Sulut Times

01/05/2020

PEMIMPIN RENDAH HATI DAN PEDULI ...

KUNJUNGI WARGA TERDAMPAK COVID-19 ...

PRESIDEN LUAR BIASA ...

SPANISH INFLUENZA = COVID-19  ...??? Ternyata pandemic yang kita hadapi sekarang ini pernah terjadi di tahun 1918-1920 t...
01/05/2020

SPANISH INFLUENZA = COVID-19 ...???

Ternyata pandemic yang kita hadapi sekarang ini pernah terjadi di tahun 1918-1920 tepatnya dari bulan Januari 1918 - December 1920 (info dari sumber artikel). Total keseluruhan korban yang terinfeksi pada saat itu adalah 500 juta orang (hampir seperempat dari populsi dunia pada saat itu) termasuk korban yang meninggal diperkirakan sekitar 17 jt - 50 jt atau bahkan 100 jt orang dari seluruh dunia.

Jika sekarang nama global pandemic yang kita hadapi adalah Corona Virus Disase 2019 (COVID-19) maka di tahun 1918 nama global pandemic mematikan tersebut adalah Spanish Influenza, sejenis flu yang amat sangat mematikan sehingga membuat semua sekolah, kantor, dan pusat keramaian ditutup, sama persis dengan apa yang terjadi saat ini.

Pada waktu itu, hampir seluruh belahan dunia terpapar oleh pandemic Spanish Influenza ini, sehingga menyebebkan seluruh warga dunia harus memakai masker.

Disalah satu foto dibawah ini ada tulisan 'WEAR A MASK OR GO TO JAIL' (GUNAKAN MASKER ATAU MASUK PENJARA, red) satu kalimat ini menjelaskan tentang arti situasi dan kondisi pada saat itu yang sama persis dengan apa yang dunia alami sekarang ini.

Mari kita sama-sama menjaga diri, menjaga keluarga agar tetap terhindar dari COVID-19 dengan mengurangi aktifitas diluar rumah, hidup sehat, berolahraga, dan tetap mengenakan APD (Alat Pelindung Diri).***

Bersama-sama kita perangi COVID-19 agar kita bisa kembali bebas beraktifitas dan bercengkrama diluar sana seperti sedia kala.-

(DirumahAja
fightCOVID19)

Mujizat Ekaristi.-
05/02/2020

Mujizat Ekaristi.-

MARI MAWAS DIRITerjadinya GEMPA dengan menggoyangkan beberapa daerah, apakah kita masih berkeras hati menunjukkan kepada...
15/11/2019

MARI MAWAS DIRI

Terjadinya GEMPA dengan menggoyangkan beberapa daerah, apakah kita masih berkeras hati menunjukkan kepada DUNIA, DIRI KITA PALING BENAR ?

HARTA KEKAYAAN yang kita cari bertahun tahun, warisan yang kita dapatkan dari orang tua, itu tidak menjamin KESELAMATAN kita.
Justru dengan adanya semua itu membuat hidup kita semakin takut KEHILANGAN.

Marilah kita renungkan lebih dalam lagi... 😔
Apa yang telah kita perbuat terhadap SESAMA?
Menyakiti, Mengecewakan, Menghina, Memfitnah, Menyudutkan mereka ?

Sadarkah kita bahwa mereka Menangis, Merasa sakit, Hancur, Kecewa.😭

INGAT ... !!!
Di saat DUNIA bergoncang, di saat itulah PEMBALASAN TUHAN tidak dapat di hindari.
Dan beribu ribu KATA MAAF tidak ada lagi ARTINYA.😢😔

(seskararung)

PERINGATAN TSUNAMI  Dini Tsunami di MALUT,SULUT, Gempa Mag:7.4, 14-Nov-19 23:17:41WIB, Lok:1.63LU,126.40BT,Kdlmn:10Km  h...
14/11/2019

PERINGATAN TSUNAMI

Dini Tsunami di MALUT,SULUT, Gempa Mag:7.4, 14-Nov-19 23:17:41WIB, Lok:1.63LU,126.40BT,Kdlmn:10Km https://t.co/TyYq5gS8AO

PRAY FOR CHILEMohon kebaikan hati Romo Bapak Ibu Rekan-rekan untuk berdoa (Rosario / Koronka / lainnya) untuk gereja dan...
13/11/2019

PRAY FOR CHILE

Mohon kebaikan hati Romo Bapak Ibu Rekan-rekan untuk berdoa (Rosario / Koronka / lainnya) untuk gereja dan umat Katolik di negara Chile.

Semalam di Chile gereja-gereja Katolik di jarah, patung-patung dihina, gereja di bakar.

Foto dan video dikirim oleh Pastor dari Indonesia yang jadi misionaris di Chile.***

(faciaundap)

RSUD TULUNGAGUNG JADI RS TERBAIK DI DUNIASelasa, 12/11/2019 10:03Nama Indonesia kembali mendapatkan perhatian dunia. Rum...
12/11/2019

RSUD TULUNGAGUNG JADI RS TERBAIK DI DUNIA

Selasa, 12/11/2019 10:03

Nama Indonesia kembali mendapatkan perhatian dunia. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Iskak Tulungagung, Jawa Timur, didapuk sebagai salah satu rumah sakit terbaik di dunia dalam hal penyelenggaraan layanan publik.

Mengutip Antara pada Selasa (12/11), kabar tersebut dikonfirmasi oleh Humas RSUD dr Iskak, Mochammad Rifai. RSUD menerima penghargaan Gold Award sebagai rumah sakit terbaik untuk kategori 'IHF/Bionexo Excellence Award for Corporate Social Responsibility'.

Anugerah itu diumumkan dalam forum International Hospital Federation Congress and Award ke-43 di Oman, Uni Emirat Arab, Jumat (8/11) waktu setempat.

"Ini merupakan pencapaian luar biasa dan sangat membanggakan bagi RSUD dr Iskak untuk menuju cita-cita rumah sakit yang 'go international'," ujar dr Supriyanto dalam sambutannya.

RSUD dr Iskak Tulungagung mengalahkan lima rumah sakit di dunia lainnya. Mengutip laman resmi IHF, beberapa di antaranya adalah Aster DM Healthcare dan Dubai Health Authority (UEA), Auna (Peru), KPJ Pasir Gudang Specialist (Malaysia), dan Manilla Doctors Hospital (Filipina).

Inovasi RSUD dr Iskak dalam bidang manajemen penyelenggaraan layanan publik menjadi salah satu poin utama yang diperhatikan tim penilai.

Perpaduan 'new concept management hospital' dengan program Public Service Center (PSC) mendapatkan apresiasi yang baik. Perpaduan ini juga membuat RSUD dr Iskak Tulungagung menjadi salah satu rumah sakit pilihan masyarakat dengan indeks kepuasan sebesar 83,05 pada 2018 lalu.***

(ant/asr/cnnindonesia)

SERBA ADA DI SAMARINDASaya video kamar VIP istri saya. Saya kirimkan ke teman saya. Yang di Singapura. Juga yang di Tion...
12/11/2019

SERBA ADA DI SAMARINDA

Saya video kamar VIP istri saya. Saya kirimkan ke teman saya. Yang di Singapura. Juga yang di Tiongkok. "Benarkah itu rumah sakit di Samarinda?,'' ujar mereka.

Keduanya pernah ke Samarinda. Hampir sepuluh tahun lalu. Saat Samarinda masih gelap sering mati lampu.

''Kelihatannya lebih bagus dari kamar Anda di RS Singapura itu,'' ujar teman saya yang Singapura. Dalam bahasa Inggris.

''Hahaha...lebih bagus dari kamar Anda di lantai 10 RS Tianjin ...'' komentar teman Tiongkok saya. Dalam bahasa Mandarin.

''Padahal tarifnya hanya 25 persennya,'' jawab saya. Dengan kepala membesar.

Maka tidak menyesal saya membatalkan ini membawa istri ke Singapura. Meski sudah terlanjur bikin janji dengan dokter di sana.

Tentu dunia kedokteran tidak boleh hanya adu penampilan fisiknya. Kualitas layanannya ikut menentukan. Juga peralatannya. Dan yang utama kualitas medikalnya.

Saya tentu tidak ingin memperjudikan istri saya. Sekedar untuk kebanggaan kampung halaman. Begitu tiba di RS Wahab Syachrani ini saya kelilingi fasilitasnya. Saya kuat-kuatkan kaki saya. Rumah sakit ini tanahnya 33 ha.

Ternyata memang jauh di atas bayangan saya kamar operasinya 26! Rumah sakit di daerah yang dulu begitu terpencil punya OK begitu banyaknya. Dengan AC sentral.

Sudah mampu p**a melakukan operasi jantung tiap hari. Punya MRI. Punya CT scan yang 126 slice. Coba tanya di kota Anda siapa yang punya 126 slice. Masih ada dua lagi yang di bawah itu.

Untuk kanker pun sudah punya petscan. Hanya ada empat rumah sakit di Indonesia yang memiliki petscan. Kota sebesar Surabaya pun belum punya. Bahkan belum ada rencana punya. Baru sebatas ingin punya.

Dengan petscan itu benih kanker sekecil 2 mm pun sudah bisa dideteksi. Sedangkan untuk terapinya jangan kaget: sudah punya radio nuklir. Pasien yang terkena kanker teroid diterapi radio nuklir. Lalu dimasukkan ruang isolasi selama tiga hari.

Ruang ini sangat khusus: terisolasi dari radiasi nuklir. Pembuatan ruangnya harus atas pengawasan Bapeten: badan yang bertanggung jawab untuk keamanan nuklir.

Penggunaannya juga harus seijin Bapeten. RS Wahab Syachrani Samarinda ini punya enam ruang isolasi seperti itu. Enam. Edan.

Saya pun mantap: menyerahkan istri saya pada tim dokter di kampung kelahiran istri saya itu. Yang sudah 40 tahun ditinggalkannya itu.

Saya pun berdiskusi dengan tim dokternya: dokter Boyke Soebhali, dokter Kuntjoro Yakti, dokter Satria Sewu, dokter Moh Furqon dan dokter Teddy Ferdinand Indrasutanto. Juga melihat alat yang bernama FURS: pencari posisi batu ginjal yang bisa fleksibel. Bisa belok-belok mencari di slempitan mana batu itu berada.

Dokter Rachim Dinata, sang kepala rumah sakit, hadir: memperkenalkan dokter-dokter itu. Lalu menyilahkan kami diskusi sendiri. Rachim Dinatalah di balik semua prestasi itu. Ia dokter ahli bedah. Lulusan Universitas Padjadjaran Bandung. Kini dokter Rachim telah membalik dunia dari kuno ke modern.

Tidak hanya alat dan fisiknya. Tapi juga sistem dan SDM-nya.

Penghasilan dokter di rumah sakit ini empat kali lipat dari penghasilan dokter di rumah sakit kota saya. Dokter Rachim menyebutkan angka-angkanya. Tapi biarlah imajinasi menuliskan angkanya sendiri.

Dokter Rachim menerapkan sistem prestasi. Di atas hirarkhi. Di atas senioritas. Di atas penampilan fisik.

Dokter Boyke misalnya lebih bertampang rocker daripada dokter. Rambutnya dibiarkan gondrong. Celananya jean. Bawaannya ransel. Mainannya gitar.

Suatu saat pasien yang sok terdidik bertanya padanya apakah ia mahasiswa yang lagi magang. Si pasien terperanjat ketika akhirnya tahu yang ditanya itu adalah dokter spesialis urologi.

''Ada empat dokter yang gondrong di sini,'' ujar dr Nurliana Andriati Noor. ''Yang penting kegondrongannya tidak mengganggu kerja dokternya,'' tambah dokter Nana.

Di akhir diskusi saya putuskan: saya serahkan istri saya kepada tim dokter. Lakukan apa pun yang terbaik menurut dokter. Saya tandatangani dua pernyataan setuju dibius total dan setuju dilakukan operasi. Jadwal ditetapkan keesokan harinya. Jam 9 pagi.

Istri saya pernah operasi syaraf tulang belakang. Akibat HNP, 20 tahun lalu. Saya diajak Prof Hafidz Surabaya untuk ikut masuk ruang operasi. Tiga tahun lalu istri saya operasi ganti lutut. Saya diajak dokter Dwikora Surabaya ikut masuk ruang operasi. Kemarin, saya diajak dokter Boyke masuk ruang operasi.

Saya pun bisa melihat bagaimana FURS masuk ke ginjal. Lalu dibelok-belokkan. Memasuki ruang-ruang yang ada di dalam ginjal. Mencari di mana batu itu sembunyi.

Ketemu satu batu. Lalu FURS itu diajak menjelajah ruang-ruang lain dalam ginjal. Ketemu: satu lagi. Lebih besar. Total dua batu.

Yang satu batu lagi sudah dikeluarkan di Surabaya dua minggu lalu. Yang posisinya sudah di saluran kencing. Yang sudah bernanah. Yang menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh. Yang membuat istri saya koma. Yang memaksa saya mendadak p**ang dari Amerika.

Dokter Boyke terus menggerakkan alatnya. Diiringi lagu-lagu barat. Yang ia setel dari stock yang ada di HP-nya.

Anak 'wedok' saya, Isna Fitriana, mendekatkan mulutnya ke telinga saya. ''Wow... kegemaran dokter Boyke rupanya sama dengan saya lagu-lagu Bon Jovi,'' bisik anak wedok saya itu.

Ternyata dokter Boyke juga seperti anak saya itu gemar bersepeda. Bahkan sepedanya sama: merk Wdnsdy. Baca: Wednesday. Yang diproduksi oleh Azrul Ananda. Anak sulung saya.

Oleh dokter Boyke batu yang lebih kecil itu diusik. Dipindahkan dari tempatnya. Dijadikan satu dengan batu yang lebih besar. Saya pikir mau dihancurkan bersamaan. Ternyata tidak. Hanya dibandingkan ukurannya. Lalu batu yang lebih kecil dimasukkan jaring. Yang dipasang di ujung alatnya. Jaring ditarik.

Ternyata ukuran batu itu lebih kecil dari saluran air kencing. Maka batu pun dikeluarkan. Tidak dihancurkan.

Yang besar pun kemudian dijaring. Dicoba ditarik. Ternyata lebih besar dari saluran kencing. Maka batu itu dikembalikan lagi ke tempat asalnya akan ditembak dengan laser.

Saya pikir batu itu akan langsung hancur saat dilaser. Ternyata laser itu hanya mencuil-cuil batu. Maka lasernya terus ditembakkan. Ratusan cuilan terlepas dari batu. Lama-lama batunya tinggal secuil. Menembaknya kian sulit. Cuilan terakhir itu lari-lari. Terbawa arus air yang disemprotkan untuk mendinginkan bagian ginjal di sekitar laser yang sangat panas.

Selesai. Satu jam persis.

Cuilan-cuilan batu itu ukurannya sebutir pasir. Akan keluar bersama air kencing.
Satu jam kemudian istri saya sudah kembali di kamar yang lebih baik dari lantai 10 RS Tianjin tadi.

''Saya ingin lihat batunya,'' ujar istri saya. Maka saya serahkan batu yang tidak dihancurkan tadi. Juga satu cuilan batu sebesar pasir hasil tembakan laser.

Istri saya memang sempat berharap dokter Boyke kecele tidak menemukan batunya. Mengapa? Dua hari sebelumnya istri saya merebus kelapa hijau muda. Lalu meminum airnya. Keesokan harinya dia rebus lagi kelapa hijau muda. Diminum lagi.

Dengan cara itu dia harapkan batu bisa keluar sendiri. Seperti yang banyak dishare di media sosial.

Ternyata fakultas kedokteran tidak bisa digantikan kelapa hijau rebus.(dis)

http://disway.id/serba-ada-di-samarinda/

Sabtu 07 Juli 2018

✍ oleh: Dahlan Iskan

Address

Manado
95128

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sulut Times posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sulut Times:

Share