27/05/2026
Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban. Ia pengingat pada satu momen di Mina, ketika seorang ayah mengasah pisau untuk anaknya dan seorang anak menundukkan kepala. Bukan karena takut, tetapi karena percaya.
Namun, sebelum itu ada dua ibu yang lebih dulu belajar pasrah dengan cara berbeda.
Bunda Hajar. Ditinggal sendirian di padang pasir gersang bersama bayi Ismail yang haus tanpa jaminan apa pun kecuali janji Allah. Dia berlari antara Shafa dan Marwah tujuh kali, bukan karena yakin akan menemukan air, tetapi karena yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berusaha. Dan dari hentakan kaki Ismail kecil, keluarlah air zamzam.
Bunda Sarah, istri Ibrahim yang hidup puluhan tahun dalam penantian. Dia menahan rindu punya anak dan menahan sabar ketika doa-doa itu seolah tak kunjung dijawab. Hingga di usia 90 tahun, para malaikat datang membawa kabar: "Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan Ishaq, dan setelah Ishaq akan lahir Ya'qub." [QS. Hud: 71-72]. Ia tertawa haru tak percaya. Dari kesabarannya, kita belajar bahwa doa yang tertunda bukan doa yang ditolak.
Dari Ibrahim kita belajar tunduk.
Dari Ismail kita belajar rida.
Dari Hajar kita belajar ikhtiar tanpa ragu.
Dari Sarah kita belajar sabar menunggu janji Allah, meski logika berkata mustahil.
Kita mungkin tidak diuji sebesar itu.
Namun, setiap hari kita diminta melepas sesuatu: ego, gengsi, rencana yang kita s**a tetapi Allah tidak ridhai.
Semoga kurban kita tahun ini, sekecil apa pun, jadi tanda bahwa hati kita masih mau belajar pasrah, seperti Ibrahim, seperti Ismail, seperti Hajar, seperti Sarah.
Selamat Iduladha 1447 H. Semoga Allah terima amal kita, dan jadikan kita bagian dari hamba-hamba yang diberi keteguhan.