11/09/2025
Dari Aula Hingga Sel Tahanan: Evolusi Kebebasan Akademik
Di atas panggung kebijakan, jargon Merdeka Belajar dilantunkan seperti lagu wajib nasional. Setiap pejabat bergantian menyanyikannya dengan penuh semangat, seakan-akan kampus berubah menjadi taman kanak-kanak besar yang riang gembira. Tapi mari kita jujur: jangankan merdeka, sekadar menghela napas panjang pun sering kali butuh izin.
Rektor? Ah, beliau lebih mirip office boy kementerian yang dipakaikan jas akademik. Rantai kebijakan menjulur dari ruang rapat Jakarta hingga ke meja kerja di kampus-kampus daerah. Ketika mahasiswa berteriak soal kebebasan akademik, rektor hanya bisa tersenyum kaku: antara takut pada birokrat, takut pada sponsor, dan takut pada kursinya sendiri.
Dosen pun tak kalah malang. Konon diberi kebebasan berinovasi, tapi kenyataannya sibuk mengejar akreditasi, sertifikasi, verifikasi, dan segala bentuk -asi lainnya. Mereka bukan pengajar, melainkan pegawai administrasi dengan beban kerja terselubung. Kebebasan akademik tereduksi jadi sekadar kebebasan menambah slide PowerPoint.
Mahasiswa? Mereka dipanggil “generasi merdeka” padahal kurikulumnya masih ditentukan lewat rapat yang tak pernah mereka hadiri. Tugas menumpuk, biaya kuliah naik, sementara suara mereka di forum resmi tak lebih keras daripada bisikan di kantin. Lalu ketika protes, langsung dicap tidak produktif, radikal, atau kurang beradab.
Maka jelaslah: Merdeka Belajar adalah nama samaran dari proyek besar Belajar Taat. Belajar taat pada aturan yang absurd, belajar patuh pada birokrasi yang gemuk, belajar diam ketika rantai itu makin kencang. Sungguh ironis: kampus yang katanya tempat melahirkan pemikiran kritis justru menjadi laboratorium kepatuhan.
Pertanyaannya sederhana: apakah bangsa ini butuh mahasiswa yang merdeka berpikir, atau sekadar pekerja patuh yang lahir dari kampus berlabel “merdeka”? Jika rektornya saja dirantai, jangan-jangan kita semua sedang ikut lomba tarik-tambang melawan kekosongan.
Dan begitulah, Merdeka Belajar akhirnya menjadi sekadar spanduk lusuh di gerbang kampus, lebih sering difoto daripada dijalani. Semua sibuk pura-pura merdeka, padahal rantai berbunyi nyaring setiap kali ada yang bergerak sedikit lebih jauh dari garis yang ditentukan.
Kalau rektor tetap di rantai, dosen jadi tukang isi formulir, dan mahasiswa dilatih untuk diam, maka sesungguhnya kita tidak sedang membangun universitas, melainkan pabrik. Pabrik gelar, pabrik sertifikat, pabrik lulusan patuh yang tak tahu apa artinya berpikir bebas.
Maka jangan heran bila suatu hari nanti, sejarah akan mencatat: bangsa ini pernah punya program Merdeka Belajar, tapi yang lahir justru generasi yang hanya pandai belajar merangkak.
Mungkin suatu saat, demi efisiensi, rantai di tangan rektor akan diganti dengan aplikasi digital: tinggal scan barcode setiap kali ingin mengambil keputusan. Dosen pun cukup klik tombol “setuju” sebelum memulai kuliah, agar terpantau taat. Mahasiswa? Bisa jadi kelak mereka tak perlu masuk kelas sama sekali—cukup unggah wajah tersenyum ke portal akademik, tandanya sudah “aktif dan merdeka”.
Inilah komedi besar pendidikan kita: semua orang berteriak “merdeka”, tapi tawa itu terdengar seperti gema di ruang besi yang terkunci. Kampus pun makin mirip sirkus: ada rantai, ada pelatih, ada penonton, tapi singa-singa mudanya tak pernah benar-benar dibiarkan lepas.
Maka jangan salah paham: Merdeka Belajar bukanlah undangan untuk berpikir bebas, melainkan kursus kilat tentang cara tertawa sambil tetap terikat.