04/06/2026
๐๐ฅ๐ฆ๐๐ง๐๐๐ง๐จ๐ฅ ๐๐๐จ๐ฆ๐: ๐ ๐๐ก๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ฅ๐๐ก ๐ฃ๐๐๐๐ฅ๐๐ก ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ง๐๐ ๐ฃ๐๐ฅ๐ก๐๐ ๐จ๐ฆ๐๐
๐๐ฎ๐ฏ ๐ญ: ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐ฟ๐ถ๐ป ๐๐ฟ๐ผ๐ป๐ผ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ก๐ฒ๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ ๐๐บ๐ฝ๐ถ๐ฎ๐ป
"Somehow, I feel have so many times turning in my mind. Sometimes feel live in the dreamland, full of star."
Di dalam kepala Kael, waktu tidak berjalan lurus; ia melingkar seperti gasing yang tak pernah lelah berputar. Setiap kali ia memejamkan mata di tengah hiruk-pikuk kota futuristik yang bising, kesadarannya terseret ke sebuah dimensi batin yang ia sebut The Dreamland.
Negeri impian itu adalah manifestasi dari semua harapan yang layu di dunia nyata. Di sana, langit tidak berwarna biru, melainkan sebuah kanvas hitam pekat yang dipadati oleh jutaan bintang yang berpijar terlalu terangโseolah-olah bintang-bintang itu berteriak meminta perhatian. Kael sering kali merasa ia telah hidup di sana selama ratusan tahun, menyaksikan pergantian rasi bintang yang hanya ada dalam imajinasinya.
Namun, hidup di dalam mimpi yang abadi melahirkan sebuah pertanyaan retoris: Apakah dia sedang mengendalikan mimpinya, atau mimpi itu yang sedang memenjarakannya?
๐๐ฎ๐ฏ ๐ฎ: ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐ฆ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐น๐ถ๐ ๐ ๐ฒ๐บ๐ผ๐ฟ๐ถ
"I want no reason to try to go searching a new dream, cause I donโt have no more to writing memories."
Ada titik jenuh yang sangat sunyi ketika seseorang tidak lagi ingin bermimpi. Kael telah sampai di titik itu. Baginya, mencari mimpi baru adalah sebuah kesia-siaan yang melelahkan.
Di dalam perpustakaan jiwanya, lembar-lembar buku harian batinnya telah penuh. Tinta emas yang dulu ia gunakan untuk menuliskan memori-memori indah telah kering, menyisakan kertas-kertas kosong yang menolak untuk digoresi lagi. "Untuk apa mengumpulkan kenangan baru," pikirnya, "jika pada akhirnya mereka hanya akan menjadi hantu yang mengetuk pintu kesadaran di sepertiga malam?"
Kael memutuskan untuk berhenti menjadi petualang rasa. Ia tidak butuh alasan untuk menetap. Ia hanya ingin berhenti berlari mengejar fatamorgana masa depan.
๐๐ฎ๐ฏ ๐ฏ: ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ต๐ถ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ผ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ป๐ด๐ถ๐ป
"Maybe I will fly this night, to find the other land. I will pray once again, beside I say your name. But the other try take my time."
Malam ini, atmosfer The Dreamland terasa berbeda. Ada dorongan aneh yang mendesak Kael untuk melakukan penerbangan transendental. Tanpa sayap fisik, ia membiarkan jiwanya mengapung, menembus awan nebula untuk mencari "tanah seberang"โsebuah tempat di mana kedamaian bukan sekadar konsep, melainkan realitas.
Di tengah penerbangan kosmis itu, di antara desis angin astral, Kael merajut sebuah doa terakhir. Sebuah doa yang tidak ditujukan pada altar megah, melainkan diucapkan dengan lirih di samping sebuah nama yang paling ia sayangiโsebuah nama yang menjadi jangkar terakhirnya pada kemanusiaan.
Namun, semesta astral memiliki hukumnya sendiri. Entitas-entitas asing yang tak kasat mataโperwujudan dari distorsi waktu dan tanggung jawab dunia nyataโmulai menarik-narik ujung jubah kesadarannya. Mereka egois, mereka lapar, dan mereka menuntut waktu Kael untuk kembali ke realitas yang membosankan.
๐๐ฎ๐ฏ ๐ฐ: ๐๐๐ฎ ๐๐ถ๐ฟ ๐ ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐น๐ถ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐บ
"Leave me alone in a darkness place, no more candlelight. Everything looking through my face, close my eyes. Building a cave from day by day, remember all the tears."
Ketika pelarian itu gagal, Kael terjatuh ke dalam palung terdalam dari lanskap batinnya. Sebuah tempat isolasi total yang dingin. โTinggalkan aku sendiri,โ bisiknya pada sunyi.
Di tempat ini, tidak ada lagi cahaya lilin. Kegelapan begitu pekat hingga teksturnya terasa seperti beludru basah yang membungkus kulit. Di sekelilingnya, dinding-dinding kegelapan itu seolah memiliki mata; segala sudut ruang tampak sedang menatap langsung ke arah wajahnya yang rapuh, menghakimi setiap kegagalan yang pernah ia perbuat. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menutup mata di dalam kegelapan itu sendiri.
Hari demi hari, Kael mengumpulkan butiran air mata masa lalunya yang telah mengkristal. Ia menyusun kristal-kristal kesedihan itu, menjadikannya bata demi bata untuk membangun sebuah gua perlindungan. Gua itu adalah monumen bagi semua rasa sakit yang pernah ia lewati, sebuah benteng melankolia yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
๐๐ฎ๐ฏ ๐ฑ: ๐๐บ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ธ๐๐๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ธ๐ต๐ถ๐ฟ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด
"Losing my fear is my faith from now, mysteries. I think my time will never comes, but the truth the end that never comes."
Di dasar gua yang gelap, sebuah transformasi spiritual yang radikal terjadi. Ketika seseorang telah kehilangan segalanya, ia tidak lagi memiliki apa pun untuk ditakuti. Bagi Kael, kehilangan rasa takut adalah bentuk iman barunya. Ketidakpastian dan misteri masa depan bukan lagi monster yang menakutkan, melainkan sahabat karib yang menuntunnya menembus ketidaktahuan.
Ia sempat berpikir bahwa waktunya telah habis, bahwa ia akan terkubur selamanya di dalam gua air mata tersebut. Ia menunggu sebuah akhirโsebuah titik final yang dramatis di mana tirai pertunjukan diturunkan.
Namun, kebenaran sejati dari kosmos akhirnya terungkap dengan sangat puitis: Akhir itu tidak pernah datang.
Kehidupan, energi, dan jiwa tidak pernah benar-benar selesai. Di balik kegelapan paling pekat, selalu ada getaran partikel yang bersiap untuk meledak menjadi bintang baru. Kael menyadari bahwa gua yang ia bangun bukanlah kuburan, melainkan rahim tempat ia akan dilahirkan kembali sebagai entitas yang baru.
COLDERRA - The End That Never Comes
https://youtu.be/GVadrvZjwx8
https://www.colderra.com