10/08/2026
NANDA TIZAR SOROT NASIB KADER POSYANDU: "PENGABDIAN ATAU BEBAN YANG DIBUNGKUS RELAWAN?"
Melalui unggahan di media sosial Instagram, pengguna bernama Nanda Tizar menyampaikan pandangannya terkait keberadaan jutaan kader Posyandu di Indonesia.
Dalam tulisannya, Nanda menyoroti bahwa Posyandu selama ini digerakkan oleh lebih dari satu juta kader yang disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, menurutnya, jika dilihat dari perspektif ketenagakerjaan, kondisi tersebut dapat dipandang sebagai bentuk kerja tanpa upah (unpaid labor) dalam skala besar.
Nanda menilai para kader Posyandu memikul tanggung jawab besar, mulai dari pendataan balita, penimbangan, pengukuran tumbuh kembang anak, pemberian edukasi kesehatan, hingga penyusunan laporan terkait stunting.
Meski memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat, ia mempertanyakan kondisi para kader yang masih banyak berstatus sebagai "relawan" dengan imbalan yang disebutnya hanya berupa uang transport atau insentif yang tidak sebanding dengan beban pekerjaan.
"Ketika tuntutan administrasi semakin besar dan sistem kerja semakin digital, para kader tetap diminta menjalankan berbagai tugas dengan label pengabdian dan sukarela," tulis Nanda dalam unggahannya.
Ia juga menyampaikan pandangan bahwa apabila kader Posyandu secara resmi diakui sebagai pekerja kesehatan negara, maka pemerintah akan memiliki konsekuensi untuk memenuhi hak-hak ketenagakerjaan, seperti upah layak, perlindungan kerja, hingga jaminan sosial.
Menurut Nanda, istilah "pengabdian" dan "keikhlasan" tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kesejahteraan para kader yang selama ini berada di garis depan pelayanan kesehatan masyarakat.
Unggahan tersebut memicu perbincangan publik mengenai posisi kader Posyandu: apakah mereka tetap dipandang sebagai relawan sosial, atau sudah saatnya mendapatkan pengakuan dan perlindungan yang lebih layak.
Bagaimana menurut Anda? Apakah kader Posyandu sudah seharusnya mendapatkan status dan hak seperti pekerja profesional?