20/09/2026
Ada satu momen menarik ketika KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pidato di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam perayaan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo.
Pidato itu tidak hanya berbicara tentang perjalanan Gontor selama satu abad. Hasan juga menyelipkan sejarah, pesan pendidikan, perjuangan umat, bahkan humor yang beberapa kali membuat suasana acara pecah oleh tawa.
Salah satu yang menarik adalah ketika Hasan menjelaskan tentang nama Gontor. Dengan gaya khasnya, ia mengaitkannya dengan istilah “nggon kotor”, sebuah gambaran mengenai kondisi tempat tersebut pada masa lalu yang disebut memiliki berbagai persoalan sosial dan keagamaan.
Tetapi satu abad kemudian, tempat itu berubah. Dari sebuah wilayah yang dahulu memiliki banyak persoalan, Gontor berkembang menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan banyak generasi dan memberikan pengaruh luas.
Hasan juga mengingat tiga tokoh pendiri Gontor: KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi. Menurutnya, para pendiri bukan hanya mewariskan bangunan atau lembaga, tetapi juga ide, nilai, sistem pendidikan, dan kecintaan kepada pondok yang mereka wakafkan untuk umat dan bangsa.
Ia kemudian membawa pembicaraan pada satu hal yang sering terlupakan: sejarah.
Pesan “Jas Merah” dari B**g Karno kembali disebut. Tetapi bagi Hasan, memahami sejarah saja belum cukup. Pendidikan tidak boleh berhenti pada kegiatan menghafal apa yang sudah terjadi. Pendidikan harus melahirkan generasi yang mampu ikut menciptakan sejarah dan membangun peradaban.
Menariknya, ketika berbicara di hadapan Prabowo, Hasan juga menyelipkan guyonan soal penantiannya terhadap kedatangan sang presiden.
Ia mengaku sudah lama memikirkan bagaimana jika Prabowo datang ke Gontor. Bahkan, ia bercanda, kalau Prabowo tidak datang, dirinya bisa bingung harus menaruh muka di mana.
Dari situlah muncul permainan kata tentang “cari muka”. Hasan lalu mengaitkannya dengan berbagai hal yang sering dicari manusia ketika belum memilikinya: ijazah, nama, uang, jabatan, sampai muka.
Guyonan itu langsung disambut tawa dan tepuk tangan para tamu.
Namun di balik humor tersebut, Hasan kembali membawa pesan yang lebih serius. Gontor, katanya, merupakan tempat belajar bagi santri dari berbagai latar belakang organisasi Islam.
Santri dari lingkungan NU maupun Muhammadiyah dapat belajar bersama di Gontor dan kemudian kembali ke masyarakat tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Bahkan ketika menyinggung keluarganya sendiri, Hasan kembali membuat hadirin tertawa dengan celetukan tentang latar belakang dirinya dan para menantunya.
Pesannya sebenarnya sederhana: perbedaan latar belakang tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh.
Seratus tahun perjalanan Gontor akhirnya bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah pesantren. Ini tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan mempertahankan nilai, melahirkan generasi, dan terus mencari cara agar keberadaannya tetap bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Dan di hadapan Prabowo, KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikannya dengan cara yang khas: serius ketika membahas sejarah dan pendidikan, tetapi tetap berani menyelipkan humor agar pesan yang disampaikan tidak terasa kaku.