09/12/2025
Bencana meruntuhkan rumah—
tapi anehnya, justru di saat seperti itu
kita melihat manusia kembali menjadi… manusia.
Air bah datang tanpa bertanya,
“Siapa pejabatmu?” atau “Berapa saldo dompetmu?”
Ia datang dan menyeret semuanya tanpa pilih kasih—
seolah ingin mengingatkan kita bahwa di hadapan alam,
status hanya dekorasi yang mudah hanyut.
Dan lucunya, ketika banjir membawa batang-batang pohon
yang dulu ditebang diam-diam,
kita pura-pura tidak kenal.
Seperti, “Wah, dari mana semua kayu ini?”
Padahal jawabannya jelas:
dari tangan-tangan yang selalu sibuk tapi tak pernah terlihat.
Namun di balik absurdnya dunia,
selalu ada sesuatu yang membuat hati hangat:
orang-orang yang tak menunggu pangkat untuk membantu,
tak menunggu kamera untuk peduli,
tak menunggu viral untuk mengulurkan tangan.
Bencana menghancurkan banyak hal—
tapi ia juga membuka mata kita
bahwa manusia yang peduli
masih lebih kuat daripada mereka yang pura-pura bekerja.
Semoga setelah ini,
yang runtuh bukan hanya rumah,
tapi juga kesombongan kita terhadap alam
dan kebiasaan pura-pura tidak tahu siapa yang merusaknya.