Mama Fatta

Mama Fatta ✅ Review Produk
✅ BERBAGI INFO
✅ Berbagi Resep
✅ Quotes (Hanya Konten, jangan BAPER‼️)
💥💥OPEN JASPRO YANG MINAT BISA INBOX💥💥

Lamaranku ditolak calon mertua karena tak mau memberi mahar 350 ju ta. Demi misi membalas dendam, kulamar putri mereka y...
08/01/2026

Lamaranku ditolak calon mertua karena tak mau memberi mahar 350 ju ta. Demi misi membalas dendam, kulamar putri mereka yang lainnya dan perempuan itu adalah gadis ca-cat dan bersedia menerima mahar 10 ju_ta dariku. Namun, diam-diam aku telah menyiapkan mahar 1 mili_ar untuk membuat mantan pacarku dan orangtuanya menyesal!

*****

(Spoiler. Lengkapnya di KBM_App)

“Aku nggak sudi! Nggak sudi pokoknya kalau Nina harus menikah dengan Mas Arka! Apalagi dengan mahar satu m_iliar dan logam mulai seribu gram! Nina cuma perempuan cacat dan anak seling_kuhan bapakku! Dia nggak pantes buat dapetin semua ini!”

Deg!

Jantungku rasanya seperti copot seketika dari rongga. Telinga ini pun kontan memanas. Dua bola mataku tentu saja langsung melotot besar.

A-apa?

Apa aku tidak salah dengar?

“Hah?” Mbak Arum yang duduk di pinggir ranj_ang milikku tampak terkejut.

Perempuan cantik berhijab rapi itu pun langsung bangkit, lalu cepat mendatangiku dengan wajah pias. Jangan tanya kondisiku saat ini. Rasanya aku sudah mau pingsan!

“Mbak Nina, ayo kita keluar!” seru Mbak Arum sambil membantuku untuk berdiri.

“I-iya, Mbak,” gagapku pelan.

Mbak Dania yang tadinya berdiri di depan ambang pintu ka_marku, segera menghambur ke arah kami berdua. Raut wajah Mbak Dania sama piasnya dengan Mbak Arum. Kami bertiga benar-benar syok mendengar pekik jerit dari bibir adikku—Syahla.

“Mohon maaf Mbak. Pernikahan ini tetap sah di mata agama dan negara. Semua syarat nikahnya sudah terpenuhi.”

Bersambung
🔥💓🔥💓🔥

Baca ceritanya di KBM_App

Judul: Lamaran Ditolak Satu Miliar Bertindak

Penulis: Meisya Jasmine

Bab Bonus Spesial 14 ( Hanya Cuplikan )Judul PERAWAT HALAL KESAYANGAN TUAN DUDA LUMPUH Karya Suare Hening ****Tiba-tiba ...
08/01/2026

Bab Bonus Spesial 14 ( Hanya Cuplikan )

Judul

PERAWAT HALAL KESAYANGAN TUAN DUDA LUMPUH

Karya Suare Hening

****

Tiba-tiba Tubuh Raditya bereaksi di luar kendali akalnya.

​Semua orang, Indira, Bagas, Sinta, Pak Wisnu, Bu Hayati, dan Bi Maryam, terkejut bukan main ketika mereka melihat Raditya, yang selama ini lumpuh akibat kecelakaan parah, tiba-tiba berhasil mengangkat tubuh bagian atasnya.

​Dengan napas terengah dan wajah yang menahan rasa sakit luar biasa di kaki kirinya, Raditya berdiri!

​Ia berdiri hanya dengan mengandalkan satu kaki kanannya, sementara kaki kirinya menjuntai tak berdaya. Ia tertatih, namun langkahnya penuh tekad, menuju putrinya Jelita dan Istrinya, Indira.

​"Jelita! Indira!" panggilnya, suaranya parau, keringat mulai nampak di kening dan lehernya.

​"Mas Raditya!" seru Indira, tak percaya dengan apa yang ia lihat.

​Bagas ikut melongo.

Sinta menutup mulutnya, tak percaya pada penglihatannya.

Kedua orang tua Bagas hanya bisa menatap dalam diam, menyaksikan pemandangan yang tak masuk akal itu.

​Raditya berhasil mencapai mereka. Ia berlutut di sebelah Jelita, mengabaikan rasa sakit yang m e n u s u k. Ia memeluk putrinya dan Indira dengan erat.

​"Sudah, Sayang. Papa di sini. Papa akan lindungi kamu," bisik Raditya di telinga Jelita.

​Meskipun hanya sesaat, dan meskipun hanya dengan satu kaki yang menopang, Raditya telah menunjukkan sebuah mukjizat, kekuatan cinta dan amarah untuk melindungi keluarganya telah membangkitkan kekuatannya.

​Ia menoleh ke arah Bagas, sorot matanya t a j a m jauh lebih m e n g a n c a m..

​"Jauhkan dirimu dari istri dan putriku. Atau aku Raditya Pratama akan membuat perhitungan denganmu," a n c a m Raditya, suaranya serak namun penuh otoritas yang membekukan.

​Ancaman itu diucapkan oleh seorang pria yang baru saja melakukan hal yang mustahil

Raditya Berdiri. Sedikit limbung

Indira segera berdiri memberikan Jelita pada Bi Maryam. Lalu berlari memeluk pria gagah dan tampan yang berdiri limbung sambil menatap Bagas dengan t a j a m.

"Mas Radit. Hati-hati jangan sampai jatuh. Ayo duduk lagi."

Indira meminta tolong pada Bi Maryam untuk mendekatkan kursi roda.

Raditya menurut dan membalas rangkulan Indira sambil mengucapkan terima kasih dengan tatapan lembut.

Indira membalas senyuman suaminya, hati Indira pun dipenuhi rasa bahagia melihat suaminya bisa berusaha berdiri.

Sementara tangan Bagas terkepal, hatinya panas, melihat adengan dua insan di depannya.

Bersambung
🔥💓🔥💓🔥

Novel ini sudah bab 103, sebentar lagi tamat

Akan tayang judul selanjutnya,

DI KIRA PENGEMIS TERNYATA SANG PEWARIS

Ramaikan ya Besti

08/01/2026

Apa harapanmu di 2026 ❓❓❓

08/01/2026

(Bab 13 spoiler) Karena ibuku sakit-sakitan, aku langsung diceraikan oleh suamiku. Dia tidak mau keluar biaya merawat ibuku, siapa sangka ternyata warisan dari ibuku jumlahnya tri liunan....
*
Di sebuah minimarket, beberapa botol minuman diambilnya. Dibawa ke kasir dan membayar total belanjaan menggunakan Qris.

Tubuh tingginya yang terbalut jas biru itu keluar seraya membawa barang belanjaan.

Ponselnya berbunyi dari dalam saku.

"Halo, Bu? Iya ini aku lagi arah pulang."

"Iya, Bu maaf lupa ngabarin. Aku baik-baik aja, kok."

Sudah sore, waktu maghrib hampir merapatkan diri. Sedangkan Faya tadi lupa tak mengabari sang ibu. Membuatnya khawatir.

Seorang sopir yang mengantarnya bersiap membukakan pintu. Namun, seseorang tiba-tiba datang. Membuat Faya berhenti melangkah.

"Wow, enak ya abis dari minimarket. Padahal dulu gak pernah ke minimarket. Paling ke pasar tradisional doang. Gak takut digelandang ke kantor polisi, abis nyuri dua botol minuman itu?"

Tama. Lelaki itu kenapa bisa menemukan Faya di sini? Faya tak habis pikir. Sesempit sempitnya dunia, bisakah semesta mempertemukan ia dengan orang lain saja? Bukan makhluk seperti sang mantan suami.

Faya tersenyum miring.

"Dulu kan hidup sama kamu, jadi mana bisa aku ke minimarket. Mau ke warung beli satu canting beras aja susah. Jadi wajar, d**g kalau sekarang aku udah pisah sama kamu bisa keluar masuk Minimarket."

"Sombongnya kamu, Fay. Gak inget apa aku ini juga dulu suamimu. Ridhonya aku itu harus kamu turuti biar masuk surga. "

Faya berdeham. Asik juga bertemu Tama lagi. Melihat ia marah-marah seperti sekarang.

"Enggak sombong, sih." Faya mengusap tangan. "Aku dulu cuma bo doh aja. Kenapa bisa bertahan sama kamu."

"Ya emang kamu bo*doh, sampai mau-maunya ngurusin ibumu yang penyakitan itu. Gimana dia sekarang? Lagi kritis atau udah sek arat?"

"Kurang a jar kamu, Tama!"

Plak! Faya melayangkan tamp aran ke p**i Tama.

"Benalu kayak kamu harusnya gak ada di dunia ini."

"Beraninya kamu, Fay!" Ia akan ganti melayangkan tamparan pada Faya. Mendadak tangannya dicekal.

"Non, ayo masuk mobil." Sang sopir masih mencekal pergelangan tangan Tama. Seraya meminta bosnya untuk segera masuk mobil.

"Diem! Lepasin!"

Setelah Faya masuk mobil. Sang sopir melepaskan cekalannya.

"Jangan pernah sakiti Non Faya. Atau kamu akan berhadapan dengan hukum."

Tama berdecih. "Hasil ngelo *nte aja bangga. Bawa sana tuanmu itu."

Di dalam mobil, Faya coba menenangkan gemuruh di da danya. Setiap kali nama ibu disebut untuk hal yang tidak pantas, Faya berontak. Siapapun boleh menghi nanya, tapi jangan mengh ina ibu.

Mobil hitam yang persis Tama lihat saat di ruma sakit waktu itu, yang Faya naiki.

Tama lihat sampai mobil masuk ke jalan raya. Meninggalkan ia yang berkacak pinggang dan tetap mengangkat kepala. Angkuh.

Diam-diam, ada yang menyusup ke hati Tama. Rasa ingin tahu, rasa iri dan dengki.

Bagaimana caranya Faya bisa berubah hidupnya cukup dalam waktu singkat?

Padahal bagi Tama harga diri Faya tak ada satu rupiah pun. Kenapa sekarang saat perempuan itu menjval dirinya sudah bisa naik mobil yang biasa dipakai sekelas artis?

"Ah paling juga pake gara-gara gak bener. Sebentar lagi juga di geret ke kantor polisi atau mungkin disita tuh mobilnya."

Ucapannya adalah cara Tama menghibur diri.

Tama berdiri seorang diri di depan minimarket. Lampu neon berkelip. Motor lewat satu-dua. Tidak ada yang peduli pada laki-laki yang baru kehilangan pekerjaan dan baru ditampar mantan istrinya.

Semua itu membuat dadanya panas seperti bara.

Dari saku celana, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.

“Kalau kamu ingin balik menyerang, aku punya informasi soal ibu Faya. Hubungi aku.”

Tama membaca dua kali.

Cuma cuplikan ya jadi pendek. Baca aja di KBM APP untuk lengkapnya.
Judul: Maaf, Ibu Cuma Beban
Penulis: Vira Safila

08/01/2026

Judul: TIDAK ADA NAMAKU DI KANTOR KUA
Penulis: Nuryanti64
Hanya di KBM App

Bab 7.

Entah d e n d am apa yang ada dalam hati Hakim, sampai begitu mem be nci Hanum yang sangat tulus mencintainya. Sementara itu di rumah Hanum, gadis itu masih menangis dalam p e l u kan Mira.

“Sudah, nggak usah nangis lagi. Untung saja kamu belum menikah dengannya, ini ada hikmahnya Hanum,” hibur Mira.

“Tapi Bik, Aku m a l u. Pasti semua orang akan meng h I n a ku, bagaimana ini? hikzzz,” lirih Hanum.

T u b u hnya kembali bergetar hebat karena menangis, Mira mengusap lembut keponakannya itu. Memberi kata-kata motivasi agar Hanum tidak l e m ah.

“Bangkit Hanum, jangan lemah. Kamu mesti buktikan pada si Hakim jika kamu kuat dan bukan wanita l e m ah. B4 laskan semua s a k it hati kamu dengan cara yang lebih k e j a m lagi,” kata Mira.

Hanum terdiam mendengar ucapan dari Mira, gadis cantik itu duduk dengan tenang. Menoleh pada sang adik yang sejak tadi terdiam di tempatnya.

“Jika kakak mengizinkan, aku bisa t e b a s l e h e r si Hakim bagaimana kak?” tanya Azzam.

“Tidak Azzam, kita tidak bisa memakai ke k e r a san. Kita yang kalah, mereka ber d u it. Bibi tidak ingin kamu kenapa-napa,” sahut Mira.

“Tapi Bik, aku s a k I t hati melihat kakak Hanum seperti ini,sebagai adik aku gagal menjalankan amanah mamak,” protes Azzam.

Hanum dan Mira terus mel a rang Azzam agar tidak datang ke rumah Hakim, Mira lantas memberi sebuah ide yang cukup cemerlang mem b a las perbuatan Hakim.

“Hanum, kamu pikirkan cara untuk masuk ke rumah si Hakim. Ha n curkan semua hantaran yang dibawa oleh keluarga Hakim, jika perlu buat mereka ke t a ku tan dengan barang-barang itu,” kata Mira.

“Maksud Bibi?” tanya Hanum.

“Ish, kamu ini. Maksud Bibi, mereka akan menikah. Terus bawa hantaran kan? Nah, bingkisan hantaran yang dibawa itu mesti kamu h a nc urkan. Tapi tanpa mereka sadari, biar mereka juga merasa m a l u, kalian paham bukan?” jawab Mira.

Azzam menganggukkan kepalanya tanda mengerti maksud dari Mira. Hanum pun sama, saling memandang mereka bertiga.

“Mulailah mem b a l as d e n d a m dengan cara yang halus. Jangan buat kesalahan seperti yang kakek kalian lakukan, bibi mau ke kebun dulu. Hari ini panen bayam, ayo Azzam. Kamu istirahat di rumah,” titah Mira.

“Ya Bik, aku sebenarnya ingin meng h a jar Bang Hakim, membuat giginya copot semua. Biar dia tahu siapa aku, hanya seperti yang bibi bilang. Jangan sampai menjadi masalah seperti kakek dulu,” sahut Hanum.

“Jangan lakukan hal bo d oh ya? bibi pergi dulu, kunci pintu dan jangan keluar rumah jika bibi belum pulang. Terlalu banyak wartawan tanpa g a j i di desa kita, lihat saja nanti pasti akan tersebar gosip mu r a h an. Dan kamu yang jadi artis papan atas,” kata Mira.

Mira mengusap pucuk kepala Hanum dengan lembut, lantas beranjak menuju ke kamarnya untuk mengganti baju. Azzam duduk di samping Hanum, membisikan sesuatu yang membuat Hanum terkejut.

“Bagaimana jika kita cu l i k si Hakim? terus kakak p ot ong sosis dia? Pasti kak Puspa nggak mau lagi dengannya bukan? Seperti yang pernah kakek lakukan pada almarhum ayahnya,” tanya Azzam.

“Jangan Azzam, benar yang bibi katakan. Keluarga kita sudah pernah melakukan kesalahan, walaupun mereka yang salah duluan. Kakak yakin, suatu saat kakak pasti bisa mem b a las perbuatan Bang Hakim. Sampai dia menangis d a r ah meminta maaf padaku,” sahut Hanum.

“Kelamaan kak, enak banget dia. Sudah berjanji menikahi kakak, tapi malahan menikah dengan orang lain. Aku nggak sebaik kalian, atau aku jak teman-temanku saja kasih pelajaran sedikit?” tanya Azzam.

“Tapi kamu mau ngapain Azzam? Jangan pakai ke k e r a san ya? kakak lelah kita berurusan dengan p o l I si,” sahut Hanum.

“Kakak tenang saja, semua aman terkendali. Aku pergi ya? jaga rumah jangan hi la ng,” gurau Azzam.

Pemuda tanggung itu meninggalkan Hanum, lantas menuju ke motornya. Dia dan Mira segera pergi menuju ke kebun, Hanum menutup dan mengunci pintu rumahnya. Gadis itu menuju ke dapur untuk memasak karena jam sudah menunjukkan p u k u l sepuluh pagi.

Sementara itu Puspa dan Salma sudah sampai di pusat perbelanjaan di kota. Puspa dan Salma menuju ke sebuah butik ternama untuk membeli tas dan beberapa pakaian.

“Ini bagus Puspa, cocok kamu pakai,” tunjuk Salma.

“Ya buk, bagus ya? aku mau dua boleh?” tanya Puspa.

“Lima pun nggak masalah, toh u a ng nya Hakim. Ambil yang lain, tas juga,” sahut Salma.

Keduanya berkeliling toko mencari tas dan sandal yang bagus untuk Puspa, setelah berkeliling Puspa akhirnya menemukan tas dan sepatu yang dia s**a.

“Ini u a n g yang Hakim kasih tadi, kamu pegang saja ya? ibu malas pegang, t a k ut habis,” kata Salma.

Seraya menyerahkan dua puluh juta u a n g pada Puspa, gadis cantik itu menyimpannya di dalam tas. Toko yang mereka datangi sangat lengkap, mulai dari tas, sepatu dan juga semua pakaian pun ada di jual. Satu jam lamanya salma dan Puspa berkeliling, hingga beberapa pasang baju sudah ada di dalam keranjang.

“U a n g nya cukup tidak Puspa?” tanya Salma.

“Cukup Buk, kita bukan berbelanja di butik mahal. Aku tau ke u a n gan Bang Hakim, aku tidak memberatkannya,” balas Puspa.

Salma senang mendengar jawaban dari calon menantunya, setelah kasir menyebutkan total belanjaan. Puspa segera menyerahkan u a n g yang diberikan Salma padanya.

“Ini pas sepuluh juta kak?” tanya petugas kasir.

“Ya kak, tapi coba di hitung kembali,” balas Puspa.

Gadis yang menjaga kasir tersenyum, lalu membawa u a ng ke mesin penghitung. Lalu mengambil selembar u a n g seratus ribuan lantas memperhatikan u a n g tersebut dengan seksama.

“Maaf kami kembalikan u a n g anda, karena ini u a n g palsu semuanya. Jika mau bayar mending dengan transfer saja, atau kalian ini memang pengedar u a n g p a l su?” tanya petugas kasir.

“Hah? U a n g p a l su? Mana ada kak, ini baru saja di kasih sama calon suamiku. Kakak jangan menuduh sembarangan,” bentak Puspa.

Gadis itu merasa sangat m a l u, apalagi ada beberapa pembeli di sana. Petugas kasir menunjukkan u a n g asli dan u a n g yang diberikan oleh Puspa.

“Lihatlah bedanya, jika kalian masih tetap ingin berbelanja di sini. Segera transfer atau kami panggil po l I si, karena sudah me n I pu kami,” a n c am petugas kasir.

Puspa sangat kesal, lantas mengambil ponselnya. Lalu meminta nomor rekening yang mesti dia transfer. Petugas kasir tersenyum melihat bukti yang diberikan oleh Puspa. Salah satu karyawan menyerahkan beberapa buah paper bag pada Salma dan Puspa.

“Si a l banget ya Buk, masak u a n g kita dibilang palsu. Atau memang benar? Tapi nggak mungkin Bang Hakim punya u a n g palsu kan? Dari mana?” tanya Puspa.

“Itu u a n g dari Juragan Fatih, apa dia pengedar u a n g palsu? Kita mesti segera pulang dan kasih tau ke Hakim. Bisa b a h a ya Puspa, jika po li si tau kita pasti kena hu k u man,” sahut Salma.

Wajah Puspa memucat mendengar ucapan dari calon mertuanya, kedua wanita itu meninggalkan pusat perbelanjaan menuju ke area parkiran. Tapi dua orang polisi sudah menghadang Puspa dan Salma.

“Kalian di tang kap, atas tu du han pe nge dar u a ng p a l s u. Mari ikut kami ke kantor polisi,”

Mampir juga di karya kak author yang lain

MADUKU MEMBALAS PENDERITAANKU (TAMAT)
Jika teman-teman tidak bisa mendow apk kbm di playstore bisa dow di Samsung Store dan Amazon Store

08/01/2026

(Bab 12 cuplikan) Karena ibuku sakit-sakitan, aku langsung diceraikan oleh suamiku. Dia tidak mau keluar biaya merawat ibuku, siapa sangka ternyata warisan dari ibuku jumlahnya triliunan....

*

Faya membuka termos kecil. “Bu. Minum dulu. Ini air hangat.”

Orang-orang berkumpul di sana. Duduk berdiskusi. Olahraga santai. Beberapa pedagang di pinggiran taman tampak sibu melayani pembeli.

Suara kentungan pedagang siomay terdengar dari utara. Suara nyanyian pedagang es cream, terdengar dari barat.

Bu Siti menerimanya. “Terima kasih, Nduk. Kamu capek ya. Seharian rapat. Malah masih sempat ajak Ibu jalan.”

Faya tersenyum. “Ibu tahu apa yang bikin Faya kuat.”

Bu Siti menatap anaknya lama. Di balik mata tuanya, ada perasaan campur aduk. Syukur, bangga, dan juga rasa bersalah yang tidak pernah mau hilang.

“Sebenarnya Ibu yang harusnya kuat,” ucap Bu Siti pelan. “Tapi malah kamu yang terus jaga Ibu. Padahal kamu sudah punya tugas berat. Jadi pemimpin perusahaan bukan perkara kecil.”

Faya menggeleng pelan. “Ibu tidak perlu bicara begitu. Semua yang Faya lakukan karena Faya ingin. Tanpa Ibu, Faya tidak akan berani apa-apa.”

Terdengar suara helaan napas dari Bu Siti. “Sejak bapak kamu meninggal, Ibu niatkan untuk tidak menyusahkan kamu, Nduk. Tapi malah Ibu jadi bikin kamu banyak tanggung jawab.”

Faya memegang tangan ibunya yang dingin. “Bu. Jangan bicara seperti itu. Ibu bukan beban. Ibu rumahku.”

Mata Bu Siti mulai basah. “Gusti Allah baik, Nduk. Ibu selalu berdoa kamu akan melahirkan cahaya untuk sekitarmu. Ibu gak nyangka Allah jawab dengan cara seindah ini.”

Faya membuka laci kecil di bawah mejanya perlahan.

Ponsel lama itu tergeletak di sana, retakan kecil masih menggores kacanya.

Ia memegangnya dengan satu tangan. Dada terasa sesak. Ada sedikit rindu, ada sedikit luka yang belum benar-benar pergi. Ia ingin memeriksa rekaman lama. Mungkin ia ingin memastikan dirinya sudah bukan perempuan yang sama seperti dulu.

Rekaman yang dulu sengaja ia lakukan diam-diam ketika ia sudah mampu untuk melapor pada hukum.

Saat jarinya hendak menekan tombol power, pintu ruangan terbuka.

“Bu Faya,” suara sekretaris masuk sambil membawa setumpuk berkas tebal. “Ini data lengkap laporan keuangan terakhir dan draft restrukturisasi cabang.”

Faya meletakkan ponsel itu kembali ke dalam laci. “Silakan taruh di meja.”

Sekretaris meletakkan semua berkas dengan rapi. “Semua direktur sudah menunggu untuk rapat evaluasi. Mereka menunggu instruksi dari Anda.”

“Baik. Beritahu mereka saya mulai rapat sepuluh menit lagi,” kata Faya tanpa tergesa.

Setelah sekretaris keluar, Faya membuka satu map. Laporan keuangan tiga tahun ke belakang penuh tanda merah. Cabang yang merugi. Pemborosan anggaran. Sistem lama yang dipertahankan meski sudah tidak relevan.

Dalam hati, Faya berkata, “Ini rumah baruku. Dan aku akan merapikannya.”

Ia berdiri. Mengambil buku catatan, menandai poin-poin tertentu, dan bersiap ke ruang rapat.

Sudah waktunya bekerja sebagai CEO.

Lanjut baca di KBM
Judul: Maaf, Ibu Cuma Beban
Penulis: Vira Safila

Judul: TIDAK ADA NAMAKU DI KANTOR KUAPenulis: Nuryanti64Hanya di KBM AppBab 6.Kantor KUA terletak di kabupaten yang jara...
08/01/2026

Judul: TIDAK ADA NAMAKU DI KANTOR KUA
Penulis: Nuryanti64
Hanya di KBM App

Bab 6.

Kantor KUA terletak di kabupaten yang jaraknya hampir satu jam perjalanan. Hati Hanum merasa gelisah, apalagi pesan yang dia kirim pada Hakim tidak ada balasan sampai sekarang.

“Kak apa nggak aneh? Ngapain kita ke kantor KUA? Biasanya jika sudah waktunya nikah kan ada pemberitahuan ke aparatur desa?” tanya Azzam.

“Itulah yang membuat kakak khawatir, kenapa orang asing meminta kakak ke sana? Mana bibi Mira sibuk banget, untung hari ini kena shift sore seperti kemarin” sahut Hanum.

“Semoga saja semua lancar kak, aku nggak akan memaafkan Bang Hakim jika menya kiti kakak” kata Azzam.

Hanum mengaminkan ucapan adiknya, hingga beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di tujuan. Azzam menyimpan motornya di tempat khusus parkir. Hanum sudah masuk ke dalam kantor tanpa menunggu adiknya.

“Assalamualaikum Bu, maaf mengganggu waktunya,” sapa Hanum.

“Waalaikumsalam dek, mari silahkan duduk. Ada yang bisa ibu bantu?” tanya petugas KUA.

Lantas Hanum menanyakan apa apakah Hakim sudah membawa semua berkas mereka untuk syarat menikah.

“Nama pengantin laki-laki siapa Dek?” tanya Ibu Susi.

“Lukman Hakim, dan saya pengantin wanitanya. Sarita Hanum,” sahut Hanum.

Ibu Susi langsung memeriksa buku yang ada di hadapannya, lantas mengecek satu persatu nama-nama yang akan menikah minggu depan.

“Maaf Hanum, tidak ada nama kamu di daftar nama calon pengantin. Lukman Hakim ada namanya tapi pengantinya bernama Puspa sari” kata Ibu Susi.

“Apa? Tidak ada namaku Buk? Ya Allah Bang Hakim, Hikz” lirih Hanum.

Setetes bening membasahi p**inya yang mulus ,sungguh gadis itu sangat kecewa. Atas penghianatan yang dilakukan oleh Hakim, Ibu Susi menatap iba pada Hanum.

“Yang sabar ya Hanum, mungkin kalian tidak berjodoh,” kata Buk Susi.

“Dia meni puku Bu, u a ngku diambilnya. Katanya untuk menutup acara pernikahan kami, nyatanya dia mau menikah dengan gadis lain,” sahut Hanum dengan wajah yang sudah sembab.

Buk Susi menepuk pelan bahu Hanum, wanita itu sangat kasihan dengan nasib Hanum. Setelah lima belas menit, Hanum pamit pada buk Susi. Dia mesti meminta penjelasan pada Hakim.

“Terima kasih banyak Buk, sudah membantuku. Permisi,” kata Hanum.

“Ya Hanum, hati-hati di jalan. Kamu gadis yang cantik pasti banyak lelaki yang menunggu kamu, si Hakim saja yang b o d oh meninggalkan kamu. Tapi maaf, kamu tidak ha m il kan?” tanya Buk Susi hati-hati.

“Tidak Buk, alhamdulillah Bang Hakim tidak berani denganku jika hal begituan,” sahut Hanum seraya tersenyum getir.

“Syukurlah, lanjutkan hidup kamu. Jika ada lelaki yang melamar kamu, terima saja ya? hakim pasti menyesal,” kata Buk Susi.

Hanum menganggukkan kepalanya, lalu menyalami wanita yang hampir sebaya dengan Mira. Lantas Hanum meninggalkan kantor KUA dengan segala luk a di hatinya.

“Hikz, ya Allah. Bagaimana ini? apa yang mesti aku lakukan? Semua orang desa sudah tahu aku akan menikah,” lirih Hanum.

Gadis itu berjalan dengan gontai menuju ke Azzam berada, melihat sang adik. Hanum langsung mem e l uk Azzam dengan sangat erat, tubuhnya bergetar hebat karena menangis.

“Kenapa Kak? Jangan bilang dia me n I pu kakak?” tanya Azzam.

“Ya Azzam, dia berhasil mel u kai hatiku dan membuat aku m a l u, Hikz,” sahut Hanum.

“Kurang a j ar, mesti aku beri pel a ja ran lelaki ben cong itu, beraninya dengan wanita,” geram Azzam. Tangannya mengepal menahan amarah.

“Ayo kita pulang, kita pikirkan cara mem ba las perbuatan Bang Hakim. Kamu jangan main k a s ar, keluarga mereka punya banyak saudara yang mendukung. Ingat dulu kasus Bibi Mira?” ajak Hanum.

“Tapi kak, aku ingin meng h a j ar lelaki bre ng sek itu. Biar sekalian namanya ada di batu nisan,” sahut Azzam.

“Ayo pulang, bibi sudah menunggu kita!” titah Hanum.

Tanpa membantah Azzam menuju ke motornya dan mereka pun meninggalkan kantor KUA. Hanum menoleh sekilas ke belakang, sungguh hatinya sangat kecewa.

Sementara itu Hakim dan teman-temannya sudah sangat le ma s, apalagi mereka belum makan sedikitpun. Tidak ada yang mau memberi mereka minuman dan makanan.

“Malas-malasan saja Kalian, cepetan kerja!”

Hakim bangkit dari duduknya, di susul oleh teman-temannya. Hingga akhirnya mereka selesai melakukan tugas yang diberikan pada mereka.

“Semua sudah selesai Pak, apa boleh kami pulang?” tanya Hakim.

“Pergilah, manusia-manusia setengah s e ta n seperti kalian tidak pantas berada di tempat seperti ini, awas jika kami melihat kalian ada di sekitar desa kami lagi,” a n c am Bilal masjid.

Tidak berbicara apapun Hakim dan teman-temannya segera pergi dari masjid, mereka menuju ke jalan raya untuk menyetop becak.

“Kita naik becak aja ya? u a n g nanti kita b a y ar di rumahku, mana tidak ada lagi barang yang bisa kita ju al. Jam mahalku sudah mereka ambil untuk bayar sarung je le k ini” kata Hakim.

“Terserah Kamu, Hakim. Kami ikut saja. Yang penting kita sudah tidak ada di sini lagi,ngeri dan trauma aku,” sahut Furqan.

Hingga lima menit menunggu lewat sebuah becak, mereka berempat segera naik ke atas becak. Hakim menyebutkan alamat rumahnya pada tukang becak, tidak ada pembicaraan di dalam perjalanan. Semua terdiam larut dalam pikiran masing-masing.

Sementara itu di rumah Hakim, Salma sangat khawatir. Karena putranya belum juga pulang, Puspa sudah berada di rumah Hakim.

“Bang Hakim biasa ya Buk? Pulang pagi?” tanya Puspa.

“Nggak Nak, baru kali ini. itupun ada bola dunia katanya, ibu siap-siap dulu ya? walaupun nggak ada Hakim. Kita bisa belanja berdua,” sahut Salma.

“Ya Buk, aku tunggu di sini saja,” kata Puspa.

Salma segera masuk ke dalam rumahnya, dengan cepat mengganti baju. Karena tidak ingin calon menantu menunggu terlalu lama. Namun alangkah kagetnya wanita itu melihat Hakim turun dari becak.

“Kamu kenapa Bang? mana nggak pakai baju,” tanya Puspa.

“S4y4ng, tolong bayar ongkos becak bentar ya? aku ke co pe tan semalam,” pinta Hakim.

Tanpa berbicara apapun, Puspa membuka dompetnya dan menyerahkan selembar u a ng dua puluh ribu. Hakim dan teman-temannya duduk di teras, Hakim kemudian bercerita jika mereka di c u li k dan di bawa ke pemakaman.

“Hah? Ng eri juga ya? ya sudah un t ung saja kalian selamat, masuk ke dalam dan mandi. Ibu dan Puspa mau belanja dulu, mana duit?” kata Salma.

Hakim masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya, lantas lima menit kemudian sudah kembali dengan dua gepok u a n g merah di tangannya. Salma dan Puspa segera meninggalkan rumah, mereka akan berbelanja di kota.

“Kita mandi dulu ya? kalian bisa pakai bajuku, aku masih kesal dengan Hanum. Nanti malam kita c u l I k saja dia di rumahnya bagaimana?” tanya Hakim.

“Wah ide bagus, aku setuju. Aku masih penasaran dengan kekasih kamu itu,” sahut Hasan.

“Aku ogah, belum ngapain aja sudah s I a l. Kalian saja, aku mau pulang.” tolak Furqan.

Pemuda berambut gondrong itu meninggalkan Hakim dan Hasan, pria itu pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Hakim.

“Nanti malam jam dua belas malam kita beraksi, ini mesti berhasil,” kata Hakim.

“Siap Bos, aman. Ayo mandi bareng,” ajak Hasan.

“G I l a Loe, aku masih normal,” protes Hakim.

Keduanya tertawa lepas dan segera masuk ke dalam rumah, tidak lupa mengunci pintu.


Mampir juga di karya kak author yang lain

MADUKU MEMBALAS PENDERITAANKU (TAMAT)
Jika teman-teman tidak bisa mendow apk kbm di playstore bisa dow di Samsung Store dan Amazon Store

08/01/2026

Spoiler Bab 11 Maaf, Ibu Cuma Beban
Karena ibuku sakit-sakitan, aku langsung diceraikan oleh suamiku. Dia tidak mau keluar biaya merawat ibuku, siapa sangka ternyata warisan dari ibuku jumlahnya tr iliunan....

*

Kanaya mengumpulkan makanan secepat mungkin. Ia mengambil mangkuk dari tangan anak kecil, merebut piring dari bapak-bapak, bahkan menumpuk semuanya seperti pedagang keliling.

“Ini semua bisa dijual lagi. Tidak boleh rugi,” katanya sambil mengipas wajah sendiri.

Warga saling berbisik dan mulai merekam dengan ponsel. Sorakan kecil terdengar dari beberapa sudut halaman.

“Mas Tama gagal. Padahal udah keliling kampung bilang lolos CPNS.”

“Pantasan Kanaya panik. Banyak uang keluar.”

Begitulah salah satu bisikan dari tetangganya.

Sementara semua itu terjadi, Tama tergeletak di kursi reot ruang tamunya. Nafasnya tidak stabil. Dua tetangga laki-laki berdiri di pintu menunggu ia sadar.

Yu Tatik mengintip. “Mas Tama sudah bangun belum?*

Tama membuka mata perlahan. Atap rumah terlihat berputar. Suara sorak warga menembus telinganya seperti pisau tumpul.

“Aduh aku belum cek pengumuman CPNS. Mana handphone ku?" tanya Tama dengan suara parau. Mencari-cari ponsel di atas meja.

Pak Burhan maju. “Tenang, Mas. Minum dulu. "

Segelas air diterima Tama. Barulah ia menemukan ponselnya di atas meja. Ia cari ulang ke website pengumuman.

Tama mencoba duduk, namun tubuhnya goyah. Ia lihat lagi pengumuman itu. Tak ada yang berubah.

“Jadi saya gak lulus CPNS?" Ia menatap tajam layar ponsel.

Pak Burhan mengangguk. “Tidak , Mas.”

Tama menelan ludah. Dadanya terasa kosong. Tetapi sekaligus terasa penuh.

“Mustahil. Nilai saya bagus. Saya sudah yakin.”

Yu Tatik meraba bahunya pelan. “Mas, banyak yang nilainya bagus tapi tetap tidak lolos.”

Tama memegang kepalanya. Ia ingin percaya ada kesalahan data, server error, atau hal lain yang bisa ia salahkan. Namun gambar di layar tadi terlalu jelas.

“Kenapa?” kata Tama. “Kenapa aku gak lolos?”

Ia memejamkan mata, wajahnya meringis.

Tama menutup telinganya dengan kedua tangan. “Kenapa semuanya jadi begini.”

Kanaya tiba-tiba masuk, wajahnya merah dan napasnya terburu-buru. “Mas. Mas kenapa masih aja duduk? Bangun. Kita harus selamatkan makanan. Aku gak mau rugi.”

*
Lanjut baca di KBM
Judul: Maaf, Ibu Cuma Beban
Penulis: Vira Safila

07/01/2026

(BAB 5) Karena ibuku sakit-sakitan, aku langsung diceraikan oleh suamiku. Dia tidak mau keluar biaya merawat ibuku, siapa sangka ternyata warisan dari ibuku jumlahnya tri liunan....
*

Lorong rumah sakit terasa begitu dingin. Tetapi dihangatkan dengan harapan dan banyaknya doa dari setiap keluarga yang menunggu kesembuhan.

Di sana, di kamar VVIP, Faya menyuapkan satu sendok terakhir sarapan pada ibunya.

“Faya,” panggil Darma. “Ayo ikut Om.”

Faya memandangnya bingung. “Kemana, Om? Ibu baru selesai sarapan. Aku mau nungguin—”

Darma menepuk pundaknya. “Tidak. Satu hari ini waktu yang tersisa untuk kamu. Kamu harus siap datang ke RUPS besok.”

Faya menggigit bibirnya. “Tapi, kasihan ibu, Om.”

Sentuhan lembut ibu di punggung tangan anaknya memberikan pengingat. Senyumnya juga mengirim pesan. Bahwa ia baik-baik saja.

"Pergilah, Nduk. Kamu ikuti semua arahan Om Darma, ya."

"Keponakanku ini terlalu tinggi empatinya, Mbak. Sampai bisa ditipu mantan suami yang gak tahu diri itu." Darma terkekeh pelan. Antara memuji dan mengejek Faya.

"Aku pinjam anakmu dulu, Mbak. Istri dan anakku lima menit lagi sampai."

Bu Siti mengangguk lemah. Namun jelas ada kebahagiaan terpancar di wajahnya.

Lalu Darma menarik Faya keluar, meninggalkan pintu kamar yang perlahan menutup.

--

Faya memasuki mall megah itu bagaikan memasuki dunia baru. Lampu-lampu berkilau, gaun-gaun mahal, rak berisi blazer elegan, semua jauh dari kehidupannya beberapa jam lalu.

“Om, ini terlalu mewah,"bisik Faya.

“Tidak ada kata terlalu mewah bagi calon CEO,” balas Darma santai. “Ayo pilih.”

Seorang pramuniaga mendekat.

“Selamat datang, Pak, Bu. Ada yang bisa kami bantu?”

Darma menunjuk Faya. “Cari semua yang cocok untuk dia. Mulai dari blazer, rok, heels. Warna elegan, gelap. Dia mau rapat penting.”

Faya langsung gemetar. “Om, jangan semua sekaligus. Mahal.”

Darma mendekat dan berbisik, “Jangan lihat harga. Lihat masa depanmu.”

Pramuniaga tersenyum ramah.

“Ayo, Bu. Kita coba beberapa pilihan dulu.”

--

“Kamu cobain ini,” Darma menyodorkan blazer biru gelap.

“Om… ini mahal banget. Labelnya aja aku takut lihat.”

“Coba,” om-nya tegas.

Faya masuk. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan ragu.

“Om… gimana?”

Darma terdiam.

Blazer itu pas. Anggun. Wibawa Faya langsung naik berkali lipat. Dari seorang perempuan yang kemarin dicaci mantan suami, kini ia tampak seperti pimpinan muda yang siap memimpin puluhan direksi.

“Faya kamu kelihatan seperti sosok yang Kakek dan Nenekmu mau lihat,” ucap Darma dengan suara pelan.

Faya menunduk, menahan haru.

Pramuniaga memuji, “Bu cantik sekali. Ini cocok sekali untuk acara rapat.”

Ia memejam sebentar. “Baik, Om. Aku pakai yang ini.”

---

Rambut Faya di-blow lembut, wajahnya dirias natural, kulit wajahnya diberi treatment yang membuatnya tampak lebih segar. Seperti mengembalikan kecantikannya yang dulu tertutup karena selalu makan hati hidup dengan Tama.

“Bu, wajahnya capek banget ya?” tanya terapis.

Faya tersenyum samar. “Seharian di rumah sakit.”

Darma duduk sambil memainkan ponselnya. “Besok wajahmu nggak boleh kelihatan capek. Kamu harus terlihat kuat.”

Faya mengangguk.

Saat ia selesai dirias dan berdiri di depan cermin, dirinya hampir tidak mengenal bayangannya sendiri.

“Om…” suaranya pelan. “Ini, ini aku?”

Darma tersenyum. “Ini kamu yang sebenarnya.”

--

Setelah belanja dan treatment, Darma mengajak Faya makan siang di restoran yang cukup elit, dekat pusat belanja.

Atmosfer di ruangan itu terasa mahal dan elegannya. Lampu kristal yang menggantung menambah kesan mewah.

“Om, uangnya? Semua yang tadi itu—”

“Sudah Om bilang,” Darma menatapnya serius. “Perusahaan keluarga kita punya uang. Kamu ahli waris. Kamu tidak mengambil milik orang lain.”

Faya menghela napas panjang. “Faya masih belajar menerima itu, Om.”

Darma tersenyum. “Pelan-pelan. Sekarang makan dulu. Kamu butuh tenaga buat besok.”

Mereka memesan makanan.

Saat menunggu pesanan datang, Faya tiba-tiba menegang. Di pintu restoran, dua orang masuk.

Satu pria berseragam POL PP dengan jaket cokelat.

Satu perempuan dengan gaun ketat pastel, rambut ikal panjang.

Tama dan Kanaya.

Darah Faya langsung membeku.

Tama menatap sekeliling, lalu matanya berhenti pada satu titik.

Pada Faya. Di meja elit. Dengan seorang pria. Jauh lebih tua. Berpakaian mahal. Dan Faya terlihat sangat berbeda. Ia bahkan sampai mengucek mata beberapa kali.

Tak segan, Tama langsung menghampiri.

Langkahnya cepat, wajahnya merah marah.

“FAYAAA???”

Pengunjung lain menoleh.

Darma mengangkat wajah dengan tenang. “Siapa kamu?”

Tama menunjuk Faya. “Ini, ini mantan suamiku, Om. ”

Kanaya ikut muncul dari belakang, memelototi Faya dari atas ke bawah.

Tama memotong, suaranya keras.

“Kamu ngapain di sini? Hah? Makan di tempat mahal gini? Sama om-om lagi?!”

Beberapa pengunjung mulai berbisik.

“Om-om?”ulang Kanaya. Tatapannya mengejek.

“Mas, jangan bilang mantan istri kamu kerja jadi LC sekarang? Wajar sih tampilannya mirip. Cocok jadi tante-tante muda yang ngel onte.”

Faya terdiam. Menatap tajam pada perempuan yang Tama genggam tangannya.

Darma menatap mereka dingin. “Jaga mulutmu.”

Tama mendekat ke arah Faya, menyeringai. “Pantes kamu dandan. Mau jval diri ya? Biar bisa makan enak? Sama om-om kaya?”

Kanaya menambahi, “Iya, Mas. Mungkin dia udah kepepet. Mana sanggup hidup sendiri? Lagian dia udah mi. skin dari lahir, kan?”

Faya meremas ujung bajunya di bawah meja.

Da rahnya mendidih.

Darma menurunkan sendoknya. Nada suaranya berubah tajam.

“Faya bukan siapa-siapa lagi bagimu. Diam sebelum saya panggil keamanan.”

Tama terkekeh.

“Panggil aja! Aku cuma bilang yang bener!”

Ia menoleh ke Kanaya.

“Lihat, Sayang? Mantanku ini nggak bisa naik kelas. Bahkan setelah dicerai, dia masih berharap ua ng dari laki-laki tua.”

Kanaya tertawa sinis.

“Makanya, Mas. Syukurlah Mas dapet aku. Bukan sa mpah kayak gini.”

Tama menatap Faya tajam.

“Kamu tuh hi na, Fay. Nggak akan pernah bisa duduk di tempat elite gini. Hidupmu cuma cocok makan di warteg!”

Darma berdiri dari kursinya. Pria songong dengan seragam satpol PP nya harus ia beri peringatan keras.

“Cukup.”

Suara Darma tenang tapi menggetarkan.

Tama menatapnya penuh tantangan. “Memang kenapa? Mau belain dia?”

Darma menatap Faya sebentar, lalu kembali pada Tama.

“Kamu tadi bilang dia nggak akan naik kelas.”

Tama menelan ludah keras.

Darma mencond**gkan badan.

Napasnya berat tapi terkontrol.

“Justru besok dia yang menentukan kelas siapa yang turun.”

Faya terkejut.

Kanaya memegang lengan Tama. “Mas, ayo pergi. Jangan dengerin manusia halu.”

Faya menatap kembali, lirih, namun tegas.

“Besok… kamu akan tahu.”

Tama membuka mulut hendak bicara sebelum pergi dari hadapan sang mantan, tapi sebelum satu kata keluar, Kanaya menarik tubuhnya. Saat itu juga mereka pergi.

Ponsel Faya tiba-tiba bergetar.

Nomor tak dikenal.

Nomor perusahaan keluarga.

Di layarnya menampilkan pesan:

“Harap hadir tepat waktu. RUPS: Besok pagi jam 08.00.

Agenda: Penetapan CEO Baru.”

Faya tersenyum. Ia tak perlu kata apapun. Biar dunia yang menunjukkan dengan sendirinya kepada Tama.

*
Lanjut baca di KBM
Judul: Maaf, Ibu Cuma Beban
Penulis: Vira Safila

Address

Makassar

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mama Fatta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Mama Fatta:

Share