11/08/2026
DIA HANYA INGIN PERJALANAN SELAMAT… TAPI NYAW4NYA JUSTru BERAKHIR TR4GIS
Kisah tragis yang menimpa Paramita Titania Angelica atau Mita akhirnya mulai terungkap. Dalam konferensi pers di Mapolres Wajo hari ini, polisi mengungkap kronologi p3mbunuh4n Mita yang diduga dilakukan oleh seorang sopir travel.
Ironisnya, menurut keterangan polisi, motif yang diungkap p3laku adalah sakit hati. P3laku mengaku tersinggung dengan perkataan korban yang dianggap merendahkan dirinya sebagai seorang sopir.
Namun, persoalan perkataan berujung pada tindakan yang begitu m3ngerik4n.
📌 KRONOLOGI TRAGIS
Pada 22 Juli 2024, Mita berangkat menggunakan mobil travel Toyota Avanza hitam dari Kecamatan Majauleng, Wajo, menuju Morowali, Sulawesi Tengah.
Saat perjalanan, hanya ada k0rb4n dan pelaku di dalam kendaraan.
Menurut keterangan Kapolres Wajo AKBP Douglas Mahendrajaya, p3laku kemudian menganiay4 Mita dengan m3nghantamkan kunci roda mobil sebanyak satu kali ke bagian belakang leher korban hingga k0rb4n meninggal dunia.
J4sad Mita kemudian dibuang ke dalam jurang dengan kedalaman sekitar 60 meter di wilayah Kolonodale/Morowali.
Sementara kepada keluarga k0rb4n, pelaku disebut memberikan keterangan palsu, dengan mengatakan bahwa Mita telah turun dengan selamat di Morowali dan dijemput oleh temannya.
Keluarga pun harus menanggung penantian dan ketidakpastian yang panjang.
PELARIAN SELAMA DUA TAHUN
Usai kej4dian, p3l4ku berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran aparat.
Bahkan, menurut keterangan polisi, p3l4ku sempat bersembunyi di kawasan hutan Papua.
Hingga akhirnya, pelarian tersebut berakhir. Tim Resmob berhasil melacak dan menangkap p3laku di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat.
SOAL PERKATAAN “SOPIR JELEK”
Dalam konferensi pers, muncul keterangan mengenai perkataan korb4n yang disebut membuat pelaku sakit hati.
Namun, berdasarkan informasi yang beredar, pesan yang dikirim Mita disebut berbunyi:
“Na pakenaika ini sopir.”
Karena itu, publik tentu berharap seluruh fakta dalam kasus ini dapat dibuka secara terang melalui proses hukum, termasuk memastikan konteks percakapan dan motif sebenarnya berdasarkan bukti yang dimiliki penyidik.
Yang jelas, tidak ada perkataan yang seharusnya dibalas dengan menghilangkan nyawa seseorang.
Satu ny4wa telah pergi.
Satu keluarga kehilangan orang yang mereka cintai.
Dan uang puluhan juta yang seharusnya menjadi milik korb4n ikut dikuras setelah dirinya m3ningg4l dunia.
Mita pergi bukan karena takdir perjalanan semata, tetapi karena diduga menjadi k0rb4n tindakan keji seseorang yang dipercaya mengantarnya sampai tujuan.
Semoga keluarga Mita diberikan kekuatan dan ketabahan.
Dan semoga proses hukum berjalan seadil-adilnya sehingga p3laku mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Al-Fatihah untuk Mita. 🥀
berat Facebook Facebook for Creators Meta