ORIDISTRO

ORIDISTRO Your Criminal Partners

Media online yang menyajikan informasi seputar musik, acara, ulasan, bisnis, tempat usaha, tongkrongan, tips dan trik, serta berbagai artikel lainnya.

SUN AND MOON HADIRKAN PENJARA EMOSIONAL LEWAT SINGLE TERBARU “HITAM”Unit new rock asal Jakarta Selatan, Sun and Moon, se...
03/09/2026

SUN AND MOON HADIRKAN PENJARA EMOSIONAL LEWAT SINGLE TERBARU “HITAM”

Unit new rock asal Jakarta Selatan, Sun and Moon, secara resmi meluncurkan karya musik terbaru mereka berjudul “Hitam” di seluruh platform pemutar musik digital mulai hari ini, Jumat, 4 September 2026. Dirancang dan ditulis sejak tahun 2024, single ini menandai langkah eksplorasi artistik yang semakin matang bagi trio rock tersebut dalam menyelami spektrum emosi manusia yang paling kelam dan personal.

Secara keseluruhan, “Hitam” membawa narasi emosional tentang seseorang yang terjebak dalam luka batin yang tak kunjung sembuh. Rasa sakit ini hadir bukan karena paksaan keadaan, melainkan akibat pilihannya sendiri untuk terus menyimpan dan memendamnya dalam-dalam. Keputusan tersebut menciptakan siklus menyakiti diri yang terus berulang, sebuah kondisi tragis di mana seseorang sadar sepenuhnya sedang terluka, namun tak mampu melepaskan diri. Judul “Hitam” sendiri menjadi simbol kegelapan dan kekosongan jiwa yang mati rasa dan kehilangan harapan, meski di saat bersamaan masih menyisakan pertentangan batin antara menerima luka itu sebagai sesuatu yang abadi atau percaya bahwa suatu saat semua ini bisa berakhir.

“Lewat ‘Hitam’, kami mencoba menghadirkan eksplorasi baru. Dari segi aransemen, lagu ini terasa jauh lebih kelam dibandingkan karya-karya Sun and Moon sebelumnya,” ungkap Rivalino. Proses pematangan lagu yang memakan waktu sejak 2024 ini dilakukan agar pesan emosional serta dinamika aransemen yang ingin disampaikan dapat terwujud secara maksimal. Pengerjaan audio “Hitam” melibatkan kolaborasi solid di internal band serta produser Kavi Agung, yang juga merampungkan tahap mixing dan mastering untuk menyempurnakan keseluruhan produksi audio.

Lewat perilisan "Hitam", Sun and Moon berharap lagu ini dapat menjadi wadah katarsis serta ruang tumpah bagi para pendengar yang tengah bergelut dengan konflik batin serupa.

https://oridistro.com

https://open.spotify.com/artist/1qGEqt3ex9DWB3bZpibQeQ




Artist · 25 monthly listeners.

SINGEL BARU KEINA SUDA, "BLACK", ADALAH KETENANGAN SEBELUM ALBUM YANG SANGAT BISINGNuansa kelam tak pernah terdengar beg...
03/09/2026

SINGEL BARU KEINA SUDA, "BLACK", ADALAH KETENANGAN SEBELUM ALBUM YANG SANGAT BISING

Nuansa kelam tak pernah terdengar begitu memikat. Keina Suda kembali dengan "BLACK", sebuah singel baru yang mengaburkan batas antara keindahan dan obsesi.

Ini bukan sekadar rilisan lepas. "BLACK" hadir menyusul "Akumu (Nightmare)" (yang dirilis pada 24 Juni) sebagai cuplikan lain dari album besar ketiga Keina Suda mendatang, "LOVE HATE"—yang akan rilis pada 9 September, menandai kembalinya ia setelah tiga tahun tanpa album penuh. Setiap rilisan ini merupakan langkah menuju satu tujuan yang sama; jika "Akumu" berfungsi sebagai pembuka, "BLACK" terasa seperti momen tepat sebelum album tersebut akhirnya resmi diluncurkan.

Sebagai lagu prarilis terbaru dari album tersebut, "BLACK" langsung memikat pendengar sejak detik pertama. Pembukaan yang agresif segera beralih ke gaya *dark pop* khas Keina Suda, di mana intensitas yang tajam berpadu dengan melodi yang sangat memikat, menciptakan karya yang terasa meresahkan namun sekaligus membuat pendengar tak mampu berpaling.

Video musik yang menyertainya, garapan sutradara Shun Murakami, menampilkan sosok Suda yang bergulat di tengah dunia di mana batas antara waktu, kehidupan, dan kematian menjadi kabur; sebuah visual imersif nan membingungkan yang memikat sekaligus membuat penonton bertanya-tanya. Murakami sendiri menjelaskan konsepnya: "Saya ingin menggambarkan kisah tentang pergulatan seseorang dengan eksistensinya sendiri, di tengah aliran waktu serta antara hidup dan mati. Melalui sosok Suda—yang memancarkan kesan keterasingan dari lingkungan sekitarnya—saya berharap dapat menciptakan karya visual yang cukup memukau untuk mengajak siapa pun yang menontonnya merenungkan makna kehidupan dan kematian."

Pada intinya, lagu ini mengangkat tema-tema serius, namun alih-alih terasa berat bagi pendengar, Keina Suda mengemasnya lewat sentuhan pop khas miliknya. Hasilnya adalah sebuah lagu yang sarat emosi, memiliki nuansa suara yang eksplosif, dan membuat pendengar ingin memutarnya berulang kali—sekaligus membuktikan mengapa ia menjadi salah satu sosok dengan karakter vokal paling unik di kancah musik pop alternatif Jepang.

Sebagai gambaran lain dari album "LOVE HATE", lagu "BLACK" mengisyaratkan sebuah karya yang berani merangkul kontradiksi. Memadukan sisi kelam dan katarsis, ketegangan dan melodi secara seimbang, lagu ini merupakan pernyataan tegas yang menampilkan Keina Suda di puncak kreativitasnya.

Tentang Keina Suda

Keina Suda (須田景凪) adalah seorang penyanyi-penulis lagu, komposer, dan produser yang pertama kali dikenal luas sebagai produser Vocaloid dengan nama Balloon. Lagu andalannya, "Charles" (シャルル), menjadi hit yang mendefinisikan generasinya; versi orisinal maupun versi yang ia nyanyikan sendiri telah meraih lebih dari 160 juta penayangan di YouTube dan menempati peringkat pertama dalam daftar karaoke tahunan JOYSOUND untuk lagu-lagu yang dirilis pada tahun 2017.

Sejak memulai proyek solonya sebagai Keina Suda pada tahun 2017, ia telah merilis album besar bertajuk "Billow" dan "Ghost Pop", dengan lagu seperti "veil" yang telah melampaui 100 juta *streaming* secara kumulatif. Dikenal karena kemampuannya menulis, menggubah, dan mengaransemen musiknya sendiri, Suda juga telah menciptakan berbagai lagu tema untuk anime, drama televisi, dan kampanye iklan.

Pada tahun 2026, ia memulai tur utama pertamanya di luar negeri yang mencakup wilayah Asia sebagai bagian dari Keina Suda TOUR 2026 "GLIMMER". Album besar ketiganya, "LOVE HATE", dijadwalkan rilis pada 9 September 2026, yang kemudian akan diikuti oleh konser Keina Suda HALL LIVE 2026 "LOVE HATE : ERROR" di SGC HALL ARIAKE pada tanggal 19 September.

https://oridistro.com

https://music.amazon.co.jp/albums/B0HBX72Y3N




NIGEL TAY MERILIS MANHATTAN BEACH, GAMBARAN CINTA MUSIM PANASPenyanyi-penulis lagu, produser, dan arranger R&B asal Mala...
03/09/2026

NIGEL TAY MERILIS MANHATTAN BEACH, GAMBARAN CINTA MUSIM PANAS

Penyanyi-penulis lagu, produser, dan arranger R&B asal Malaysia, Nigel Tay yang juga dikenal sebagai NGL, merilis single terbaru “Manhattan Beach,”. Terinspirasi dari momen saat dirinya tinggal di Los Angeles sekaligus perjalanan pertamanya di Manhattan Beach, track ini menggambarkan perasaan bebas selama musim panas, romantika baru, dan momen-momen sederhana yang membuatmu berharap hari tersebut tak pernah berakhir.

Terinspirasi dari hari pertama Nigel berada di Manhattan Beach, lagu ini membawa kenangan dari ombak yang gila, angin sepoi-sepoi, langit biru, perjalanan yang tak berakhir, minuman dingin, hingga terjebak kemacetan Los Angeles saat menuju ke Santa Monica atau Venice. Ringan, genit, namun nostalgic, “Manhattan Beach” adalah tentang sebuah tempat, musim panas, dan menemukan seseorang yang membuatmu ingin hari yang dijalani tak pernah berakhir.

Lulus dari Berklee College of Music, Nigel pertama kali mendapat perhatian sebagai Finalis Top 7 di The Voice of China tahun 2018, untuk kemudian menunjukkan kepiawaiannya sebagai produser, arranger, instrumentalist, dan pentolan band di Me to Us produksi Me to Us (我们的乐队) Mango TV pada tahun 2020. Dia kemudian membentuk MiLK dan menjadi vokalis sekaligus pemimpin band’nya, sebelum melanjutkan karir sebagai artis solo dan menjadi seorang produser dan penulis lagu yang banyak dicari di Greater China. Karya-karyanya meliputi kolaborasi bersama Tia Ray, Nana Ouyang, Mikah, Step.jad, and Caelan, termasuk beberapa karya bersama program musik besar di Cina diantaranya Singer, Infinity and Beyond (声生不息) dan The Treasured Voice (天赐的声音). Album terbarunya, CRÉMA, telah dirilis tahun 2025, yang kemudian dlanjutkan dengan tur Turn to Gold headline di Shanghai, Guangzhou, serta Beijing,

Dengan sensibilitas musik R&B yang hangat serta musik rasa pop yang mudah, ‘Manhattan Beach’ melihat Nigel merubah kenangan personal di Los Angeles menjadi sebuah soundtrack musim panas. Melanjutkan perilisan “Manhattan Beach”, Nicgel akan tampil di Asia Tenggara sepanjang 2026 dengan menjadi opening untuk Jesse Barrera & Albert Posis di Manila, Jakarta serta Bangkok sebelum bergabung dengan Jesse Gold di Singapura.

https://oridistro.com

https://music.apple.com/us/artist/nigel-tay/576978565




Listen to music by Nigel Tay on Apple Music.

KETIKA CINTA SUDAH MENEMUKAN RUMAH, MENJAGANYA ADALAH PILIHAN!Tidak semua cinta membutuhkan kata-kata untuk meyakinkan. ...
03/09/2026

KETIKA CINTA SUDAH MENEMUKAN RUMAH, MENJAGANYA ADALAH PILIHAN!

Tidak semua cinta membutuhkan kata-kata untuk meyakinkan. Ada yang cukup dirasakan melalui getaran kecil di dalam hati, ketika kehadiran seseorang perlahan menjadi sesuatu yang sulit digantikan. “Petuah Cinta” melihat cinta dari sisi yang lebih sederhana, jika perasaan itu benar-benar datang dari lubuk hati, ia semestinya tidak mudah dilepaskan. Ada tanggung jawab yang ikut tumbuh bersamanya, yaitu menjaga perasaan tersebut sampai batas terakhir kehidupan. “Buat saya, cinta sejati bukan cuma soal bagaimana mendapatkannya, tapi bagaimana kita tetap menjaganya setelah memilikinya,” kata Ipoet.

September Band kemudian membingkai gagasan itu lewat musik pop romantic yang tidak berlebihan. Melodi mengalir bersama pilihan sound yang terdengar akrab, sementara liriknya bergerak dengan bahasa yang langsung dan mudah dipahami. Tidak banyak ornamen yang sengaja ditambahkan untuk memperbesar emosi. Musik justru memberi ruang agar setiap kata dapat menemukan maknanya sendiri. Pada akhirnya, “Petuah Cinta” lebih terasa seperti sebuah pengingat tentang cinta yang sudah ditemukan, daripada sekadar lagu tentang jatuh cinta.

SEPTEMBER Band bukan nama baru dalam lanskap musik pop Indonesia. Bobby dan Ipoet sudah berjalan bersama sejak 2007, ketika September masih diperkuat formasi yang lebih lengkap. Dalam rentang empat tahun, mereka sempat merilis dua album pop dan satu album religi sebelum akhirnya aktivitas band perlahan berhenti pada 2011. Delapan tahun kemudian, keduanya kembali bertemu di titik yang sama, masih dengan keinginan untuk terus membuat musik. Keinginan itu melahirkan AETHER Band pada 2019. "Awalnya gua pengen aktifin lagi September, cuma dari semua personel yang diajak, cuma Bobby yang masih punya visi dan misi yang sama," kata Ipoet, mengenang awal perjalanan mereka kembali ke industry musik.

AETHER kemudian menjadi ruang baru untuk melanjutkan proses kreatif yang pernah mereka bangun bersama. Sejak 2019, Bobby dan Ipoet mulai menulis, merekam, dan merilis karya dengan pendekatan yang lebih dekat dengan lanskap musik pop hari ini. Enam lagu berhasil dirangkum dalam sebuah EP yang dirilis bertahap sepanjang 2023 hingga 2025. Di tengah perjalanan itu, keduanya merasa ada cerita yang memang layak kembali disampaikan lewat nama yang pernah mereka tinggalkan. September pun kembali hadir, membawa EP baru yang juga akan dirilis secara bertahap. "Lagu Rindu Untuk Kamu" menjadi pintu pembuka dari babak tersebut.

Di AETHER maupun September, Bobby dan Ipoet tidak berusaha mengulang apa yang pernah mereka buat belasan tahun lalu. Musik mereka bergerak mengikuti pengalaman dan waktu. Aransemen pop yang hangat dipadukan dengan pilihan sound yang terasa akrab di telinga, sementara lirik-liriknya memilih berbicara secara langsung tanpa banyak metafora. Pengalaman Bobby menggarap musik untuk iklan, sinetron, hingga film ikut memberi perspektif baru terhadap cara mereka membangun suasana dalam setiap lagu. "Dari pengalaman gua yang sering membuat musik untuk backsound iklan, sinetron ataupun film, itu justru jadi nilai tambah dalam membentuk warna musik AETHER," ujar Bobby.

Alih-alih menetap dalam satu formula, Bobby dan Ipoet memilih membiarkan setiap lagu menemukan karakternya sendiri. Ada benang merah yang tetap menghubungkan seluruh karya mereka, tetapi setiap rilisan memiliki warna yang berbeda sesuai cerita yang ingin disampaikan. Ruang eksplorasi itu menjadi sesuatu yang mereka syukuri selama proses berkarya. "Kita diberikan keleluasaan oleh produser untuk mengeksplor lebih jauh kemampuan dan imajinasi bermusik. Tapi semua tetap dikerjakan dengan cermat," tutur Ipoet. Barangkali, di titik itulah September hari ini berdiri, bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan melanjutkan perjuangan yang sempat terhenti.

https://oridistro.com

https://www.youtube.com/watch?v=GBtrWK9zHT4




SEPULUH TAHUN SENDIRIAN, LALU TUJUH KOLABORATOR SEKALIGUS: I DON'T LIKE MONDAYS. BARU SAJA MELANGGAR ATURAN MEREKA SENDI...
02/09/2026

SEPULUH TAHUN SENDIRIAN, LALU TUJUH KOLABORATOR SEKALIGUS: I DON'T LIKE MONDAYS. BARU SAJA MELANGGAR ATURAN MEREKA SENDIRI

I Don't Like Mondays. baru saja menyelesaikan penampilan mereka di NIPPON HAKU BANGKOK 2026 pada hari Jumat lalu (28 Agustus). Selama berada di Bangkok, mereka juga sempat bertemu dengan musisi asal Thailand, Scrubb dan ETC. band—sebuah interaksi yang telah menjadi pola bagi band ini ke mana pun mereka pergi.

Dengan semangat yang masih membara dari akhir pekan lalu, mereka kini telah mengungkap daftar lagu lengkap dan jajaran musisi tamu untuk album studio keenam mereka, "FRIDAY", yang akan dirilis pada 25 September. Pola kolaborasi tersebut kembali terlihat di sini: tujuh artis tamu terlibat dalam album ini, mencakup berbagai genre dan generasi. Ada GAN (Takanori Iwata dari Sandaime J Soul Brothers/EXILE TRIBE), ⭐︎Taku Takahashi dari m-flo, claquepot, NAOTO dari ORANGE RANGE, GeG, ZEN-LA-ROCK, dan SHO-SENSEI!!; semuanya berpadu dalam nuansa khas *Tokyo City Pop* milik band ini. Ini adalah momen di mana mereka paling terbuka terhadap kolaborator luar, setelah satu dekade membangun karakter musik mereka secara mandiri.

Momen paling personal dalam album ini adalah lagu "1989". YU, sang vokalis, mengajak teman masa kecilnya—aktor sekaligus musisi Takanori Iwata (yang di sini dikreditkan sebagai GAN)—untuk berkolaborasi, menandai kali pertama mereka tampil bersama. Diproduseri oleh GeG, keduanya menulis sendiri lirik lagu ini, merangkum persahabatan yang telah terjalin lebih dari 30 tahun ke dalam satu lagu.

Lagu "GENIUS" memadukan bagian vokal tamu dari ZEN-LA-ROCK dengan produksi musik oleh NAOTO dari ORANGE RANGE, sementara lagu bernuansa dansa "ODORE" mempertemukan SHO-SENSEI!! dengan ⭐︎Taku Takahashi dari m-flo yang menangani produksinya. Album ini menutup sebuah siklus emosional dengan sempurna melalui *self-cover* (versi baru yang dibawakan sendiri) dari lagu "DON'T WANNA DIE"—sebuah lagu yang ditulis YU untuk Hiromitsu Kitayama pada tahun 2019, dan kini dinyanyikan sendiri oleh YU untuk pertama kalinya, tujuh tahun kemudian. Secara keseluruhan, "FRIDAY" memuat 14 lagu, yang terdiri dari lima lagu baru serta sembilan *single* yang telah dirilis sebelumnya, dimulai dari lagu "jealous".

"1989" akan dirilis lebih dulu, disertai dengan video musik pada tanggal 7 September. "ODORE" akan dirilis seminggu kemudian, pada tanggal 16 September.

Semua ini tidak terjadi begitu saja tanpa konteks. Selama setahun terakhir, I Don't Like Mondays. telah membangun momentum yang nyata di seluruh Asia. Tur mereka tahun 2025 yang mencakup enam kota di Tiongkok daratan berhasil menjual habis seluruh 5.500 tiket, sementara penampilan mereka di Strawberry Music Festival—yang digelar di Beijing, Dongguan, Shanghai, dan Guangzhou—menarik total 60.000 penonton. Musim semi ini, "TOXIC ASIA TOUR 2026" membawa mereka tampil di Singapura, Taipei, Hong Kong, Bangkok, dan Seoul, sekaligus memperkuat basis penggemar internasional yang sama yang menyambut hangat kembalinya mereka ke Bangkok pekan lalu.

Angka-angka pun membuktikan momentum tersebut. Musik mereka didengarkan secara *streaming* di 165 negara dan wilayah, serta secara konsisten menempati posisi 10 besar di tangga lagu Spotify dan Apple Music di Taiwan, Tiongkok daratan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, dan Indonesia. Jumlah pengikut mereka di platform media sosial Tiongkok—seperti Weibo, RED, dan Bilibili—juga telah melonjak lebih dari 1.000% dari tahun ke tahun, menjadikan mereka salah satu band Jepang yang paling banyak disorot di Asia saat ini.

Peluncuran "FRIDAY" akan langsung diikuti oleh "FRIDAY MOOD JAPAN TOUR 2026", sebuah rangkaian tur yang mencakup 11 pertunjukan di 8 kota; tur ini dimulai pada 3 Oktober di Sapporo dan berakhir pada 5 Desember di Zepp DiverCity, Tokyo.

Setelah sepuluh tahun berupaya menangkap esensi dari perasaan lepasnya penat di malam Jumat, serta menolak untuk sekadar mengikuti pakem musik rock Jepang pada umumnya, "FRIDAY" mungkin menjadi karya terbaik yang pernah mereka hasilkan. Dari titik ini, perjalanan mereka melangkah jauh melampaui Asia menuju berbagai penjuru dunia lainnya.

Tentang I Don’t Like Mondays.

I Don’t Like Mondays. adalah grup musik rock asal Jepang yang dibentuk pada tahun 2012, beranggotakan YU (Vokal), CHOJI (Gitar), KENJI (Bas), dan SHUKI (Drum).

Pada tahun 2014, I Don’t Like Mondays. memulai debut mereka lewat album "Play" (2014), sekaligus membangun ciri khas musik yang memadukan rock penuh gaya, alunan *groove* bernuansa *funk*, serta melodi pop yang mengajak pendengar untuk menari. Musik mereka dirancang untuk membangkitkan semangat dan energi, mencerminkan filosofi utama band ini dalam mengubah momen sehari-hari menjadi sesuatu yang hidup dan penuh sukacita. Proses kreatif mereka sangat kolaboratif; seluruh anggota turut serta dalam penulisan lagu dan produksi, sementara liriknya sering kali disajikan dalam bahasa Inggris maupun Jepang sebagai cerminan pengaruh internasional yang mereka miliki. Hingga saat ini, I Don’t Like Mondays. telah memiliki diskografi yang luas, mencakup enam album studio, dua EP, dan lebih dari 30 singel sepanjang perjalanan karier mereka.

Popularitas internasional band ini meningkat pesat pada tahun 2022 berkat lagu "PAINT" (2022), yang menjadi lagu tema pembuka untuk anime ikonik global, "One Piece". Perilisan tersebut memperkenalkan I Don’t Like Mondays. kepada audiens yang jauh melampaui batas Jepang, sehingga memperluas jangkauan internasional mereka secara signifikan. Dengan akar musik yang terinspirasi dari nuansa tahun 80-an, grup rock beranggotakan empat orang ini melampaui batasan antara musik Jepang dan Barat melalui kualitas suara serta *groove* yang digarap dengan sangat cermat.

https://oridistro.com

https://hi.mu-mo.com/en/products/rzz1-67665e




I Don't Like Mondays. This is their first full-length album in three years, created around the concept of a fictional nightclub and centered on the band's signature "dance-pop" sound.

TRAILER DRAMA TERSEBUT MENGGEMPARKAN JAGAT MAYA DALAM HITUNGAN JAM. AKTRIS UTAMANYA MENULIS LAGU YANG MENJADI LATAR MUSI...
02/09/2026

TRAILER DRAMA TERSEBUT MENGGEMPARKAN JAGAT MAYA DALAM HITUNGAN JAM. AKTRIS UTAMANYA MENULIS LAGU YANG MENJADI LATAR MUSIKNYA

Jarang sekali seorang aktor yang membintangi sebuah tayangan juga menulis lagu penutupnya. Riho Sayashi baru saja melakukan hal tersebut. Ia menjadi pemeran utama dalam drama baru yang diadaptasi dari manga—karya yang telah terjual lebih dari satu juta eksemplar dan meraih 100 juta penayangan secara daring—dan saat *teaser* keduanya dirilis, lagu yang mengiringinya ternyata merupakan ciptaannya sendiri.

Riho Sayashi membintangi "Tsukiatte Agetemo Ii Kana (How Do We Relationship?)", adaptasi *live-action* dari manga populer karya Tamifull yang akan tayang perdana pada 10 September di MBS. Pengumuman proyek ini saja sudah menjadi topik hangat di dalam maupun luar negeri, dan *teaser* pertamanya sempat menjadi *trending topic* di X dalam hitungan jam. Kini, *teaser* kedua—yang bernuansa lebih kelam dan lebih menggugah emosi dibandingkan yang pertama—telah hadir, dirancang khusus untuk dipadukan dengan lagu tersebut: "Koufuku Shikkaku", yang merupakan lagu tema penutup drama ini.

"幸福失格 (Koufuku Shikkaku)" adalah lagu yang sarat emosi tentang jatuh cinta setelah sebelumnya meyakinkan diri sendiri bahwa kebahagiaan bukanlah takdir bagi dirinya. Lagu ini berkisah tentang seseorang yang telah terbiasa dengan kesepian dan rasa puas yang tenang namun tak sempurna, hingga akhirnya seseorang yang sungguh ia cintai mengguncang dunia yang selama ini ia jaga dengan hati-hati. Ia sadar bahwa mencintai orang ini bisa menyeretnya kembali ke "neraka" emosionalnya sendiri, namun ia tak lagi bisa memungkiri perasaannya. Dengan lirik yang kelam namun rentan serta pandangan pahit-manis tentang cinta, lagu ini berada di antara keinginan untuk dicintai dan ketakutan akan kebahagiaan sejati; pada akhirnya, lagu ini mempertanyakan apakah cinta yang menyakitkan sekalipun layak untuk dipilih, selama ada seseorang untuk berbagi cinta tersebut.

Menulis kata-kata penutup bagi kisah sendiri adalah hal yang berbeda dibandingkan memerankan kisah tersebut. Hal ini memunculkan pertanyaan nyata: seberapa erat keterkaitan antara emosi dalam lirik lagunya dengan karakter yang ia perankan di layar kaca?

Lagu ini merupakan bagian dari EP terbaru Sayashi berjudul "OWN" yang akan dirilis pada 2 September, dengan singel utama "I AM" yang sudah dapat didengar sejak 19 Agustus. EP ini hadir dalam dua format: mini-album edisi terbatas yang dilengkapi Blu-ray, dan mini-album edisi standar; keduanya menyertakan buku foto, stiker, serta bonus eksklusif dari pengecer selama persediaan masih ada.

Serial "付き合ってあげてもいいかな (How Do We Relationship?)" akan tayang perdana pada 10 September di MBS. Serial ini terdiri dari delapan episode berdurasi 24 menit dan akan disiarkan secara bertahap di berbagai jaringan regional hingga pertengahan September. Secara internasional, serial ini dapat disaksikan melalui layanan streaming GagaOOLala (kecuali di Jepang dan Korea Selatan) dan Heavenly (khusus Korea Selatan), serta tersedia secara eksklusif tanpa batas waktu di FOD (Jepang) dan friDay (Taiwan), ditambah layanan streaming tayangan ulang selama satu minggu melalui TVer.

Tentang Riho Sayashi

Riho Sayashi tidak pernah terpaku pada satu jalur saja dalam waktu lama. Ia mulai menari sejak kecil di Actors School Hiroshima dan melakukan debut pada usia 12 tahun di tahun 2011 sebagai anggota generasi ke-9 Morning Musume. Ia meninggalkan grup tersebut pada Desember 2015—saat karier idolanya sedang berada di puncak—lalu pindah ke Amerika Serikat untuk mendalami seni tari sesuai keinginannya sendiri.

Ia kembali ke dunia hiburan pada tahun 2020, namun kali ini dengan langkah mandiri; ia mendirikan label independen "Savo-r" pada tahun 2021 dan membangun karier musik solonya dari nol. Sejak saat itu, ia telah merilis empat EP dan satu album penuh, menggelar lima tur nasional, serta tampil di Billboard Live selama tiga tahun berturut-turut. Pada tahun 2025, ia kembali melangkah ke babak baru dengan melakukan debut di bawah naungan label besar, avex.

https://oridistro.com

https://music.line.me/webapp/album/mb0000000005836f64




LINE MUSICで 鞘師里保 「OWN」 を聴こう!

HURLED TO THE MOON (TERHEMPAS KE REMBULAN): KAMILA BATAVIA MEMBAWA “BAROQUE GALACTIC” KE KAMPNAGEL INTERNATIONAL SUMMER ...
02/09/2026

HURLED TO THE MOON (TERHEMPAS KE REMBULAN): KAMILA BATAVIA MEMBAWA “BAROQUE GALACTIC” KE KAMPNAGEL INTERNATIONAL SUMMER FESTIVAL

“Once upon a time, there was a princess from a kingdom far away…”

Dengan kalimat tersebut, penyanyi, penulis lagu, dan komposer Indonesia Kamila Batavia membuka Hurled to the Moon (Terhempas ke Rembulan), sebuah pertunjukan musik dan storytelling yang dibawakannya di Kampnagel International Summer Festival, Hamburg, pada 13 Agustus 2026.

Kampnagel merupakan salah satu pusat produksi dan pertunjukan seni kontemporer independen terkemuka di Eropa. Setiap bulan Agustus, International Summer Festival Kampnagel berlangsung selama tiga minggu dan menjadi salah satu festival interdisipliner besar untuk seni kontemporer di Eropa, menghadirkan karya internasional dari ranah teater, tari, performance, musik, seni visual, film, hingga diskursus, dengan perhatian khusus pada pertemuan antara avant-garde dan budaya pop.

Di panggung festival tersebut, Kamila membawa dunia musikal yang ia sebut “Baroque Galactic” ke dalam format live bersama band dan para pemain string dari Unimusik Hamburg. Pertunjukan mempertemukan chamber pop, piano, string ensemble, storytelling, serta karya multibahasa dalam bahasa Indonesia, Jerman, dan Inggris.

Namun sang putri dalam cerita pembuka tersebut bukan sekadar karakter dongeng.

Melalui sosok Princess of Batavia dan dunia imajiner Kingdom of Batavia, Kamila menggunakan bahasa fantasi untuk berbicara tentang sesuatu yang sangat nyata: kehilangan, ingatan, perjalanan waktu, serta bagaimana manusia membangun kembali sesuatu yang indah ketika kehidupan terasa runtuh.

“The Princess of Batavia built a castle from the ruins of memory. Whenever life has become hard and shattered, she builds something beautiful out of it.”

Metafora tersebut menjadi salah satu fondasi dunia artistik Kamila Batavia. Batavia—nama historis Jakarta, kota tempat Kamila dilahirkan—berkembang dalam karyanya menjadi sebuah ruang imajiner tempat memori personal, pengalaman hidup di Indonesia dan Jerman, musik, serta mitologi bertemu.

Dalam Hurled to the Moon, dunia tersebut mendapatkan bentuk live yang lebih luas melalui perpaduan piano, band, dan string ensemble. Kamila membawakan sejumlah karya dari katalognya, termasuk “Hilang dan Tak Kembali,” “Als Ich Einschlief,” “Berakhir dan Berlalu,” hingga “Tayomi”, serta memperkenalkan materi baru “The Astronaut.”

Kolaborasi ini berawal dari pertemuan Kamila dengan komunitas musik universitas di Hamburg. Bersama violinist dan arranger Lennart Beck, yang mengembangkan aransemen string untuk pertunjukan tersebut, karya-karya Kamila diterjemahkan ke dalam format live ensemble—mempertemukan piano, band, dan strings dalam warna chamber yang menjadi bagian penting dari bahasa musikal Baroque Galactic.

Di antara lagu-lagu tersebut, storytelling menjadi bagian dari dramaturgi pertunjukan. Kamila membawa penonton keluar-masuk antara realitas seorang songwriter Indonesia yang hidup di Hamburg dan dunia Princess of Batavia yang dipenuhi kastel, rembulan, ingatan, serta pertanyaan tentang berlalunya waktu.

Puncak pertunjukan hadir melalui “Tayomi,” karya personal yang ditulis Kamila untuk mendiang ibunya. Lagu tersebut dibawakan sebagai encore bersama seluruh musisi, sebelum Kamila mengajak para pemain berdiri dan menerima tepuk tangan bersama dari penonton.

Bagi Kamila, Hurled to the Moon bukan sekadar sebuah penampilan festival, tetapi sebuah langkah dalam menerjemahkan Baroque Galactic dari bahasa musikal dan visual menjadi pengalaman panggung—tempat lagu, storytelling, karakter, dan dunia imajiner dapat hidup dalam ruang yang sama.

Tentang Kamila Batavia

Kamila Batavia adalah penyanyi, penulis lagu, komposer, dan storyteller Indonesia yang berbasis di Hamburg, Jerman. Melalui karya-karyanya, ia mengeksplorasi tema ingatan, kehilangan, waktu, dan identitas melalui perpaduan chamber pop, piano, strings, serta dunia visual dan naratif yang ia sebut Baroque Galactic.

Nama Batavia merujuk pada nama historis Jakarta, kota kelahirannya, yang kemudian ia transformasikan menjadi Kingdom of Batavia—sebuah dunia artistik yang menjadi benang merah antara musik, storytelling, dan visualnya.

https://oridistro.com

https://open.spotify.com/artist/3dPAd0Rw1rb5X4kuwqeS3l




Artist · 52.7K monthly listeners.

WUSS LUNCURKAN ALBUM KALEIDOSKOP TEMATIK, "SUZAN"Setiap tahun selalu dimulai dengan sesuatu yang baru.Namun tidak semua ...
02/09/2026

WUSS LUNCURKAN ALBUM KALEIDOSKOP TEMATIK, "SUZAN"

Setiap tahun selalu dimulai dengan sesuatu yang baru.

Namun tidak semua yang dimulai benar-benar berakhir.

Selama beberapa bulan terakhir, WUSS perlahan membuka potongan-potongan cerita dari album penuh perdana mereka melalui tiga single, "Born in February", "Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March", dan "May?". Ketiga lagu tersebut bukanlah karya yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sebuah narasi yang akhirnya bermuara pada SUZAN, album penuh perdana WUSS yang akan resmi dirilis pada 26 Agustus 2026 di seluruh platform musik digital.

Lebih dari sekadar kumpulan dua belas lagu, SUZAN dibangun layaknya sebuah kalender yang bergerak perlahan. Dimulai melalui "January Note (Unsent)" dan ditutup oleh "December, at Last," setiap lagu merepresentasikan satu bulan dalam satu tahun, membawa cerita tentang kehilangan, harapan, nostalgia, kegelisahan, cinta, hingga penerimaan. Setiap lagu memang dapat berdiri sendiri, namun makna utuhnya baru terasa ketika seluruh perjalanan didengarkan dari awal hingga akhir.

Dalam album ini, WUSS memperluas eksplorasi musikal mereka tanpa meninggalkan identitas yang telah dibangun sejak awal. Lapisan paduan suara, gitar yang intim, piano yang sunyi, serta dinamika yang berkembang perlahan menjadi bahasa utama dalam menyampaikan emosi. Album ini turut menghadirkan kolaborasi bersama Ami Voix Chorale (Choir Group), Yogha Prasiddhamukti (Skandal), Christabel Annora, dan Eltria Raffi (Dazzle), yang masing-masing memberikan warna baru tanpa mengubah arah emosional album ini.

Melengkapi identitas album, artwork SUZAN dikerjakan oleh Farhan Endy dari Conbini, seorang seniman visual asal Kota Malang. Karyanya tidak hanya menjadi sampul album, tetapi juga menerjemahkan kesunyian, nostalgia, dan ruang-ruang emosional yang hidup di sepanjang dua belas lagu menjadi sebuah pengalaman visual yang utuh.

Sebagai kelanjutan dari perilisan album, WUSS juga akan merilis official music video untuk "January Note (Unsent) feat. Ami Voix Chorale", yang disutradarai oleh Jamal dari RCA Studio. Sebagai lagu pembuka, "January Note (Unsent)" menjadi gerbang menuju keseluruhan narasi SUZAN. Layaknya halaman pertama sebuah buku, video musik ini menjadi pintu masuk menuju dua belas bab yang membentuk perjalanan emosional sepanjang satu tahun.

Judul SUZAN sendiri sengaja dibiarkan terbuka untuk dimaknai. Ia bukan sekadar nama seseorang, melainkan ruang bagi setiap pendengar untuk menemukan sosok, kenangan, atau perasaan yang pernah singgah dalam hidup mereka.

"Kami tidak pernah membayangkan SUZAN sebagai dua belas lagu yang berdiri sendiri. Kami ingin album ini terasa seperti membuka sebuah buku harian, lalu menyadari bahwa setiap bulan diam-diam sedang menceritakan kisah yang sama."
— Sabiella Maris, WUSS

Bagi WUSS, SUZAN bukan album yang berusaha memberikan jawaban. Album ini adalah dokumentasi tentang bagaimana waktu membentuk manusia, tentang bagaimana satu tahun dapat mengubah seseorang secara perlahan tanpa pernah benar-benar disadari.

Setiap cerita selalu memiliki sebuah awal.

Bagi WUSS, awal itu adalah "January Note (Unsent)."

Selebihnya hanyalah satu tahun yang perlahan belajar untuk terungkap.

SUZAN akan tersedia di seluruh platform musik digital mulai 26 Agustus 2026.

https://oridistro.com

https://open.spotify.com/album/0bStmsFsiBHflrBAxTFQJ5




WUSS · album · 2026 · 12 songs

Address

Tebo Selatan 222
Malang
65147

Opening Hours

Monday 09:00 - 19:00
Tuesday 09:00 - 19:00
Wednesday 09:00 - 19:00
Thursday 09:00 - 19:00
Friday 09:00 - 19:00
Saturday 09:00 - 19:00

Telephone

+628991289197

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ORIDISTRO posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to ORIDISTRO:

Share