28/09/2024
SUP JARI KESUKAAN NENEK (2)
Pagi ini para warga telah ramai akan melayat ke kediaman Bu Etik, seperti biasa ibu-ibu disini membawa baskom yang berisi beras untuk di bawa kesana.
"Bi Ijah tunggu," kataku pada Bi Ijah yang kebetulan lewat di depan rumah sendiri.
Aku masuk kedalam dan mengambil kain selendang untuk menutupi rambutku.
"Nek, Binar mau pergi dulu ya, Nenek jangan keluar rumah," perintahku pada nenek.
"Ingat tugasmu nanti malam," ucap nenek.
Aku sedikit tertegun diam mendengar ucapan Nenek.
"Bin, ayo cepat," kata Bi Ijah berteriak dari luar.
"Iya Bi." Aku berjalan setengah berlari dan menyusul Bi Ijah yang sudah mulai melangkah itu.
Rumahku dan Bi Ijah bersebelahan tapi dengan jarak yang cukup jauh, Resha anak Bi Ijah memang sering main kerumah.
"Nenek kamu baik-baik saja kan?" Tanya Bi Ijah memecah keheningan.
"Baik kok Bi, tapi terkadang masih s**a marah-marah," kataku.
"Pantas saja sering Bibi dengar keributan, kalau sekiranya Nenek kamu membahayakan kurung saja di kamar," katanya, ku lihat Bi Ijah mengerutkan keningnya.
"Iya Bi, Nenek blm pernah kok main kasar sama Binar, cuman s**a marah berlebihan saja," jelasku lagi.
Di tengah perjalanan kami ada rombongan ibu-ibu lagi yang juga akan pergi kerumah Bu Etik.
"Bi Ijah, kasihan ya Bu Etik itu," kata Bu Yeyen mulai menggosip, Bu Yeyen sudah terkenal dengan mulutnya yang lemes itu.
"Kasihan kenapa Bu?" Kata Bu Ijah juga penasaran.
"Loh belum tau ya, nih ibu-ibu saya kasih tau ya Bu Etik itu mati tidak wajar, saya yakin pasti ada unsur ilmu hitam nya," jelas Bu Yeyen dengan memainkan bibirnya yang khas itu.
"Eh sudah-sudah gosipnya, kita mau sampai ini jangan ngomong yang macam-macam," kata salah seorang ibu-ibu.
Apa mungkin Bu Etik meninggal akibat ilmu hitam, dan apakah ada hubungan nya dengan Nenek, aku tidak percaya Nenek bisa melakukan itu.
15 menit berlalu dan aku mengkhawatirkan Nenek yang sendirian di rumah, akhirnya aku pulang duluan dan berpamitan pada Bi Ijah yang masih duduk di situ.
"Bi, saya pulang duluan ya," pamit ku.
"Iya, hati-hati ya Bin," kata Bi Ijah.
Aku berjalan pergi meninggalkan rumah duka yang sedang ramai pelayat itu, suasana desa pagi ini memang agak berbeda dengan sebelumnya, lebih seram dan sepi.
"Nek, Binar pulang," kataku pada nenek yang tengah berada di dapur.
"Lama banget sih, Nenek lapar," grutu Nenek yang sedang membersihkan jari.
"Maaf Nek, ini saja Binar pulang lebih awal dari yang lain," kataku.
"Yasudah cepat buatkan nenek sup, di masak semuanya saja kan nanti malam mau ngambil jarinya si Etik," jelas Nenek padaku, haruskah malam ini aku menggali kuburan lagi. Aku harus mengumpulkan keberanian untuk nanti malam.
Ku ambil alih tugas yang sedang di kerjakan Nenek, kali ini sama seperti kemarin.
Wangi bawang putih yang di goreng sudah menyeruak harum, kini tinggal menambahkan air dan memasukkannya.
Cukup lama aku merebusnya hingga akhirnya matang juga.
"Nek sudah matang," kataku memberi tahu Nenek.
"Ayo ikut makan bersama nenek," ajak Nenek padaku, aku masih belum bisa memakannya hanya membayangkan nya saja aku sudah mual.
"Tidak Nek, Binar makanya nanti saja mau masak dulu," kataku menolak nya.
Kehid**anku disini sangat lah sederhana, Nenek memiliki setengah hektar lahan karet yang di sadap oleh orang lain dan akan di bagi dua hasilnya, hanya dari situlah pemas**anku setiap bulannya.
Saat Ibuku masih ada nenek bekerja sebagai dukun bayi dan tukang pijat yang di bayar seikhlasnya, tapi entah sejak kapan Nenek sering mengamuk dan di anggap sebagai orang gila hingga tidak ada yang mau lagi memakai jasanya.
Srupp... Nenek memakan sup itu dengan sangat nikmat, kruk...bunyi letupan saat nenek menggigit itu, entah apa tujuan Nenek makan itu, ingin rasanya aku bertanya.
"Nek, kalau Binar tidak bisa mencarikan nenek jari lagi bagaimana?" Tanyaku pada nenek mencoba berani.
"Jari mu yang akan nenek makan," deg...jawaban nenek membuatku takut setengah mati.
Aku langsung diam mendengarkan pengakuan itu, aku takut pada nenek tapi aku lebih takut jika harus pergi dari rumah.
"Kapan si Etik di kuburkan?" Tanya Nenek.
"Kata Bi Ijah sih nanti siang," jawabku.
"Jangan lupa malam-malam kamu harus lebih ke kuburan nya," Nenek sudah memerintahkan aku lagi.
"Kalau tidak hujan ya Nek, soalnya mendung nih," kataku sedikit malas.
"Tidak bisa, nanti keburu busuk, nenek tidak mau," kata nenek dengan nada semakin tinggi.
Aku mengangguk menandakan bahwa aku sanggup melakukan nya, apa mungkin kematian Bu Ijah ada sangkut-pautnya dengan Nenek.
Ku tinggalkan Nenek dan pergi ke belakang untuk mengambil ubi kayu yang aku tanam.
"Mbak lagi apa?" Tiba-tiba Resha anak Bi Ijah datang menemui ku.
"Ngambil ubi kayu Res, kamu mau?" Kataku menawarkan ubi kayu pada anak itu.
"Tidak mbak," jawabnya singkat.
Resha memang sering datang kesini entah hanya untuk main atau di suruh Bu Ijah untuk meminta tanaman yang banyak aku tanam di halaman belakang.
Resha berlari kesana-kemari sambil membawa daun ubi yang dia petik sebagai kipas, maklum lah diakan masih anak-anak.
"Mbak, ini apa?" Kata Resha dari jauh sambil memegang sesuatu.
"Apa Res?" Kataku juga ke penasaran.
Ku hampiri Resha dan ternyata dia sedang memegang tulang.
Ku rebut tulang itu dari Resha dan menaruhnya di dalam rumah, biasanya aku selalu menyuruh Nenek untuk mengumpulkan nya dan nanti aku akan menguburkan nya. Tapi entah lah kali ini Nenek sangat ceroboh.
"Tadi namanya fosil monyet Res," kataku berbohong pada Resha.
Resha hanya diam dan sepertinya tidak lagi mempermasalahkan itu, sekarang dia fokus bermain tanah di halaman rumah.
***
"Nek, lain kali kalau habis makan bekasnya di kumpulin jangan dibuang sembarangan gitu," kataku pada Nenek yang duduk di teras belakang rumah.
"Biarkan saja," kata Nenek sinis.
Nenek sepertinya kumat lagi, selalu saja membantah ucapanku jika sedang emosi.
"Yasudah Binar mau ke warung dulu, Nenek mau titip apa?" Tanyaku pada Nenek.
"Tidak ada, kamu jangan lama-lama ya," jawab Nenek yang sama sekali tidak memandang wajahku.
"Iya Nek," kataku tersenyum manis.
Aku akan ke warung Bu Jumi untuk membeli beras dan gula, jarak warung cukup dekat hanya berjarak 7 rumah saja.
"Bu Jum, Bu," kataku memanggil nya.
"Iya, eh Binar mau cari apa?" Tanya Bu Jumi.
"Anu Bu, beras satu liter sama gula setengah kilo," kataku.
"Bin, Nek Surti gak macam-macam lagi kan?" Tanya Bu Jum padaku.
"Tidak Bu, hanya kadang emosi biasa saja tidak sampai berlebihan sampai dulu," jawabku.
Warga memang sangat menghawatirkanku jika suatu waktu Nenek ngamuk parah seperti dulu lagi, pernah suatu ketika aku tidak mau mencarikan Nenek keinginannya dan akhirnya Nenek mengamuk tidak bisa terkendali hingga semua warga datang untuk melindungiku, meskipun warga menyuruh untuk memasung Nenek tapi aku tidak tega juga tidak berani.
"Jangan sungkan untuk lapor ke pengurus kalau ada apa-apa ya, ini belanjaan nya," kata Bu Jum sambil memberikan belanjaanku.
Aku pulang dengan membawa plastik belanjaanku, sebenernya aku masih memikirkan untuk persiapan nanti malam, pekerjaan yang paling menguras mental dan keberanianku.
Sesampainya di rumah aku kaget dengan suara bising dari dalam kamar Nenek.
"Nenek kenapa?" Tanyaku namun tidak mendekati nya.
"Aaakk," Nenek mengamuk lagi meja kecil yang ada di kamar habis di banting nya.
"Nenek hentikan, kalau Nenek seperti ini nanti warga akan memasung Nenek," kataku sedikit berteriak.
Prankk...gelas pun habis di lembar oleh Nenek, brug...pintu kamar di tutup dengan kasar olehnya, namun setelah itu nenek berhenti mengamuk.
***
Matahari terbenam langit mulai gelap dan aku merasa malas dan takut untuk pergi ke makam malam ini, aku memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.
Dor..dor baru saja menejam mata sebentar, Nenek sudah menggedor-gedor pintu kamarku.
"Cepat lah pergi sekarang," kata Nenek culas.
"Iya Nek," jawabku singkat.
Aku pergi di tengah malam yang gelap ini, suasana desa sudah sangat hening tidak ada orang ronda ataupun hanya sekedar mengumpul, sangat sepi dan hanya suara jangkrik saja yang terdengar.
Aku berjalan hanya di terangi dengan cahaya rembulan saja, sepertinya terlalu bahaya jika aku membawa lampu atau obor jika nanti ada yang melihat nya.
Bulu kudukku berdiri saat aku sampai di tanah kuburan ini, belum lagi aku harus berkeliling di mana kuburan Bu Etik yang tadi di kuburkan.
Wesshh... Tiba-tiba ada sesuatu yang lewat di belakangku dengan cepat.
"Ah itu dia," kataku sedikit berlari ke arah kuburan yang masih bertanah merah.
Ternyata Bu Etik di kuburkan di ujung sana, kuburannya masih baru dan taburan bunganya pun masih segar.
Dengan sekuat tenaga aku gali kuburan ini dengan cangkul yang sudah ada di pondok kuburan. Keringat bercucuran sangat basah karena harus menggali sendiri.
Klotak... Suara botol yang saling beradu terdengar jelas ada di sekitar kuburan ini, ku lihat sekeliling namun tidak ada apa-apa.
Bug... akhirnya mata cangkul ini sudah mengenai papannya, kugali dengan tangan dan mulai membuka papan itu satu persatu.
Mulai terlihat bagian atas kepala pocong Bu Etik, kuteruskan lagi hingga tangannya, kini aku membuka kain kafan itu dan mengincar tangan Bu Etik.
"Aaaa," aku kaget melihat mata Bu Etik terbuka, perlahan aku mundur namun mata ibu masih menatapku.
Ku ambil beberapa papan dan melemparkannya ke arah wajah mayat Bu Etik.
"Maafkan Binar ya Bu," kataku.
Tanpa di susun lagi dengan rapih aku langsung naik dan menimbunnya kembali, yang terakhir adalah aku kembali menaburkan bunga di atas kuburan itu.
Aku berlari tergopoh-gopoh karena masih membayangkan Bu Etik yang tadi menatapku dengan mata yang sudah hampir keluar itu.
"Kembalikan,"
Deg... Aku mendengar suara dari belakang, dengan itu semakin cepat lagi aku berlari.
"Maafkan aku Bu Etik," kataku takut.
Kini ku beranikan diri untuk menoleh kebelakang namun tidak ada siapa-siapa, dan saat aku kembali berjalan kedepan tiba-tiba sosok pocong dengan keadaan urak-urakan berdiri di depanku.
"Aaa..pergi kamu," kataku dan memutar arah mencari jalan lain untuk pulang.
Makhluk melayang itu mengikutiku, aku sudah tidak bisa lagi menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini.
Kakiku beku namun aku paksakan untuk terus berlari meninggalkan makhluk seram itu, Bu Etik kah itu?
***
Brug...ku tutup pintu rumah dengan kasar, kini aku sedang mengatur nafas yang sedang ngos-ngosan.
Ada-ada saja kejadian malam ini, terlihat Bu Etik sangat marah karena aku telah mengambilnya.
"Sudah dapat," sungguh suara Nenek itu membuat aku sangat kaget.
"I...iya Nek sudah," kataku terbata-bata.
"Cepat simpan," ujar nenek dengan wajah datar.
Apakah selama ini hanya aku saja yang di ganggu oleh makhluk menyeramkan, apakah Nenek tidak ikut di ganggu?
Ah sudahlah aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, sungguh sebenarnya aku merasa sangat bersalah biasa mayat-mayat itu.
Aku harus mandi dulu sebelum aku tidur dan beristirahat akibat kelelahan.
PENULIS: Nengleny07
Judul: SUP JARI KESUKAAN NENEK
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: