20/10/2026
Kemarau Panjang Sebabkan Stok Terbatas, Harga Rica di Manado Sentuh Rp 200 Ribu per Kilogram
Harga cabai rawit (rica) di Pasar Bersehati, Kota Manado, pusat perdagangan tradisional terbesar di Sulawesi Utara, melambung tinggi hingga menyentuh angka fantastis Rp200 ribu per kilogram, Selasa (20/10/2026).
Pemicu utamanya tak lain adalah surutnya pasokan akibat kemarau panjang El Nino yang merusak panen lokal, sementara bantuan komoditas dari pemerintah cepat ludes diserap pasar. Minimnya kiriman dari daerah penyokong seperti Gorontalo dan Makassar membuat para pedagang di sisi Sungai Jengki bawah Jembatan Soekarno tersebut terpaksa menyandarkan jualan pada sisa stok lama untuk memenuhi kebutuhan harian Sulut yang mencapai 17 hingga 18 ton per hari.
"Mamma Mia, rica so lebih mahal dari beras. Pasien pelanggan Tinutuan kalau makan wajib pakai dabu-dabu. Saya dilema, terpaksa beli cuma setengah kilo dan kurangi sedikit takaran sambal supaya modal tidak tekor," keluh Yenni, pemilik warung makan di kawasan Kampus Unsrat Manado.
Yasin Gani, pedagang distributor rica mengungkapkan, sebagian besar kebutuhan di Sulawesi Utara dipasok dari luar daerah. Katanya, kebutuhan rata-rata rica di Sulut 17-18 ton setiap hari. Produksi lokal hanya bisa memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan. "Selebihnya dari Gorontalo, Makassar, bahkan Jawa," ujar Gani belum lama ini. Ia mengungkapkan, untuk Pasar Bersehati saja, kebutuhan rica setiap hari bisa hingga 8 ton. Sedangkan Pasar Pinasungkulan Karombasan mencapai 800 kg per hari. "Kalau Natal, Lebaran bisa dua kali lipat," kata Gani. Menurutnya, pasokan rica berkurang karena Kemarau dan El Nino. "Rica dari Gorontalo berkurang. Sebagian besar dari Makassar," ujar Gani.
Dengan ketergantungan pasokan luar daerah yang kian mencekik di tengah krisis iklim, kenaikan harga ekstrem ini diperkirakan masih akan terus menekan para pelaku usaha kuliner dan rumah tangga di Kota Manado.