Fauna Wonders

Fauna Wonders halo fauna Wonders dunia hewan dan pecinta kucing

Dengan BERN.ph – Saya mendapatkan streak! Saya sudah jadi penggemar berat 5 bulan berturut-turut. 🎉
16/02/2025

Dengan BERN.ph – Saya mendapatkan streak! Saya sudah jadi penggemar berat 5 bulan berturut-turut. 🎉

Bahasa kucing bisa kita ketahui dari kondisi ekor y yah guys
31/12/2024

Bahasa kucing bisa kita ketahui dari kondisi ekor y yah guys

Kelima 4nakku menangis setiap hari karena kelap4ran, karena itu aku terpaksa melakukan....  #8Pria yang berdiri di depan...
28/12/2024

Kelima 4nakku menangis setiap hari karena kelap4ran, karena itu aku terpaksa melakukan....

#8

Pria yang berdiri di depannya hanya tersenyum. tak sepatah kata pun keluar dari bibir indahnya. Sari menatap pria tersebut semakin lekat, hidung runcing, dan lesung p**i yang dimiliki pria di hadapannya, semakin membuat Sari jatuh hati.

Dengan senang hati, Sari menyerahkan tangan, ketika pria itu mengulurkan tangannya lebih dulu.

Sari melangkah, mengikuti langkah kaki pria tersebut memasuki portal yang masih terbuka. Tak menunggu waktu lama, Sari dan Panji telah berada di tempat yang berbeda.

Pandangan Sari liar, wanita itu merasa, saat ini dirinya tengah berada di sebuah tempat yang mirip dengan keraton, seperti di film-film kolosal yang pernah ia tonton dulu.

Panji masih menggenggam erat tangan Sari.

Janda muda itu pun setia mengikuti langkah Panji.

Di sepanjang langkah keduanya, pandangan Sari liar, menyisir sekeliling tempat itu dengan tatapan keheranan.

Ada banyak orang disana. Para wanita memakai kemben dengan bawahan kain jarik. Sedangkan, yang laki-laki, memakai pakaian jawa kuno. Sebagian dari mereka membiarkan dadanya terbuka. Itu membuat Sari merasa risih.

Sari heran mengapa orang-orang disana akan membungkukan setengah badan mereka, seolah memberi penghormatan, setiap Sari dan Panji melewati orang-orang itu.

Masuklah mereka di sebuah ruangan yang sangat luas, Sari berpikir, tempat itu mirip dengan aula di sebuah kerajaan. Ya, lagi-lagi, dari film kolosal yang pernah Sari tonton dulu.

Di aula itu, ada banyak orang yang duduk di atas kursi yang berjajar rapi, dengan posisi saling berhadapan. Di depan mereka, ada pembatas yang menyerupai jalan panjang menuju kursi utama. Kursi itu mungkin yang disebut juga dengan Singgasana.

Panji masih melangkah membawa serta Sari dalam gandenganya, semua mata tertuju pada keduanya, terlihat mereka tersenyum senang dengan hadirnya Sari dan Panji, saat keduanya lewat di tengah-tengah mereka yang duduk berjejer.

Tibalah keduanya di depan Singgasana, Panji duduk menunduk, memberi hormat kepadanya yang duduk di kursi mewah berlapis emas itu.

Panji menarik tangan Sari, saat wanita itu masih berdiri terpaku dengan sejuta keheranan.

"Duduk!"

Sari terkejut, saat untuk pertama kali Panji mengeluarkan suara, meski hanya sebuah bisikan kecil saja.

Sesaat Sari melihat sekeliling, sebelum ia menuruti perintah Panji, lalu duduk di sisinya.

"Sembah kulo Bunda Ratu!"

Sari menatap heran, ketika Panji menyatukan tangannya, dengan kepala yang menunduk, memberi hormat pada seorang wanita cantik jelita, yang duduk anggun di atas singgasananya.

"Calonmu, ayu, Le..."

Tubuh Sari menegang, ketika tangan lentik wanita cantik itu membelai p**inya, seraya mengulas senyum.

Sari memindai Wanita Cantik itu, dengan sedikit rasa takut. Wanita tersebut memang sangat cantik. Berbusana kebaya mewah, dengan bawahan kain jarik. Rambut di sanggul rapi, berhiaskan mahkota indah, dilengkapi rangkaian kembang kantil menjuntai hingga sebatas dada.

Wanita tersebut tampak begitu ayu dan berwibawa.

"Sembah nuwun, Bunda Ratu." jawab Panji, masih menyatukan tangannya.

"Ayo, Le! Upacara pernikahan akan segera kita mulai." ajak Ratu, seraya bangkit dari singgasananya, kemudian melangkah anggun diiringi dua pengawal di belakangnya.

Panji kembali menggandeng Sari, lalu keduanya melangkah mengikuti Ratu.

Setelah Panji dan Sari melewati mereka, orang-orang yang awalnya duduk pun, turut bangkit. Kemudian berjalan mengikuti langkah Sang Ratu.

"Wis siap, Ni?" (Sudah Siap Nek?") Ratu bertanya kepada seorang Nenek tua, ketika langkahnya terhenti.

Mata Sari membulat, ia dibuat terkejut dengan keberadaan Nenek pemberi cincin di tempat itu.

"Sampun, Ndoro Ratu." (Sudah, Ndoro Ratu) jawab Nenek tersebut, seraya menyatukan tangan, dengan kepalanya yang menunduk saat menghadap Ratu.

"Ayo, Le.. bawa calon istrimu kemari." titah Ratu seraya melambai tangan ke arah Panji.

"Sendiko dawuh, Bunda Ratu." jawab panji, kembali menyatukan tangannya sejenak, sebelum tangan itu turun kembali menggandeng Sari.

Sari mengunci diri di tempatnya berdiri. Ia takut saat melihat serangkaian sesaji dan d**a di tempat itu.

Entah mengapa, saat Panji kembali mengulas senyum padanya, Sari seolah terhipnotis. Dengan mudahnya ia mengangguk pelan, kemudian berjalan mendekati ses aji dan d**a yang telah disediakan di tempat itu.

Upacara pernikahan berlangsung sakral. Pernikahan antara dua makhluk dari dua alam berbeda itu, dihadiri dan disaksikan oleh banyak orang, Sari sadar, bahwa diantara ramainya orang yang berkumpul di sana, hanya Sari manusia satu-satunya.

Tapi, Sari tak bisa berbuat apapun, selain harus pasrah dengan keadaan saat ini.

Upacara pernikahan akhirnya selesai, pernikahan yang aneh bagi Sari, karena di dunia manusia, belum pernah ia dapati upacara pernikahan seperti yang baru saja Ia alami.

"Koe, wis resmi dadi mantuku. R4njang pengantinmu ada di duniamu, pastikan kamu sudah berada di dalam kam4rmu, sebelum pvkul dua belas malam. Jangan pernah kau buat putraku kecewa, atau kamu akan menyesal." tutur Sang Ratu kepada Sari.

Sari hanya tertegun, ia bahkan tak mampu menelan saliv anya, entah mengapa dirinya selalu merasa ciut ketika harus berhadapan dengan Sang Ratu.

Tak berselang lama, cahaya yang menyilaukan kembali muncul. Seperti yang terjadi di kamar Sari, cahaya itu semakin lama semakin melebar hingga membentuk sebuah portal.

"Pamit kulo Bunda Ratu."(Saya pamit Bunda Ratu) Panji kembali menyatukan tangan, memberi hormat kepada Ratunya.

Ratu mengulas senyum, menyentuh kepala Panji tanda memberi izin.

Setelah mendapat restu serta izin dari Sang Ratu. Panji kembali menggandeng Sari, keduanya melangkah menembus portal.

Tak butuh waktu lama, sepasang pengantin baru itu telah berada di dalam kamar Sari, yang masih terlihat mew ah bak k4mar sepasang pengantin baru.

Panji mendekatkan dirinya kepada wanita cantik yang baru saja Ia nikahi. Sari merasa canggung dan malu. Perlahan ia melangkah mundur.

Meskipun ia seorang janda, tapi berada sekamar dengan lawan jenis adalah pengalaman pertama baginya, karena di saat pernikahan pertamanya, Salim belum pernah menyentuhnya sama sekali.

Sari semakin melangkah mundur, sedangkan panji perlahan mengikuti langkahnya, keduanya saling menatap satu sama lain, Panji tak bersuara, ia hanya mengulas senyum indah penuh makna.

Hingga langkah Sari terhenti ketika tubuhnya mentok di muka diding. Panji mengurungnya dengan satu tangan menapak pada dinding itu, sedangkan tanganya yang lain, dengan lembut melepas kembang kantil yang terselip di salah satu telinga istrinya, Sari merespon sentuhan itu dengan menutup mata.

Seketika busana Sari berubah, setelah kantil itu dilepas darinya.

Sari melihat dirinya. Tubuhnya kini terbalut dres indah berwarna dusty pink. Panji memindai Sari dengan perasaan yang sulit diartikan, senyumnya mengembang sempurna, wanita yang berdiri di hadapannya, terlihat sangat mempesona malam ini.

Meskipun Sari masih merasa canggung, tapi ia pasrah, ketika tangan kekar suami gaibnya, mengangkat tubuhnya dan membawanya ke atas ranjang pengantin mereka.

Seperti pengantin baru pada umumnya,

Sari menjadikan malam itu sebagai malam pertamanya dengan Panji.

Mereka saling bercvmbu memadu kasih, Sari dan Panji sama-sama menikm4ti saat itu, hingga sejenak Sari lupa, jika yang bersamanya saat ini, bukanlah manusia.

***

Suara ayam terdengar nyaring.

Sari terbangun dengan tubvhnya yang tanpa sehelai benangpun, hanya berbalut selimut tipis. Ia melihat sekeliling kamarnya, tak ada panji di sana, kam arnya pun sudah kembali normal, dengan dinding tripleks dan lantai tanah.

Sari berusaha bangun, tapi ternyata sulit. Terlalu nyeri di area bawah perutnya. Mata sari mengamati noda dar ah yang mengering di atas sprei.

Saat tatapanya beralih, matanya seketika membulat, ketika menemukan kepingan emas dan u4ng, tampak berserakan di sisinya.

"Semalam, bukan mimpi?!" pikir Sari, entah mengapa Sari merasa menyesal, dengan apa yang diperbuatnya malam itu.

Bersambung.

Tamat di KBM dengan judul : PERNIKAHAN GAIB JANDA KEMBANG
Penulis : Rava Purwati

SUP JARI KESUKAAN NENEK (2) Pagi ini para warga telah ramai akan melayat ke kediaman Bu Etik, seperti biasa ibu-ibu disi...
28/09/2024

SUP JARI KESUKAAN NENEK (2)

Pagi ini para warga telah ramai akan melayat ke kediaman Bu Etik, seperti biasa ibu-ibu disini membawa baskom yang berisi beras untuk di bawa kesana.

"Bi Ijah tunggu," kataku pada Bi Ijah yang kebetulan lewat di depan rumah sendiri.

Aku masuk kedalam dan mengambil kain selendang untuk menutupi rambutku.

"Nek, Binar mau pergi dulu ya, Nenek jangan keluar rumah," perintahku pada nenek.

"Ingat tugasmu nanti malam," ucap nenek.

Aku sedikit tertegun diam mendengar ucapan Nenek.

"Bin, ayo cepat," kata Bi Ijah berteriak dari luar.

"Iya Bi." Aku berjalan setengah berlari dan menyusul Bi Ijah yang sudah mulai melangkah itu.

Rumahku dan Bi Ijah bersebelahan tapi dengan jarak yang cukup jauh, Resha anak Bi Ijah memang sering main kerumah.

"Nenek kamu baik-baik saja kan?" Tanya Bi Ijah memecah keheningan.

"Baik kok Bi, tapi terkadang masih s**a marah-marah," kataku.

"Pantas saja sering Bibi dengar keributan, kalau sekiranya Nenek kamu membahayakan kurung saja di kamar," katanya, ku lihat Bi Ijah mengerutkan keningnya.

"Iya Bi, Nenek blm pernah kok main kasar sama Binar, cuman s**a marah berlebihan saja," jelasku lagi.

Di tengah perjalanan kami ada rombongan ibu-ibu lagi yang juga akan pergi kerumah Bu Etik.

"Bi Ijah, kasihan ya Bu Etik itu," kata Bu Yeyen mulai menggosip, Bu Yeyen sudah terkenal dengan mulutnya yang lemes itu.

"Kasihan kenapa Bu?" Kata Bu Ijah juga penasaran.

"Loh belum tau ya, nih ibu-ibu saya kasih tau ya Bu Etik itu mati tidak wajar, saya yakin pasti ada unsur ilmu hitam nya," jelas Bu Yeyen dengan memainkan bibirnya yang khas itu.

"Eh sudah-sudah gosipnya, kita mau sampai ini jangan ngomong yang macam-macam," kata salah seorang ibu-ibu.

Apa mungkin Bu Etik meninggal akibat ilmu hitam, dan apakah ada hubungan nya dengan Nenek, aku tidak percaya Nenek bisa melakukan itu.

15 menit berlalu dan aku mengkhawatirkan Nenek yang sendirian di rumah, akhirnya aku pulang duluan dan berpamitan pada Bi Ijah yang masih duduk di situ.

"Bi, saya pulang duluan ya," pamit ku.

"Iya, hati-hati ya Bin," kata Bi Ijah.

Aku berjalan pergi meninggalkan rumah duka yang sedang ramai pelayat itu, suasana desa pagi ini memang agak berbeda dengan sebelumnya, lebih seram dan sepi.

"Nek, Binar pulang," kataku pada nenek yang tengah berada di dapur.

"Lama banget sih, Nenek lapar," grutu Nenek yang sedang membersihkan jari.

"Maaf Nek, ini saja Binar pulang lebih awal dari yang lain," kataku.

"Yasudah cepat buatkan nenek sup, di masak semuanya saja kan nanti malam mau ngambil jarinya si Etik," jelas Nenek padaku, haruskah malam ini aku menggali kuburan lagi. Aku harus mengumpulkan keberanian untuk nanti malam.

Ku ambil alih tugas yang sedang di kerjakan Nenek, kali ini sama seperti kemarin.

Wangi bawang putih yang di goreng sudah menyeruak harum, kini tinggal menambahkan air dan memasukkannya.

Cukup lama aku merebusnya hingga akhirnya matang juga.

"Nek sudah matang," kataku memberi tahu Nenek.

"Ayo ikut makan bersama nenek," ajak Nenek padaku, aku masih belum bisa memakannya hanya membayangkan nya saja aku sudah mual.

"Tidak Nek, Binar makanya nanti saja mau masak dulu," kataku menolak nya.

Kehid**anku disini sangat lah sederhana, Nenek memiliki setengah hektar lahan karet yang di sadap oleh orang lain dan akan di bagi dua hasilnya, hanya dari situlah pemas**anku setiap bulannya.

Saat Ibuku masih ada nenek bekerja sebagai dukun bayi dan tukang pijat yang di bayar seikhlasnya, tapi entah sejak kapan Nenek sering mengamuk dan di anggap sebagai orang gila hingga tidak ada yang mau lagi memakai jasanya.

Srupp... Nenek memakan sup itu dengan sangat nikmat, kruk...bunyi letupan saat nenek menggigit itu, entah apa tujuan Nenek makan itu, ingin rasanya aku bertanya.

"Nek, kalau Binar tidak bisa mencarikan nenek jari lagi bagaimana?" Tanyaku pada nenek mencoba berani.

"Jari mu yang akan nenek makan," deg...jawaban nenek membuatku takut setengah mati.

Aku langsung diam mendengarkan pengakuan itu, aku takut pada nenek tapi aku lebih takut jika harus pergi dari rumah.

"Kapan si Etik di kuburkan?" Tanya Nenek.

"Kata Bi Ijah sih nanti siang," jawabku.

"Jangan lupa malam-malam kamu harus lebih ke kuburan nya," Nenek sudah memerintahkan aku lagi.

"Kalau tidak hujan ya Nek, soalnya mendung nih," kataku sedikit malas.

"Tidak bisa, nanti keburu busuk, nenek tidak mau," kata nenek dengan nada semakin tinggi.

Aku mengangguk menandakan bahwa aku sanggup melakukan nya, apa mungkin kematian Bu Ijah ada sangkut-pautnya dengan Nenek.

Ku tinggalkan Nenek dan pergi ke belakang untuk mengambil ubi kayu yang aku tanam.

"Mbak lagi apa?" Tiba-tiba Resha anak Bi Ijah datang menemui ku.

"Ngambil ubi kayu Res, kamu mau?" Kataku menawarkan ubi kayu pada anak itu.

"Tidak mbak," jawabnya singkat.

Resha memang sering datang kesini entah hanya untuk main atau di suruh Bu Ijah untuk meminta tanaman yang banyak aku tanam di halaman belakang.

Resha berlari kesana-kemari sambil membawa daun ubi yang dia petik sebagai kipas, maklum lah diakan masih anak-anak.

"Mbak, ini apa?" Kata Resha dari jauh sambil memegang sesuatu.

"Apa Res?" Kataku juga ke penasaran.

Ku hampiri Resha dan ternyata dia sedang memegang tulang.

Ku rebut tulang itu dari Resha dan menaruhnya di dalam rumah, biasanya aku selalu menyuruh Nenek untuk mengumpulkan nya dan nanti aku akan menguburkan nya. Tapi entah lah kali ini Nenek sangat ceroboh.

"Tadi namanya fosil monyet Res," kataku berbohong pada Resha.

Resha hanya diam dan sepertinya tidak lagi mempermasalahkan itu, sekarang dia fokus bermain tanah di halaman rumah.

***

"Nek, lain kali kalau habis makan bekasnya di kumpulin jangan dibuang sembarangan gitu," kataku pada Nenek yang duduk di teras belakang rumah.

"Biarkan saja," kata Nenek sinis.

Nenek sepertinya kumat lagi, selalu saja membantah ucapanku jika sedang emosi.

"Yasudah Binar mau ke warung dulu, Nenek mau titip apa?" Tanyaku pada Nenek.

"Tidak ada, kamu jangan lama-lama ya," jawab Nenek yang sama sekali tidak memandang wajahku.

"Iya Nek," kataku tersenyum manis.

Aku akan ke warung Bu Jumi untuk membeli beras dan gula, jarak warung cukup dekat hanya berjarak 7 rumah saja.

"Bu Jum, Bu," kataku memanggil nya.

"Iya, eh Binar mau cari apa?" Tanya Bu Jumi.

"Anu Bu, beras satu liter sama gula setengah kilo," kataku.

"Bin, Nek Surti gak macam-macam lagi kan?" Tanya Bu Jum padaku.

"Tidak Bu, hanya kadang emosi biasa saja tidak sampai berlebihan sampai dulu," jawabku.

Warga memang sangat menghawatirkanku jika suatu waktu Nenek ngamuk parah seperti dulu lagi, pernah suatu ketika aku tidak mau mencarikan Nenek keinginannya dan akhirnya Nenek mengamuk tidak bisa terkendali hingga semua warga datang untuk melindungiku, meskipun warga menyuruh untuk memasung Nenek tapi aku tidak tega juga tidak berani.

"Jangan sungkan untuk lapor ke pengurus kalau ada apa-apa ya, ini belanjaan nya," kata Bu Jum sambil memberikan belanjaanku.

Aku pulang dengan membawa plastik belanjaanku, sebenernya aku masih memikirkan untuk persiapan nanti malam, pekerjaan yang paling menguras mental dan keberanianku.

Sesampainya di rumah aku kaget dengan suara bising dari dalam kamar Nenek.

"Nenek kenapa?" Tanyaku namun tidak mendekati nya.

"Aaakk," Nenek mengamuk lagi meja kecil yang ada di kamar habis di banting nya.

"Nenek hentikan, kalau Nenek seperti ini nanti warga akan memasung Nenek," kataku sedikit berteriak.

Prankk...gelas pun habis di lembar oleh Nenek, brug...pintu kamar di tutup dengan kasar olehnya, namun setelah itu nenek berhenti mengamuk.

***

Matahari terbenam langit mulai gelap dan aku merasa malas dan takut untuk pergi ke makam malam ini, aku memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.

Dor..dor baru saja menejam mata sebentar, Nenek sudah menggedor-gedor pintu kamarku.

"Cepat lah pergi sekarang," kata Nenek culas.

"Iya Nek," jawabku singkat.

Aku pergi di tengah malam yang gelap ini, suasana desa sudah sangat hening tidak ada orang ronda ataupun hanya sekedar mengumpul, sangat sepi dan hanya suara jangkrik saja yang terdengar.

Aku berjalan hanya di terangi dengan cahaya rembulan saja, sepertinya terlalu bahaya jika aku membawa lampu atau obor jika nanti ada yang melihat nya.

Bulu kudukku berdiri saat aku sampai di tanah kuburan ini, belum lagi aku harus berkeliling di mana kuburan Bu Etik yang tadi di kuburkan.

Wesshh... Tiba-tiba ada sesuatu yang lewat di belakangku dengan cepat.

"Ah itu dia," kataku sedikit berlari ke arah kuburan yang masih bertanah merah.

Ternyata Bu Etik di kuburkan di ujung sana, kuburannya masih baru dan taburan bunganya pun masih segar.

Dengan sekuat tenaga aku gali kuburan ini dengan cangkul yang sudah ada di pondok kuburan. Keringat bercucuran sangat basah karena harus menggali sendiri.

Klotak... Suara botol yang saling beradu terdengar jelas ada di sekitar kuburan ini, ku lihat sekeliling namun tidak ada apa-apa.

Bug... akhirnya mata cangkul ini sudah mengenai papannya, kugali dengan tangan dan mulai membuka papan itu satu persatu.

Mulai terlihat bagian atas kepala pocong Bu Etik, kuteruskan lagi hingga tangannya, kini aku membuka kain kafan itu dan mengincar tangan Bu Etik.

"Aaaa," aku kaget melihat mata Bu Etik terbuka, perlahan aku mundur namun mata ibu masih menatapku.

Ku ambil beberapa papan dan melemparkannya ke arah wajah mayat Bu Etik.

"Maafkan Binar ya Bu," kataku.

Tanpa di susun lagi dengan rapih aku langsung naik dan menimbunnya kembali, yang terakhir adalah aku kembali menaburkan bunga di atas kuburan itu.

Aku berlari tergopoh-gopoh karena masih membayangkan Bu Etik yang tadi menatapku dengan mata yang sudah hampir keluar itu.

"Kembalikan,"

Deg... Aku mendengar suara dari belakang, dengan itu semakin cepat lagi aku berlari.

"Maafkan aku Bu Etik," kataku takut.

Kini ku beranikan diri untuk menoleh kebelakang namun tidak ada siapa-siapa, dan saat aku kembali berjalan kedepan tiba-tiba sosok pocong dengan keadaan urak-urakan berdiri di depanku.

"Aaa..pergi kamu," kataku dan memutar arah mencari jalan lain untuk pulang.

Makhluk melayang itu mengikutiku, aku sudah tidak bisa lagi menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini.

Kakiku beku namun aku paksakan untuk terus berlari meninggalkan makhluk seram itu, Bu Etik kah itu?

***

Brug...ku tutup pintu rumah dengan kasar, kini aku sedang mengatur nafas yang sedang ngos-ngosan.

Ada-ada saja kejadian malam ini, terlihat Bu Etik sangat marah karena aku telah mengambilnya.

"Sudah dapat," sungguh suara Nenek itu membuat aku sangat kaget.

"I...iya Nek sudah," kataku terbata-bata.

"Cepat simpan," ujar nenek dengan wajah datar.

Apakah selama ini hanya aku saja yang di ganggu oleh makhluk menyeramkan, apakah Nenek tidak ikut di ganggu?

Ah sudahlah aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, sungguh sebenarnya aku merasa sangat bersalah biasa mayat-mayat itu.

Aku harus mandi dulu sebelum aku tidur dan beristirahat akibat kelelahan.

PENULIS: Nengleny07

Judul: SUP JARI KESUKAAN NENEK

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:

PRIA YANG DIJODOHKAN DENGAN SAHABATKU TERNYATA....“Aku benar-benar mengandalkanmu malam ini. Semoga hasilnya tidak menge...
24/09/2024

PRIA YANG DIJODOHKAN DENGAN SAHABATKU TERNYATA....
“Aku benar-benar mengandalkanmu malam ini. Semoga hasilnya tidak mengecewakan.”

“Jangan khawatir, sayang. Akan kurusak kencan butamu seperti biasanya.”

Mesty tersenyum jahil saat mengetik pesan obrolan di layar ponsel. Malam ini ia kembali memenuhi permintaan konyol sahabatnya sebagai pasangan kencan buta pengganti. Tujuan dari aksi tersebut, tentu saja mengacaukan rencana perjodohan agar tidak berlanjut ke jenjang pernikahan.

Di tengah aktivitas bertukar pesan terdengar suara berat yang memanggil nama Amira Sagatani. Apakah dia orangnya? Mesty spontan menoleh, namun detik itu juga matanya langsung melotot besar.

“Kamuuu?” Seru mereka bersamaan.

Astaga, cobaan hidup macam apa ini! Dari sekian banyak pria di muka bumi ini kenapa harus dia orangnya?

***
(1 jam yang lalu sebelum pertemuan.)

“Seperti biasa, hasil make-up seorang Sila Adriana selalu memuaskan.” Mesty tersenyum lebar menatap pantulan dirinya di depan cermin.

“Dandan secantik ini cuma buat mengacaukan perjodohan orang. Sangat disayangkan,” cibir Sila sambil merapikan perlengkapan make-upnya.

“Kali ini dengan yang mana lagi?” sambungannya

Mesty mengedikkan bahu.

“Loh, kok bisa? Kalau salah orang bagaimana?”

Pertanyaan sejenis pernah Mesty lontarkan pada si empunya yang punya rencana. Bagaimana ia bisa bekerja dengan maksimal kalau data informasinya minim begini? Kata Amira, tidak mungkin ada dua pria berbeda datang di waktu yang sama. Apalagi tempat pertemuan sudah diatur.

Suara notifikasi ponsel menjadi pemutus obrolan kedua perempuan tersebut. Taksi pesanan sudah tiba di depan. Tanpa pikir panjang Mesty langsung mendatangi kendaraan sesuai info yang diberikan driver.

Bersamaan dengan itu seorang pria tiba-tiba muncul dari pintu berlawanan. Diperkirakan umurnya sekitar akhir 20-an. Terlihat maskulin dengan kacamata bening. Hidung mancung bak perosotan. Berkulit coklat terang dengan tahi lalat mungil di sekitar dagu bagian kiri. Fitur yang cukup sempurna menggambarkan bahwa wajahnya begitu sedap dipandang.

“Sudah puas melihatnya?”

Suara berat itu seketika membuyarkan pikiran Mesty. Gilaa, suaranya saja terdengar tampan. Tapi jujur ia sedikit canggung karena gelagatnya sudah tertangkap pria tersebut.

“Ah, maaf. Mobil ini menuju Kafe ABC, bukan?” tanya Mesty basa-basi.

“Lalu?” sahutnya singkat.

Entah kenapa tatapan itu terkesan sedikit menekan. Ah, mungkin cuma perasaan Mesty saja barangkali.

“Sebenarnya saya ini....”

“Turun!”

“Eh, maksudnya?”

“Berhentilah bersandiwara dan turun sekarang juga, Nona penguntit!”

What? Penguntit? Heloow...

Bisa-bisanya dituding sebagai penguntit padahal mereka baru pertama kali bertemu. Mesty sangat yakin belum pernah melihat sosok berkacamata ini sebelumnya. Apa ini semacam trik terbaru seorang pria menggoda lawan jenis?

Di tengah keributan itu sederet nomor yang tidak dikenal sedang menelpon.

“Halo, siapa ini?” tanya Mesty penasaran.

“Selamat malam, saya dari driver si kuning. Tadi Miss Mesty yang memesan taksi dengan tujuan Kafe ABC, bukan?” Suara pria dewasa di ujung telepon.

“Wah kebetulan sekali bapak menelpon. Ada hal penting yang mau saya sampaikan.”

Mesty tersenyum puas saat merasakan tatapan sinis dari sosok berkacamata itu. Awalnya ia ingin mengajukan komplain atas sikap adik si driver yang dirasa berlebihan. Biar tau rasa dia! Namun yang terjadi, Mesty justru dibuat kaget oleh pernyataan terakhir si penelpon.

What! Jadi pria dalam mobil ini….

***
Kelanjutan cerita ini bisa kakak baca di aplikasi KBM.

Judul : Pria yang dijodohkan dengan sahabatku
Penulis : Yuneri Atr

Part berikutnya cek disini:

Cung Hadirrr...☝☝☝   #   #
24/09/2024

Cung Hadirrr...☝☝☝ # #

KEMB4LIKAN KEP4LA B4YIKU(10)Penulis : Author Senja    Mendengar suara seseorang itu, seketika Joko langsung menarik bern...
21/09/2024

KEMB4LIKAN KEP4LA B4YIKU(10)
Penulis : Author Senja

Mendengar suara seseorang itu, seketika Joko langsung menarik bernapas lega. Barulah setelah itu Joko bergerak turun dari tempat t1durnya, berjalan mendekati jendela k4marnya.

"Ngapain tengah malam seperti ini mengetuk pintu rumah orang, kurang kerjaan kau?" ucap Joko setelah membukakan jendela, untuk seseorang yang sangat ia kenal itu. Anehnya sosok yang ia ajak berbicara hanya terdiam dengan tatapan kosong, tanpa menjawab pertanyaannya sama sekali.

"Bud, kau kenapa? Lihatlah wajahmu kenapa pucat sekali? Apa kau s4kit?" tanya Joko setelah memperhatikan wajah temannya itu, namun lagi-lagi Budi tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.

"Budi, kau kenapa?" tanya Joko, tetap memperhatikan tingkah laku temannya yang menurutnya sedikit aneh.

"Ayo ikut aku!" ajak Budi dengan suara dingin.

"Kau mau mengajakku ke mana? Ini sudah malam!" tanya Joko, ingin tahu.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu!" jawab Budi, datar.

"Kau ingin menunjukkan apa? Ini sudah malam, apa tidak bisa besok saja?" tanya Joko penasaran.

"Ayo ikut aku sekarang, atau kau t4kut dengan sosok menyer4mkan yang biasa penduduk desa ceritakan?" ucap Budi tersenyum miring.

Mendengar ucapan Budi membuat Joko sedikit em0si, dengan cepat ia menyetujui ajakan temannya itu, lalu mengikuti langkah Budi dari belakang

Dengan langkah lebar Budi terus berjalan cepat, mengajak Joko ke sebuah tempat, hingga tibalah mereka di sebuah hutan yang sangat Joko kenal.

"Kenapa kau mengajakku ke sini Bud?" tanya Joko keheranan.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu!" jawab Budi cepat dengan tatapan lurus ke depan.

"Iya tapi apa? Ini sudah malam, kenapa tidak besok saja?" tanya Joko.

"Ini tentang Wawan." jawab Budi dengan suara dingin.

"Wawan? Apa kau menemukan j4sadnya?" tanya Joko terkejut, dengan sepasang mata terbelalak lebar. Setelah mendengar jawaban temannya itu.

Tanpa menjawab pertanyaan Joko sama sekali, Budi terus berjalan memasuki ke dalaman hutan di mana tempat itulah yang menjadi saksi atas kebej4tan yang sudah mereka lakukan kepada Arumbi dan calon buah hatinya. Sedangkan Joko terus saja mengikuti langkah Budi dari belakang dengan langkah cepat.

Joko terus saja berjalan memasuki ke dalaman hutan mengikuti langkah Budi, sesekali Joko harus berlari mengejar Budi karna tidak biasanya Budi berjalan cepat seperti itu.

Joko benar-benar merasa heran dengan sikap temannya itu, mungkin karna keadaan d4rurat makanya Budi bertingkah seperti itu. Itulah yang ada di dalam pikiran Joko saat ini, meski ada keg4njilan yang ia rasakan atas tingkah laku temannya itu.

Setibanya Joko di hutan itu suara srig4la dan suara binat4ng malam kini mulai bersahut-sahutan, seolah menyambut kedatangan Joko setelah kejadian pada malam itu.

Kedua laki-laki itu terus saja berjalan memasuki ke dalaman hutan, di keheningan malam. Suara burung hantu yang terbang, hinggap dari satu dahan ke dahan pohon lainnya, seolah mengikuti jejak kedua laki-laki itu dari belakang.

Kini sampailah mereka di sebuah tempat yang menjadi saksi bagaimana Arumbi sang kembang desa diperk0sa, dih4bisi secara tidak manusi4wi, dimutil4si, lalu dibu4ng tubuhnya ke dalam derasnya air sungai.

Setelah sampai di tempat itu, tiba-tiba Budi langsung menghentikan langkahnya dengan tatapan mata lurus ke depan. Melihat hal itu Joko semakin merasa aneh dengan tingkah laku temannya itu.

"Bud, kenapa kau mengajakku kemari? Apa kita sudah sampai? Lalu di mana j4sad Wawan?" tanya Joko kepada temannya itu, namun lagi-lagi Budi tidak menyahut sama sekali, hanya terdiam seperti patung dengan tatapan lurus ke depan.

"Bud?" panggil Joko, memperhatikan temannya itu dari belakang.

Budi tetap saja diam mematung, tidak lama ia kembali bersuara,

"KEMB4LIKAN KEP4LA B4YIKU!" ucap Budi dengan suara lirih, namun terdengar sangat jelas di telinga Joko.

DEGH!

Mendengar hal itu membuat Joko benar-benar kaget, dengan jantung seakan terlep4s dari tepatnya. Joko menelan salivanya berkali-kali, berusaha memberanikan dirinya kembali bertanya kepada temannya itu.

"Apa yang kau katakan Bud?" tanya Joko, seakan ia tidak mendengar apa yang diucapkan Budi barusan.

Budi tidak menjawab pertanyaan Joko sama sekali, lalu tiba-tiba ...

KRETEK! TREK! TEK!

Budi mengerakkan kepalanya hingga memutar sempurna ke arah belakang, sementara tubuhnya menghadap lurus ke depan.

Suara p4tahan tul4ng itu terdengar begitu nyaring di telinga laki-laki bernama Joko itu, membuat tubuh Joko lemas seketika.

Belum lagi melihat wajah Budi yang perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang sangat menyer4mkan, membuat Joko benar-benar meng1gil ket4kutan. Hingga beringsut mundur ke belakang, dengan tatapan mata masih tetap menatap ke arah Budi.

Melihat Joko ketakutan membuat sosok yang menyerupai Budi tersenyum miring. Menyering4i, menunjukkan barisan gigi runc1ngnya, dengan d4rah merah kehitam-hitaman terus saja keluar dari sela-sela gigi runc1ngnya. Mengalir dari mulut sosok yang menyerupai Budi itu.

Kedua mata sosok yang menyerupai Budi itu juga mulai berubah menjadi merah menyala, menyiratkan dend4m dan 4marah yang bercampur menjadi satu.

Bukan hanya itu saja, k√litnya juga pelan-pelan berubah membiru mengelup4s, dengan d4rah merah kehitam-hitaman bercampur binat4ng putih mengeli4t keluar dari tubuh sosok yang menyerupai temannya itu. Kini terlihatlah wujud asli dari makhluk menyer4mkan yang menyerupai Budi itu.

Napas Joko seakan tercekat, tubuhnya terasa begitu lemas. Joko tidak pernah menyangka sosok yang ia kira temannya itu, tidak lain dan tidak bukan adalah sosok Arumbi yang ingin men√ntut b4las atas kem4tiannya.

Pelan-pelan sosok menyer4mkan itu bergerak mendekati Joko, mengetahui hal itu membuat Joko semakin p4nik kalang kabut. Ia benar-benar tidak menyangka sosok yang selalu penduduk desa ceritakan dan selalu mener0r penduduk desa kini berada tepat di hadapannya.

"Pe-pergi kau!" ucap Joko gelagapan dengan wajah ket4kutan.

"Hihihi ... Kau harus memb4las semua rasa s4kit yang telah kau berikan kepadaku, kau telah membuatku dan calon bayiku berpis4h dengan laki-laki yang sangat kami cintai!" ucap sosok Arumbi yang terus saja bergerak mendekati Joko, dengan tatapan taj4m merah menyala.

"Pe-pergi kau, dasar set4n sial4n!" ucap Joko p4nik, sambil tetap melangkah mundur ke belakang.

"Kau harus menanggung semua perbuatan bej4tmu itu Joko, orang sepertimu l4yak untuk m4ti!" ucap sosok Arumbi dengan suara penuh penekanan.

Joko terus saja mundur ke belakang dengan sepasang matanya tetap melihat ke arah sosok yang sangat menyer4mkan itu.

BRUKKK!

Joko terj4tuh, terjengk4ng ke belakang. tubuhnya 4mbruk ke tanah hingga, membuat kepalanya terbent√r ker4s ke sebuah batu berukuran besar.

D4rah segar dengan cepat mengucur dari kepala laki-laki bernama Joko itu, membuat Joko berdes1s kes4kitan memegang kepalanya yang b0cor.

Melihat hal itu sosok Arumbi hanya tersenyum lebar menyering4i, dengan tubuh sempoyongan Joko kembali berusaha berdiri. Melangkah tertatih-tatih, berusaha berlari meninggalkan ke dalaman hutan itu.

"Hihihi ... Mau lari ke mana kau bajing4n, malam ini adalah giliranmu untuk menemui aj4lmu!" ucap sosok Arumbi tertawa melingking, kembali menatap t4jam ke arah Joko yang kini mulai berlari menjauh, berusaha keluar dari hutan itu.

Tiba-tiba tangan dengan kulit membiru mengelup4s itu bergerak memanjang men4rik kaki Joko, membuat tubuh Joko ters3ret ku4t ke tanah. Dengan tubuh membent√r akar-akar pohon besar, yang berada di permukaan tanah.

***
Cerita ini sudah tamat di KBM, jangan lupa mampir ❣️

Address

Jalan Tamalate 2 Blok N6 No 2a
Makassar

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Fauna Wonders posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share