26/04/2026
Tarian Ritual Bissu Segeri Pangkep.
Berdasar catatan sejarah tahun 1965.
Asal-usul Arajang
Menurut keterangan Pua’ Matoa, Dahulu kala, konon Bone memiliki empat bersaudara yang masing-masing bertakhta di Bone, Tanete, Segeri, dan Bungoro (semuanya di Sulawesi Selatan).
Kapan keempat saudara itu mulai bertakhta, Pua’ Matoa tidak mengetahuinya. Yang jelas, mereka telah berkuasa sebelum penjajahan Belanda sampai di daerah tersebut.
Yang bertakhta di Segeri bernama Petta Rani, bergelar Pangkanre Ate, beserta empat puluh bissu pattudang sebagai pelayan yang terdiri dari perempuan-perempuan.
Setelah bertakhta beberapa tahun, terjadilah suatu keajaiban, yaitu sebuah perahu yang berlayar dari hulu menuju muara Sungai Segeri, diikuti oleh sebuah kayu. Ke mana perahu berlayar, di situ p**a kayu itu ikut. Bila perahu berhenti, kayu itu pun berhenti p**a. Inilah keajaiban dari kayu tersebut.
Kemudian anak buah dari perahu itu melaporkan kejadian tersebut yang sedang dialami itu kepada raja di Segeri (Karaeng Segeri). Petta Rani kemudian mengutus Anre Guru La Djapa’ untuk memeriksanya. Ternyata kayu tersebut berbentuk sebuah bajak.
Anre Guru La Djapa’ memberi laporan kepada raja bahwa arajang telah datang dari Bone menyusul rajanya ke Segeri ini. Persiapan segera dilakukan di bawah pimpinan Anre Guru La Djapa’.
Dengan iringan gong, gendang, dan serunai, maka dibawalah arajang ke Bawasalo, muara Sungai Segeri. Mula-mula arajang disimpan di Kampung Kalampang, yaitu kampung tempat orang-orang Bone pengikut Petta Rani bermukim di Segeri.
Selanjutnya arajang dijaga dan dipelihara oleh Anre Guru La Djapa’. Tentang perpindahan orang Bone tidak diketahui oleh Pua’ Matoa, dan yang berkuasa sebelum Petta Rani juga tidak dikenal oleh Pua’ Matoa.
Kini arajang-arajang tersebut berjumlah tiga buah dan disimpan bersama-sama satu lagi yang sudah lapuk, hanya tinggal kepingan-kepingan saja. Nama masing-masing arajang tersebut ialah Karaeng Toa, yang kedua Karaeng Tangnga, dan yang ketiga Karaeng Loloa. Disebut “Karaeng” seperti gelar raja, sebagai bentuk penghormatan.
Setiap tahunnya digunakan yang paling muda, atau jika ada petunjuk gaib berupa mimpi atau roh arajang bahwa yang harus digunakan adalah yang tertua atau yang tengah, maka petunjuk itu pun segera dilaksanakan.