Sang Awan Fp

Sang Awan Fp lukisan AI & Puisi
Panorama
Hewan
Bunga

"Satu harapan yang kita bangun
Dapat membuka pintu-pintu yang terkunci,
Rasa putus asa yang menyayat dihati
Membuat pikiran tumpul tak berkembang,
Ketekunan menghasilkan solusi,
Kegelisahan memudarkan pencapaian".

Ashes Of The Crescent
28/01/2026

Ashes Of The Crescent

29 seconds · Clipped by Aldav Music · Original video "Ashes Of The Crescent " by Aldav Music

"Karnaval Prasejarah di Jatim Park 2"Kaki-kecil berlari dalam riuh zaman yang terbelahDi antara tulang raksasa yang bang...
27/04/2025

"Karnaval Prasejarah di Jatim Park 2"

Kaki-kecil berlari dalam riuh zaman yang terbelah
Di antara tulang raksasa yang bangkit dari batu kapur
Setiap jejak Stegosaurus adalah peta ilmu
Yang mengantar kita ke masa magma masih kanak-kanakLangit Malang menjahit mega di antara taring T-Rex
Museum kaca menyimpan dentang jam geologi
Di kolam purba, riak air menulis persamaan fisika
Sementara kereta mini menggedor pintu masa depanBapak-bapak memegang peta seperti naskah kuno
Ibu-ibu tersenyum pada letusan gunung mainan
Di stan jagung bakar, aroma zaman bercampur
Antara garam laut purba dan gula modernMatahari jatuh ke pelukan Brontosaurus
Menyulap tulang-tulang besi menjadi syair
Taman ini adalah buku teks yang menari
Di mana setiap teriakan riang adalah rumus
Yang tak tercatat dalam tabel periodik

SEMUA ORANG



"Taman Kota di Antara Langit"Di tengah debur baja yang menjulang tinggi,terselip permata hijau, sepi yang berbicara.Bung...
08/04/2025

"Taman Kota di Antara Langit"

Di tengah debur baja yang menjulang tinggi,
terselip permata hijau, sepi yang berbicara.
Bunga melati menari di ujung angin kota,
akasia tua berbisik kisah zaman.
Kolam kecil memantulkan wajah gedung-gedung,
airnya mengalun lagu yang tak terdengar mesin.
Kupu-kupu kuning, penari tak diundang,
menyapa dahan yang merindukan matahari.
Di sini, waktu merangkak pelan
seperti semut yang menggendong butir embun.
Bangku kayu menyimpan cerita tanpa suara:
pengelana yang lupa jalan pulang,
dan anak kecil mengejar bayang sendiri.
Malam pun tiba—
lampu taman berkelip berbincang dengan bintang-bintang di kaca gedung.
Bulan tersenyum di antara dua puncak,
menjadi jembatan bagi mimpi yang tersesat.
Taman ini bagai nafas tersembunyi kota,
paru-paru yang menahan letih beton.
Di sini, langit turun menjamah bumi,
mengingatkan:
keabadian bisa tumbuh di sela-sela retak aspa

SEMUA ORANG






"Taman Bunga di Pelukan Gunung"Kabut menyibak mahkota pegunungan,Taman bermekaran dalam kandang musimKrisan kuning, boug...
07/04/2025

"Taman Bunga di Pelukan Gunung"

Kabut menyibak mahkota pegunungan,
Taman bermekaran dalam kandang musim
Krisan kuning, bougenvil yang memerah,
Bersanding dengan aliran air mancur berdentang.
Joglo menjulang, atapnya melambai sunyi,
Tiang-tiang berbisik mantra dari masa silam.
Di pelatarnya, d**a waktu berembun,
Menyimpan cerita tentang tanah dan langit.
Macan tutul mengawal dari singgasana batu,
Patungnya mengeras jadi penjaga abadi
Kuku-kawinya mencengkam legenda,
Sorot matanya memantul di air mancur yang menari.
Air melompat-lompat bagai gamelan cair,
Memercikkan rintik pelangi di kelopak mawar.
Gazebo tertawa dalam rinai gerimis buatan,
Menyambut kupu-kupu yang hapus petak umur.
Di sini, gunung bernapas lewat bunga,
Joglo berkisah tentang abad yang berlari,
Macan mengaum dalam diam, air mancur berdoa
Taman ini lukisan yang hidup dalam puisi.

SEMUA ORANG






Taman di Lereng Sang SuryaDi kaki gunung yang bertudung kabut biru,Taman bermekaran bagai kebun pala—Setiap kelopak menc...
06/04/2025

Taman di Lereng Sang Surya

Di kaki gunung yang bertudung kabut biru,
Taman bermekaran bagai kebun pala—
Setiap kelopak mencuri rindu,
Memahat warna di lembar sukma.
Angin berbisik lewat dahan pinus,
Membawa lagu dari air yang terjun—
Mengalun deras, mengukir irama pirus,
Menari bersama dedaunan yang tak ingin sunyi.
Di sini, waktu terlipat dalam embun pagi:
Mawar merah menyeruput fajar,
Anggrek putih menggenggam bulan yang pergi,
Sementara pegunungan menjahit langit dengan sabar.
Bunga-bunga itu adalah puisi yang tak terucap,
Menghitung detik dalam desau sungai kecil—
Setiap helai mahkota adalah peta yang terlipat,
Mengantarkan mimpi ke puncak yang abadi.
Dan senja pun datang, merangkul lembah dan bukit:
"Lihatlah, ini surga yang tak perlu kau tulis."

SEMUA ORANG










"Harmoni Tanah Jawa"Di kaki gunung yang megah menjulang,Terbentang sawah hijau nan lapang.Kerbau perkasa membajak perlah...
05/04/2025

"Harmoni Tanah Jawa"

Di kaki gunung yang megah menjulang,
Terbentang sawah hijau nan lapang.
Kerbau perkasa membajak perlahan,
Mengolah lumpur, suburkan tanaman.
Rumah adat Jawa berdiri gagah,
Atapnya melengkung, menyimpan kisah.
Di tepi danau buatan yang tenang,
Perahu kayu berlayar perlahan.
Petani gigih di lereng curam,
Menanam padi, penuh semangat.
Angin sejuk menyapa dedaunan,
Mengalunkan melodi kedamaian.
Gunung dan sawah, berdampingan mesra,
Kerbau dan petani, bekerja bersama.
Rumah dan perahu, saksi bisu cerita,
Harmoni abadi di tanah tercinta.

SEMUA ORANG








"Lengkung Jalan di Lereng Sunyi"Di mana awan berarak rendah membelai puncak,Gunung berdiri gagah, mahkota bumi nan tegak...
05/04/2025

"Lengkung Jalan di Lereng Sunyi"

Di mana awan berarak rendah membelai puncak,
Gunung berdiri gagah, mahkota bumi nan tegak.
Hijau membentang, permadani tak bertepi,
Suara angin berbisik, melodi alam yang suci.
Jalan berkelok, pita abu di lereng terjal,
Menari di antara jurang, tantangan tak kenal.
Setiap tikungan menyimpan panorama memukau,
Keindahan tersembunyi, hati pun terpukau.
Di lembah sunyi, asap dapur mengepul perlahan,
Tawa anak-anak riang, di kebun mereka bermain.
Langkah kaki petani, mengolah tanah yang subur,
Denyut kehid**an sederhana, namun begitu jujur.
Dari ketinggian megah, hingga hangatnya permukiman,
Alam dan manusia berpadu, dalam harmoni keabadian.
Lengkung jalan menjadi saksi, bisu namun bermakna,
Menghubungkan keagungan alam, dengan denyut jiwa manusia.

SEMUA ORANG







"Lori-Lori Membawa Leluhur"Kabut pagi menguap di celah gerbong trukpara petani memeluk erat-eratratusan karung yang meng...
30/03/2025

"Lori-Lori Membawa Leluhur"

Kabut pagi menguap di celah gerbong truk
para petani memeluk erat-erat
ratusan karung yang menggugat
Setiap biji adalah keringat yang dikristalkan
sebelum roda-roda besi itu
menggantikan langkah kerbau.
Lereng gunung yang pucat
tersayat ban berkarat:
di sawah berundak, jemari keriput
memetik mentari butir demi butir
sementara klakson menderu
menggergaji kesunyian.
Anak-anak berlari
mengejar konvoi angkutan
di dalam bak terbuka, gabah-gabah itu
berbisik tentang tanah yang mulai asing
dengan bau solar
yang lebih pekat dari harum merang.
Perempuan-perempuan menjemur jermal di tepi jalan:
panen mereka bukan lagi padi,
melainkan debu-debu yang mengepul
dari knalpot truk-truk bermuatan 5 ton
sambil menghitung kapan hujan
akan membasmi gatal di tenggorokan.
Malam turun seperti karung goni robek:
di warung kopi dekat posko timbang,
para lelaki berdebat tentang
harga yang tak pernah sepadan
dengan denting lesung yang sudah dikubur
di balik deru mesin penggilingan.
Gunung diam-diam mencatat
setiap kilo yang diangkut pergi
di punggungnya yang semakin botak
tumbuh pabrik-pabrik kecil
yang melahap jejak-jejak
lumbung bambu zaman nenek

SEMUA ORANG





26/03/2025

Menggambarkan semangat juang dan totalitas suporter Indonesia dalam mendukung team kebanggaan Garuda Indonesia

SEMUA ORANG

Bunga-Bunga Masa Lalu di Pelataran Joglo          (Sebuah Nostalgia Era 90-an)Di balik gebyok kayu jati yang berbisik tu...
23/03/2025

Bunga-Bunga Masa Lalu di Pelataran Joglo
(Sebuah Nostalgia Era 90-an)

Di balik gebyok kayu jati yang berbisik tua
Taman nenek meranggas dalam cahaya jam tujuh
Bunga telang menguap biru di pinggir cubluk
Menyimpan cerita hujan yang menggenang di tempayan
Kenanga-kenanga kuning itu
Masih bersumpah pada angin selatan
Memintal waktu dengan benang layangan
Yang tersangkut di dahan sawo kecik
Kembang sepatu merah menjahit langit senja
Di antara anyaman bambu yang renggang
Kupu-kupu ekor walang mencuri madu
Lalu terbang ke masa ketika radio transistor
Masih mendendangkan kroncong yang patah-patah
Kolam kecil itu kini jadi cermin
Memantulkan wajah gerabah retak
Di mana keong mas dulu berbisik
Tentang ikan-ikan koi yang hilang
Ditelan sumur tua dan deru sepeda jengki
Di sudut pagar, lavender berdebu
Masih bergetar dalam ingatan
Setiap kali gerimis memetik gitar
Di atas atap genteng yang bocor
Menyisakan rintik-rintik tahun 1995
Taman ini tak pernah pergi
Ia hanya mengubur matahari di balik ilalang
Menunggu tangan-tangan kecil
Yang dulu memetik pucuk kemangi
Sebelum pager hidup ditelan ponsel

SEMUA ORANG

"Taman Bunga di Lereng Gunung"Kau bagai kalung di leher sang gunung,Terhias kelopak yang tak pernah layu.Anggrek, mawar,...
22/03/2025

"Taman Bunga di Lereng Gunung"

Kau bagai kalung di leher sang gunung,
Terhias kelopak yang tak pernah layu.
Anggrek, mawar, dan lavender berbisik mesra,
Di antara kabut pagi yang menguap lembut.
Kaki-kaki bukit menjahit karpet warna,
merah, kuning, ungu
Laksana pelangi terjatuh.
Kupu-kupu mencuri madu dari dahan,
Sementara mentari menyiram embun di daun.
Tangan-tangan sabar merajut setiap helai,
Menyiangi duri, menata jalan setapak.
Bunga-bunga itu menari dalam diam,
Menyanyikan syukur pada tanah yang subur.
Di sini, waktu mengalir seperti sungai kecil,
Membawa benih harap ke lereng yang lebih tinggi.
Taman ini bukan hanya hamparan rupa
Ia adalah surat cinta dari bumi kepada langit.

SEMUA ORANG

"Larung Abu dan Doa di Tanah Mataram"Di bawah langit yang terbelah oleh asap Merapi,Borobudur memeluk awan dengan 504 ar...
21/03/2025

"Larung Abu dan Doa di Tanah Mataram"

Di bawah langit yang terbelah oleh asap Merapi,
Borobudur memeluk awan dengan 504 arca yang bisu.
Lava mengalir seperti dendam purba,
Sementara stupa-stupa menjinakkan api dalam diam
Setiap batu adalah khotbah tentang sang waktu.
Di sini, sejarah menari dalam dua irama:
Merapi memuntahkan dongeng kegelapan,
Borobudur merajut cahaya dalam relief Karmawibhangga.
Gunung mengajar tentang kehancuran yang melahirkan,
candi menjawab dengan tangga menuju ketiadaan.
Malam ini, abu vulkanik menutupi wajah dewa-dewa,
seakan Sang Buddha dan Rara Kidul berbisik,
"Kami adalah dua sisi mata uang yang sama,
Satu membakar, satu membangun
Satu mengubur, satu membangkitkan."
Di lereng tempat abu dan pahatan bersatu,
para bhikshu kuno menulis mantra di antara lapili.
Merapi bukan lawan, Borobudur bukan saingan
Mereka adalah kelindan frasa dalam kidung Jawa
Rupa yang fana, dharma yang abadi.
Ketika kabut pagi menyapu puncak,
Ada jejak tapak di antara sawah dan kawah
Peziarah yang mencari nirwana dalam gemuruh magma,
Dan gunung yang merangkul candi dalam selimut abu:
Dua nafas, satu jiwa; dua tubuh, satu tanah.

SEMUA ORANG

Address

Malang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sang Awan Fp posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share