08/09/2026
Antrean kendaraan diesel di sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar, mulai menjadi perhatian serius pelaku usaha transportasi. Kondisi ini dinilai tidak hanya merugikan sopir truk, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi barang dan aktivitas ekonomi daerah.
Antrean panjang truk terlihat di sejumlah SPBU, di antaranya SPBU 74.901.04 di Jalan Tantara Pelajar dan SPBU 74.901.09 di Jalan Andalas. Kondisi serupa juga terlihat di sejumlah SPBU sepanjang jalur poros Maros-Pangkep.
Bagi perusahaan angkutan, waktu yang dihabiskan untuk mengantre solar berarti berkurangnya waktu operasional kendaraan. Truk yang seharusnya dapat menjalankan beberapa ritase dalam sehari harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU.
Ketua Karateker Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Sulawesi Selatan, Salahuddin Kasim, menilai persoalan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari kelancaran rantai pasok, bukan semata masalah antrean kendaraan.
“Ini bukan lagi sekadar soal sopir truk mengantri solar. Kalau kendaraan angkutan berhenti terlalu lama, barang ikut berhenti. Kalau distribusi barang terganggu, dampaknya bisa masuk ke banyak sektor dan pada akhirnya masyarakat juga yang menanggung,” ujar Salahuddin, Senin (7/9).
Menurut Salahuddin, Makassar memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat perdagangan dan distribusi di kawasan Indonesia Timur. Pergerakan barang dari pelabuhan, kawasan industri, gudang distributor hingga berbagai daerah di Sulawesi Selatan sangat bergantung pada transportasi darat.
Aptrindo Sulsel menilai dampak antrean solar paling cepat dirasakan sektor transportasi dan logistik. Waktu tunggu yang panjang membuat kendaraan, sopir, dan aset perusahaan tidak dapat beroperasi secara maksimal.
Baca selengkapnya di www.celebesmedia.id
Ikuti juga sosial media kami .id &
di Instagram, Tiktok, Twitter, Threads, & Youtube