07/08/2026
Mereka Sepakat Bahwa Mereka Tidak Sepakat
Kisah nyata keluarga satu atap beda mazhab—yang tetap bisa rukun meski saling doain supaya anggota keluarga “menemukan jalan benar”
Ada satu video TikTok viral dimana sebuah keluarga menganut konsep pemahaman keagamaan gado-gado.
Rumah bagi mereka bukan sekadar tempat tinggal. Ia semacam ruang tempat perdebatan terjadi tanpa perlu pake moderator tapi tetap pakai dalil.
Anak pertama: Salafi tulen. Hobinya bilang "bid’ah!" ke segala bentuk inovasi. Ucapan ulang tahun? Bid’ah. Ikutan tren TikTok? Haram. Nabung emas digital? Syubhat. Bahkan pake celana yang panjangnya melebihi mata kaki aja bisa jadi tema khutbah dua pekan.
Anak kedua: NU, pengamal tahlilan sejati. Tiap malam Jumat nggak pernah absen dari lantunan Yasin, dan selalu sigap kalau ada kabar duka—karena itu artinya ada tahlilan, dan tentu saja, ada berkat.
Anak ketiga dan keempat: Muhammadiyah. Kalau lihat kakaknya bawa berkat dari tahlilan, langsung ngedumel: “Itu mah nggak ada tuntunannya di zaman Nabi.” Tapi diam-diam ikut nyicipin kue apem juga.
Sementara sang bapak adalah Jamaah Tabligh. S**a keliling masjid dengan misi: ajak manusia kembali ke jalan Allah, minimal lewat shalat berjamaah.
Lalu sang ibu, ah ini dia bintang utamanya: HTI sejati. Yang kalau ngobrolin politik selalu pakai frasa, “Itulah akibat sistem demokrasi sekuler kapitalistik!” Setiap berita nasional dikaitkan ke satu solusi tunggal: khilafah.
Bayangkan tinggal serumah dengan semacam miniatur lima paham keagamaan. Di rumah ini, debat bukan acara tahunan, tapi rutinitas harian. Tapi ya begitu, meski beda jalan, semua tetap sejalan. Karena ya memang satu KK.
Kalau buku PKn bilang, “Toleransi itu menghargai perbedaan”, maka keluarga ini udah masuk level toleransi maqam tinggi. Mereka tahu, toleransi bukan cuma teori ujian. Ia adalah seni menikmati hidup—dalam rumah yang isinya orang-orang yang, secara doktrinal, harusnya saling menyesatkan satu sama lain.
Tapi toh, ibu HTI tetap masak sayur sop buat anak Muhammadiyah. Anak Salafi tetap bantu setting mic buat bapak JT yang mau ceramah. Anak NU tetap doain semuanya sehat wal afiat meski besoknya dikritik karena ikut istighotsah.
Tidak ada yang merasa harus jadi tuhan buat orang lain. Tidak ada yang maksa satu tafsir untuk semua kepala. Karena semua sudah tahu satu prinsip dalam keluarga: berbeda itu biasa, asal jangan lupa gantian nyuci piring dan mandiin motor.
Mereka mungkin tidak pernah benar-benar sepakat. Tapi mereka saling mendoakan. Tentu saja dengan gaya masing-masing. Kadang doa si anak pertama begitu spesifik: “Ya Allah, lembutkan hati saudara kandung dan orangtua kami agar kembali ke manhaj salaf.” Kadang doa sang ibu lebih halus: “Semoga Allah beri hidayah kepada keluarga kami yang masih belum paham pentingnya khilafah.”
Tapi doa boleh beda. Isi dompet tetap satu. Kalau ada yang ulang tahun—eh, maaf, bukan ulang tahun, tapi “bertambah usia”—semua tetap patungan beli martabak.
Salah satu pelajaran terbesar dari keluarga ini adalah bahwa pertengkaran itu tidak selalu jadi alasan untuk putus silaturahmi. Justru dari pertengkaran itulah, mereka belajar untuk lebih dewasa. Belajar bahwa perbedaan itu bukan ancaman, tapi justru pengingat: bahwa iman tidak bisa dipaksa, tapi bisa saling kompromi untuk menjalani keyakinan masing-masing.
Mereka paham, saling kritik itu sah. Tapi saling sayang harus tetap dijaga. Bahwa cinta keluarga tidak ditentukan dari kesamaan pendapat, tapi dari kesiapan untuk tetap menyapa meski isi kepala beda semua.
Di rumah mereka, toleransi bukan sekedar slogan. Tapi prinsip kebersamaan yang harus dipegang tanpa perlu kehilangan prinsip Masing-masing dan tanpa perlu pura-pura saling sepakat. Kalo sudah kumpul bareng, Mereka lupa pada prinsip Masing-masing.
Kadang caranya cukup dengan bikin teh manis sore hari buat semua, sambil nonton TV, dan lupa sejenak siapa yang Salafi, siapa yang NU, siapa yang HTI.
Karena pada akhirnya, semua cuma manusia biasa yang ingin hidup tenang. Mau Salafi, HTI, NU, JT, atau Muhammadiyah, semua tetap butuh makan, butuh sinyal Wi-Fi, dan butuh orang yang bilang: “Piring kotor, jangan lupa dicuci."
Mungkin keluarga ini hanya satu dari sekian banyak yang hidup di tengah perbedaan tafsir. Tapi dari mereka kita belajar bahwa pluralisme bukan cuma realita Indonesia—dia juga realita dapur, ruang tamu, dan grup WhatsApp keluarga.
Mereka memang tidak sepakat. Tapi mereka sepakat bahwa mereka tidak sepakat.
Karena di negeri ini, kadang bukan kesamaan pendapat yang membuat kita bertahan. Tapi niat untuk tetap duduk bersama, walau beda kajian, ormas dan radio.
Kalau ada yang bilang, “Toleransi harus diajarkan di sekolah,” keluarga ini mungkin cuma senyum sambil bilang, “Kami sih udah lulus dari dulu.”
Photo credit TikTok account