25/12/2025
“Ngiring” itu tidak semudah diucapkan.
Kisah perjalanan “ngiring” itu dijelaskan dengan terang dan jelas di dalam Al-Quran pada surat Al-Kahfi. Perjalanan “ngiring”nya nabi Musa kepada nabi “Khidir”.
Nabi Musa bilang “gampang”. Sedangkan nabi Khidir menyampaikan “Kamu tidak akan sabar wahai Musa”
لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
Dan sampai tiga kali kesempatan diberikan kepada nabi Musa. Tapi akhirnya gagal juga pada tiga kesempatan itu untuk “Ngiring” kepada nabi Khidir. Sehingga terjadilah perpisahan.
Pelajarannya apa?
_______
Pertama : Kalau kita menjadi murid jangan banyak komentar kepada apa yang guru kita lakukan. Terlebih guru yang alim sholeh. Pengalamannya seabrek. Setiap geraknya dituntun oleh ilmu dan hikmah.
Kedua : Kita harus sadar diri. Ilmu seorang guru itu jauh lebih tinggi, lebih dalam daripada kita sebagai seorang murid.
Ketiga : Ketika seorang murid sudah ada perasaan “merasa”. Entah merasa tahu, merasa lebih hebat pada satu ilmu dari gurunya. Maka pada saat itu “kehancuran” telah tiba.
Keempat : Tidak semua hal harus dijelaskan dulu baru kemudian kita ikuti. Karena ada suatu hal kalau dijelaskan dulu. Bukan akan semakin mudah hal itu. Justru akan semakin ribet dengan pertanyaan murid untuk mengejar ketidaktahuannya.
Kelima : Perbanyak diam dan bertanya pada diri ketika “ngiring” pada orang alim sholeh. Apa pelajarannya? Pesan apa yang disampaikan oleh guru saya? Itu yang harus kita pertanyakan.
Dan untuk hari ini, jangan sampai banyak dari kita para murid, pencinta gagal “Ngiring” gara-gara kata “Almarhum”.
Seharusnya hal ini kita jadikan pesan untuk memperbanyak literasi. Jangan menjadi hakim.
Wallohu A’lam.
______
Note : Jangankan kata “almarhum”. Video yang gunting (peleng) “sabuk” setelah “perak api” anak yang baru lahir saja bisa diributkan oleh orang yang tidak sampai dan punya pengalaman dengan hal itu.