31/12/2025
Misteri pembun*han seorang ibu IF(42th) di Medan, yang diduga dilakukan oleh putri bungsunya sendiri AI (12th) akhirnya terungkap. Setelah pemeriksaan panjang, melibatkan banyak ahli, karena ini menyangkut pelaku yang masih di bawah umur, kemarin polisi akhirnya merilis hasil pemeriksaan dan kesimp**an yang valid.
Kompoltabes Medan Kombes Jean Calvijn, menjelaskan kronologi kejadiaan tragis itu. Alasan AI sampai tega menghabisi nyawa ibunya, karena korban sering memarahi dan memukul ia dan kakaknya. Korban memukul menggunakan sapu dan ikat pinggang, mengancam memakai pisau ke kakak dan ayahnya. Melihat peristiwa berulang itu, AI diam-diam menyimpan dendam.
Sang ayah diketahui tidak rukun lagi dengan korban (berdasarkan kesaksian rekan kerjanya) karena itulah ia memilih tetap tinggal di sana tapi pisah kamar, si ayah tidur di lt.2. Sementara korban dan 2 putrinya tidur di lt.1. Mereka tidur di kasur bertingkat, korban dan pelaku tidur di atas, si kakak di bawah.
Puncak kemarahan AI ketika korban menghapus game dan serial anime di ponselnya. Kemudian terinspirasi dari menonton serial Anime Detectiv Conan eps 271 yang memperlihatkan adegan pemb*nuhan menggunakan pisau, dan ia juga melihat game Murder Mistery pada season kills pemb*nuhan menggunakan pisau.
Tontonan dan game itulah yang ia pejari untuk melakukan aksi kej*m tersebut. Tengah malam AI terbangun dan melihat ibunya tertidur p**as di sampingnya, muncullah amarah yang dipendamnya, dan adegan-adegan yang pernah ditontonnya. AI ke dapur mengambil pisau, lalu menusuk ibunya sampai 26x. Sebelum melakukan itu, AI membuka bajunya karena tak mau kecipratan d*rah saat menusuk.
Perencanaan yang matang dan strategi menusuk untuk langsung melumpuhkan korban itulah yang mungkin membuat ibunya tak sempat melawan atau berteriak. Sang kakak kemudian terbangun dan merebut pisau dari tangan AI. Tapi AI kembali ke dapur untuk mengambil pisau lain, saat kembali ke kamar, sang kakak segera menutup pintu hingga pisau di tangan adiknya terjatuh.
Teriakan si kakak membangunkan ayahnya di lantai 2. Sementara AI terduduk lemas dengan tangan berlumur darah.
Teka teki itu akhirnya terjawab sudah. Mungkin sebagian kita termasuk gw berharap bukan AI pelakunya. Rasanya tak mungkin. Tapi, begitulah faktanya. Sebagai emak-emak yang sering ngomel, teriak dengan suara singa, ini sungguh pelajaran keras.
Anak-anak yang dibiarkan bermain game dan tontonan brut*l tanpa pengawasan, berpotensi jadi pemb*nuh yang bahkan bisa mengancam nyawa kita. Mungkin dimasa kita dimarahi orangtua itu hal biasa, jangankan cuma diomeli, dilecut ikat pinggang, dikejar pakai rotan, tak pernah ada dendam, tapi ingin kabur iya, cuma tak berani (ini pengalaman gw).
Beda dengan anak zaman now, mereka tak terima, harga diri mereka seolah ditawar, apalagi dengan tontonan dan game yang mereka mainkan tanpa pengawasan, kasus ini jadi bukti nyata, bahayanya game dan efek emak2 s**a ngomel dan ngancam (pake pisau p**a).
Gw tidak menyalahkan korban yang emosional dan sering marah sampai memukul anak-anaknya, bisa jadi ia stres dengan buruknya hubungan dengan suami, lalu melampiaskan pada kedua putri mereka. Unggahan vidio dan foto harmonis di sosmed yang ia buat, tidak menunjukan hubungan yang sebenarnya di dunia nyata.
Semoga kita dan anak-anak dijauhkan dari peristiwa seperti ini. Dan IF dibina dengan baik, jangan makin rusak jika di lapas nanti.
Penulis : Esi Lusiana
Jangan di copas, share aja.