02/02/2026
Surat Terbuka Guru kepada Orang Tua: Ketika Ketegasan Dianggap Kejahatan
Yth. Bapak/Ibu Orang Tua/Wali Peserta Didik,
Surat ini kami tulis bukan dengan kemarahan,
melainkan dengan lelah, sedih, dan rasa takut yang perlahan tumbuh di hati para guru.
Hari ini, banyak dari kami mengajar bukan hanya dengan buku di tangan,
tetapi juga dengan kecemasan di dada:
takut ditegur, takut dilaporkan, bahkan takut dipidanakan—
hanya karena kami tegas mendidik.
Kami ingin Bapak/Ibu tahu,
menegur siswa yang melanggar aturan bukan keputusan yang ringan.
Menahan siswa yang berbuat salah bukan karena kami tidak menyayangi,
tetapi karena kami tidak ingin mereka tumbuh tanpa batas, tanpa tanggung jawab, tanpa arah.
Namun kini, ketegasan sering disalahartikan.
Suara guru dianggap ancaman.
Teguran dianggap kekerasan.
Disiplin dianggap kejahatan.
Bapak/Ibu yang kami hormati,
kami juga manusia.
Kami punya keluarga.
Kami punya anak.
Kami punya masa depan.
Ketika seorang guru dipidanakan karena mendisiplinkan siswa,
yang hancur bukan hanya kariernya,
tetapi juga keberanian guru-guru lain untuk menegur, membimbing, dan mendidik dengan sungguh-sungguh.
Akhirnya, banyak guru memilih diam.
Membiarkan pelanggaran berlalu.
Menutup mata demi aman.
Karena satu kesalahan kecil saja bisa berujung laporan, stigma, bahkan jeruji besi.
Lalu kami bertanya dalam hati:
Jika guru tidak lagi berani tegas,
siapa yang akan mengajarkan batas kepada anak-anak kita?
Kami tidak meminta dibenarkan saat keliru.
Kami tidak meminta kebal hukum.
Kami hanya memohon dipahami niatnya.
Jika ada masalah, mari bicara.
Jika ada kekeliruan, mari luruskan bersama.
Jangan biarkan pendidikan berubah menjadi ruang saling mencurigai.
Sekolah bukan medan perang.
Guru bukan musuh orang tua.
Kami adalah orang-orang yang setiap hari berdiri di depan kelas
dengan satu harapan sederhana:
anak-anak Bapak/Ibu tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Mohon pahami,
mendidik terkadang harus tegas,
dan ketegasan tidak selalu berarti kejam.
Jika suatu hari guru tak lagi berani menegur,
jangan salahkan guru—
kami hanya sedang berusaha bertahan hidup di tengah ketakutan.
Hormat kami,
Guru-guru yang Masih Bertahan