03/07/2026
Taktik Politik Itu Buka Mata Dunia, Bukan Menutupi Mata Dunia
𝐎𝐥𝐞𝐡: 𝐍𝐲𝐚𝐦𝐮𝐤 𝐤𝐚𝐫𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮
“Semua orang adalah Intelektual tapi tidak semua orang adalah mempunyai fungsi Intelektual” -Gransi
TPNPB Kodap XVI Yahukimo dari Kompi Bakusip dari markas bahwa mereka bertanggung jawab atas penembakan terhadap Nichloas F Goselin Seorang pilot berkembangsaan Amerika Serikat serta pembakaran satu unit pesawat milik maskapai penerbangan Indonesia milik PT AMA di Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua pada hari Kamis, 2 Juli 2026.
Itu terjadi karena TPNPB tidak terikat dengan Hukum Nasional Indonesia dan HAM karena TPNPB berada diluar NKRI yang merupakan Kombatan Non pemerintahan sehingga mereka (TPNPB) tidak bisa menghargai hukum nasional Indonesia apalagi mau tunduk dan patuh kepada hukum NKRI itu tidak ada legalitas hukum.
Akan tetapi penting untuk Combatan bersenjata Non Negara adalah untuk menghormati dan patuh pada hukum humaniter Internasional seperti Covensi Jenewa 1949 Tentang Perlindungan Terhadap Warga Sipil, tawanan militer tanpa senjata, Gereja, sekolah dan pelayanan umum seperti pilot, kesehatan medis dan Hamba Tuhan tambahan protokol 1,ll dan lll 1970.
Orang tua kami pernah Sandera orang asing 26 orang tahun 1996 disebut dengan Sandera Mapnduma tahun 1996 dibawah Pimpinan Jenderal Kellyk kwalik, Daniel Kogoya dan Silas Karunggu alias Kogoya akan tetapi TPNPB kodap lll Ndugama Derakma menjaga mereka dengan baik seperti telur dengan menarik perhatian dunia Internasional. Walaupun waktu itu, satu pucuk melawan seribu pucuk senjata dan seribu pasukan kolonial Indonesia dibawah Pimpinan Prabowo Subianto yang saat ini menjadi presiden Republik Indonesia.
Hasil daripada sandera 26 orang peneliti Lorens 95 melahirkan membuka mata dunia internasional bahwa orang asli west Papua menuntut kemerdekaan bangsa Papua Barat sebelumnya,dunia internasional berpikir bahwa Pepera 1969 itu telah status politik bangsa Papua Barat telah Final, hasil Sandera Mapnduma 1996 juga melahirkan UU Otsus, bebas berbicara politik bangsa Papua Barat Merdeka, bebas cetak baju bermotif BK dan bisa mendirikan Bank Papua itu hasil daripada Sandera Mapnduma yang merupakan Taktik Politik untuk menarik perhatian Mata Dunia.
Kutipan Jenderal Silas Kogoya: menyatakan bahwa kami tidak pernah membunuh orang sembarangan, kami tahan musuh tapi kami biasa jaga mereka,pihara mereka, kasih makan mereka dan membebaskan mereka dengan dalam keadaan sehat dan baik. Karena tujuan kami bukan bunuh membunuh tapi tujuan kami adalah Merdeka secara politik, ekonomi, sosial dan budaya diatas tanah dan negeri kami sendiri.
Tahun 1990-an kami orang Nduga tidak mengenal pendidikan,apalagi hukum humaniter Internasional akan tetapi kami dididik dan diajarkan pendidikan alamiah dari hukum alam dan hukum Honai bahwa jangan membunuh orang sembarangan dalam peperangan tapi bunuhlah pelaku karena menuntut darah masih berlaku.
Pada 7 Februari 2023 TPNPB kodap lll Ndugama Derakma Dibawah pimpinan Panglima Jendral Egianus Kogoya dan pasukannya kembali Sandera Pilot Marthen Asal Selandia Baru, TPNPB kodap lll Ndugama Derakma menjaga Pilot Marthen Asal Selandia Baru seperti telur dan bebaskan dalam keadaan sehat dan baik bukan karena TPNPB kodap lll Ndugama Derakma Dibawah pimpinan Panglima Jendral Egianus Kogoya bukan tidak Berani membunuh orang tapi hanya Jenderal Egianus Kogoya dan pasukannya mematuhi hukum humaniter Internasional yang mengatur tentang melindungi warga sipil dan pelayanan publik.
Penahanan dan sandera Pilot Marthen Asal Selandia Baru merupakan Taktik Politik Papua Barat Merdeka untuk menarik perhatian dunia Internasional bahwa orang asli west Papua mau Merdeka dan Jenderal Egianus Kogoya kodap lll Ndugama Derakma membuktikan bahwa Nilai Kemanusiaan dan perlindungan terhadap non Kombatan lebih penting untuk pengakuan dari dunia internasional bahwa orang Papua Barat berjuang untuk Merdeka bukan untuk menggulingkan NKRI.
Gerak Sipil Mampu Menganalisis Dampak Dari Pembunuhan Pilot, Tenaga Medis dan Tenaga Guru Jangan Asal Dukung Mendukung Enak Tidur dan Bangun Di kota:
Sepatah kata bahwa “ Pengalaman adalah guru terbaik” agar tidak jatuh di jurang yang sama;.
1.Dampak Pelayanan untuk Masyarakat Dikampung
Kabupaten Nduga memiliki 32 distrik dan 248 kampung dan didalamnya ada pukesmas, sekolah dan lapangan terbang kecil-kecil lebih daripada 40-an lapangan terbang yang dilayani oleh pesawat kecil seperti AMA dan MAAF. Dampak dari konflik bersenjata antara TPNPB kodap lll Ndugama Derakma dan militer kolonial Indonesia telah tutup seluruh pelayanan publik seperti; Kesehatan, pendidikan dan bandara.
Tahun 2018 setelah merampas senjata dari tangan militer kolonial Indonesia di Derakma oleh Jenderal Egianus Kogoya dan perang berlanjut Mugi, Mapnduma, Kenyam dan berlanjut perang di Jigi dengan pembunuhan terhadap 31 militer Indonesia bekerja di jembatan kali Jigi. Dalam peperangan ini, perempuan muda,tua dan laki-laki muda dan tua orang Nduga semua menghiasi militer Rambo dan bahkan hiasannya dihiasi didalam kemaluan lebih-lebih perempuan (Rambo Kuru).
Akan tetapi beriring berjalan waktu perempuan muda Nduga yang hiasi wajah dan kemaluan dengan hiasan Rambo semua masuk di kota kolonial Indonesia, menjadi mahasiswa, pemerintah dan penjilat kolonial Indonesia dan demikian p**a dengan kaum muda laki-laki Nduga semua masuk di kota dan saat ini Jenderal Egianus Kogoya sendiri bertahan dihutan rimba raya di Ndugama.
Akibat penutupan bandara tersebut, masyarakat kampung penderita karena kita Nduga hanya satu jalur yaitu jalur Udara.
2.Dampak Kesehatan
Orang tua kami banyak yang mati dihutan-hutan tanpa bantuan kesehatan medis dan tanpa pengobatan karena tidak ada tenaga kesehatan.
3.Dampak Pendidikan
Generasi emas Nduga di terlantarkan karena gedung sekolah ditutup dan tenaga guru pengungsi di kota.
4.Dampak untuk Masyarakat Dikampung
Tinggalkan kampung halaman,rumah,ternak babi,kebun dan Pengungsi dan hari ini kami seperti anak-anak kecil, anak-anak Aibon dan tidak ada apa-apa di mata orang lain walaupun dikampung kami, kami adalah orang-orang yang Merdeka,Otonom, Independen dan Mandiri.
5.Pesan Moral untuk Aktivis Gerakan Sipil kota dan Mahasiswa:
“Semua orang adalah Intelektual tapi tidak semua orang adalah memiliki fungsi Intelektual”-Gransi
Berhentilah! Menjadi kompor gas untuk Korbankan warga sipil dengan saling dukung dan mendukung atas Pembunuhan Pilot AMA Nichloas F Goselin di Yahukimo, karena kalian bukan dilapangan tapi kalian berada di kota dan kalian bukan masyarakat sipil yang menetap disana dan kalian bukan sayap militer tapi kalian adalah gerakan Sipil kota.
Kalian gerakan Sipil kota tugas dan tanggung jawab adalah lobi-lobi politik diplomasi untuk Perundingan dengan Kolonial Indonesia bukan kalian menunggu aksi Sayap Militer, tugas sayap militer adalah eksekusi dan mengelola hasil eksekusi adalah kalian gerakan Sipil kota didalam negeri dan diplomasi diluar negeri.
Perlu ingat bahwa: “orang mati tidak bisa negosiasi dengan orang yang masih hidup dan orang tahanan tidak bisa negosiasi dengan orang bebas” taktik politik kalian gerakan Sipil dukung mendukung kalian mendukung apa dulu?? Kalian bisa atasi nasib warga sipil dikampung disana kah tidak?? ketika warga Nduga pengungsi tahun 2019 saya tinggalkan sekolah dan p**ang kampung atas nama Kemanusiaan sekolah disampingkan bisa kah tidak??
Belum pernah merasakan dan mengatasi warga pengungsi dan rasa pengungsi itu seperti apa?, tapi asal dukung mendukung itu berarti anda tidak punya fungsi Intelektual dan tidak punya pisau analisis taktik politik terkait dengan penanganan pengungsi warga sipil.
Medan Juang,3 Juli 2026
Nyamuk karunggu
#𝐩𝐞𝐫𝐣𝐮𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐧
#𝐩𝐪𝐩𝐮𝐚𝐛𝐚𝐫𝐚𝐭