27/07/2021
Diteruskan dari Rakyat Miskin dan Tertindas Mataram
Aksi akan berlangsung besok: Rabu, 28 Juli 2021.
Alerta! Alerta! Rakyat Miskin dan Mahasiswa NTB Memanggil
“…Oh! Andai aku bisa, dan bila aku dapat mencapai telinga bangsa ini. Aku akan pada hari ini, menumpahkan olok-olok yang menggigit, mempersalahkan dengan sekuat-kuatnya, mengucapkan sarkasme yang membuat malu, dan teguran yang tegas. Karena bukan cahaya yang diperlukan, namun api; bukan hujan rintik-rintik, namun guntur. Kita memerlukan badai, angin topan, dan gempa bumi. Perasaan bangsa ini harus digerakkan; kepekaan bangsa harus dibangkitkan; kepantasan bangsa harus diusik; kemunafikkan bangsa harus disingkap….” (Mumia Abu Jamal; Memberangus Keadilan)
ATAS NAMA KAUM MISKIN DAN TERTINDAS; SALAM PEMBEBASAN NASIONAL!
Sengaja kami membuka tulisan dengan tabik seperti itu: salam yang bukan sekedar memberitahu di mana posisi dan keberpihakan kami, melainkan p**a menegaskan apa yang diperjuangkan kini. Tumbuh di bawah sistem yang mengejar laba sebesar-besarnya yang ditambah dengan mewabahnya corona sebagai pandemi; kami menginsyafi bagaimana mayoritas penduduk negeri ini tersiksa dan menyeringai: buruh dirumahkan atau di-PHK; masyarakat adat, petani dan nelayan dirampas atau dicemari lahan sumber penghidupannya; pedagang kecil, pemulung, dan pengemis digusur dan dirazia; perempuan dan kelompok minoritas dilecehkan dan didikriminasi; pelajar, mahasiswa, dan pemuda dibebani ongkos pelajaran tinggi-tinggi; dan bangsa tertindas terus-menerus dieksploitasi dan direpresi di beragam lini.
Dalam lukisan getir itulah kami tidak hanya mengakui posisi sebagai bagian dari kaum yang sedang dimiskinkan dan ditindas. Melainkan p**a menyapa semua korban yang senasib dengan membumbungkan harapan untuk bebas. Hanya pembebasan yang diupayakan bukan melalui perjuangan sendiri-sendiri, namun bersama semua rakyat miskin dan tertindas. Kami tidak ingin menjadi pembebas siapa-siapa di negeri ini, tapi menyerukan kepada siapa pun yang sedang terbelenggu penindasan untuk bangkit melawan dan membebaskan dirinya sendiri.
Kami yakin: di tengah terjangan corona maka seabrek rakyat miskin dan tertindas pasti berkemampuan melihat dan merasakan bagaimana rapuh dan dekadennya tatanan kapitalisme. Pengejaran untung tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan telah lama menimbulkan musibah. Bahkan dikejarnya keuntungan oleh segelintir kalangan sudah terbukti mengorbankan sebanyak mungkin kelas pekerja di mana-mana. Memang dalam It Was The Virus That Did It, Michael Robert menjelaskan bahwa mewabahnya corona akan mengguncang ekonomi dunia lebih dari apa yang berlangsung sebelumnya:
“Sebelum pandemi ini, ekonomi kapitalis utama di negara maju ataupun berkembang telah melambat hingga berhenti. Beberapa mengalami kontraksi di output nasional dan investasi dan banyak yang berada di tepi jurang. Selain itu profitabilitas kapital rendah dan kondisi keuntungan global paling baik adalah statis. Perdagangan dan investasi global dalam kondisi menurun bukan meningkat. Harga minyak dunia menurun bukan meningkat dan imbas pandemi pertama kali terjadi di rantai suplai bukan di pasar finansial yang tidak stabil. Pandemi ini mengakibatkan gangguan pada produksi, perdagangan dan investasi yang kemudian mengakibatkan pendapatan menurun dan daya beli runtuh. Kita akan melihat resesi besar dalam waktu-waktu ke depan.”
Di sisi lain Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan bahwa setengah dari rakyat-pekerja dunia beresiko mengalami kehilangan lapangan penghidupan. Bahkan lembaga ini telah mencatat ada sekitar 1,6 miliar buruh informal mengalami penurunan 60 persen pendapatan sewaktu Desember 2019-Januari 2020. Sementara akhir 2019 jumlah pop**asi dunia sebesar 7,73 miliar jiwa dengan angka penganggurannya mencapai 604,9 juta jiwa. Lalu sepanjang 2020, jumlah pengangguran baru hampir menyentuh angka 200 juta jiwa. Dan sampai 2022 nanti, ILO bahkan memprediksi jumlah pekerja-pekerja yang diputus kerjanya akan terus bertambah—2020-2022 dapat melebihi 205 juta jiwa.
Hanya berlimpahnya pengangguran itu tidak boleh ditimpahkan kepada corona. Mewabahnya virus justru membuat kita mengerti bagaimana rusaknya sistem ekonomi kapitalisme. Terus diadopsinya teknik-teknik produksi mutakhir bukan sebatas mendorong produktifitas dan efisiensifitas, melainkan p**a meningkatkan eksploitasi terhadap kelas pekerja: melipatgandakan beban kerja atau memperpanjang jam kerja dan mengurangi kesempatan reproduksi tanpa menaikan upah mencabut pesangon, memotong gaji hingga mendorong pemutusan kerja. Kehilangan pekerjaan bukan saja membuat rakyat-pekerja menganggur, tapi lebih-lebih membawa-serta ancaman kematian. Itulah mengapa Organisasi Pangan dan Pertanian PBB sampai memuat laporan mencengangkan: semenjak pandemi corona dan pengangguran merajalela sudah tercatat 260 juta jiwa mengalami lapar mengerikan. Sementara dalam Skenario PBB bahkan memperkirakan bakal muncul 35 negara dengan tumpukan kasus kelaparan di masa depan.
Dengan menghadapi keadaan ini sudah tidak mengkin berharap dari pertolongan kebijaksanaan-kebijksanaan pemerintahan. Karena sudah banyak bukti memperlihatkan bahwa kelas penguasa mendekati kita dengan seabrek kebijakan yang memiskinkan dan menambah onggokan penindasan. Selama pandemi, kami yakin: semua rakyat miskin dan tertindas bukan hanya mengalami pengangguran, kelaparan, dan ancaman kematian karena krisis kapitalisme—melainkan p**a terancam keselamatannya oleh jangkitan wabah dan pengerahan aparatus represif negara. Tiada terbendungnya persebaran wabah tak menandakan kedigdayaan virus, tapi lebih-lebih krisis medis—yang dialami banyak negara kapitalis—dalam menanganinya. Persis yang dijelaskan oleh Rob Wallace lewat Matinya Epidemiolog; Ekspansi Modal dan Asal-Usul Covid-19 (2020):
“Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona Sars-CoV-2, virus sindrom pernafasan akut berat kedua sejak 2002, kini secara resmi menjadi pandemic. Sejak akhir Maret, keseluruhan kota berusaha melindungi tempatnya, dan satu per satu rumah sakit mengalami kemacetan medis karena gelombang pasien yang terus berdatangan…. Kegagalan ini sebenarnya telah terprogram beberapa dasawarsa lalu ketika kepentingan persama dari kesehatan masyarakat secara bersama-sama diabaikan dan dimonetisasi. Sebuah negara yang dikuasai oleh aturan tata epidemiologi yang individual, tepat waktu-tepat guna—benar-benar sebuah kontradiksi—dengan tempat tidur dan peralatan rumah sakit kita yang hampir tidak cukup untuk operasional normal, sehingga tidak mungkin kini untuk mengumpulkan sumber daya yang diperlukan untuk mengatasi pandemi yang muncul dari Tiongkok itu…. Secara sadar maupun tidak, proyeksi yang dihasilkan menetapkan jaminan kesehatan untuk semua orang di tempat kedua, termasuk ribuan orang yang paling rentan yang akan tercabut nyawanya jika suatu negara beralih antara kepentingan pengendalian penyakit dan kepentingan ekonomi.”
Beralihnya pemerintah dari kepentingan pengendalian penyakit menuju ekonomi itulah yang meledakkan krisis medis di tengah wabah. Berdiri di atas lantai kapitalisme, maka banyak negara yang mematut keyakinan pongah: corona merupakan virus biasa dan upaya serius dalam menaggulanginya membuang-buang biaya hingga menurunkan target pertumbuhan ekonomi saja. Inilah mengapa sejak virus menerjang banyak negara yang menganggapnya sebagai persoalann sepele. Daripada memproduksi kebutuhan ventilator dan alat pelindun diri serta memperioritaskan alat-alat medis ke kaum miskin dan tertindas yang rentan terkena corona; kelas penguasa justru mengumpulkan semua sumber daya kekuasaannya untuk melindungi kepemilikannya.
Itulah mengapa rakyat miskin dan tertindas ditelantarkan di tengah-tengah ancaman wabah. Ketimbang melindungi mereka; pemerintah justru menolong pengusaha. Di Amerika, pemerintah menjual surat utang kepada Bank Sentral Eropa yang kemudian mengumumkan program 750 miliar Euro untuk membelinya. Dari modal inilah negara imperialis itu menjamin semua kerugian yang dialami oleh sektor privat: mengalokasikan 4-6 dolar AS bagi kawanan kapitalis dalam bentuk jaminan utang, paket stimulus, dan metode lainnya. Lewat kebijakan inilah kekayaan publik mengalir deras ke tangan investor serta perusahaan-perusahaan swasta. Sementara di Indonesia, hal serupa juga berlangsung begitu rupa: rezim bajingan memandang virus bukan sebagai bahaya besar bagi kaum papa dan lemah, melainkan angin subur dalam bidang perekonomian dan pariwisata: menunda pembayaran pajak pelbagai industri senilai 12 miliar, mengambil pasar produk yang sebelumnya impor dari Tiongkok, hingga menyulap negeri ini jadi tempat wisata bagi turis yang batal ke Cina dengan mengeluarkan 72 miliar untuk menyewa buzzer pariwisata segala.
Sadar kalau negara abai terhadap keselamatan warganya, maka kaum miskin dan tertindas menjadi elemen utama yang tidak percaya terhadap pemerintah. Ketidakpercayaan terhadap kekuasaan meluap ke banyak negara. Saat corona mulai mewabah kelas penguasa soalnya sama sekali tidak memperkuat tenaga dan kebutuhan medis. Bahkan mereka membatasi akses dan arus informasi tentang keberadaan virus. Pembatasan yang dilakukan akhirnya bukan malah mengatasi mewabahnya corona, melainkan menampilkan negara dengan wajah despostis. Pembatasan akan informasi akhirnya menyulut berdarnya rumor dan lahirnya beragam teori konspirasi. Inilah yang membuat banyak orang tidak percaya dengan kebenaran penyakit itu. Dalam Panik; Covid-19 Mengguncang Dunia (2020), Slavoj Zizek menuliskannya begitu:
“…Otoritas Cina semakin sering menggunakan prosedur tertentu: seseorang (seorang aktivis ekologi, seorang mahasiswa Marxis, kepala Interpol, seorang pengkhotbah agama, penerbit Hong Kong, bahkan seorang aktivis film populer) menghilang begitu saja selama beberapa minggu…. [mereka semua berusaha dibungkam karena mengeritik dan memprotes kekuasaan.] Argumen utama yang menentang gagasan bahwa negara harus mengendalikan desas-desus untuk mengendalikan kepanikan adalah bahwa kontrol ini sendiri menyebarkan ketidakpercayaan dan dengan demikian menciptakan lebih banyak teori konspirasi….”
Hanya setelah corona melumpuhkan teritorialnya saja Pemerintah Cina membuka informasi tentang virus dan bekerja keras mengatasinya. Terutama dengan menin gkatkan tenaga dan kebutuhan medis, serta menasionalisasi rumah sakit dan fasilitas-fasilitas swasta untuk pengobatan semua warga. Walau mereka telah berhasil mengatasinya tetapi sampai sekarang Covid-19 kebacut menjalar ke mana-mana. Sampai Maret 2021, Universitas Johns Hopkins mendata: 3 juta lebih warga dunia telah merenggang nyawa. Sementara penanggulangan pandemi terus-menerus diprioritaskan pemerintah bukan dengan pendekatan medis tapi militeris. Pembatasan, pembungkaman, dan aneka ragam kekerasan dipancang sebagai solusi menanggulangi virus. Negara-negara itu sepertinya tidak mau mengambil pelajaran dari Cina: Dengan pendekatan militeristik maka bukan virus yang diberantas melainkan elemen-elemen pro-demokrasi dan rakyat-rakyat yang kritis.
Keterlibatan aparat dalam penanganan corona justru memungkas hak warga untuk bebas. Kajian V-Dem Institute Swedia: sejak 2020 terdapat 48 negara mengendap resiko tinggi akan kemunduran demokrasi, sedangkan 34 beresiko sedang, dan 47 resikonya tergolong rendah. Indikatornya beragam; walau termasuk culasnya peran legislatif, propaganda busuk media borjuis, dan dilemahkannya kemampuan pengawasan terhadap eksekuif pandir—tapi yang utama adalah brutalitas polisi dan tentara. Mungkin itulah mengapa indeks demokrasi di negeri bahkan merosot mendekati 6.0 poin. Di tengah letusan wabah, seabrek negara ini telah mengerahkan aparatus represifnya bukan untuk mengatasi corona, melainkan memberi siksaan terhadap rakyat miskin dan tertindas. Orang-orang papa dan lemah akhirnya menjadi korban utama yang dikontrol, diatur, hingga dibanduli sanksi apa saja. Dengan terus-menerus menggencarkan pembatasan kekuasaan sepertinya tidak menghiraukan apa yang diingatkan Arthur G. Gish:
“Anda tidak dapat membangun apapun dengan senjata. Anda tidak dapat membesarkan anak dengan senjata. Anda tidak dapat merawat orang sakit dengan senjata. Apa yang dapat dilakukan dengan senjata? Senjata jelas tidak dapat memberikan rasa aman maupun perdamaian dan kebebasan. Para tentara itu memiliki senjata, tapi mereka tidak merasa bebas maupun aman.”
Sejak corona menerjang sampai sekarang; negara sudah menerjunkan sebanyak 340 ribu polisi dan tentara. Kini pendekatan-pendekatan otoritarianistik selama pandemi telah meruntuhkan kepercayaan kaum miskin dan tertindas terhadap pemerintah. Rakyat saat wabah bukan malah dipenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dan dijamin hak-haknya, melainkan dibodohi dengan seabrek aturan eksploitatif dan represif yang dikeluarkan kelas penguasa. Hari-hari ini kita dipermainkan kekuasaan dengan beragam kebijakan bermasalah. Terutama Perppu No. 1/2020, Omnibus Law, Otsus Papua Jilid II, UU Minerba, dan pelemahan KPK. Bahkan kini untuk memastikan efektivitas kontrol terhadap warga mereka membuat beragam aturan pembatasan: beragam jenis PSBB hingga aneka ragam PPKM.
Pembatasan-pembatasan sosial ini memangkas banyak aktivitas kaum miskin dan tertindas: pelajar dan mahasiswa tidak diijinkan kuliah offline; rakyat-pekerja dirumahkan tanpa ada jaminan bagi keluarganya beroleh pemenuhan kebutuhan pokok, kesehatan dan pendidikan gratis; dan kerap kali gerakan-gerakan mahasiswa-mahasiswa Papua diteror, diintimidasi, direpresi, hingga dibubarkan paksa dengan acungan senjata. Sementara tidak pernah kebuasan itu menyasar kelas penguasa. Berdiri di atas SE Menperin No.4/2000, Kementerian Perindustrian dengan bangga memberi jaminan kepada pengusaha untuk bebas mengoperasikan pabrik-pabriknya hingga ke daerah-daerah yang sudah diberlakukan PSBB maupun PPKM. Dalam kondisi inilah ketimpangan semakin membumbung. Sampai Desember 2020, angka penduduk miskin di negeri ini mendekati 30 juta jiwa. Sementara jumlah bajingan dengan kekayaan lebih dari 100 juta dolar AS cuma 417 kepala:
Bahkan dalam versi Forbes (2021), dari golongan orang-orang kaya semasa pandemi tercatat p**a sepuluh bangsat terkaya Indonesia: (1) R. Budi Hartono (USD 20,5 miliar); (2) Michael Hartono (USD 19,7 miliar); (3) Prajogo Pangestu (USD 6,5 miliar); (4) Chairul Tanjung USD 4,8 miliar); (5) Tahir dan keluarga (USD 3,5 miliar); (6) Eddy K. Sariatmaja (USD 3 miliar); (7) Jerry Ng (USD 2,5 miliar); (8) Theodore Rachmat (USD 1,7 miliar); (9) Mochtar Riady dan keluarga (USD 1,7 miliar); dan (10) Djoko Susanto (USD 1,7 miliar). Semua mereka adalah pebisnis. Spesies-spesies ini memiliki banyak saham di aneka bisnis: supermarket, perbankan, media dan teknologi, petrokimia, rokok, dan pelbagai usaha yang belum terverifikasi. Di versi Republika—yang dapat disejajarkan dengan sepuluh konglomerat tadi—terdapat p**a orang-orang terkaya lainnya, namun berbisnis di bidang pertambangan dan menjadi dalang kerusakan lingkungan: (1) Pendiri Bayan Resources, Low Tuck Kwong (Rp 35,1 triliun); (2) Pemilik Adargo Energy, Garibaldi Tohir (Rp 23,4 triliun); Pemilik Bumitama Agri, Lim Hariyanto Wijaya Sarwono (Rp 12,8 triliun); (4) Pemilik Persada Kapital Investama, Arini Subianto (Rp 9,3 triliun); dan (5) Pemilik Saratoga Capital, Edwin Soeryajaya (Rp 9,2 triliun).
Menghadapi kenyataan inilah Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Nusa Tenggara Barat (AMR-NTB) memproklamirkan diri akan melancarkan aksi. Besok (28/7), aliansi ini merencanakan digelarnya demonstrasi. Tajuknya jelas sangat demokratis: ‘Bangun Persatuan Gerakan Rakyat, Tolak PPKM, dan Wujudkan Demokrasi Sejati’. Kami sadar bahwa gerakan—yang di mana kami ikut tergabung di dalamnya—itu terbentuk atas dasar keresahan yang serupa terhadap kekuasaan yang selalu menempatkan rakyat sebagai korban. Apalagi situasi lokal kita sekarang persis kesuraman yang kaum miskin dan tertindas di tingkat nasional dan internasional: pembatasan, kemiskinan dan ketimpangan.
Sejak berlangsungnya pandemi, di NTB saja tercatat: 3.114 pekerja dirumahkan, 541 dikurangi jam kerja dan gajinya, dan 598 sudah di-PHK secara sepihak. Sementara sepanjag 2021: jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru saja balik ke NTB mencapai 13.541. Nasib PMI di sini serupa dengan pekerja lainnya: dirumahkan atau diberhenti kerjakan hingga menganggur sementara atau selamanya. Di satukan dengan penduduk-penduduk lainnya, Data BPS NTB mencatat: sampai sekarang terdapat 455.560 jiwa yang menganggur dan terisolir di rumah. Sementara rakyat yang ditemukan bekerja kebanyak yang menjadi pedagang kecil. Hanya selama mewabahnya corona keberadaannya semakin terancam: 4.260 PKL yang menjual kuliner omzetnya menurun dari Rp 1,5-7 juta menjadi Rp 500-900 ribu. Penurunan pendapatan ini bukan semata karena PPKM, melainkan p**a Surat Perintah Polresta Mataram yang melarang atau merazia siapa-siapa yang berjualan di beberapa wilayah kota: Monumen Mataram Metro dan sebagainya.
Di NTB, sampai sekarang pembatasan-pembatasan terhadap para kaum papa dan lemah menjadi salah satu variabel yang menyebabkan kontraksi ekonomi daerah sebesar 3,03% (yoy). Selama PSSB hingga PPKM diberlakukan konsumsi rumah tangga mereka mengalami kemerosotan. Itulah mengapa Garis Kemiskinan Makanan menjadi salah satu faktor dominan yang mendorong ledakan kemiskinan. Pada Maret 2021, jumlah penduduk miskin di provinsi ini mencapai 74.666 orang. Sementara jumlah orang-orang terkaya hanyalah sembilan belas saja—mereka merupakan bupati, wakil bupati, walikota, dakil walikota, wakil rarkyat, hingga gubernur: (1) Bambang M. Yasin: Rp 64,441 miliar; (2) Sumiatun: Rp 29,537 miliar; (3) Sitti Rohmi: Rp 29,537 miliar: (4) Mohan Roliskana: Rp 20,276 miliar; (5) IDP: 13,531 miliar; (6) Rumaksi: Rp 13,251 miliar; (7) Pathul Bahri: Rp 10,994 miliar; (8) Mohammad Anshori: Rp 9,862 miliar; (9) Sukiman Azmy: Rp 7,907 miliar; (10) Zulkieflimansyah: Rp 5,860 miliar; (11) Ahyar Abduh: Rp 4,757 miliar; (12) Isvi Rupaeda: Rp 4,479 miliar; (13) Fauzan Khalid: Rp 4,348 miliar; (14) Musyafirin: Rp 3,898 miliar; (15) M. Lutfi: Rp 3,768 miliar; (16) Dahlan M. Noer: Rp 3,492 miliar; (17) Sarifuddin: Rp 2,947 miliar; (18) Najmul Akhyar: Rp 2,841 miliar; dan (19) Huhaili: Rp 2,813 miliar.
“Rakyat minta bukti. Rakyat sudah cukup ditipu dan sudah lebih dari cukup dijadikan korban. Pemberontakan rakyat Indonesia ialah pemberontakan politik radikal dan revolusioner. Basmi semua bunglon masyarakat!”
Medan Perjuangan Kelas, 27 Juli 2021
Panjang Umur Politik Rakyat Miskin!