13/08/2026
*Skandal Garis Gawang Samador*
Dikutip dari Tulisan John Lobo (Pengajar di Akademi sepakbola Ricky Nelson).
Sepak bola usia muda seharusnya menjadi panggung kejujuran, tempat di mana keringat, kerja keras, dan mimpi anak-anak belasan tahun dirayakan. Namun, apa yang terjadi di Gelora Samador, Maumere, dalam ajang Piala Soeratin U-17 Zona NTT 2026 justru menyuguhkan drama picisan yang melukai Nurani.
Garis gawang di Gelora Samador seolah menjadi garis misteri yang penuh dengan kontroversi. Lihat saja bagaimana tim Bintang Timur Atambua (BTA) memilih jalan pahit untuk _Walk Out_ (WO) saat berhadapan dengan tuan rumah Persami Maumere. Puncaknya, pada Rabu (12/8) sore, laga antara Biru Muda Perkasa (BMP) Flores Timur melawan Persami kembali menyisakan bau tak sedap. Bola yang belum jelas melewati garis gawang mendadak disahkan menjadi gol setelah protes masif dari pemain tuan rumah.
Di mana ketegasan pengadil lapangan? Mengapa keputusan yang sangat menentukan lahir bukan dari ketajaman pengamatan, melainkan dari tekanan dan kepungan pemain? Sehari sebelumnya, Selasa (11/8), nasib serupa menimpa CBN Ngada saat melawan P***e. Bola yang terlihat jelas sudah menembus garis gawang justru dianulir. Dua kejadian beruntun dalam hitungan jam yang melanda tim berdedikasi tinggi seperti CBN Ngada dan BMP bukanlah kebetulan biasa ini adalah sinyal bahaya bagi kualitas dan integritas perangkat pertandingan kita.
Hal yang paling menyayat hati dari insiden BMP sore tadi bukanlah skor akhir 3:0. Hal paling menyakitkan adalah melihat anak-anak usia di bawah 17 tahun itu masuk kembali ke lapangan sambil menangis. Mereka dipaksa melanjutkan pertandingan dengan hati yang hancur dan semangat yang remuk. Mereka tidak kalah oleh taktik atau kualitas lawan, melainkan oleh peluit yang tak adil.
Piala Soeratin didesain untuk membentuk karakter dan mental juara. Namun, di Gelora Samador, apa yang dijarkan kepada mereka? Bahwa kerja keras berbulan-bulan bisa mendadak sirna hanya karena kepemimpinan wasit yang meragukan? Ini bukan lagi soal kalah atau menang, ini adalah pembunuhan karakter pemain muda secara perlahan.
Ironisnya, saat situasi memanas di lapangan, saluran siaran langsung di YouTube milik akun resmi pemerintah daerah justru mendadak terhenti. Di era digital, ketika publik menuntut transparansi, penghentian siaran ini justru menimbulkan tanda tanya besar yakni *_Apakah ada sesuatu yang sedang berusaha ditutupi dari mata publik?_*
Jika Asprov PSSI NTT dan komisi wasit terus tutup mata dan menganggap kontroversi semacam ini sebagai hal biasa dalam sepak bola, maka jangan salahkan publik jika legitimasi turnamen ini gugur. Publik tidak butuh pemakluman, publik butuh evaluasi total dan sanksi tegas bagi perangkat pertandingan yang terbukti lalai.
Jangan biarkan Gelora Samador dikenang bukan karena lahirnya bakat-bakat emas NTT, melainkan sebagai tempat di mana mimpi dan air mata anak-anak muda dikorbankan di ujung peluit yang bernoda.