11/01/2021
Pada suatu hari, terjadi percakapan antara Hyang Girīndraduhita (Pārwatī) dengan Hyang Jagatpati (Śiwa).
Giriputri:— Atas kasih Paduka kepada-Ku, ajarkanlah tata cara pelaksanaan brata Śiwarātri yang ingin hamba lakukan, semoga brata ini kelak akan dipraktikkan oleh orang yang berjaga pada waktu bulan Magha malam keempatbelas gelap, prawanining tilĕm Kapitu. (Śiwarātri Kalpa, 36.2)
Jagatpati:— O Adinda Ku-sayang, senangnya hati Kakanda mendengarkan pertanyaan-Mu, Kakanda akan memberitahu Adinda cara melaksanakan brata yang luar biasa pahalanya. Dengarkanlah. Ia yang mematuhi kata-kata Kakanda oleh karenanya akan menuju Rudraloka, tidak akan memasuki planet neraka. (Śiwarātri Kalpa, 36.3)
— Di waktu pagi sesuah menggelar pemusatan pikiran pada-Ku, datanglah kerumah guru, menghormatinya dan juga memohon diri melaksanakan brata, menjunjung kaki guru. Sesudah itu mandilah, membersihkan gigi, mengatur pelaksanaan pemujaan Hyang Śiwānala, disertai dengan berpuasa dan tidak berkata-kata (mengendalikan dorongan berbicara), hendaknya pakaian selalu dalam keadaan bersih. (Śiwarātri Kalpa, 37.1)
— Sesudah berakhirnya siang hari, pada waktu malam harinya hendaknya ia berjaga dan tidak tidur, sambil taat berpikir tentang-Ku senantiasa. Pujalah Hyang Kumāra (Kārtikeya) dan Hyang Gajendrawadana (Ganeṣa) meminta perestuan. Pada malam hari itu, selama 12 jam, laksanakan tata cara puja sesuai yang diperlukan. (Śiwarātri Kalpa, 37.2)
— Musik dan lagu-lagu rohani hendaknya dinyalakan untuk menggelakkan rasa kantuk di mata, atau bersama-sama mengucapkan kidung suci dalam keramaian (saṅkīrtana). Aku lebih berbahagia lagi kalau ia dapat menceritakan kisah si pemburu pada waktu itu. Ia pasti akan mendapatkan alam yang paling utama bagi dia yang menceritakan perjalanan ātmā si Lubdhaka. (Śiwarātri Kalpa, 37.5)
— Sesudah sirna malam itu pada esok harinya berikanlah derma (sumbangan) pada orang-orang yang berkumpul (yang melaksanakan brata siwaratri), persembahkanlah siwa lingga, emas kepada maha pandita yang bersusila tinggi dan paham akan weda. Siapapun disana berikan derma dengan semampunya, selalu terbebaskan dari waktu jaga tidur siangnya lakukanlah amanat itu. (Siwaratri Kalpa, 37.6)
— Setelah selesai sempurna melaksanakan brata yang Ku-katakan, maka lanjutkanlah dengan kegiatan bertirtayatra. Seribu juga dosa laknat yang ia lakukan pada kelahiran terdahulunya seketika akan sirna ketika melaksanakan brata siwaratri yang serba utama (Siwaratri Kalpa 37.7)
— Walaupun seluruh hidupnya ia berbuat kebatilan, menyakiti perasaan orang lain, membunuh seorang brahmana, dan lagi tidak tahu berterimakasih, durhaka kepada seorang guru, membunuh janin pada kandungan, semua dosa-dosa itu akan sirna oleh karena ia berjaga diwaktu siwaratri yang sangat utama ini. (Siwaratri Kalpa 37.8)
—Walaupun tidak melaksanakan brata, tetapi terjaga tidak tidur, pada waktu-waktu demikian seluruh kelahiran manusia, baik tua muda laki-perempuan segera akan menuju siwalaya menikmati kebahagian transendental tanpa keluh kesah. (Siwaratri Kalpa 37.9)
—Demikianlah wejangan Hyang iswara kepada para dewata Hyang Girindratanaya memberi salam penghormatan dan mematuhi semua sabda Hyang Jagatpati yang telah diberikan demikianlah para Hyang (dewata) yang ikut mendengar diskusi siwa dan sakti-Nya melaksanakan braya siwaratri sampai ke triloka (Siwaratri Kalpa 37.10)
from
Rahajeng semeton Hindu samian nyanggre Rahine suci Siwaratri. Dumogi state Rahayu🙏
Om namahsiva ya