuhMatahari baru saja tenggelam di ufuk Barat Kesultanan Azura, meninggalkan semburat jin...
04/01/2026

Bab 1: Cahaya di Balik Jubah Lusuh

Matahari baru saja tenggelam di ufuk Barat Kesultanan Azura, meninggalkan semburat jingga yang perlahan tertelan pekatnya malam.

Di dalam kamar pribadinya, Sultan Arshad berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai emas. Di sana terpantul sosok pria dengan jubah sutra bersulam benang perak, simbol kekuasaan yang tak terbatas.
Namun, bagi Arshad, jubah itu terasa seberat gunung.

"Kekuasaan bukan tahta untuk diduduki, melainkan beban untuk dipikul," bisiknya pada diri sendiri. Kalimat itu adalah wasiat ayahnya yang selalu berdengung di telinganya.

Ritual Penyamaran

Setelah menunaikan salat Isya, Sultan Arshad memulai ritual rahasianya. Ia perlahan melepas mahkota kecilnya, lalu menanggalkan jubah kebesaran yang harum wewangian. Sebagai gantinya, ia meraih sebuah jubah lusuh berwarna abu-abu kusam yang kasar saat menyentuh kulit. Ia melilitkan sorban tua yang sedikit pudar warnanya untuk menutupi sebagian wajah.

Dalam sekejap, sang penguasa tertinggi Azura lenyap. Yang tersisa hanyalah seorang pria paruh baya biasa, tampak seperti pedagang kecil atau musafir yang sedang kelelahan.

"Hamba akan mendampingi, Baginda?" tanya Malik, pengawal setianya yang muncul dari balik bayang-bayang pintu rahasia.

Arshad menggeleng. "Tetaplah di sini, Malik. Pastikan para menteri mengira aku sedang beristirahat di perpustakaan. Jika mereka tahu aku keluar, rakyat akan bicara dengan rasa takut, bukan dengan kebenaran."

Menembus Dinginnya Malam

Sultan melangkah keluar melalui lorong tikus di dinding belakang istana yang hanya diketahui oleh garis keturunannya. Begitu kakinya menyentuh tanah berbatu di luar tembok tinggi istana, ia menghirup udara malam dalam-dalam. Di sini, ia bukan lagi "Yang Mulia", melainkan seorang hamba yang ingin melayani.

Ia berjalan menyusuri pasar yang mulai sepi, melewati kedai-kedai kopi tempat para buruh pelabuhan melepas penat. Ia mendengarkan bisik-bisik mereka: keluhan tentang harga gandum yang naik, hingga kekhawatiran tentang musim kemarau yang panjang.

Pertemuan di Sudut Kota

Langkahnya terhenti di depan sebuah gubuk reyot di pinggiran distrik kumuh. Dari dalam, terdengar suara isak tangis seorang wanita dan batuk kecil seorang anak.

Arshad mendekat, hatinya berdenyut perih.
Di balik jendelanya yang miring, ia melihat seorang ibu sedang mengaduk kuali berisi air dan batu, hanya untuk meyakinkan anaknya yang kelaparan bahwa makanan sedang dimasak hingga sang anak tertidur karena lelah menunggu.

Arshad mengepalkan tangan di balik jubah lusuhnya. Suara rintihan ini tidak pernah sampai ke telinga para menterinya yang setiap hari menyuguhinya laporan-laporan manis di atas kertas wangi.

"Tunggu sebentar lagi, Nak," suara wanita itu bergetar. "Sultan kita adalah orang baik, mungkin besok bantuan akan sampai ke desa kita."

Mendengar namanya disebut dalam doa penuh harap di tengah penderitaan yang nyata, Arshad merasa tertampar. Ia segera berbalik, melangkah cepat menuju gudang logistik rahasia yang ia siapkan di pinggir kota untuk situasi seperti ini.

Malam ini, ia tidak akan tidur sebelum memastikan api di dapur wanita itu benar-benar memasak gandum, bukan sekadar batu.

Bersambung....

Akun media sosial Muda Bicara ID. membahas tentang hasil survei pandangan anak muda di Indonesia mengenai kinerja pemeri...
03/01/2026

Akun media sosial Muda Bicara ID. membahas tentang hasil survei pandangan anak muda di Indonesia mengenai kinerja pemerintah, khususnya mengenai daftar lima gubernur terbaik di mata mereka.

Gimana menurut sahabat Facebook?

Address

Jalan A. Yani
Langsa
24416

Telephone

+6285261825272

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Erna irwan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Erna irwan:

Share