20/08/2026
Syair ini berbicara tentang cinta yang melampaui keinginan untuk memiliki. Dalam pandangan sufistik, cinta sejati bukan sekadar mendapatkan seseorang, tetapi menjadi jalan untuk melepaskan ego dan mendekat kepada Yang Maha Mencintai.
“Jika engkau ingin cinta, kau harus siap untuk kehilangan dirimu.”
Kehilangan diri bukan berarti kehilangan harga diri atau menjadi tidak berarti. Ia bermakna melepaskan ego, keinginan untuk menguasai, dan tuntutan agar segala sesuatu berjalan sesuai kehendak kita. Ketika mencintai dengan tulus, kita belajar berkata : “Aku mencintaimu, bukan untuk menjadikanmu milikku, tetapi karena keberadaanmu adalah amanah yang ingin kuhargai.”
“Cinta bukanlah tentang memiliki, tapi tentang memberi segalanya tanpa takut kehilangan.”
Cinta yang matang tidak selalu bertanya, “Apa yang akan kudapatkan?” tetapi, “Apa yang bisa kuberikan?” Ia memberi perhatian, kesetiaan, doa, pengertian, bahkan kebebasan tanpa menjadikan pemberian sebagai hutang yang harus dibalas.
Dalam kedalaman spiritual, ketika kita takut kehilangan, sering kali yang sedang kita pertahankan bukan cinta, melainkan ego. Sedangkan ketika cinta telah diserahkan kepada Allah, hati perlahan belajar menerima : jika sesuatu memang untuk kita, ia tidak akan luput ; jika ia pergi, mungkin Allah sedang mengajarkan bahwa cinta sejati tidak berakhir pada manusia, tetapi kembali kepada-Nya.