04/09/2026
Tiga Nahkoda Baru, Wajah Baru Persebata
Tiga nahkoda baru dalam susunan kepelatihan Persebata Lembata mulai memberi sentuhan dan wajah baru bagi tim berjuluk Sembur Paus itu.
Di bawah tangan dingin sang allenatore, Mino Making, sejumlah nama baru dipercaya mengisi posisi penting dalam tim kepelatihan. Ada Mansyur Ahmad sebagai asisten pelatih, Baran sebagai pelatih kiper, dan Bocha Manuk sebagai pelatih fisik.
Tiga nama dengan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: mereka bukan orang asing dalam sepak bola Lembata dan NTT.
Nama Mansyur Ahmad bukanlah nama baru di dunia sepak bola. Ia banyak berkontribusi terhadap perkembangan sepak bola di Alor. Baru-baru ini, ia juga berhasil mengantarkan MUTIARA SGB promosi ke Liga 1 Persebata.
Dengan sederet pengalaman yang dimilikinya, pemilihan Mansyur untuk mendampingi Coach Mino tentu bukan pilihan tanpa pertimbangan. Kehadirannya memberikan tambahan pengalaman sekaligus perspektif lain dalam membangun tim.
Nama lain yang masuk jajaran pelatih adalah Baran. Penunjukan ini tentu juga bukan tanpa alasan.
Baran merupakan salah satu sosok sentral pada masanya ketika berdiri sebagai palang pintu Persebata. Bahkan hingga akhir masa-masa keemasannya, magis dan daya sihirnya di bawah mistar gawang masih kerap terlihat.
Karena itu, penunjukannya sebagai pelatih kiper memberi sinyal kuat bahwa para penjaga gawang muda Persebata akan mendapatkan sentuhan langsung dari salah satu kiper terbaik yang pernah dimiliki Lembata, bahkan NTT.
Sementara itu, Bocha Manuk dipercaya sebagai pelatih fisik tim Sembur Paus. Sosok yang satu ini juga tidak asing bagi pecinta sepak bola Lembata. Ia dikenal karena kepiawaiannya, baik sebagai pemain maupun pelatih ketika menukangi Gajah Lumpur.
Di luar pengalaman sepak bolanya, Bocha juga berprofesi sebagai guru olahraga, sama seperti Baran. Artinya, kehadiran keduanya di dalam tim kepelatihan tidak sekadar membawa pengalaman masa lalu, tetapi juga ilmu dan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kondisi fisik serta kebutuhan pemain.
Dua nama ini sejatinya tidak asing di telinga masgibol Lembata. Keduanya hampir selalu hadir dalam berbagai perhelatan sepak bola, baik di tingkat lokal, daerah, maupun provinsi.
Namun, justru di titik inilah menariknya komposisi baru Persebata.
Terlepas dari warisan dan rekam jejak keduanya di masa lalu, kita patut mengapresiasi keberanian Persebata untuk memberikan ruang kepada "orang baru" di kursi kepelatihan.
Ini bukan sekadar soal pergantian nama. Ada semacam keinginan untuk membuka lembaran baru sekaligus memberikan warna berbeda dalam perjalanan tim ke depan, setelah sebelumnya mengalami persoalan-persoalan yang tidak pernah diselesaikan sampai hari ini.
Jika melihat komposisi ini, Coach Mino sepertinya tidak sekadar memilih orang berdasarkan pengalaman. Ada indikasi bahwa ia juga mencari sosok-sosok yang memiliki kesepahaman dalam hal filosofi, karakter, dan cara melihat permainan.
Dan jika demikian, maka kehadiran tiga nama ini bisa menjadi lebih dari sekadar susunan staf kepelatihan.
Ia bisa menjadi penegasan awal terhadap filosofi permainan yang ingin dibangun Persebata.
Sepak bola dunia sendiri belakangan memang tengah berada dalam fase peralihan. Banyak mantan pemain mengambil peran sebagai pelatih di usia yang relatif muda. Xabi Alonso, Xavi Hernandez, hingga Arbeloa adalah beberapa contoh yang menunjukkan bagaimana generasi baru pelatih membawa pendekatan berbeda terhadap permainan.
Mereka cenderung menawarkan sepak bola yang lebih fleksibel, dinamis, dan tidak terlalu pragmatis. Permainan dibangun dengan struktur yang jelas, tetapi tetap memberi ruang bagi kreativitas dan adaptasi di lapangan.
Dalam konteks Persebata, melihat susunan tim kepelatihan yang ada, Coach Mino dan jajaran sepertinya ingin memberikan sentuhan berbeda.
Ada kemungkinan kita akan melihat Persebata dengan gaya permainan yang lebih modern dan fleksibel, mengandalkan kecepatan, serta memiliki sirkulasi bola dan penguasaan lini tengah yang lebih baik.
Tentu, semua itu masih sebatas pembacaan awal.
Sebab pada akhirnya, sepak bola tidak pernah selesai hanya di atas kertas. Filosofi, pengalaman, dan komposisi kepelatihan baru akan memiliki makna ketika semuanya diterjemahkan ke dalam latihan, kemudian terlihat di lapangan.
Jawaban sesungguhnya akan terlihat ketika tim kebanggaan masyarakat Lembata ini mulai turun ke lapangan dan memainkan sepak bolanya.
Namun satu hal yang pasti, tiga nahkoda baru ini membawa harapan baru. Dan dari kursi kepelatihanlah, wajah baru Persebata mungkin sedang mulai dibentuk.