11/12/2025
Selebaran Rilis press dan pernyataan sikap.!!
Aliansi Mahasiswa Papua-AMP Komite Kota Lombok dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua kota Lombok
Salam pembebasan nasional Papua Barat.!
Salam Revolusi.!
"Ketika kita diam maka di injak-injak dan di dibodoh-bodohi oleh parah penguasa kolonialisme Indonesia _lintas perjuangan pembebasan Papua Barat."
Jika kamu gemetar karena marah terhadap setiap ketidakadilan, maka kamu adalah kawanku".lintas wene Che Guevara
"Revolusi dibuat oleh manusia, tetapi manusia harus menempa semangat revolusionernya dari hari ke hari". Che Guevara
Hak" Borjuis adalah Ilusi: "Demokrasi borjuis hanyalah ilusi kebebasan," karena hak-hak tersebut tidak menghilangkan penindasan kelas, melainkan melindungi kepemilikan pribadi pemilik modal._karl Marx
Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia yang diperingati setiap 10 Desember merupakan penanda lahirnya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
tahun 1948—dokumen fundamental yang menjadi dasar bagi sistem perlindungan HAM internasional maupun nasional.
menegaskan pasal 1 sampai 30 pasal bahwa setiap manusia memiliki martabat dan hak-hak yang tidak dapat dicabut, tanpa memandang ras, asal-usul, agama, identitas politik, gender, bahasa, atau status sosial.dll.
Namun lebih dari 77 dekade setelah Deklarasi itu disahkan, pelanggaran HAM tetap terjadi di berbagai belahan dunia. Konflik bersenjata, pembungkaman demokrasi, diskriminasi struktural, dan krisis kemanusiaan terus berlangsung.
A. Pelanggaran HAM di Indonesia
Di Indonesia sendiri, ada begitu banyak Persoalan HAM yang tidak pernah diselesaikan oleh Negara, Dari Kasus pelanggaran HAM massa Lalu, Pembunuhan terhadap Aktivis, Hingga pembungkaman ruang demokrasi terhadap Perempuan.
Dari rentetetan persoalan HAM ditahun 1965-1966, pembantaian terhadap golongan kiri yang diperkirakan ratusan ribu, hingga jutaan orang mati tanpa diberikan keadilan.
Peristiwa Talangsari Lampung 1989 insiden kekerasan yang melibatkan aparat negara, penghilang orang secara paksa 1997-1998, kasus penculikan dan penghilang aktivis pro demokrasi, menjelang ahir era Orde Baru.
Tragedi trisaksi,semanggi 1 semanggi 2,ditahun 1998,rentetan peristiwa penembakan terhadap mahasiswa saat demostrasi menuntut Reformasi,
Pembunuhan Munir, Marsinah, wiji,salim kancil, pemerkosaan terhadap perempuan Tionghoa,dan sederet nisan yang dilupakan dan dibiarkan tanpa keadilan oleh Negara Republik Indonesia.
B. Pelanggaran HAM di Papua
Sejarah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap orang Papua dapat dikategorikan ke dalam empat periode berikut:
1. Masa Kepresidenan Soekarno yang dikenal dengan “Orde Lama” (1963-1967).
2. Masa Kepresidenan Soeharto yang dikenal dengan “Orde Baru” (1967-1998).
3. Era Reformasi Demokrasi yang dikenal dengan “Reformasi” (1998-2001).
4. Era Otonomi Khusus, yang dikenal sebagai “Otsus” (2001-sekarang).
1. Papua di Era Presiden Soekarno
Soekarno, presiden pertama Indonesia (1945-1967), adalah arsitek aneksasi Papua Barat. Invasi Indonesia dimulai pada akhir Desember 1961. Operasi militer besar yang didukung oleh Uni Soviet ini dikenal sebagai Trikora, singkatan dari Tri Komando Rakyat.
Tahun berikutnya, Amerika Serikat, karena takut akan eskalasi konflik, menekan Belanda untuk menyerahkan administrasi bekas jajahannya kepada PBB, meskipun Belanda memiliki itikad baik yang memberikan kemerdekaan kepada orang Papua pada 1 Desember 1961.
Pada tanggal 1 Mei 1963, PBB menyerahkan obor kepada Indonesia: itu adalah awal pendudukan Indonesia. Secara resmi Indonesia hadir hanya untuk memastikan kelancaran referendum yang akan menentukan pilihan rakyat Papua: merdeka atau terikat dengan Indonesia.
Namun kenyataannya sangat berbeda: sejak hari pertama, tentara Indonesia telah melakukan kekejaman terhadap penduduk sipil. Pengeboman udara terjadi di berbagai tempat.
Fasilitas umum, termasuk rumah sakit, dijarah oleh tentara. Di Manokwari kerusuhan anti-Indonesia pecah: dua orang Indonesia luka berat. Sebagai pembalasan, tentara Indonesia menembaki massa. Hasilnya, antara 1.000 dan 2.000 orang Papua terbunuh.
2. Papua di Era Presiden Soeharto
Pada tahun 1967 Soekarno, presiden pertama Indonesia yang pro-Soviet, mengundurkan diri. Dia digantikan oleh Soeharto, seorang jenderal pro Amerika. Mengutip peribahasa Indonesia, Papua yang baru keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau.
Salah satu langkah pertama yang diambil oleh presiden kedua Indonesia adalah memberikan konsesi kepada Freeport, perusahaan multinasional Amerika, untuk eksploitasi deposit Grasberg di Papua, cadangan emas dan tembaga dunia ketiga. Penandatanganan kontrak berlangsung pada 7 April 1967.
Untuk menjaga Papua tetap dalam perlindungannya, Indonesia mengerahkan seluruh kekuatan militer dan sipilnya untuk memastikan kemenangan dalam Referendum 1969, yang dikenal sebagai The Act of Free Choice atau Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat). Namun, itu benar-benar referendum palsu, karena hanya melibatkan 1.025 dari sekitar 800.000 orang Papua yang hidup saat itu. Rezim Indonesia menganggap mayoritas orang Papua terlalu terbelakang untuk memahami demokrasi.
Ribuan orang yang terlibat dalam referendum itu tidak lain adalah orang-orang Papua yang dipilih oleh pemerintah Indonesia sendiri, untuk memilih, di bawah tekanan tentara, mendukung aneksasi.
Jumlah korban yang terbunuh sebelum Act of Free Choice masih belum diketahui. Ribuan warga sipil dilaporkan disiksa, diperkosa, dan dibunuh. Eliezer Bonay, mantan gubernur Papua, mengungkapkan sekitar 30.000 orang tewas antara tahun 1963 dan 1969.
Sekitar 5.000 orang Papua melarikan diri ke luar negeri, ke negara tetangga Papua Nugini, serta ke berbagai negara Barat, terutama Belanda.
Tak berhenti di situ. Setidaknya ada sepuluh operasi militer di Papua yang dilancarkan selama 32 tahun kepemimpinan Soeharto, antara lain:
Operasi Pamungkas (1971), Operasi Koteka (1977), Operasi Sapu Bersih (1978-1982), Operasi Sate (1984), Operasi Gagak 1-2 (1985-1987), Operasi Kasuari 1-2 (1987-1990 ), Operasi Rajawali 1-3 (1989-1991).
LP3BH Manokwari dan Universitas Yale di Amerika Serikat mengungkapkan sekitar 100.000 orang Papua telah tewas. Benny Wenda, ketua United Liberation Movement of West Papua (ULMWP) saat ini, menyebut lebih dari 500.000 orang Papua telah kehilangan nyawa selama setengah abad pendudukan Indonesia.
3. Papua di Era Reformasi Demokrasi
Pada Mei 1998, setelah 32 tahun berkuasa dengan tangan besi, Jenderal Soeharto mengundurkan diri. Peristiwa ini menandai dimulainya reformasi demokrasi di Indonesia.
Di bawah kepemimpinan BJ Habibie, ruang demokrasi yang sebelumnya tertutup bagi orang Papua kini terbuka. Orang Papua menyerukan pemerintah Indonesia untuk menarik tentara dan mengakhiri program transmigrasi. Yang terakhir tidak lain adalah instalasi masif dan anarkis penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim di Papua yang mayoritas Kristen. Rakyat Papua juga menuntut penghormatan atas hak kemerdekaannya.
Menanggapi gerakan ini, pemerintah Indonesia melakukan banyak penangkapan, penyiksaan, dan eksekusi singkat terhadap aktivis kunci Papua.
Pembantaian terjadi di Biak pada tahun 1998, di Wamena, Abepura, dan Nabire pada tahun 2000. Di bawah rezim reformasi, tentara, tetapi juga polisi, terlibat dalam berbagai pemerasan terhadap orang Papua. Antara tahun 1998 dan 2003, setidaknya 2.500 orang Papua terbunuh.
4. Papua di Era Otonomi Khusus (Otsus)
Khawatir dengan pergolakan politik di Papua, pemerintah Indonesia pada tahun 2001 memberikan status otonomi khusus (Otsus) kepada provinsi terbesar di timur itu.
Ironisnya, pelaksanaan Otsus di Papua ditandai dengan pembunuhan Theys Eluay, ketua Presidium Dewan Papua (PDP), oleh Komando Pasukan Khusus Indonesia (Kopassus) pada 10 November 2001.
Penyiksaan dan pembantaian terus berlanjut: di Wasior pada tahun 2001, di Wamena tahun 2003, di Paniai tahun 2004 dan 2014, di Abepura tahun 2006, di Nduga tahun 2018, di Intan Jaya tahun 2019 hingga saat ini. Jumlah korban selama dua puluh tahun terakhir belum terdata dengan baik secara keseluruhan.
Ada juga bentuk-bentuk kekerasan lain yang disembunyikan negara Indonesia: orang Papua yang meninggal karena AIDS, keracunan makanan, kolera, alkohol dan obat-obatan. Jumlah migran Indonesia di kota-kota di Papua meningkat drastis. Perlakuan rasis terhadap orang kulit hitam Papua sedang meningkat di kalangan orang Indonesia. Eksploitasi sumber daya alam dan hutan tidak terkendali.Sayangnya, di bawah rezim otonomi khusus, orang asli Papua mulai menjadi minoritas di negaranya sendiri.
Kemudian yang lebih parah adalah masa kepemimpinan Prabowo Subianto dan anak Aram raka bumi Gibran berbasis watak imperialisme Militerisme yang terstruktur eksplorasi, ekploitasi di atas tanah Papua tanpa ada batasan.
Maka kami Aliansi Mahasiswa Papua komite kota lombok dan front Rakyat Indonesia untuk west Papua menyatakan pernyataan sikap politik kami:
1. Hentikan hedonisme bergaya pangkat Militer di Papua .
2. Bebaskan 6 aktivis mahasiswa di NTB.
3. Bebaskan seluruh tahanan politik di Papua dan di Indonesia tanpa syarat.
4. Tangkap dan adili jendral Jendra pelaku pelanggaran ham di masa lalu dan kini.
5. Mendukung penuh kemerdekaan Palestina, Zahara barat, kanaki dan katalonia.
6. Hentikan perusakan alam dan adili pemilik modal di Sumatera.
7. Berikan hak menentukan nasib-nya sendiri bagi bangsa papua barat sebagai solusi demokratis.
8. Hentikan pendoropan militer organik dan non-organik di seluruh tanah Papua.
9. Cabut Ombus law cipta kerja, outsourcing dan naikan upah pekerja.
10. Bubarkan komando teritorial dan hentikan militerisasi kampus.
11. Adili dosen cabul di Unram dan seluruh kampus di NTB.
12. Hentikan program transmigrasi, dan PSN di Papua dan seluruh Indonesia.
13. Hentikan perampasan lahan di Papua dan seluruh Indonesia.
14. Turunkan biaya pendidikan (UKT) di seluruh kampus yang ada di Indonesia.
15. Hentikan rasisme dan diskriminasi terhadap mahasiswa Papua dan sesama manusia di dunia kampus.
16. Indonesia segera membuka meja perundingan yang di pasilitas oleh PBB.
Kesimpulan; dengan demikian kaum buruh sedunia bersatulah untuk menggulingkan sistem kapitalisme dan menangkan sosialisme ilmiah.
Terima atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih banyak kamerade semua.!!!
Medan juang lombok 10 December 2025