Kolektif Papua Belajar Bersama-KPBB

Kolektif Papua Belajar Bersama-KPBB Kelompok studi papua belajar bersama perjuangan untuk west Papua Merdeka
(1)

"KOLEKTIF PAPUA BELAJAR BERSAMA "
Dirikan sekret nenggam Po Nduga 13 Mey 2024,
"bertujuan untuk belajar sejarah Papua bersama,Belajar Menulis Bersama, belajar diskusi bersama, belajar lapak baca bersama, belajar membaca situasi umum bersama(*)

21/12/2025

Kita harus ingat bahwa imperialisme adalah sebuah sistem dunia, tahapan tertinggi dari kapitalisme—dan harus dikalahkan dalam konfrontasi dunia. Tujuan strategis dari perjuangan ini adalah penghancuran imperialisme. Bagian kita, tanggung jawab kita sebagai bangsa yang dieksploitasi dan terbelakang di dunia adalah untuk melenyapkan fondasi imperialisme: bangsa-bangsa kita yang tertindas, dan penindas, dari mana mereka mengekstrak modal, bahan mentah, teknisi, dan tenaga kerja murah, dan ke mana mereka mengekspor modal baru—instrumen dominasi—senjata dan segala macam barang; sehingga menenggelamkan kita dalam ketergantungan absolut.”(Kaum Bolshevik)

21/12/2025

"Tugas pertama seorang revolusioner adalah mendidik dan mendorong ideologisasi terhadap generasi, bukan berasumsi dan membubarkan terhadap Kawan-kawanmu yang sedang berusaha untuk mendorong anda dalam ketidaktahuan, kebuntuan, tentang sejarah historis bangsa Papua Barat merdeka."

"Perjuangan Papua merdeka adalah perjuangan kita bersama, dan kontrakan mahasiswa Papua adalah milik kita bersama, untuk mendorong dan menguatkan ideologisasi Papua Barat merdeka..karena kamerad: (almarhum W.Musa Tabuni) pernah mengatakan bahwa: bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu asal-usulnya, sejarahnya, Budayanya, jatidirinya."

Kontrakan dan kost yang kita mengisi adalah darah orang Papua. Itu adalah (fakta) bukan Mitos, atas dasar itulah kawan kontrakanmu, dan kostmu, yang ada mengisi ituu jadikan kampus terbuka untuk umum bukan membubarkan paksa, melalui berbasis intelijen Bin negara kolonial Indonesia..Karena kawanmu bukan membawa senjata untuk menembakmu, melainkan Kawan-kawanmu datang karena atas dasar ketinggalan dalam momentum. Walaupun kita adalah orang-orang yang terdidik dalam organisasi tapi tidak semua yang tau tentang sejarah historis bangsa Papua Barat.

Maaf mengecewakan bersama kawan-kawan prodem.Waktu 19 December 2025, Mengapa tidak melaksanakan diskusi publik hari momentum itu, nanti akan menceritakan di lain' waktu bukan sekarang, karena aku belum mengetahui di balik itu siapa aktornya..??

Kita adalah kawan maka kita harus memastikan siapaa musuh kita sebenarnya Dan bagimana untuk melawan hegemoni antagonis kolonial itu...

Aku lebih memilih mati berdiri daripada menjalani hidup dengan berlutut . Di atas segalanya, selalu mampu merasakan secara mendalam setiap ketidakadilan yang dilakukan terhadap siapa pun, di mana pun di dunia. Aku tahu bahwa ketika roh penuntun yang agung membelah umat manusia menjadi dua bagian yang saling bertentangan, aku akan berada di pihak rakyat.

Proletariat Lintas 21/12/2025

Sebagai Minoritas di Uncen, hak-hak kita dibatasi oleh orang yang memiliki kuasa di lembaga yang kita mengabdi ini, teta...
21/12/2025

Sebagai Minoritas di Uncen, hak-hak kita dibatasi oleh orang yang memiliki kuasa di lembaga yang kita mengabdi ini, tetapi kami ada di sini bukan karena ada orang dalam atau Isme lain seperti kesukuan dan lainnya. Sebagai minoritas harus menunjukkan kualitas untuk produksi ilmu pengetahuan. Malu ketika memiliki gelar depan dan belakang, tetapi tidak bisa produksi pengetahuan yang membumi, karena itu buku ini sebagai tanggung jawab moral atas semua itu. Kami juga tidak malu karena berasal dari kampung atau pedalaman. Kami adalah pejalan kaki yang lambat, tetapi kami tidak pernah berjalan mundur ke belakang. Terima kasih kepada UOPress dan Kanisius yang sudah diterbitkan dan dicetak. Terima kasih banyak Bapak Bupati dan Pemda Pegunungan Bintang yang telah sponsori dan fasilitasi buku ini. Semoga buku ini menjadi berkat dan nilai legendaris yang berarti bagi bangsa Papua dan Melanesia secara umum.

"Melihat kelas kapitalis menekan upah dan mengeksploitasi secara brutal demi mempertebal dompet mereka, buruh-buruh di k...
20/12/2025

"Melihat kelas kapitalis menekan upah dan mengeksploitasi secara brutal demi mempertebal dompet mereka, buruh-buruh di kawasan tambang nikel tidak tinggal diam, mereka melawan. Pemogokan dan demonstrasi-demonstrasi yang menyertainya merupakan hal tak terelakkan."
Selengkapnya ➡️

Aksi buruh PT. CTLI telah menghidupkan kembali metode-metode perjuangan kelas militan yang telah kita kenal sebelumnya selama gelombang masif aksi buruh pada 2011-2012 yang memuncak pada Getok Monas.

"Ketika aku menengok ke belakang, mereka masih ada. Melambai. Tampak seperti sesimpul buhul kecil. Orang-orang yang hidu...
19/12/2025

"Ketika aku menengok ke belakang, mereka masih ada. Melambai. Tampak seperti sesimpul buhul kecil. Orang-orang yang hidup dengan impian mereka, sementara dunia tengah hidup dalam mimpi-mimpi buruknya. Setiap malam aku memikirkan perjalanan ini … Aku tahu dia pasti bergerak, tengah berbaris, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk menjaga agar harapan tetap hidup untuk kita semua.” (Bersama Para Kamerad)

"Angin bersiul, badai mengamuk, sepatu kita rusak, tapi kita harus terus berjalan, menaklukan mata air merah, tempat terbitnya matahari masa depan…. Maju kamerad! Maju! Bawa suara kalian ke suara kami. Maju kamerad! Maju! Dan matahari akan bersinar untuk kita semua. Untuk fajar baru ini. Bergabunglah dengan kami. Dan bersama-sama kita akan membawa. Ke setiap sudut dan setiap rumah. Bendera merah rubi kita.” (Bandiera Rossa)

https://percikanapi.data.blog/2025/12/19/peringatan-64-tahun-trikora-di-mataram-dibubarkan-paksa-berikan-hmns-bagi-bangsa-west-papua/

Sorotan Publik

“Ketika aku menengok ke belakang, mereka masih ada. Melambai. Tampak seperti sesimpul buhul kecil. Orang-orang yang hidup dengan impian mereka, sementara dunia tengah hidup dalam mi…

19/12/2025
Peringatan 64 Tahun Trikora di Mataram Dibubarkan Paksa; Berikan HMNS bagi Bangsa West Papua“Ketika aku menengok ke bela...
19/12/2025

Peringatan 64 Tahun Trikora di Mataram Dibubarkan Paksa; Berikan HMNS bagi Bangsa West Papua

“Ketika aku menengok ke belakang, mereka masih ada. Melambai. Tampak seperti sesimpul buhul kecil. Orang-orang yang hidup dengan impian mereka, sementara dunia tengah hidup dalam mimpi-mimpi buruknya. Setiap malam aku memikirkan perjalanan ini … Aku tahu dia pasti bergerak, tengah berbaris, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk menjaga agar harapan tetap hidup untuk kita semua.” (Bersama Para Kamerad)

Jum’at, 19 Desember 2025, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Lombok dan Front Muda Revolusioner (FMR) Mataram mengagendakan pelaksanaan Diskusi Publik untuk memperingati 64 Tahun Trikora di Kontrakan Kinaonak Mataram, yang direncanakan dibuka pukul 18.00 WITA. Namun agenda ini tidak jadi dibuka atas intimidasi yang dilancarkan oleh Negara Borjuis-Kolonialis. Sejak siang intel-intel kepolisian dan militer beratribut lengkap mulai berkumpul dan menebar teror. Jumlah mereka terhitung puluhan dengan menyebar di titik tertentu dalam memantau dan mengancam aktivitas di Kontrakan Kinaonak.

Pukul 17.30 Wita, Kawan Wene, Kawan Andi, dan kawan-kawan Front Muda Revolusioner mulai bergegas ke titik diskusi. Namun suasana di Kontrakan Kinaonak sepi: kawan-kawan Papua telah lebih dahulu dintimidasi. Di grup whatsApp AP Kuni Lani Lombok, suatu pernyataan intimidatif beredar. Isinya adalah ancaman pembubaran diskusi dari pemilik kontrakan terhadap kawan-kawan Papua dan Solidaritas. Pemilik kontrakan melarang diskusi dilaksakan karena melanggar peraturan dan mengacaukan ketertiban umum.

Pukul 18.00 Wita, sekitar 30 intel berpakaian preman, Babinsa, dan ormas reaksioner berkumpul di gang depan kontrakan. Gang akses masuk ke kontrakan hendak ditutup dan berkali-kali mereka mondar-mandir di pintu gerbang kontrakan untuk memberi tanda bahwa aktivitas kawan-kawan Papua dan Solidaritas siap dihantam. Atas situasi ini agenda tertahan dan kawan-kawan yang berada di kontrakam dirisaukan oleh beragam ganguan.

Pukul 18.30 Wita, badan khusus orang-orang bersenjata semakin liar berdatangan di sekitar kontrakan. Ada yang terus berjalan keliling, berkerumun menutup gang, hingga di jalan raya dengan pasukan siap siaga. Di sisinya, pemilik kontrakan dan ikut p**a kepala lingkungan setempat terus-menerus diminta untuk menambah tekanan hingga akhirnya agenda diskusi ditiadakan. Tidak ada diskusi, Peringatan 64 Tahun Trikora sebagai awal penjajahan terhadap Bangsa West Papua telah dibubarpaksakan dengan begitu rupa.

Pukul 19.30 Wita, sebagian kecil kawan bertolak ke Unram untuk mendapatkan tempat kondusif dalam melanjutkan agenda. Memasuki gerbang kampus, Satpam Unram terlihat bersiaga. Badan-badan orang bersenjata rupanya mengikuti kawan-kawan Papua dan Solidaritas yang ada. Dengan motor dan berjalan kaki, satpam berkeliling. Berkali-kali mereka melemparkan pandangan dengan sorotan yang tajam ke arah kawan-kawan AMP Lombok dan FMR Mataram. Sementara intel-intel juga menerobos masuk dalam area perkampusan. Kampus disisir untuk melarang diskusi “Persoalan Kebangsaan Papua”. Kampus dimiliterisasi untuk memerangi pandangan politik yang mendukung HMNS bagi Bangsa West Papua.

Dalam pandangan Marxis, negara adalah alat kekerasan yang digunakan oleh kelas yang berkuasa untuk melancarkan segala kepentingannya terhadap kelas lainnya. Negara hadir melalui polisi dan tentara, hukum, peradilan, penjara. Negara di tangan kelas borjuasi terbelakang, beroperasi sebagai institusi demokrasi yang dipenuhi kebohongan, sangat korup, buas dan keji. Dalam hubungannya dengan pembubaran diskusi dan persoalan kebangsaan Papua, negara kapitalis-kolonialis Indonesia berupaya keras dalam merintangi kepeloporan dalam gerakan Pembebasan Nasional West Papua. Terhadap kawan-kawan IMAPA dan AMP Lombok, negara melakukan operasi intelijen yang begitu rupa dalam memecah-belah angkatan muda Papua. Teror, ancaman, dan bujuk-rayu diluncurkan. Intrik dan manuver digencarkan. Prasangka, fitnah, dan tuduhan ditebarkan. Di sisinya, kepada elemen Solidaritas–negara borjuis mengumumkan mereka sebagai pengkhianat dan bagian dari kelompok separatis.

Namun dalam Persoalan Papua, kawan-kawan AMP dan Solidaritas tidak berjuang di atas garis separatisme. Perjuangan untuk Pembebasan Nasional Papua Barat bergaris kelas. Seluruh kelas yang tertindas dan terhisap harus bersatu secara organisasional dan politik di bawah panji revolusi sosialis, untuk penghancuran kapitalisme dan negara borjuis secara revolusioner. Kolonialisme Indonesia di Tanah Papua merupakan kekejian yang mekar di fase perkembangan akhir kapitalisme: imperialisme. Kelas borjuis-nasional Indonesia yang sudah tidak progresif dan terikat seribu benang dengan borjuis-imperialis sejak awal menganeksasi Papua untuk memperluas dominasi dan daerah pengaruh imperialisme. Kelas borjuis-nasional dan borjuis-imperialis tidak sekadar menginginkan kekayaan alam Papua tapi lebih jauh sumber kekayaan material di muka bumi: kemampuan kerja suatu bangsa. Militerisme, rasisme, seksisme, femisida, dan ekosida selama ini telah menjadi metode borjuasi dalam menundukan laki-laki dan perempuan Papua. Di tangan kelas borjuis, kekerasan-kekerasan reaksioner yang paling brutal dan biadab dihunus untuk memenggal pergerakan kaum muda dan rakyat pekerja Papua. Sejak Trikora sampai sekarang, darah dan nanah yang mengalir sepanjang waktu telah membentuk lautan pusara tanpa nama. Daging dan kemanusiaan Bangsa West Papua telah lama tercabik-cabik dan membusuk di tangan minoritas kelas yang berkuasa. Lukanya menganga dan sakitnya meraksasa, semakin membesar dalam hati dan jiwa generasi baru.

Bersaksi dan mengalami amukan situasi yang keji dan hina di sekitar kami, maka dalam Peringatan 64 Tahun Trikora kami memancang tuntutan berikut ini:

1. Hentikan Pembungkaman terhadap AMP KK Lombok, Kaum Muda Papua dan Elemen Solidaritas di Mataram.

2. Hentikan Kriminalisasi Elemen Gerakan Rakyat dan Bebaskan Semua Massa Aksi yang Masih Ditahan.

3. Cabut Omnibus Law Ciptaker.

4. Hapus Outsourcing.

5. Stop PHK dan Pemotongan Upah Sepihak.

6. Terapkan 8 Jam Kerja dengan 1 Jam Istrahat dalam Skala Nasional.

7. Buka Lapangan Pekerjaan dan Berikan Akses yang Seluas-luasnya untuk Kaum Muda.

8. Terapkan Pendidikan dan Kesehatan Gratis untuk Rakyat Miskin.

9. Hentikan Laju Deforestasi.

10. Tetapkan Banjir Sumatera sebagai Bencana Nasional.

11. Adili Semua Jenderal Pelanggar HAM Masa Lalu dan Hari Ini, di Indonesia dan West Papua.

12. Nasionalisasi Industri-Industri Strategis di Bawah Kontrol Rakyat Pekerja.

13. Sita Harta Koruptor di Bawah Kontrol Rakyat Pekerja.

14. Bubarkan Komando Teritorial.

15. Berikan HMNS bagi Bangsa West Papua.

16. Solidaritas Penuh untuk Perjuangan Pembebasan Rakyat Palestina, West Sahara, Kanaky, dan Catalonia di Garis Perlawanan terhadap Kapitalisme-Imperialisme.

“Angin bersiul, badai mengamuk, sepatu kita rusak, tapi kita harus terus berjalan, menaklukan mata air merah, tempat terbitnya matahari masa depan…. Maju kamerad! Maju! Bawa suara kalian ke suara kami. Maju kamerad! Maju! Dan matahari akan bersinar untuk kita semua. Untuk fajar baru ini. Bergabunglah dengan kami. Dan bersama-sama kita akan membawa. Ke setiap sudut dan setiap rumah. Bendera merah rubi kita.” (Bandiera Rossa)

Medan Juang, 19 Desember 2025

AMP KK Lombok dan FMR Mataram

📢 Seruan [Diskusi Publik] 📢Operasi Militer dan Nasib Hidup Rakyat Papua: Dulu, Hari ini dan Masa Depan.(Menuju 64 Tahun ...
18/12/2025

📢 Seruan [Diskusi Publik] 📢

Operasi Militer dan Nasib Hidup Rakyat Papua: Dulu, Hari ini dan Masa Depan.

(Menuju 64 Tahun Hari Operasi TRIKORA)

Salam Pembebasan Nasional Papua Barat!

Di mana sejak 19 desember 1961 lalu, Presiden Soekarno Mengkumandangkan Trikora Di Alun alun Utara kota Yogyakarta, dengan mandat:
1. Bubarkan Negara Boneka Papua Buatan Belanda,
2. Kibarkan sang merah putih di irian barat,
3. Mobilisasi umum guna mempertahankan Tanah air dan bangsa.

Trikora ini di lakukan dengan maksud mengecam Deklarasi kemerdekaan Bangsa Papua dan ambisi Pribadi Soekarno (Borjuasi Nasional) yang jatuh tepat pada tanggal 1 Desember 1961 tersebut.

Melalui Operasi TRIKORA negara menginvasi militer besar-besaran ke Papua untuk melakukan berbagai operasi dengan tujuan pendudukan Wilayah Papua Barat. Operasi militer dan konflik terus berlanjut sejak tahun 1961-2025 sampai saat ini.

Dalam berbagai operasi yang dilakukan oleh militer TNI/Polri, rakyat sipil di Papua menghadapi situasi yang menegangkan, hina, penindasan, pemerkosaaan, ketakutan, dan trauma yang akut sampai hari ini.

Maka dengan itu, kami Aliansi Mahasiswa Papua AMP KK Lombok dan Front muda revolusioner-FMR Cabang Mataram mengundang kawan-kawan prodem dan mahasiswa Papua yang berada di kota Mataram dan sekitarnya untuk ikut dalam agenda "Diskusi Publik" menuju 64 tahun TRIKORA yang akan dilaksanakan pada:

🗓 : Jumat 19 Desember 2025
⏰️ : Pkl. 18:00 - Selesai Wita
📍 : Kontrakan Kinaonak

Demikian Seruan Diskusi ini Kami sampaikan untuk diketahui bersama dan keterlibatan kawan-kawan sekalian diperlukan. Terimakasih, sampai jumpa.

Tanah Kolonial.
Lombok, 18 Desember 2025




16/12/2025

HUT GREEN PAPUA KE-9
Kemana Green Papua akan bergerak?

Secara global negara-negara maju di eropa dan asia, afrika permintaan bahan mintah semakin meningkat. Perkembangan teknologi hari ini memintah bahan mentah yang cukup banyak untuk mengerakkan teknologi-teknologi sedang berkembang, tentunya membutuhkan minyak, gas, emas, uranium, tembaga dsb.

Negara Indonesia sebagai Negara berkembang di bagian asia, yang menyiapkan bahan-bahan mentah yang cukup besar, Negara Indonesia hari ini masuk berbagai investasi kapitalis mengepung wilayah Indonesia. Tanah-tanah adat yang di miliki oleh masyarakat adat menjadi ancaman yang cukup memperhatinkan, karena tanahnya di rampas, di gusur, atas nama kepentingan Negara yang penuh dengan represif militer.

Tanah papua sebagai wilayah perebutan Indonesia, Belanda dan Amerika sehingga berbagai kejahatan sewenang-wenang terus dilakukan. Sejak 19 desember 1961 disitu pertama kali krisis kemanusian terjadi diatas tanah papua, melalui Tri Komando Rakyat (TRIKORA) yang di pimpin oleh Suharto adalah bentuk kejahatan kemanusiaan juga tetapi bentuk klaim wilayah papua dengan aksi represif militer.

Rasisme adalah bentuk kejahatan dan diskriminasi terhadap orang lain berdasarkan ras, suku, agama, warna kulit dsb, kejahatan ini pernah dan terus menerus terjadi diatas tanah papua sejak 15 Agustus 1962 Perjanjian New York dan Perjanjian Roma pada 30 September 1962, dua perjanjian ini adalah bentuk diskriminasi berbasis rasial atas hak politik bangsa Papua yang pernah di lakukan oleh Negara Indonesia, Belanda dan Amerika Serikat terhadap rakyat papua yang mana tidak dilibatkan dalam perjanjian-perjanjian tersebut.

Sebelum tanah Papua di rebut oleh Kolonial Indonesia beberapa peristiwa yang pernah terjadi seperti TRIKORA 19 desember 1961, New York Agreement 15 agustus 1962, Roma Agremeent 30 september 1962. Peristiwa-peristiwa ini sebagai bentuk penjajahan tanah papua dan menghancurkan politik orang papua dengan berbagai cara kejahatan.

Negara Indonesia menganeksasi tanah Papua sejak 1 Mei 1963 adalah penyerahan pemerintahan belanda ke Indonesia melalui UNTEA untuk membangun rakyat papua selama 25 tahun, artinya keberadaan Indonesia diatas tanah papua selama 25 tahun selanjutnya angkat kaki dari tanah papua.

Sejak Indonesia dibawah Rezim Soeharto mengesahkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UUPMA) dan mengesahkan Perjanjian Kontrak Karya PT.Freport pada tahun 1967, telah membukan kran investasi milik imperialis Amerika Serikat diatas tanah Papua, dinamika ini di barengi dengan berbagai operasi militer Indonesia di papua.

Peristiwa-peristiwa seperti ini tidak terlepas dengan pembangunan politik papua merdeka dan kepentingan ekonomi hingga ruang-ruang gerak rakyat papua di persempit dengan tindakan represif militer, dalam sitasuasi penindasan massif namun disitu muncul organisasi perlawanan seperti OPPM 1965 lahir untuk menentang kejahatan kemanusiaan Kolonial Indonesia dan merebut hak politik rakyat papua.

Semakin hari semakin massif dinamika penindasan di papua dan muncul berbagai perlawanan terhadap kejahatan Indonesia, aktivis sebagian dibunuh dan sebagian mengungsi diluar negeri sampai hari ini.

Negara Kolonial Indonesia memaksakan Otonomi Khusus (OTSUS) jilid I sebagai bentuk politik pembangunan, namun itu pun gagal membangun rakyat papua dan justru semakin meningkatkan pederitahan rakyat Papua.

Otonomi Khsusus bukan jalan satu-satunya untuk mensejaterahkan rakyat tetapi ini sebagai jebakan bagi rakyat papua yang berkepanjangan dan berakibatbat pada krisis genosida, ekosida dan etnosida.

OTSUS bukan mengakhiri penindasan tetapi memperpanjang penindasan, investasi, operasi militer, penculikan, pemerkosaan, marginalisasi, rasial, intimidasi, perampasan lahan, kehancuran lingkungan, dsb, semakin massif diatas tanah papua.

Rakyat Papua tidak pernah menerima penindasan secara sukarela dan terus melancarkan perlawanan dibuktikan dengan adanya banyak pergerakan perlawanan yang muncul dengan berbagai strategi dan taktik untuk melawan kolonialisme, kapitalisme dan militerisme.

Berbagai alat perlawanan dibentuk dengan konsentrasi perjuangan gerilya, sipil kota maupun diplomasi. Rakyat Papua membentuk Front Persatuan sebagai alat perlawanan bersama namun pecah terus, terakhir ULMWP sejak 2014 sebagai satu alat yang memperjuangkan hak demokratik rakyat papua namun belum maksimal untuk menjadi rumah Bersama bagi seluruh elemen rakyat yang berjuang untuk mewujudkan pembebasan nasional Papua Barat.

Pengesahan OTSUS jilid II dan pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) semakin terstruktur penindasan melalui investasi kapitalis dan perluasan kolonialisme Indonesia terus menghancurkan masyarakat adat papua, tanah di rampas, hutan di gusur, ikan ikan di tangkap, hingga kehancuran lingkungan meningkat di papua. Semua kebijakan Kolonial Indonesia di paksakan dengan berbagai dalil pembangunan yang berkedok kapitalis yang mengamankan dengan kekuatan represif militer.

Kenapa Green Papua Muncul?

Melihat dengan dinamika penindasan di papua ini terstruktur dan tersistematis di dalam basis rakyat sehingga hari ini mudah saja mengaduh-domba dengan berbagai persoalan di papua. Perluasan kolonialisme sampai di akar rumput sehingga konflik horizontal, saling membenci, saling curi,dsb, terjadi di kalangan bawah.

Kebijakan Negara dan pemerintah daerah yang sewenang-wenang di lakukan seperti investasi dan pemekaran terus mengorbankan masyakarat adat dan tanah adat; pencemaran lingkungan, perampasan tanah, pengundulan hutan, perkebunan kelapa sawit, penambangan ilegal, penangkapan ikan secara masif, dan kejahatan lainnya.

Pendoropan militer dan operasi militer di papua untuk melindungi aset vital oligarki Negara dan kapitalis global, yang hari menciptakan krisis kemanusian dan trauma berkepanjangan secara fisik maupun psikis.

Ruang hidup mereka di rampas oleh militer dan hari ini mengungsi di berbagai wilayah di papua, jelasnya ini ancaman buruk bagi rakyat yang mengalami tindakan represif militer. Rakyat tertindas di Papua harus keluar dari pusaran system yang menindas dan membangun Masyarakat yang bebas, manusiawi, adil, setara, mandiri, berdaulat dan ekologis melalui alat politik yang tepat dan Green Papua hadir sebagai organisasi kader dan berjuang bersama rakyat tertindas di Papua.

Apa Tujuan Green Papua Kedepan?

Green Papua beranggapan bawah dalam situasi demoralisasi oleh penguasa ini penting untuk bangun gerakan sektoral yang mampu melihat persoalan-persoalan yang terjadi di kalangan bawah (tani, nelayan, buruh, miskin kota, Perempuan, mahasiswa,) ini adalah kantong-kantong massa yang paling penting untuk melawan ideologi kapitalisme. Oleh sebab itu Green Papua harus melahirkan kader-kader organisasi baru untuk mengerakkan komponen-komponen basis rakyat untuk mengorganisir dan berjuang bersama dalam situasi kejam ini. Melahirkan kader-kader revolusiner untuk membangun gerakan revolusioner dalam akar rumput untuk mengulingkan ideologi kapitalisme yang di praktek oleh kolonial dan militer di papua.

Apa Keinginan Green Papua Kedepan?

Perluasan Green Papua di seluruh papua dan membangun kebudayaan baru untuk menentang kapitalisme adalah keharusan dan harus di lakukan oleh kader Organisasi Green Papua, bangun budaya-budaya baru di setiap komponen rakyat papua untuk melihat siapa itu musuh kita yang selama ini menindas kita dan melawan sistem yang menindas rakyat.

Bangun gerakan perlawanan yang berlandaskan ekososialisme sebagai senjata ideologi untuk melawan dominasi ideologi penguasa yakni kapitalisme yang menghancurkan lingkungan dan manusia di Papua. Kebudayaan-kebudayaan revolusioner harus terbangun di papua untuk menghancurkan sistem kapitalisme, system kolonialisme dan militerisme yang mendominasi kebudayaan rakyat bahkan menghancurkan kebudayaan Gerakan perlawanan di Papua.

Tanah Koloni, 15 Desember 2025

Green Papua
Selamatkan Tanah Air dan Bebaskan Rakyat

Mengetahui,
Kolektif Pusat Green Papua
Anton Ukago
Ketua Umum.

15/12/2025

Oleh: Victor Yeimo

D**g sedang jajah cara kita berpikir, bertindak, dan merasakan penderitaan. Bikin kita mewajarkan penjajah, dan percaya bahwa penderitaan ini salah kita. Kita digempur insiden silih berganti agar perhatian terpecah, energi habis, dan kesadaran politik melemah. Lambat laun, kita meratapi, diam, dan tunduk, sementara penjajah menguasai tanah dan hidup kita.

Sistem kolonial ini bikin kita merasa asing, trauma, dan terhina, menjadikan kita basa-basi terhadap perjuangan, berharap pada belas kasihan, bantuan asing, atau keajaiban dan mujizat. Pelarian pasif ini mematikan semangat dan menahan energi politik.

Kita dibuat sibuk menghabiskan umur, waktu, dan tenaga dlm rutinitas penjajah. Energi terbaik bangsa Papua diambil utk menghidupi penjajah, bukan membangun kekuatan nyata. Rutinitas ini adalah alat kolonial paling efektif.

Jadi bebaskan pikiran, ambil kendali diri dan bangsamu, gunakan waktu, tenaga, dan keahlian untuk membangun diri dan bangsa, buang ilusi ketergantungan. Kemerdekaan lahir dari kesadaran dan kekuatan rakyat Papua sendiri.

Bangun kepercayaan antar sesama, hormati kekuatan intelektual bangsamu. Tidak semua insiden harus dihadapi, tdk semua umur dihabiskan untuk penjajah. Lihat hidupmu sebagai ruang perjuangan, mulai dari diri sendiri dan bangsamu.

Organisir diri, ambil peran sesuai kemampuan, masuk ke barisan perjuangan nyata, fokus pada aksi konkret. Gunakan setiap ruang dan waktu untuk menyadarkan sesama. Malas tahu dan tidak kritis adalah ideologi penjajah.

Banyak hal bisa dilakukan, tapi tidak semua memukul jantung kolonialisme. Waktu adalah nyawa bagi orang Papua, strategi lamban harus diganti. Kita harus berpikir dan bertindak cepat, karena ancaman pemusnahan sudah di depan mata.

Address

Kelompok Studi Papua Belajar Bersama
Mataram

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kolektif Papua Belajar Bersama-KPBB posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Kolektif Papua Belajar Bersama-KPBB:

Share

Category