27/01/2026
Mereka tidak takut pada penyakit.
Mereka takut pada perubahan.
Aku mulai memahami aturan tak tertulis di tempat ini.
Menolong orang kecil boleh.
Menyelamatkan nyawa boleh.
Tapi jangan sampai ilmu itu
mengusik keseimbangan kekuasaan.
Beberapa orang mulai memanggil namaku dengan harapan.
Beberapa mulai menyebut namaku dengan bisikan curiga.
Seorang perempuan pribumi membantuku diam-diam—
ia mengajariku bahasa, kebiasaan,
dan cara bertahan tanpa menonjol.
Namun justru darinya aku tahu,
setiap nyawa yang kuselamatkan
selalu ada harga yang harus dibayar orang lain.
Dan di balik bantuan yang kuterima,
ada mata yang terus mengawasi.
Waktu seakan mengingatkanku:
aku tamu di masa yang bukan milikku.
Malam itu aku mendengar namaku disebut
dalam rapat yang tak seharusnya kudengar.
Mereka tidak lagi bertanya
siapa aku.
Tapi
apa yang harus mereka lakukan padaku.
(bersambung)