09/06/2021
Mengenang Sang Maestro Tari Sulawesi Selatan Hj. Andi Siti Nurhani Sapada
Hj. Andi Siti Nurhani Sapada, lahir di Parepare, Sulawesi Selatan 25 Juni 1929. Nani panggilan akrabnya dilahirkan dari keturunan bangsawan, kedua orang tuanya adalah raja di kampungnya masing-masing.
Ayahnya adalah seorang bangsawan Bugis bernama Andi Makkasau Parenrengi Lawawo, bergelar Datu Suppa Toa, yang juga seorang Pahlawan Nasional. Sementara ibunya Rachmatiah Daeng Baji, adalah bangsawan Makassar, putri dari Karaeng Sonda Raja Bontonompo, sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Gowa.
Tentu Nani kecil saat itu tergolong perempuan yang sangat beruntung, karena terlahir dari keluarga bagsawan yang tidak feodal. Selain ia diajari banyak tentang etika kebangsawanan, ia juga diberi kesempatan besar untuk menempuh pendidikan di sekolah yang saat itu masih sangat jarang dirasakan oleh perempuan sebayanya.
Saat usianya masih 13 tahun, ia diboyong oleh kakeknya Karaeng Sonda dari 'Tana Ugi' atau Tanah Bugis ke Maluku, karena Karaeng Sonda ditugaskan sebagai Jaksa Tinggi di sana.
Kakeknya yang juga dari kalangan bangsawan inilah yang menjadi salah seorang pendorong bagi cucunya untuk berkiprah dalam bidang kesenian. Ia jugalah yang tampil membela ketika orang-orang meremehkannya pada saat belajar menjadi Pa'joge (penari), sebab pada waktu itu menjadi Pa'joge dipandang rendah di kalangan orang terpandang.
Pendidikan formal ditempuhnya adalah ELS (1934-1941), Mulo (1946-1948) dan AMS (1948-1950). Sempat berkuliah selama dua tahun di Fakultas Sastra dan Seni IKIP Makassar (1971-1973), ia tidak memilih jurusan seni, melainkan jurusan Bahasa Inggris.
Tahun 1949, ia pernah bergabung dalam Orkes Daerah Baji Minasa pimpinan Bora Daeng Irate, pencipta lagu Anging Mammiri. Ia jugalah pelantun pertama lagu tersebut. Pada tahun 1950 terjadi peristiwa yang mendorongnya kian memacu semangatnya untuk terus menekuni seni tari.
Peristiwa paling berkesan itu, ketika Presiden Soekarno berkunjung di Kantor Gubernuran Makassar. Pada suatu kesempatan Presiden Soekarno tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan bertanya “Adakah tari daerah yang bisa saya nikmati?”. Mendengar pertanyaan itu dengan cepat dan tanpa persiapan sama sekali ia meminjam pakaian adat Mandar, lalu menyuguhkan tari Pattuddu yang berasal dari daerah Mandar, kini Provinsi Sulawesi Barat. Presiden Soekarno terkesan dan mengharapkan agar kiprahnya diteruskan dalam membina dan mengembangkan tari-tarian Sulawesi Selatan.
Sejak tahun 1950 hingga tahun 1965, setiap tahun ia selalu tampil di Istana Negara memimpin tim kesenian/tari dari Sulawesi Selatan pada setiap rangkaian acara peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI. Antara tahun 1952 dan tahun 1985, ia telah mengolah, membina, dan menciptakan seni tari Sulawesi Selatan, antara lain Pakkarena, Pattuddu, Padendang, Bosara, Pabbekkenna Majjina, Pattennung, Dendang-dendang, Pasuloi, Angina Mamiri dan Tomassenga.
Adapun fragmen tari yang diciptakannya antara lain Sultan Hasanuddin, Pajjonga, Wetadampali Masala Olie, Saleppang Sampu dan Anak Rara. Ia juga pernah menggarap tari Pakduppa (tari menjemput tamu) yang dimainkan 300-an orang tatkala pembukaan Pekan Olahraga Mahasiswa tahun 1968 di Makassar.
Menurutnya, tujuan menggeluti seni tari, sebagai sarana propaganda untuk memberantas buta huruf. Sebab pada tahun 1947, buta huruf merupakan penyakit masyarakat yang harus segera diberantas di Sulawesi Selatan. Penyakit ini terutama melanda kaum hawa. Sebab, hanya wanita tertentu saja yang dapat mengenyam pendidikan memadai. Salah satu cara untuk memberantasnya melalui kegiatan kesenian
Menyadari pentingnya seni sebagai wadah pembinaan nilai-nilai budaya bangsa, berbekal pengalaman berkesenian yang cukup matang, tahun 1962, ia mendirikan Institut Kesenian Sulawesi (IKS). Tujuannya adalah menawarkan pendidikan seni kepada putra-putri Indonesia untuk lebih mengenal seni tari empat kelompok etnis di Sulawesi Selatan (Makassar, Bugis, Toraja, Mandar) serta mengatur dan menggelar beragam pertunjukan, khususnya tari dan musik daerah.
Melalui lembaga ini p**a, Nani mencipta dan menggali tari-tari tradisional. Banyak tari yang semula sudah terkubur, lantaran bubarnya kerajaan-kerajaan, digali dan digubah sampai menjadi tari yang berestetika tinggi. Belasan tari tradisional Sulawesi Selatan yang sarat makna, lahir dari kerja keras dan perenungannya yang dalam.
Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, ketika pemerintah mengirim tim kesenian ke Australia (1975), dua karyanya, tari Bosara dan Patten Nung ikut ditampilkan. Pada awal tahun 1970-an ia menggarap karya besar dalam bidang musik dengan menampilkan tidak kurang dari 90 pemain kecapi dan suling yang ia namakan Simfoni Kecapi. Selain itu ia juga pernah memodifikasi sebuah instrumen kecapi menggunakan enam grip yang kini di Sulawesi Selatan dikenal sebagai Kecapi Anida (singkatan dari Andi Nurhani Sapada). Kecapi ini mampu memainkan lagu-lagu berskala nada diatonis.
Tahun 1991, ia diundang ke Inggris dan Belanda untuk memberi ceramah tentang kostum tari dari Sulawesi Selatan. Ia juga pernah memberi ceramah pada Lembaga Kebudayaan Indonesia di Moskow, Rusia (1996). Selain itu ia juga pernah membuat VCD tari empat kelompok etnis di Sulawesi Selatan (2001). pernah p**a menjadi penulis naskah sandiwara radio ‘Majulah Puteriku’.
Selain itu ia juga menulis delapan buku tentang kesenian dan kebudayaan empat etnis di Sulawesi Selatan pada tahun 1975-2002, antara lain : ‘Tari Kreasi Baru Sulawesi Selatan’, ‘Dasar Tari Sulawesi Selatan Metode Anida’, ‘Tata Rias Pengantin & Tata Cara Adat Perkawinan Bugis Makassar’, ‘Nuansa Pelangi’, ‘Tata Rias Pengantin & Tata Cara Adat Perkawinan Bugis Makassar’, ‘Pelajaran Dasar Tari Sulawesi Selatan Metode Anida’ dan ‘Tari Tradisi/Kreasi 4 Etnis Budaya Sulawesi Selatan’.
Atas kesetiaannya pada bidang seni tari, tercatat beberapa kali menerima penghargaan, seperti, Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1972), Cultural Award (1975) dari pemerintah Australia, gelar Warga Teladan (1976) pada era pemerintahan Wali Kota Makassar HM. Daeng Patompo. Gelar yang sama dan dalam tahun yang sama ia terima dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Anugerah Satya Lencana Kebudayaan dan Hadiah Seni atas dharma baktinya dalam membina dan mengembangkan kesenian Indonesia, khususnya seni tari Sulawesi Selatan (2007), serta penghargaan Satya Lencana Bintang Budaya Parana Dharma dari Pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya mengembangkan budaya di Sulawesi Selatan (2009).
Pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Kesenian Kota Besar Makassar (1952-1954). Menjadi Anggota DPRD Propinsi Sulawesi Selatan (1971-1974). Menikah dengan Andi Sapada Mappangile (alm), mantan Bupati Sidrap di awal tahun 1960-an, di karuniai delapan anak. Maestro tari Pakarena dan istri mantan Bupati Sidrap Andi Sapada Mappangile itu, wafat di rumahnya, Jl. Hertasning E2, Nomor 21, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis, 8 Juli 2010, pukul 12 55 wita, akibat penyakit jantung.
Diolah dari berbagai sumber