ORIDISTRO

ORIDISTRO Your Criminal Partners

Media online yang menyajikan informasi seputar musik, acara, ulasan, bisnis, tempat usaha, tongkrongan, tips dan trik, serta berbagai artikel lainnya.

KEINA SUDA MERILIS “LIBERA リベラ”: SEBUAH DENYUT KEBEBASAN YANG GELAP DAN SINEMATIKSingle terbaru Keina Suda, “Libera リベラ”...
20/01/2026

KEINA SUDA MERILIS “LIBERA リベラ”: SEBUAH DENYUT KEBEBASAN YANG GELAP DAN SINEMATIK

Single terbaru Keina Suda, “Libera リベラ”, terasa seperti sengatan listrik. Terkait dengan drama TV Tokyo “We Are Bad Barbers”, lagu ini memadukan energi alt-pop yang energik dengan visual sinematik yang gelap dan disutradarai oleh Mai dari CLAN QUEEN, menangkap dunia di mana ketegangan dan kebebasan bertabrakan. Ini adalah pandangan yang berani dan mendalam ke dalam suara dan penceritaan Keina Suda yang terus berkembang.

“Libera” menyalurkan ketegangan perjuangan manusia dan momen-momen terang yang muncul darinya, sebuah tema yang secara visual diperkuat oleh Mai dalam MV.

“Ketika pertama kali mendengar lagu dan liriknya, saya merasa bahwa mimpi buruk bukan hanya dari orang lain, tetapi juga iblis di dalam diri kita sendiri,” jelas Mai. “Sekilas kebebasan dalam video tersebut mewakili momen-momen di mana kejernihan pikiran memicu tindakan. Suara lagu yang gelap namun penuh semangat dan semburan cahaya terakhir MV beresonansi bersama, mencerminkan dunia musik Keina Suda.”

Single ini mengikuti serangkaian rilisan berdampak tinggi dari Keina Suda pada tahun 2025, termasuk proyek album cover “Fall Apart” yang mengulas kembali hits era Balloon-nya. Setiap rilisan menampilkan akar bedroom-pop Keina Suda sambil mendorong suaranya ke wilayah sinematik dan perpaduan genre, mengukuhkannya sebagai kekuatan kreatif dalam musik Jepang modern.

Para penggemar juga dapat menyaksikan Keina Suda secara langsung dalam turnya TOUR 2026 “GLIMMER”, yang akan digelar di Osaka dan Tokyo masing-masing pada tanggal 15 dan 29 Maret. Dengan “GLIMMER” yang melambangkan cahaya redup dalam kegelapan, tur ini menjanjikan pengalaman penuh harapan, intensitas, dan puncak emosi yang mencerminkan alur dramatis video musik “Libera”.

Dengan “Libera”, Keina Suda menunjukkan bahwa musiknya bukan hanya sekadar lagu – tetapi sebuah dunia, sebuah cerita, dan kini sebuah perjalanan visual. Saat tahun 2026 dimulai, para penggemar dapat mengharapkan lebih banyak lagu yang berani dan melampaui genre, serta penampilan langsung yang mengaburkan batas antara bayangan dan cahaya, suara dan cerita.

Tentang Keina Suda

Keina Suda memulai kariernya sebagai produser Vocaloid "Balloon" di Nico Nico Douga pada tahun 2013. Cover lagunya yang populer, "Charles," telah meraih lebih dari 150 juta penayangan di YouTube. Pada tahun 2017, ia beralih ke penampilan dengan namanya sendiri dan merilis album penuh pertamanya, "Billow," pada tahun 2021, yang menduduki peringkat ke-7 di tangga lagu mingguan Oricon. Album penuh keduanya, "Ghost Pop," dirilis pada tahun 2023, menampilkan lagu-lagu seperti "Darling" dan "Mellow," yang digunakan sebagai lagu tema pembuka untuk anime TV.

https://oridistro.com

https://recochoku.jp/song/S1029273455/hires_single




須田景凪の「リベラ」 をレコチョクでダウンロード。(iPhone/Androidアプリ対応)

“TAK KANCANI,” LAGU BARU NDARBOY GENK TERINSPIRASI SPIRIT SENIMAN DIFABEL DAN MISI MERAWAT BUDAYA JAWA DI SURINAMETidak ...
20/01/2026

“TAK KANCANI,” LAGU BARU NDARBOY GENK TERINSPIRASI SPIRIT SENIMAN DIFABEL DAN MISI MERAWAT BUDAYA JAWA DI SURINAME

Tidak semua musisi merayakan ulang tahun dengan pesta. Di usia 31 tahun, Ndarboy Genk justru memilih merilis sebuah lagu yang reflektif dan penuh makna. Berjudul “Tak Kancani”, single ini dirilis tepat pada 14 Januari 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun Ndarboy Genk. Single ini bukan ditujukan sebagai selebrasi, melainkan sebagai hadiah untuk menemani pendengarnya dalam situasi apa pun—terutama saat berada dalam kondisi sulit.

“Tak Kancani” adalah lagu yang lahir dari kegelisahan personal Ndarboy Genk setelah perjumpaannya dengan teman-teman difabel, khususnya musisi tunanetra yang sehari-hari mengamen di Yogyakarta. Dari sana, ia justru menemukan cermin yang memantulkan ulang cara ia memandang hidup dan berkarya.

“Saya sering lihat teman-teman tunanetra ngamen, penghasilannya tidak menentu, tapi mereka bisa menikmati hidupnya, selalu ceria. Lantas saya melihat diri sendiri yang mungkin masih sering mengeluh. Dari situ saya tersadar tentang spirit dan ketulusan dalam bermusik dan kemudian saya tuangkan ke dalam lagu ini,” kata Ndarboy Genk.

Dalam single ini, Ndarboy Genk menggandeng musisi tunanetra asal Yogyakarta, Fauzi Haidi. Ndarboy bersama Fauzi pun terlibat dalam proses kreatif yang intens. Fauzi bahkan menunjukkan kepiawaiannya dalam meramu musik dengan banyak memberi masukan soal aransemen musik ini. Hasilnya, “Tak Kancani” adalah sebuah kolaborasi yang setara, organik, dan memberi ruang pada Ndarboy dan Fauzi untuk saling belajar.

“Lagu ini bukan tentang uang, tujuan viral, bukan buat cari gimmick. Buat saya ini bentuk solidaritas dan support untuk teman-teman difabel. Saya ingin lagu ini jadi soundtrack hidup banyak orang, terutama saat mereka sedang memiliki beban berat, sakit, atau merasa sendirian,” ujar Ndarboy.

Lebih dalam lagi, Ndarboy merasa single ini membuatnya terlahir kembali sebagai seorang musisi, “Rasanya kayak diingatkan lagi bahwa berkarya itu harus tulus. Setelah kolaborasi ini, saya seperti balik ke nol lagi. Soal rezeki, soal lagu ini diterima atau tidak, itu urusan Yang Kuasa.”

Ndarboy Genk dan Misi Budaya di Suriname

Bersamaan dengan perilisan lagu, Official Lyrics Video “Tak Kancani” juga dirilis pada hari yang sama melalui kanal YouTube Ndarboy Genk. Video lirik ini menampilkan perjalanan Ndarboy Genk dan Fauzi Haidi di Suriname.

Perjalanan ke Suriname menghadirkan lapisan lain dalam rilisan ini. Seperti kita ketahui, begitu banyak diaspora Jawa yang hidup di sana. Di tengah jarak geografis dan perbedaan generasi, Ndarboy Genk membawa musik pop Jawa sebagai jembatan memupuk persaudaraan sekaligus merawat budaya Jawa untuk generasi muda Suriname.

“Orang Suriname yang tua-tua masih fasih bahasa Jawa, tapi anak mudanya sudah mulai jarang pakai. Saya datang ke Suriname dengan satu harapan sederhana, jangan sampai orang Jawa di Suriname kehilangan bahasanya dan akar budayanya. Musik bisa jadi cara paling efektif buat mengingatkan itu,” jelas Ndarboy Genk.

Melalui panggung-panggung yang dipenuhi penonton dan perjumpaan lintas generasi, “Tak Kancani” tidak hanya hadir sebagai lagu, tetapi juga sebagai bagian dari upaya merawat identitas. Bahwa di mana pun berada, bahasa dan budaya tetap bisa menjadi rumah.

Single “Tak Kancani” telah tersedia di seluruh platform streaming digital sejak 14 Januari 2026.

https://oridistro.com

https://music.youtube.com/watch?v=n-UVUnDnx18




Provided to YouTube by Ndarboy Genk Tak Kancani · Ndarboy Genk · Fauzi Haidi Tak Kancani ℗ Ndarboy Genk Released on: 2026-01-14 Producer: Helarius Daru ...

YELLOWCARD MENGAJAK GOOD CHARLOTTE MERILIS PROYEK KOLABORASI TERBARU “BEDROOM POSTERS”Grup alt-rock favorit Yellowcard m...
20/01/2026

YELLOWCARD MENGAJAK GOOD CHARLOTTE MERILIS PROYEK KOLABORASI TERBARU “BEDROOM POSTERS”

Grup alt-rock favorit Yellowcard merilis single radio terbaru mereka hari ini, ‘Bedroom Posters’ yang menampilkan Good Charlotte. Lagu ini merupakan versi kolaborasi terbaru dari ‘Bedroom Posters’ yang terdapat dalam album mereka tahun 2025, yang juga memuat lagu utama ‘Better Days’, sebuah single alternatif pertama Yellowcard yang berhasil menempati posisi nomor 1 di beberapa radio.

“Single baru “Bedroom Posters” ini ditujukan bagi siapapun yang menyimpan kenangan kampung halaman mereka dengan penuh rasa sayang…”, kata vokalis utama Ryan Key. “Pernahkan kamu kembali mengunjungi kampung halamanmu dan merasa dihantam oleh semua kenangan yang membawa kamu ke hari saat kamu pergi? Pernahkah kamu merasa bahwa menetap di suatu tempat berarti harus melepaskan mimpi? Jika iya, maka ‘Bedroom Posters’ adalah lagu untukmu.” Key melanjutkan, “Kami semua merasa agu ini adalah lagu yang sangat spesial sejak proses pembuatan album ini. Kekuatan vokal Joel membawanya ke level yang lebih jauh lebih berdampak dan benar-benar bisa membawa kamu kembali ke kamar tidur tempat kamu pertama kali jatuh cinta dengan band favoritmu.”

“GC dan Yellowcard akhirnya punya lagu bersama dan rasanya sangat tepat,” ujar vokalis Good Charlotte, Joel Madden. “Aku sangat mencintai band ini dan lagu ini, dan aku sangat senang kolaborasi GC x YC akhirnya terwujud. Dan sekarang kami akan tur bersama! Inilah bahasa cinta kami dan aku harap semua yang mendengarkan bisa merasakan cinta yang dimiliki kedua band kami satu sama lain, kepada para penggemar dan terhadap musik. Aku sudah tidak sabat untuk tur!”

Better Days merupakan album terbaru Yellowcard yang pertama dalam hampir satu dekade, sekaligus jadi album pertama mereka dengan eksekutif produser Travis Barker. Barker juga memainkan drum di setiap lagu termasuk ‘Bedroom Posters’, ‘Better Days’, ‘honesty I’, dan ‘Take What You Want’. Setelah sukses besar lewat “Maximum Fun Tour” bersama A Day To Remember tahun lalu, Yellowcard mengumumkan rangkaian tur besar di Amerika Serikat musim panas ini dan mengajak serta beberapa teman. “The Up Up Down Down Tour” akan menampilkan New Found Glory dan Plain White T’s. Sebelumnya, Yellowcard dan Good Charlotte juga akan menyambangi Australia dan Selandia Baru bersama dimulai pada 17 Februari.

https://oridistro.com

https://music.apple.com/us/album/bedroom-posters/1810791073




Album · 2025 · 10 Songs

ANJIMILE MERILIS LAGU BARU 'LIKE YOU REALLY MEAN IT'Penyanyi-penulis lagu asal North Carolina, Anjimile, mengumumkan ren...
20/01/2026

ANJIMILE MERILIS LAGU BARU 'LIKE YOU REALLY MEAN IT'

Penyanyi-penulis lagu asal North Carolina, Anjimile, mengumumkan rencananya untuk merilis album penuh berjudul You’re Free to Go, yang akan dirilis pada 13 Maret 2026 melalui label 4AD. Pengumuman ini disertai dengan perilisan single utama yang bercahaya, “Like You Really Mean It”, sebuah lagu yang penuh kelembutan dan kerentanan emosional, lengkap dengan video musik indah yang disutradarai oleh Caity Arthur.

Anjimile berbagi cerita:

“Aku menulis lagu ini supaya pacarku mau menciumku. Kami tinggal sekitar satu jam berjauhan, dan saat itu aku sendirian, memikirkannya. Memikirkan betapa aku ingin sebuah ciuman. Apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan ciuman dari kekasihku? Menulis lagu tentang itu! Dan ya, ternyata berhasil.”

Single “Like You Really Mean It” dirilis setelah single bulan November “Auld Lang Syne II”, sebuah lagu reflektif yang lembut—seperti surat untuk diri sendiri—tentang ketahanan dan kebebasan yang diperjuangkan dengan susah payah. Lagu ini ditandai dengan petikan senar yang halus, bagian tiup yang menawan, serta vokal yang intim. Media Stereogum menyebut lagu ini “menakjubkan” saat dirilis. Anjimile sendiri mengatakan bahwa lagu tersebut awalnya

“dimaksudkan sebagai semacam hadiah pernikahan untuk sahabat terbaikku, yang menikah beberapa tahun lalu.”

Berbeda dengan kerumitan dan kompleksitas album The King, You’re Free to Go berkembang secara alami di bawah arahan intuitif produser Brad Cook (Waxahatchee, Hurray for the Riff Raff, Mavis Staples). Lagu-lagu dalam album ini mekar dengan alami, berlandaskan gitar akustik yang hangat, tekstur synth yang halus, aransemen string yang kaya, serta lapisan ritme yang lembut. Kolaborasi dengan musisi Nathan Stocker (Hippo Campus), Matt McCaughan (Bon Iver), dan vokalis tamu Sam Beam (Iron & Wine)—seorang pahlawan pribadi bagi Anjimile yang musiknya telah memengaruhi album ini bahkan sebelum keterlibatannya—menciptakan suasana yang eksploratif namun tetap intim, selaras dengan gaya bercerita Anjimile yang penuh nuansa.

Anjimile (dibaca: ann-JIM-uh-lee) Chithambo telah menempuh jalur musik yang khas, ditandai dengan introspeksi yang jujur tanpa kompromi. Berasal dari skena indie Boston saat menempuh studi di Northeastern University, Anjimile memikat pendengar melalui penulisan lagu yang tulus, tekstur suara yang lembut, serta penampilan yang terasa seperti doa sekaligus perayaan.

Pujian kritikus pun segera menyusul. Album Giver Taker (2020), yang disebut Rolling Stone sebagai salah satu album terbaik tahun tersebut, menempatkannya sebagai suara penting yang mengeksplorasi tema spiritualitas, identitas, dan pembebasan. Melalui The King (2023), Anjimile memperdalam pengamatannya tentang pengalaman hidup sebagai pribadi kulit hitam dan trans di tengah gejolak pribadi dan sosial, sekaligus menegaskan komitmennya yang berani untuk menghadapi ketidaknyamanan sebagai jalan menuju kebebasan.

Album You’re Free to Go melanjutkan perjalanan dari The King, namun dengan sikap yang lebih terbuka. Pertanyaan utamanya adalah: apa yang terjadi ketika kamu melepaskan kendali dan membiarkan cinta masuk?

Dibuat selama bertahun-tahun penuh perubahan, album ini dengan jelas menggambarkan kompleksitas mendalam dari proses perubahan—mulai dari perpisahan hingga cinta baru; dari duka dan kehilangan yang mendalam menuju pembaruan dan penemuan diri kembali.

“Dua tahun terakhir adalah masa transisi yang sangat besar dalam hidupku,” jelas Anjimile. Dalam You’re Free to Go, ia belajar untuk kembali mempercayai hidup.

Judul album ini melambangkan pandangan luas Anjimile tentang cinta dan kebebasan pribadi, yang sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangan serta praktik non-monogami yang mereka jalani dengan penuh sukacita. Ia menggambarkannya dengan cara yang jenaka:

“Aku memandang non-monogami seperti meletakkan susu setiap malam di teras rumah untuk kucing-kucing; mereka boleh datang kalau mau,” sebuah pengingat bahwa hubungan akan tumbuh ketika benar-benar dipilih, bukan dibatasi oleh norma yang kaku. Nuansa bermain ini juga terasa dalam lagu “Rust & Wire”, yang menangkap sensasi jatuh cinta berulang kali (“matang dalam panas seperti anggur”).

Di sisi lain, You’re Free to Go juga menyelami kebenaran yang lebih berat dan gelap. Lagu “Exquisite Skeleton” menggambarkan pedihnya keterasingan dari keluarga, sementara “Ready or Not” menyoroti kelelahan dalam menghadapi transfobia.

“Saat aku masih gadis kecil, aku ingin bebas… Saat aku masih bocah laki-laki, aku ingin menjadi nyata,” ucapnya dengan jujur dalam “Waits For Me”, sebuah perenungan kuat tentang identitas masa kecil. Namun bahkan di momen-momen paling mendalam, album ini tetap memancarkan cahaya. Setiap lagu menyediakan ruang untuk penyembuhan—mengubah rasa sakit menjadi sesuatu yang lembut, bisa dibagi bersama, dan membebaskan.

Spiritualitas tetap menjadi jantung dari karya Anjimile.

“Menulis lagu terasa seperti doa, permohonan, atau pertanyaan,” katanya.
Sepanjang You’re Free to Go, kesakralan terasa hidup dan tidak sempurna—sebuah praktik bernapas, bertanya, dan memaafkan. Album ini bergetar dengan energi sakral yang sama: berantakan, namun penuh anugerah.

Dalam album ini, Anjimile dengan piawai memadukan berbagai pengaruh musik untuk memperkuat dampak emosionalnya. Lagu-lagu seperti “Turning Away” dan “The Store” menghadirkan kejujuran mentah ala karya awal Modest Mouse. Kolaborasi dengan Sam Beam dalam “Destroying You” menambahkan kehangatan lembut yang melengkapi ekspresi vokal Anjimile. Secara melodi, album ini membangkitkan nostalgia samar akan pop alternatif akhir 1990-an, memadukan nuansa folk dengan hook yang akrab dan mudah diingat. Anjimile juga menunjukkan perkembangan signifikan dalam cara bernyanyinya—lebih santai dan ekspresif—sebagian berkat terapi hormonal yang sedang dijalaninya, sebuah perjalanan transformatif yang ia sambut dengan sukacita. Kedalaman vokal barunya ini semakin memperkuat resonansi emosional album.

Saat bersiap membawakan You’re Free to Go secara live, Anjimile membayangkan pertunjukan intim yang menafsirkan ulang lagu-lagu album, bukan sekadar menirunya. Ia berharap keaslian dan kerentanan dalam lagu-lagu ini dapat terasa kuat, seraya menegaskan:

“Album ini terasa sangat jujur terhadap pengalaman hidupku. Ini adalah cara paling dekat untuk mengenalku lewat sebuah rekaman.”

You’re Free to Go adalah potret transformasi—bukan sebagai luka, melainkan sebagai sebuah keterbukaan. Dengan tekstur yang kaya, kumpulan lagu ini merupakan cerminan jujur dari naik-turun kehidupan. Album ini memberi ruang bagi kontradiksi dan menemukan kebebasan dalam kelembutan. Seperti yang diungkapkan Anjimile dengan indah, album ini tentang “bernapas di dalam pertanyaan”, mengakui bahwa momen paling bermakna dalam hidup sering kali hadir tanpa jawaban pasti, melainkan dalam ketegangan lembut antara ketidakpastian dan penemuan. Di setiap nada, Anjimile memberi ruang bagi pendengar untuk merenung dan menemukan kebenaran mereka sendiri, sambil dengan lembut mengingatkan bahwa kebebasan bukanlah ketiadaan rasa sakit, melainkan keberanian untuk mencintai, bertanya, dan terus memulai kembali.

Pujian untuk Anjimile:

“Sebuah suara yang matang dan penuh percaya diri.” — The Observer

“Sebuah ode perayaan untuk masa depan yang menunjukkan kecakapan dan ketajaman Chithambo dalam memahami kehidupan.” — The Line of Best Fit

“Sebuah telaah inovatif terhadap kehidupan Amerika yang terdistorsi.” — Uncut

“Sifat kreatif Anjimile sungguh memikat.” — NPR Music

“Suaranya bisa melunakkan hatimu seperti dalam lagu ‘1978’, lalu seketika terdengar berani dan menggoda di ‘Baby No More’. Perekatnya adalah kemurahan hati dan keberanian tanpa rasa takut.” — Rolling Stone

“‘Auld Lang Syne II’ sungguh menakjubkan.” — StereoguM

https://oridistro.com

https://music.apple.com/us/album/like-you-really-mean-it/1860276153




Album · 2026 · 12 Songs

MANIEZ - CARMEN GLORYA FT IRA KHAYZCarmen Glorya kembali merilis single terbarunya dengan judul "Maniez". Dalam single t...
20/01/2026

MANIEZ - CARMEN GLORYA FT IRA KHAYZ

Carmen Glorya kembali merilis single terbarunya dengan judul "Maniez". Dalam single terbarunya ini, Carmen Glorya berkolaborasi dengan Ira Khayz, dan di produseri oleh Kevin Pangestu, serta di mixing mastering oleh Arif Hardianto.

“Maniez” adalah sebuah lagu tentang rasa yang tumbuh terlalu dalam, sementara balasannya tak pernah benar-benar ada. Lagu ini menceritakan cinta bertepuk sebelah tangan, ketika seseorang hadir bukan karena cinta, melainkan hanya karena kebutuhan.

Lewat lirik yang jujur dan penuh perasaan, “Maniez” menggambarkan manisnya perhatian di awal yang perlahan berubah menjadi luka. Ada harapan yang dipeluk terlalu lama, padahal sejak awal posisinya tak pernah seimbang. Kata maniez menjadi simbol ironi, terasa manis di luar, namun menyimpan pahit di dalam.

Dengan balutan musik yang bernuansa hipdut dengan lirik yg relate dengan kehidupan zaman sekarang, “Maniez” mengajak pendengar untuk menyadari perbedaan antara dicintai atau hanya sekadar dibutuhkan. Lagu ini menjadi cermin bagi mereka yang pernah bertahan demi rasa, meski akhirnya harus menerima bahwa tidak semua yang selalu ada, benar-benar bertahan karena sayang. Lagu ini juga menjelaskan bagaimana seorang pasangan yang kurang bersyukur dengan apa yang sudah dimilikinya.

“Maniez” bukan hanya tentang patah hati, tapi juga tentang keberanian untuk sadar dan melepaskan karena cinta seharusnya saling bukannya hanya sepihak.

https://oridistro.com

https://music.youtube.com/watch?v=bckAiOi65ww




Provided to YouTube by TuneCore Maniez · Carmen Glorya · Ira khayz Maniez ℗ 2026 Carmen Glorya Released on: 2026-01-07 Auto-generated by YouTube.

CAVETOWN RILIS ALBUM BARU, RUNNING WITH SCISSORSCavetown, nama panggung seniman asal Inggris Robin Skinner, telah merili...
20/01/2026

CAVETOWN RILIS ALBUM BARU, RUNNING WITH SCISSORS

Cavetown, nama panggung seniman asal Inggris Robin Skinner, telah merilis album barunya, Running With Scissors, yang kini tersedia via Futures Music Group. Album ini menandai momen penting dalam karier Skinner: sebuah karya yang secara emosional luas, menangkap ambang batas yang membingungkan antara masa muda dan kedewasaan, dipadukan secara musikal melalui hyper-pop, gitar heavy, dan suara dream-pop khasnya.

Bersamaan dengan perilisan album, single utama dan video musik untuk “Cryptid” juga dirilis. Lagu dan film pendek ini mengeksplorasi pengalaman masa muda Skinner. Dalam video tersebut, “cryptids” hidup di bawah tanah, tersembunyi dari dunia yang takut dan tidak memahami mereka, hingga akhirnya mereka muncul untuk menantang narasi yang dipaksakan pada mereka. Meskipun video ini berfokus pada pengalamannya dan menyertakan simbolisme di sepanjang cerita, niat Skinner lebih luas: untuk memantulkan cermin bagaimana masyarakat secara historis telah menggambarkan banyak identitas sebagai “yang lain”. “Dengan membiarkan diri saya mencintai,” kata Skinner, “saya juga membiarkan diri saya merasa marah terhadap hal-hal yang biasanya saya abaikan. Saya harap ini terasa memberdayakan bagi orang-orang untuk menyanyikan kembali.”

Bertepatan dengan perilisan albumnya, Cavetown mengumumkan serangkaian konser utama Running With Scissors Tour di Chicago, Los Angeles, dan Brooklyn, membawa tema-tema album tentang pertumbuhan, refleksi, dan koneksi ke dalam setting konser yang intim. Bersama PLUS1, $1 dari setiap tiket yang terjual akan disumbangkan ke organisasi lokal yang bekerja untuk mendukung dan memberdayakan kesehatan dan kesejahteraan komunitas, menegaskan komitmen Cavetown yang berkelanjutan dalam advokasi dan perawatan komunitas.

Ditulis di sisi lain dari proses penyembuhan intensif selama dua tahun, Running With Scissors dibentuk oleh dua perubahan hidup yang mendalam: jatuh cinta pada orang yang ingin Skinner bangun masa depan bersamanya, dan kelahiran saudara kandung pertamanya, yang 26 tahun lebih muda darinya, yang memicu refleksi mendalam tentang sejarah keluarga, maskulinitas, dan tanggung jawab. Selama album ini, Skinner mengeksplorasi arti dari “mereparen diri sendiri,” memutuskan bagian mana dari pengasuhan yang akan dibawa ke depan, dan bagian mana yang harus dibuang agar dapat hadir dengan cara yang berbeda bagi orang-orang yang dicintainya.

Album ini dibuka dengan “Skip,” lagu cinta yang ceria yang Skinner sebut sebagai “lagu pertama yang saya tulis dengan nada positif yang sejati,” menangkap kegembiraan anak-anak dalam mencintai dari tempat yang aman. Chord terakhirnya mengalir langsung ke “Cryptid,” mengungkapkan cinta dan amarah sebagai kekuatan yang saling terkait. “Rainbow Gal” memantulkan keintiman melalui jarak dengan tekstur 8-bit yang berkilau; “Baby Spoon” dengan lembut menginterpretasi kembali maskulinitas melalui kepedulian dan kelembutan; “NPC,” “Reaper,” dan “Straight Through My Head (DO IT!!!)” menghadapi disosiasi, kelelahan, pikiran intrusif, dan bertahan hidup; sementara “No Bark, No Bite” dan “Micah” bergelut dengan keluarga, warisan, dan pria, serta saudara, yang Skinner cita-citakan dalam dirinya.

Running With Scissors juga menandai tonggak kreatif yang penting. Untuk pertama kalinya dalam kariernya, Skinner melibatkan kolaborator dalam proses kreatif inti, bekerja sama secara erat dengan Chloe Moriondo, Underscores, Ryan Raines, David Pramik, dan Couros, yang kontribusinya memperluas cakrawala sonik Cavetown.

Album ini ditutup dengan title track, “Running With Scissors,” yang merangkum metafora utama album: kedewasaan sebagai risiko, ketidakseimbangan, dan gerakan maju. “Semua orang berlari dengan gunting,” refleksi Skinner. “Ada begitu banyak hal yang menakutkan, tapi juga begitu banyak kesenangan yang bisa dinikmati, dan kamu akan melewatkan semuanya jika tidak berani mencoba.”

Di luar musik, Cavetown tetap menjadi pembangun komunitas yang penting. Proyek This Is Home-nya yang telah berjalan lama, sebuah inisiatif untuk komunitas muda yang mendukung perumahan, layanan kesehatan mental, program kreatif, dan dukungan krisis, telah mengumpulkan lebih dari $700.000 untuk organisasi yang melayani orang muda. Semangat peduli, advokasi, dan tanggung jawab yang sama mengalir sepanjang Running With Scissors, menyoroti evolusi Skinner tidak hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai individu yang sangat berkomitmen pada dunia yang ingin dia bantu bentuk.

Dengan “Running With Scissors”, Cavetown sepenuhnya memasuki usia dewasa tanpa meninggalkan jutaan pendengar yang telah tumbuh bersama dirinya. “Saya tidak ingin ini terasa seperti untuk anak-anak,” kata Skinner. “Karena saya sudah bukan anak-anak lagi. Saya ingin ini terasa seperti kita bergerak maju bersama.”

https://oridistro.com

https://www.urbanoutfitters.com/shop/hybrid/cavetown-running-with-scissors-uo-exclusive-lp




Shop Cavetown - Running With Scissors UO Exclusive LP at Urban Outfitters today. Discover more selections just like this online or in-store. Shop your favorite brands and sign up for UO Rewards to receive 10% off your next purchase!

MADISON BEER RILIS ALBUM TERBARU "LOCKET"“Membuat jalannya sendiri di dunia musik pop.”-PAPER“Baik album maupun aksesori...
20/01/2026

MADISON BEER RILIS ALBUM TERBARU "LOCKET"

“Membuat jalannya sendiri di dunia musik pop.”
-PAPER

“Baik album maupun aksesori yang dinamai sesuai namanya terasa seperti wadah untuk kenangannya. Locket menyimpan semua pengalaman yang telah ia alami, yang menjadikan proyek ini apa sebagaimana adanya sekarang.”
-Rolling Stone

Hari ini, penyanyi yang dua kali dinominasikan GRAMMY dan pemegang sertifikat Platinum, Madison Beer, merilis album barunya, locket, via Epic Records, bersamaan dengan perilisan video musik resmi untuk single barunya “bad enough.”

Ditulis dan diproduseri bersama Madison, album ini merupakan kumpulan lagu paling mendebarkan dan menggetarkan yang pernah ia buat, dan dengan tegas menempatkan dirinya sebagai salah satu album pop terkemuka yang akan mendominasi tahun 2026.

Awal pekan ini, Madison meluncurkan lagu barunya “bad enough” dengan penampilan yang menonjol di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, menandai penampilan live perdana lagu tersebut.

Sebuah liontin bukan hanya perhiasan atau aksesoris. Ia adalah kenang-kenangan, sebuah wadah rahasia yang menyimpan kenangan berharga. Bagi Madison, liontin itu melambangkan dunia kenangan dan pengalaman, yang masing-masing saling terjalin untuk membentuk album terbaru, paling mendesak, dan memikat dari penyanyi-penulis lagu dan bintang pop tersebut.

Album ini menampilkan lagu-lagu hitsnya yang sangat diapresiasi, “make you mine,” “yes baby,” dan “bittersweet.” Madison mendapatkan nominasi GRAMMY keduanya untuk “make you mine” dalam kategori Best Dance Pop Recording pada tahun 2025. Sejak dirilis pada tahun 2024, lagu tersebut mencapai peringkat #1 di chart Dance Airplay Billboard, menandai lagu solo pertamanya yang menduduki puncak tangga lagu dan mengukuhkan posisinya sebagai sosok yang tak tergantikan di Dance Radio. “yes baby,” yang dirilis pada September lalu, melanjutkan kesuksesannya dengan juga menduduki puncak tangga lagu.

“bittersweet” menjadi momen bersejarah bagi Beer, menjadi lagu tercepatnya yang masuk ke Top 40 radio dan menandai debutnya di Billboard’s Hot 100. Lagu ini menjadi momen live yang ikonik dengan penampilannya di Victoria’s Secret Fashion Show 2025—di mana siaran langsung YouTube mencapai puncak 2,5 juta penonton selama penampilannya—dan Dick Clark’s New Year’s Rockin’ Eve.

Madison juga mengumumkan daftar jadwal tur yang luas pada Selasa, 13 Januari. Musim semi dan musim panas ini, Madison akan mengunjungi kota-kota besar di seluruh Amerika Utara, Inggris, dan Eropa. Tur yang terdiri dari 30 pertunjukan ini akan berakhir pada 13 Juli dengan pertunjukan pulang di Madison Square Garden yang legendaris. Penjualan tiket umum dimulai pada Jumat, 23 Januari pukul 12 siang waktu setempat.

https://oridistro.com

https://tidal.com/album/489771454




Listen to locket on TIDAL

MITSKI UMUMKAN ALBUM TERBARU "NOTHING'S ABOUT TO HAPPEN TO ME"Mitski mengumumkan album studio kedelapannya, Nothing's Ab...
20/01/2026

MITSKI UMUMKAN ALBUM TERBARU "NOTHING'S ABOUT TO HAPPEN TO ME"

Mitski mengumumkan album studio kedelapannya, Nothing's About to Happen to Me — dirilis pada 27 Februari via Dead Oceans — dan merilis single utama dan video musiknya, “Where’s My Phone?” Didukung oleh band live dan orkestra, Nothing’s About to Happen to Me menampilkan Mitski yang tenggelam dalam narasi kaya yang berpusat pada karakter utama seorang perempuan penyendiri di rumah yang berantakan. Di luar rumahnya, dia adalah seorang penyimpang; di dalam rumahnya, dia bebas.

Lagu rock yang berisik dan berantakan, “Where’s My Phone?,” memberikan gambaran tentang beragam suara dan energi di sepanjang album: “Where did it go // Where’s my phone // Where’s my phone // Where did I leave // Where’d I go // Where’d I go,” ia bernyanyi. Kartunis New Yorker, Emily Flake, menggambarkan interpretasinya dalam kartun.

“Where’s My Phone?” hadir bersamaan dengan video yang liar dan penuh emosi, disutradarai oleh Noel Paul. Berbasis pada novel Shirley Jackson, We Have Always Lived in the Castle, dan menggunakan gaya pembuatan film yang playful dan primitif, video ini menampilkan Mitski sebagai seorang perempuan paranoid yang berusaha melindungi adiknya di dalam sebuah rumah gotik sambil menghadapi rintangan-rintangan manusia yang semakin absurd. Menciptakan palet psikologis yang kompleks, para penyusup—baik yang mengancam maupun ramah—berdatangan secara berturut-turut, menciptakan kekacauan total.

Mitski menulis semua lagu dan menyanyikan semua vokal dalam album Nothing’s About to Happen to Me. Album ini diproduksi dan diproduksi oleh Patrick Hyland, serta mastering oleh Bob Weston. Album ini melanjutkan garis musik yang telah ditetapkan dalam album 2023 The Land Is Inhospitable and So Are We, dan menampilkan instrumen live dari band tur The Land serta aransemen ensembel. Orkestra direkam di Sunset Sound dan TTG Studios, diaransemen dan diarahkan oleh Drew Erickson, serta diproduksi oleh Michael Harris.

Mitski adalah “musisi paling memikat dan misterius dalam scene indie rock” (Rolling Stone) yang “terus berevolusi dengan cara-cara yang brilian dan menakjubkan” (NPR Music). Sepanjang kariernya, ia telah merilis tujuh album, empat di antaranya meraih sertifikasi Gold. Lagu “My Love Mine All Mine” miliknya menjadi sensasi global dan meraih sertifikasi platinum empat kali. Kolaborasi Mitski dengan seniman lain meliputi dua lagu yang ditulis bersama di album terbaru Florence and the Machine, Everybody Scream, serta dengan David Byrne dan Son Lux untuk lagu “This Is A Life” yang dinominasikan Oscar. Saat ini, ia sedang menulis musik dan lirik untuk adaptasi musikal The Queen’s Gambit.

“Sebuah studi gerak yang memukau” (Variety), pertunjukan live Mitski juga dijelaskan sebagai “sangat bergaya, brilian, dan menakjubkan” (Philadelphia Inquirer) serta “unik, misterius, dan benar-benar memikat” (The Guardian). Film konser pertamanya, Mitski: The Land, ditayangkan di lebih dari 600 bioskop di 30 negara pada Oktober 2025, mengukuhkan posisinya sebagai “bintang indie langka yang layak mendapatkan perlakuan layar lebar” (Uproxx). Film ini dirilis bersamaan dengan The Land: The Live Album.

https://oridistro.com

https://open.spotify.com/album/1oLPKLJMffq7fO3XapLx4G




Mitski · single · 2026 · 1 songs

Address

Tebo Selatan 222
Malang
65147

Opening Hours

Monday 09:00 - 19:00
Tuesday 09:00 - 19:00
Wednesday 09:00 - 19:00
Thursday 09:00 - 19:00
Friday 09:00 - 19:00
Saturday 09:00 - 19:00

Telephone

+628991289197

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ORIDISTRO posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to ORIDISTRO:

Share