02/01/2026
Kapitalisme Gaya Baru Itu Bernama Lembaga Pendidikan Islam?
Tahukah Kamu?, INDONESIA – Coba sesekali kamu bertanya kepada guru-guru, cleaning service, security, dan para pekerja lainnya di sebuah lembaga pendidikan Islam yang bangunannya mentereng, biaya masuknya belasan hingga puluhan juta, SPP-nya jutaan perbulan, dan muridnya ratusan bahkan ribuan... Berapa gaji mereka perbulan? Jawabannya mungkin akan membuatmu terdiam.
- Bangunan Menjulang, Penopang Keropos.
Di balik kemegahan fisik sekolah yang fasilitasnya sekelas hotel itu, tersimpan rapuhnya kondisi ekonomi mereka yang bekerja di dalamnya. Yayasan seringkali lebih sibuk mempercantik gedung daripada memikirkan dapur pekerjanya. Bangunan sekolah ditinggikan sampai ke langit, namun penopang utamanya "para guru dan staf" dibiarkan rapuh dan keropos karena kesejahteraan yang diabaikan. Mereka "dipaksa" tampil necis demi citra sekolah, padahal isi dompetnya menjerit.
- Tidak Adanya Pengawasan.
Kenapa ketidakadilan ini bisa langgeng bertahun-tahun? Karena mayoritas lembaga pendidikan ini seolah menjadi "negara dalam negara" yang tak tersentuh radar pengawasan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Tidak ada yang mengecek apakah upah mereka layak atau jam kerja mereka manusiawi. Lebih parahnya lagi, tidak ada serikat guru atau serikat pekerja di dalamnya yang berfungsi sebagai "tangan pertama" penjaga keadilan. Posisi tawar mereka lemah; jika protes sedikit saja, ancamannya langsung pemecatan atau dianggap pembangkang.
- Jebakan Dalih "Ikhlas" dan "Ibadah".
Ketika para pendidik ini mulai merasa tercekik kebutuhan, yayasan seringkali mengeluarkan senjata pamungkasnya: Dalih "ikhlas" dan "ladang pahala". Kata-kata suci dijadikan tameng untuk menutupi ketidakadilan upah. Bandingkan dengan pabrik yang sering kita hujat sebagai simbol kapitalisme; di sana seorang OB bisa bawa pulang gaji UMR karena sistemnya jelas. Di sini? Gelar sarjana seringkali dihargai jauh di bawah standar layak hidup, hanya karena label "pengabdian" yang dimanipulasi.
Source : IG .km