14/09/2026
DUA JENIS KEBENARAN—3
RENUNGAN HARIAN PAGI
15 SEPTEMBER 2026
"Segala kesalehan [atau 'perbuatan benar,'] kami seperti kain kotor"
(Yesaya 64: 6).
Apakah seperti itu?
Itulah posisi yang diambil Waggoner dalam menghadapi tekanan dari Smith dan teman-temannya tentang pembenaran oleh perbuatan. Waggoner menulis, "Kebenaran manusia tidak lagi bernilai setelah seseorang dibenarkan." "Orang Kristen yang dibenarkan 'akan hidup oleh iman.'" Oleh karena itu, "orang yang memiliki iman paling besar akan menjalani kehidupan yang paling benar." Itu benar karena Kristus adalah "TUHAN KEBENARAN KITA." Bagi Waggoner, iman adalah segalanya dan persamaan yang mengatakan iman + perbuatan = pembenaran, itu berarti berakar dalam "roh antikristus."
Jones berdiri teguh bersama Waggoner. Pada bulan Mei 1889, misalnya, ia menyampaikan kepada para pendengarnya bahwa hukum bukanlah tempat "untuk mencari kebenaran. Semua 'kebenaran kita adalah seperti kain kotor.'"
Smith tidak setuju dengan komentar-komentar seperti itu. Sebulan kemudian, dia melontarkan komentar pedas kepada Jones di terbitan Review yang berjudul "Kebenaran Kita". Dia mencatat bahwa beberapa pembaca Review bermain sesuai keinginan mereka yang ingin menghapus hukum dengan membuat pernyataan tentang kebenaran kita sebagai "kain kotor". Sang editor Review melanjutkan dengan mengatakan bahwa "kepatuhan sempurna kepada [hukum] akan menghasilkan kebenaran sempurna, dan itulah satu-satunya cara seseorang dapat memperoleh kebenaran." Ia menegaskan, "Kita tidak boleh berbaring di tempat tidur tanpa melakukan apa-apa, seperti mereka yang ingin mengubah hidupnya di tangan Sang Penebus tetapi tanpa melakukan sesuatu pun .... 'Kebenaran kita' ... berasal dari keselarasan dengan hukum Allah .... Dan 'kebenaran kita' dalam hal ini bukanlah kain kotor." Dia menyimpulkan, kebenaran "harus diperoleh dengan menuruti dan mengajarkan perintah-perintah."
Ketika artikel itu terbit, Ellen White sedang berkhotbah di pertemuan perkemahan di Rome, New York yang membahas iman harus ada terlebih dahulu sebelum perbuatan. Ketika orang-orang mendapati ketidakselarasan antara apa yang dikatakannya dengan artikel Smith, tanggapannya adalah bahwa Saudara Smith "tidak tahu apa yang sedang dibicarakannya; dia melihat pohon-pohon seperti orang yang berjalan." Dia menunjukkan bahwa hanya karena Yesus dan kebenaran-Nya adalah pusat keselamatan, itu tidak berarti bahwa kita membuang hukum Tuhan (MS 5, 1889). Kepada Smith dia menulis bahwa dia berada di jalan yang akan membawanya ke jurang dan bahwa dia "berjalan seperti orang buta" (Lt 55, 1889).
Bagaimana penglihatan rohani kita? Apakah kita memahami dengan jelas hubungan antara iman dan perbuatan, hukum dan kasih karunia? Mungkin tidak. Namun, itulah inti dari permasalahan tahun 1888. Jawabannya akan datang saat kita mengikuti tuntunan Tuhan melalui sedikit sejarah Advent ini.
GEORGE R. KNIGHT - JANGAN KITA MELUPAKAN SEJARAH hal. 278