23/06/2026
Oleh: Rhea Irama Klasik
------------------------------------
Aku Mampu Berdiri
Dunia tidak pernah berjanji untuk selalu ramah. Ada hari-hari di mana langit terasa begitu runtuh, menumpahkan badai yang membasahi seluruh sisa-sisa harapan. Seringkali, kaki ini gemetar, dipaksa bertumpu pada tanah yang retak oleh kecewa dan air mata. Aku pernah berpikir bahwa roboh adalah akhir dari segalanya.
Namun, di kedalaman sunyi, ada suara yang berbisik lebih keras dari gemuruh badai itu sendiri: "Belum saatnya menyerah."
Aku Menghitung Luka, dan Aku Menemukan Kuat, Setiap goresan masa lalu bukan lagi sekadar tanda trauma, melainkan sebuah prasasti telanjang tentang bagaimana aku berhasil bertahan hidup. Aku belajar bahwa kekuatan tidak lahir dari ketiadaan rasa sakit, melainkan dari keberanian untuk memeluk rasa sakit itu, lalu menjadikannya bahan bakar.
Kemarin: Aku merangkak dalam gelap, mencari arah yang hilang.
Hari ini: Aku menerima semua retak dalam diri sebagai bagian dari keindahan.
"Aku tidak lagi meminta badai untuk segera reda. Aku hanya meminta pundak yang lebih kuat, tekad yang lebih baja, dan hati yang lebih luas."
Kini, perlahan tapi pasti, jemari kaki ini kembali mencengkeram bumi. Aku menarik napas dalam-dalam, mengisi rongga dada dengan keberanian yang baru.
Biarlah angin kencang mencoba menguji keseimbangan, karena akar di dalam diriku sudah tumbuh jauh lebih dalam dari yang mereka duga.
Lihatlah. Tanpa sandaran yang semu dan tanpa kepura-puraan yang melelahkan, aku mampu berdiri.
Dubai, 23 Juni 2026.✍️