08/01/2026
Judul: TIDAK ADA NAMAKU DI KANTOR KUA
Penulis: Nuryanti64
Hanya di KBM App
Bab 6.
Kantor KUA terletak di kabupaten yang jaraknya hampir satu jam perjalanan. Hati Hanum merasa gelisah, apalagi pesan yang dia kirim pada Hakim tidak ada balasan sampai sekarang.
“Kak apa nggak aneh? Ngapain kita ke kantor KUA? Biasanya jika sudah waktunya nikah kan ada pemberitahuan ke aparatur desa?” tanya Azzam.
“Itulah yang membuat kakak khawatir, kenapa orang asing meminta kakak ke sana? Mana bibi Mira sibuk banget, untung hari ini kena shift sore seperti kemarin” sahut Hanum.
“Semoga saja semua lancar kak, aku nggak akan memaafkan Bang Hakim jika menya kiti kakak” kata Azzam.
Hanum mengaminkan ucapan adiknya, hingga beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di tujuan. Azzam menyimpan motornya di tempat khusus parkir. Hanum sudah masuk ke dalam kantor tanpa menunggu adiknya.
“Assalamualaikum Bu, maaf mengganggu waktunya,” sapa Hanum.
“Waalaikumsalam dek, mari silahkan duduk. Ada yang bisa ibu bantu?” tanya petugas KUA.
Lantas Hanum menanyakan apa apakah Hakim sudah membawa semua berkas mereka untuk syarat menikah.
“Nama pengantin laki-laki siapa Dek?” tanya Ibu Susi.
“Lukman Hakim, dan saya pengantin wanitanya. Sarita Hanum,” sahut Hanum.
Ibu Susi langsung memeriksa buku yang ada di hadapannya, lantas mengecek satu persatu nama-nama yang akan menikah minggu depan.
“Maaf Hanum, tidak ada nama kamu di daftar nama calon pengantin. Lukman Hakim ada namanya tapi pengantinya bernama Puspa sari” kata Ibu Susi.
“Apa? Tidak ada namaku Buk? Ya Allah Bang Hakim, Hikz” lirih Hanum.
Setetes bening membasahi p**inya yang mulus ,sungguh gadis itu sangat kecewa. Atas penghianatan yang dilakukan oleh Hakim, Ibu Susi menatap iba pada Hanum.
“Yang sabar ya Hanum, mungkin kalian tidak berjodoh,” kata Buk Susi.
“Dia meni puku Bu, u a ngku diambilnya. Katanya untuk menutup acara pernikahan kami, nyatanya dia mau menikah dengan gadis lain,” sahut Hanum dengan wajah yang sudah sembab.
Buk Susi menepuk pelan bahu Hanum, wanita itu sangat kasihan dengan nasib Hanum. Setelah lima belas menit, Hanum pamit pada buk Susi. Dia mesti meminta penjelasan pada Hakim.
“Terima kasih banyak Buk, sudah membantuku. Permisi,” kata Hanum.
“Ya Hanum, hati-hati di jalan. Kamu gadis yang cantik pasti banyak lelaki yang menunggu kamu, si Hakim saja yang b o d oh meninggalkan kamu. Tapi maaf, kamu tidak ha m il kan?” tanya Buk Susi hati-hati.
“Tidak Buk, alhamdulillah Bang Hakim tidak berani denganku jika hal begituan,” sahut Hanum seraya tersenyum getir.
“Syukurlah, lanjutkan hidup kamu. Jika ada lelaki yang melamar kamu, terima saja ya? hakim pasti menyesal,” kata Buk Susi.
Hanum menganggukkan kepalanya, lalu menyalami wanita yang hampir sebaya dengan Mira. Lantas Hanum meninggalkan kantor KUA dengan segala luk a di hatinya.
“Hikz, ya Allah. Bagaimana ini? apa yang mesti aku lakukan? Semua orang desa sudah tahu aku akan menikah,” lirih Hanum.
Gadis itu berjalan dengan gontai menuju ke Azzam berada, melihat sang adik. Hanum langsung mem e l uk Azzam dengan sangat erat, tubuhnya bergetar hebat karena menangis.
“Kenapa Kak? Jangan bilang dia me n I pu kakak?” tanya Azzam.
“Ya Azzam, dia berhasil mel u kai hatiku dan membuat aku m a l u, Hikz,” sahut Hanum.
“Kurang a j ar, mesti aku beri pel a ja ran lelaki ben cong itu, beraninya dengan wanita,” geram Azzam. Tangannya mengepal menahan amarah.
“Ayo kita pulang, kita pikirkan cara mem ba las perbuatan Bang Hakim. Kamu jangan main k a s ar, keluarga mereka punya banyak saudara yang mendukung. Ingat dulu kasus Bibi Mira?” ajak Hanum.
“Tapi kak, aku ingin meng h a j ar lelaki bre ng sek itu. Biar sekalian namanya ada di batu nisan,” sahut Azzam.
“Ayo pulang, bibi sudah menunggu kita!” titah Hanum.
Tanpa membantah Azzam menuju ke motornya dan mereka pun meninggalkan kantor KUA. Hanum menoleh sekilas ke belakang, sungguh hatinya sangat kecewa.
Sementara itu Hakim dan teman-temannya sudah sangat le ma s, apalagi mereka belum makan sedikitpun. Tidak ada yang mau memberi mereka minuman dan makanan.
“Malas-malasan saja Kalian, cepetan kerja!”
Hakim bangkit dari duduknya, di susul oleh teman-temannya. Hingga akhirnya mereka selesai melakukan tugas yang diberikan pada mereka.
“Semua sudah selesai Pak, apa boleh kami pulang?” tanya Hakim.
“Pergilah, manusia-manusia setengah s e ta n seperti kalian tidak pantas berada di tempat seperti ini, awas jika kami melihat kalian ada di sekitar desa kami lagi,” a n c am Bilal masjid.
Tidak berbicara apapun Hakim dan teman-temannya segera pergi dari masjid, mereka menuju ke jalan raya untuk menyetop becak.
“Kita naik becak aja ya? u a n g nanti kita b a y ar di rumahku, mana tidak ada lagi barang yang bisa kita ju al. Jam mahalku sudah mereka ambil untuk bayar sarung je le k ini” kata Hakim.
“Terserah Kamu, Hakim. Kami ikut saja. Yang penting kita sudah tidak ada di sini lagi,ngeri dan trauma aku,” sahut Furqan.
Hingga lima menit menunggu lewat sebuah becak, mereka berempat segera naik ke atas becak. Hakim menyebutkan alamat rumahnya pada tukang becak, tidak ada pembicaraan di dalam perjalanan. Semua terdiam larut dalam pikiran masing-masing.
Sementara itu di rumah Hakim, Salma sangat khawatir. Karena putranya belum juga pulang, Puspa sudah berada di rumah Hakim.
“Bang Hakim biasa ya Buk? Pulang pagi?” tanya Puspa.
“Nggak Nak, baru kali ini. itupun ada bola dunia katanya, ibu siap-siap dulu ya? walaupun nggak ada Hakim. Kita bisa belanja berdua,” sahut Salma.
“Ya Buk, aku tunggu di sini saja,” kata Puspa.
Salma segera masuk ke dalam rumahnya, dengan cepat mengganti baju. Karena tidak ingin calon menantu menunggu terlalu lama. Namun alangkah kagetnya wanita itu melihat Hakim turun dari becak.
“Kamu kenapa Bang? mana nggak pakai baju,” tanya Puspa.
“S4y4ng, tolong bayar ongkos becak bentar ya? aku ke co pe tan semalam,” pinta Hakim.
Tanpa berbicara apapun, Puspa membuka dompetnya dan menyerahkan selembar u a ng dua puluh ribu. Hakim dan teman-temannya duduk di teras, Hakim kemudian bercerita jika mereka di c u li k dan di bawa ke pemakaman.
“Hah? Ng eri juga ya? ya sudah un t ung saja kalian selamat, masuk ke dalam dan mandi. Ibu dan Puspa mau belanja dulu, mana duit?” kata Salma.
Hakim masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya, lantas lima menit kemudian sudah kembali dengan dua gepok u a n g merah di tangannya. Salma dan Puspa segera meninggalkan rumah, mereka akan berbelanja di kota.
“Kita mandi dulu ya? kalian bisa pakai bajuku, aku masih kesal dengan Hanum. Nanti malam kita c u l I k saja dia di rumahnya bagaimana?” tanya Hakim.
“Wah ide bagus, aku setuju. Aku masih penasaran dengan kekasih kamu itu,” sahut Hasan.
“Aku ogah, belum ngapain aja sudah s I a l. Kalian saja, aku mau pulang.” tolak Furqan.
Pemuda berambut gondrong itu meninggalkan Hakim dan Hasan, pria itu pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Hakim.
“Nanti malam jam dua belas malam kita beraksi, ini mesti berhasil,” kata Hakim.
“Siap Bos, aman. Ayo mandi bareng,” ajak Hasan.
“G I l a Loe, aku masih normal,” protes Hakim.
Keduanya tertawa lepas dan segera masuk ke dalam rumah, tidak lupa mengunci pintu.
Mampir juga di karya kak author yang lain
MADUKU MEMBALAS PENDERITAANKU (TAMAT)
Jika teman-teman tidak bisa mendow apk kbm di playstore bisa dow di Samsung Store dan Amazon Store