05/12/2016
Bendungan Pandanduri yang merupakan bendungan terbesar di NTB, namun keberadaannya ternyata banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Tak hanya warga di kawasan selatan Lotim dan Sakra Timur saja yang mengeluh, namun masyarakat yang berada di sekitar bendungan ini juga mengaku belum merasakan dampaknya.
Seperti yang disampaikan Amaq Sapri, salah seorang patani asal Desa Suangi, Kecamatan Sakra, yang mengatakan bahwa sejak mulai beroprasinya Dam Pandanduri, banyak masyarakat yang hingga kini belum merasakan air Dam Pandanduri secara gratis. Pasalnya, untuk bisa mendapatkan air dari bendungan tersebut, masyarakat harus membeli bensin untuk mesin penyedot air hingga ratusan liter, untuk mengairi sawahnya.
“Pemerintah sebenarnya sudah membelikan mesin untuk mengairi sawah. Akan tetapi mesin ini tentu tidak bisa hidup jika tidak mempunya bensin. Hal sepert ini bahkan sudah terjadi selama empat tahun. Namun pemerintah seakan akan tutup mata akan hal ini,” sesalnya.
Luas persawahan di Desa Suangi, yang sekitar 140 hektar, hingga kini masih belum merasakan dampaknya Pandanduri, kalau para petani tidak melakukan penyedotan sendiri. Artinya, ketika masyarakat Desa Suangi tidak memiliki dana, dan air sudah berkurang, maka masyarakat akan membayar buruh untuk menurunkan mesin hingga ke bawah.
“Mungkin untuk saat ini petani masih bisa membawa sendirian. Namun ketika air sudah mulai berkurang, selain butuh BBM, kita juga harus mencari tenaga untuk membantu menurunkan mesin,” keluh Amaq Sapri.
Dikatakan, pada tahun 2017 masyarakat mendengar akan ada pembukaan pintu air untuk masyarakat Desa Suangi melalui Sadal 6. Namun menurut Amaq Sapri, jika Sadal 6 yang dibuka, maka masih ada Perdusunan yang belum bisa mendapatkan air, karena lokasi dusun ini berada di tempat yang lebih tinggi. ”Ini sebenarnya yang kita pikirkan. Kita saja yang menjadi korban tidak mendapat perhatian penuh dari pemerintah, apalagi masyarakat yang lebih jauh,” bebernya.
Seperti ketika Sabtu lalu (3/12), Komanda