10/12/2025
PERINGATAN 10 DESEMBER:
Lawan Kejahatan HAM Kelas Borjuis
“Rasa simpati manusia atas keadilan dan hak untuk memiliki kesempatan berkembang, untuk dipuaskan, akan semakin luas dan tumbuh. Bahkan sampai hari ini rasa keadilan dan permainan yang adil masih hidup di hati manusia, terlepas dari berabad-abad penindasan dan penyimpangan.” (Revolusioner Amerika)
Tanggal 10 Desember datang mengingatkan kita akan kejahatan berdarah-darah dalam sistem masyarakat kapitalis. Sebuah kekerasan reaksioner raksasa yang dilancarkan oleh algojo-algojo terbaik dari kelas borjuis. Pada peringatan Hari HAM Internasional inilah kita mesti mengakui bahwa kita tumbuh dewasa dalam atmosfer kekuasaan dan kekerasan negara borjuis: kepatuhan, keharusan, ketakutan dan hukuman; kita menghirupnya sepanjang hidup. Kita tenggelam terlalu dalam pada semangat kekerasan reaksioner kelas yang berkuasa. Gerombolan penguasa mengendalikan hidup kita sejak kita masih di buaian hingga di kuburan dengan begitu laknatnya. Inilah kejahatan yang paling keji dan hina. Perbuatan terjahat dan menjijikan di muka bumi. Kejahatan kapitalisme, yang mencabut massa manusia dari udara dan cahaya, untuk membungkam perempuan dan laki-laki pekerja, mengikat lengan dan kaki bangsa-bangsa kecil di seantero dunia, mengambil semua kegembiraan hidup bayi-bayi yang tak-berdosa, dan tidak menyisakan apapun kecuali penderitaan untuk seluruh kaum terhisap dan tertindas yang ada. Ini adalah tindakan kejahatan borjuis yang sempurna!
Dalam Musim Menjagal (2018), Geofrey B. Robinson menceritakan kejahatan HAM dengan sangat pilu. Malapetaka 1965 baginya telah melumat berlimpah korban jiwa dengan begitu terancana. Pembantaian berlangsung dari Aceh-NTT: Sepanjang September-November 1965, mula bukanya pembunuhan massal dilangsungkan di Aceh—hasilnya 10.000 warga binasa; lalu awal November beranjak ke Medan—akibatnya 40.000 buruh perkebunan dan pertanian merenggang nyawa; kemudian penjagalan memasuki Jawa Tengah pada minggu ketiga bulan Oktober—140.000 meninggal dunia; dan memasuki Desember pembantaian dilanjutkan ke Jawa Timur, Bali, dan NTT—masing-masing jumlah korban yang dibunuh di setiap daerah mencapai 180.000, 80.000, dan 60.000 jiwa. Kala itu Soeharto menutup rapat-rapat ruang politik bagi kader-kader dan simpatisan PKI: elit-elit partai yang pernah bekerja sama dengannya ditikam dari belakang dan orang-orang yang dianggap mendukung atau berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan PKI secara serampangan ikut diisolir maupun dilenyapkan. Label PKI kemudian tak sekadar diletakkan pada partai melainkan juga manusia. Semakin lama Komunisme kian disetankan oleh rezim. Sampai sekarang isu PKI diadopsi sebagai alat yang digunakan pemerintahan borjuis dalam membodohi dan memecah-belah persatuan di antara laki-laki dan perempuan terhisap, tertindas, dan miskin.
Dengan pendekatan keamanan-militer, kelas borjuasi terus-menerus menggunakan ABRI dalam mengawal pengerukan SDA Papua sekaligus menumpas gerakan OPM yang mencoba menghalanginya. Operasi militernya dimulai dari 1961 sampai hari ini. Sejak itulah rezim borjuasi mengerahkan kekuatan tempurnya untuk memusnahkan orang-orang asli Papua. Sepanjang beroperasinya militer dalam mengamankan modal di Papua, Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari Jan Warinussy memperkirakan: selama 1966-98, jumlah korbannya hampir 100.000 jiwa. Sementara dalam Mencari Jalang Tengah: Otonomi Khusus Provinsi Papua, Agus Sumule melacak agak rinci sebagian kasus pelanggaran HAM Berat TNI-Polri: pada 1977 telah dibunuh 126 orang di Asologaiman dan 148 di Wasi, lalu 1979 sebanyak 201 penduduk dibunuh lagi di Kelila-Jayawijaya, dan sepanjang 1980-1995 ada 13 warga hilang dan 80 wanita diperkosa di pelbagai wilayah Papua. Bahkan, sejak pelaksanaan operasi militer Papua petaka mendadak menerpa lingkungan dan massa manusianya. Memasuki 2020-September 2021, Indonesia telah melakukan pendropan pasukan TNI-Polri organik dan non-organik sebanyak 39 kali. Kini lebih dari 50.000 aparat represifnya telah membanjir di wilayah kekerasan dan eksploitasi. Walhasil, korban kemudian jatuh menyeringai. Dalam Catatan Kritis KontraS (2021) dilaporkan: ditemukan sebanyak 391 kasus kekerasan di Papua—yang meliputi: penembakan, penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang, pembubaran paksa, intimidasi serta tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh TNI-Polri. Sementara sampai awal Januari 2022, penyisiran dan perang yang dilakukan aparatus represif negara mengakibatkan 60.000 OAP mengungsi dan 300-an lainnya tewas baik karena kelaparan, penyakit, maupun kekerasan TNI-Polri.
Kekuasaan punya tentara, polisi, penjara, dan beragam aturan dari parlemen (partai-partai borjuis) yang bisa digunakan untuk memerangi, meringkus, menghukum dan membantai kita. Dalam Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat (2014), Lenin berkata: ‘kita diperintahkan (dan negara kita “dibentuk”) oleh para birokrat borjuis, oleh para anggota parlemen borjuis, oleh para hakim borjuis—ini adalah kebenaran yang sederhana, jelas, dan tidak dapat diganggu gugat, sebuah kebenaran yang dikenal oleh puluhan dan ratusan juta rakyat dari kelas-kelas tertindas, dari pengalaman mereka sendiri, pengalaman yang mereka rasakan dan jalankan setiap hari.’ Sepanjang sejarah mereka telah menjadi musuh kelas pekerja, musuh kaum perempuan, musuh bangsa tertindas, dan musuh seluruh massa rakyat yang terhisap dan tertindas di seluruh dunia. Di tangan mereka segala jenis pasal dan aturan terjatuh dalam kubangan empirisme kasar yang membuat pelaksanaan aturan berlumuran prosedur, serta bisa digunakan untuk menindas seluruh elemen yang berbahaya bagi kelas penguasa. Itulah yang membuat hukum teramat sukar menyeret koruptor dan bandar besar narkoba tapi gampang sekali memenjarakan orang-orang miskin, korban rasisme dan seksisme. Sekarang pertanyaanya: menyaksikan itu semua apakah kita cuma akan terus menjadi penonton dan menerima keadaan yang mengerikan ini? Bukankah kalian muak melihat kebuasan, kemerosotan, dan ketidakadilan menyembul di sana-sini? Sampai kapan membiarkan para bajingan menggusur dan menganiaya rakyat miskin kebanyakan, mengeksploitasi kelas pekerja, menjajah bangsa lainnya, melecehkan kaum perempuan, dan melilit angkatan muda dalam ketidakpastian masa depan? Adakah jaminan kehidupan dalam kepungan tindakan brutal, keji dan lancung? Tidak adakah keinginanmu menyalakan perubahan; atau bahkan membakar, meledakan dan menghancurkan hal-hal yang jauh dari perasaan-perasaan kemanusian dan keadilan?
"[Mereka] dapat membakar kebun bunga, tetapi [mereka] tidak dapat mencegah datangnya musim semi.” (Pepatah Afghanistan)
Lawan Kejahatan Negara dan Kelas Borjuis!
Lawan Imperialisme, Militerisme, Rasisme, Seksisme!
Adili Semua Penjahat HAM Masa Lalu dan Hari Ini!
Berikan HMNS bagi Bangsa West Papua!
Hancurkan Kapitalisme dengan Revolusi Proletariat!
Bangun Organisasi Revolusioner Sekarang Juga!