Dewi Aristi

15/10/2023

Assalaamu 'alaikum

21/06/2019
18/06/2019
Al-Qasiy (Si Ber-Hati Keras)--------------------------------------------Al-Qasiy (al-Qasiyah) bukanlah nama orang.Al-Qas...
18/06/2019

Al-Qasiy (Si Ber-Hati Keras)
--------------------------------------------
Al-Qasiy (al-Qasiyah) bukanlah nama orang.
Al-Qasiy adalah sebutan bagi seseorang yang berhati keras. Maksud hati keras di sini bukanlah hati yang memiliki pendirian teguh, tidak cepat berputus asa, bukan p**a hati yang mengandung tekad kuat dan tak akan berhenti bekerja sebelum cita-citanya tercapai.
Tetapi al-Qasiy di sini adalah sebutan bagi seseorang yang berhati menyerupai batu.
Seseorang yang berhati menyerupai batu selalu diidentikkan dengan orang yang tidak berperasaan atau tidak berbelas kasihan.
Oleh karenanya seseorang yang dengan enteng mengabaikan penderitaan orang atau makhluk lain, sering dikatakan sebagai orang yang berhati keras, membatu. Demikian p**a orang yang begitu tega menyakiti, bahkan melenyapkan nyawa orang atau makhluk lain.
Sebab itu p**a al-Qasiy sering disamakan dengan hati yang bengis, hati yang gelap, atau hati yang kaku.
Dari istilah ini kita menjadi teringat akan firman Allah di beberapa ayat al-Qur’an.
Pada surat al-Baqarah ayat 74, Allah menyatakan: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras lagi”.
Ayat ini terkait dengan ayat-ayat sebelumnya yang mengisahkan tentang peristiwa penyembelihan sapi betina di zaman Nabi Musa.
Dengan sebagian anggota tubuh sapi itu,
Nabi Musa “dapat” menghidupkan kembali seseorang yang telah mati, yang kemudian menerangkan siapa orang yang membunuhnya. Meski hal ini menjadi pertanda kekuasaan Allah, nyatanya sebagian Bani Israil tetap berhati batu.
Di dalam surat al-An’am ayat 43, Allah kembali menggunakan istilah ini. Firman-Nya:
“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan”.
Dikaitkan dengan ayat sebelumnya, kita segera mengerti bahwa penggunaan istilah “hati batu” oleh Allah pada ayat ini ditujukan kepada mereka yang tidak mau memahami keadaan umat terdahulu yang disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan dan kemelaratan.
Dengan kata lain, kendati Allah telah berkali-kali mengutus Rasul, lalu menimpakan siksa pedih kepada umat mereka
lantaran mengabaikan ajaran para Rasul, toh sejarah yang seperti itu tak cukup mempan bagi umat di masa-masa berikutnya untuk menjadi generasi yang tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah.
Di semua ayat itu Allah menggunakan kata qasat untuk menyebutkan keadaan hati yang telah mengeras atau membatu. Hal yang sama diulang kembali pada surat az-Zumar ayat 22 dan al-Hadiid ayat 16.
Kesemuanya sama, ayat-ayat di atas menunjukkan hilangnya perasaan, dan berubahnya hati menjadi kaku dan beku pada banyak generasi.
Dalam keadaan hati seperti ini, bukti kekuasaan Allah sekuat apa pun, siksa Allah sepedih apa pun, dan rahmat Allah senikmat apa pun, tak cukup mampu mengubah hati menjadi cair.
Qasiyyah atau keras hati, merupakan salah satu sisi dari penyakit hati yang membahayakan. Qasiyyah ini p**a yang akan membawa seseorang tumbuh menjadi ketus, berkepala batu, atau berhati beku.
Dr. Nashir bin Sulaiman al-Umar menyebut kebodohan sebagai penyebabnya.
Kebodohan seseorang pada tingkatnya yang gawat, memang dengan mudah membawa si empunya menolak segala kebenaran, sekali pun kebenaran itu disertai bukti-bukti kuat.
Selain itu, kesukaan pada fitnah, syahwat, maksiat, syubhat, dan lalai berdzikir kepada Allah, merupakan hal-hal lain yang patut dicurigai dan harus diwaspadai.
Demikian p**a hawa nafsu, pergaulan yang buruk, kesukaan memakan riba dan suap, memandang kepada yang diharamkan Allah, ghibah dan namimah (adu domba), kesibukan dunia dan menjadikan dunia sebagai cita-citanya.
=====

30/05/2019

بسم الله الرحمن الرحيم

Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki رحمة الله تعالى mengatakan orang yang berpuasa mempunyai 10 keutamaan yang diberikan ...
18/05/2019

Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki رحمة الله تعالى mengatakan orang yang berpuasa mempunyai 10 keutamaan yang diberikan Allah, di antaranya ialah ;
Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan. Pintu syurga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa.
Kata Nabi dalam satu hadisnya, pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya. (HR. Ahmad dan Bukhari-Muslim).
Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai benteng yang kukuh dari siksa api neraka sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasul bersabda, “ Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kukuh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi).
Ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada ahli puasa dengan menjadikan bau mulutnya itu lebih harum dari minyak misik( haruman kasturi). Sehingga Rasul bertutur demikian, “ Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak di sisi Allah dari bau minyak misik.”
Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya meluapkan rasa syukurnya di mana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan zikir. Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan kerana telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya. “ Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan iaitu berbahagia di kala berbuka dan di kala bertemu Allah,” kata Nabi dalam hadis riwayat imam Muslim.
Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menjaga kesihatan dan sembuh dari pelbagai penyakit. “ Berpuasalah kalian, nescaya kalian akan sihat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).
Firman Allah Ta’ala yang bermaksud:
“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 183).
Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada ahli puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari siksa api neraka. Matanya tak akan sampai melihat marak api neraka dalam bentuk apapun juga. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata demikian, “ Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim, dan Nasa`i).
Ketujuh, dalam Al Quran, Allah berfirman yang bermaksud: “(Mereka itu ialah): orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang mengembara (untuk menuntut ilmu dan mengembangkan Islam), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat kebaikan dan yang melarang daripada kejahatan, serta yang menjaga batas-batas hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman (yang bersifat demikian).” (Qs. At Taubah: 112).
Firman Allah Ta’ala lagi:
Katakanlah (wahai Muhammad, akan firmanKu ini, kepada orang-orang yang berakal sempurna itu): “ Wahai hamba-hambaKu yang beriman! Bertaqwalah kepada Tuhan kamu. (Ingatlah) orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan beroleh kebaikan (yang sebenar di akhirat). dan (ingatlah) bumi Allah ini luas (untuk berhijrah sekiranya kamu ditindas). Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah sahaja yang akan disempurnakan pahala mereka dengan tidak terkira”. (Az-Zumar: 10)
Kata Al Maliki, orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tak terhitung banyaknya dari zat Yang Maha Pemberi, Allah سبحانه وتعالی .
Kelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistimewaan dengan menjadikan segala aktiviti orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Kerananya, orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan bertujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya jugalah ibadah.
Dalam satu hadits riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, “ Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipat gandakan (pahalanya).”
Kesembilan, di antara kurnia yang Allah berikan dalam memuliakan orang yang berpuasa, bahawa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa itu sendiri meskipun dengan sepotong roti atau seteguk air.
Dalam satu riwayat Nabi bersabda:
" Seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadhan meskipun hanya seteguk air. (HR. Abu Ya`la).
Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjamaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan bersholawat (memintakan ampunan) baginya.

Address

Jalan Industri, Baturuyuk, Dawuan
Majalengka
45453

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dewi Aristi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share