08/12/2021
๐ ๐๐ ๐๐จ๐ฅ๐จ ๐ ๐๐ก๐ง๐ฅ๐
๐ ๐๐จ๐๐๐ ๐จ
{Belu}
Alih-alih menggigil sempoyongan, Reiner Koli justru amat tenang dan kontemplatif. Angin subuh yang berderu kencang dari tubir Gunung Lakaan lalu menari-nari di rembang bukit batu sama sekali tidak membuat pria paruh baya itu huyung barang selangkah pun. Ia seolah terlingkupi taksu dalam taksa fajar.
Dengan khidmat ditatapnya tiap menhir, lalu perlahan membentangkan sehelai kain tenun berlarik ungu di permukaan sebuah dolmen. Kemudian, pelan-pelan dua buah kotak anyaman lontar diletakkannya di atas kain itu. Dari sana saya melihat tangannya membagi-bagi daun siri, butiran pinang, juga tepung kapur. Mulutnya merapal kalimat-kalimat, entah mantra apa, dalam bahasa Bunaq yang tidak saya mengerti. Demikianlah Reiner mendarmakan sajen serta doa bagi para karuhunnya.
โMaudemu, bukit batu ini dulunya adalah kediaman leluhur kami, sekaligus pusat kerajaan Tahakae Maudemu Lakoto yang sulit ditaklukkan. Di sini terdapat istana serta perkampungan, dengan gerbang dari batu yang sangat sempit,โ urai Reiner sembari melangkah mendahului saya. Ia mulai meniti kepalan batu raksasa di sisi selatan bukit yang permukaannya runcing-runcing bagai gerigi gerjaji. Tepi batu ini langsung berjurang, mendebarkan. Seakan-akan kami mengapung di atas awan Cumulonimbus nan beku. Jika terpeleset, maka dengan segera kami akan bersua roh-roh leluhur Reiner.
Taburan kartika di cakrawala berkedip-kedip yang penghabisan kalinya menjelang matahari muncul. Begitu juga rembulan tampak perlahan mengabur dayanya. Manusia-manusia di kaki bukit batu Mandemu segera terjaga dari tidur, dan akan mengisi hari dengan aktifitasnya. โManusia adalah anak-anak matahari dan bulan,โ begitu bunyi syair Zapan, semacam ungkapan lisan suku Bunaq. Bagi mereka, matahari merupakan ibu (๐ธ๐๐ โ๐๐ก), sedangkan bulan adalah ayah (๐ด๐๐ โ๐ข๐).
โDi atas bukit ini sebelumnya ada sejumlah Aitos, patung kayu berukir kepala manusia simbol para leluhur. Aitos adalah penghubung antara bumi dengan langit, perantara manusia dengan bulan serta matahari,โ tutur Reiner lagi.
Sekarang, Aitos-aitos telah lenyap dari bukit batu. Begitu juga bumi dan langit berjarak amat jauh. Tapi pikiran saya, sekonyong, malah memunculkan hipotesa mengenai kehidupan ekstraterestrial. Apakah suku Bunaq, sebagaimana suku arkais Rapanui di Pulau Paskah (Cile), dulunya melakukan kontak langsung dengan kehidupan luar bumi? Bukankah Aitos bagi orang Bunaq sama halnya Moai untuk orang Rapanui? Oh, saya terlalu terpengaruh oleh serial TV ๐ด๐๐๐๐๐๐ก ๐ด๐๐๐๐๐ .
Berasal dari Gunung Lakaan, bersama suku Melus, suku Bunaq disebut sebagai penduduk Belu asli sekaligus salah satu suku tertua di Pulau Timor. Mereka memiliki bahasa sendiri yang unik, dan mendiami zona tapal batas pegunungan Lamaknen. Keturunannya menyebar ke dua arah; baik ke Timor Leste maupun ke Timor barat.
Kata Reiner, karena posisi persebaran inilah yang menyebabkan timbulnya polemik perbatasan. โKalau kamu perhatikan peta Belu baik-baik, kamu akan melihat bahwa wilayah pegunungan Lamaknen ini menjorok masuk ke dalam wilayah Timor Leste. Gara-gara ini dulu Lamaknen sempat diwacanakan hendak dibarter dengan Oecusse, enklav Timor Leste di Timor Barat sana. Namun ide itu gagal. Seandainya berhasil, maka Lamaknen, yang mencakup Maudemu, gunung Lakaan, padang Fulan Fehan, serta air terjun Mauhalek sudah tentu telah jadi milik Timor Leste sekarang,โ ujarnya.
Mendengarkan Reiner sambil memvisualisasikan penjelasannya dalam benak, saya merasa yakin Maudemu dan daerah sekitarnya tentu menjadi zona yang rawan saat konflik Timor Leste bergejolak.
๐๐๐ฌ๐๐ค๐ฌ๐ข๐๐ง ๐๐๐ญ๐๐ซ๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ง๐
Maudemu, desa yang terselip di antara bukit-bukit marmer Lamaknen tampaknya tempat yang ideal untuk mengawetkan cerita dan sejarah. Saya butuh dua jam berkendaraan untuk menjangkaunya dari Atambua. Jalanan menuju ke sini sedang dikerjakan, membedaki siapa saja dengan debu, tapi penduduknya senang karena akses ke desa mereka akan terbuka. Kata mereka, sebelum jalan diperbaiki, perlu empat-lima jam untuk mencapai Maudemu.
"Saya pernah melewati jalan lebih tajam daripada runcing batu-batu ini, melihat darah lebih merah daripada fajar ini. Empat puluh tujuh tahun lampau, ketika tentara Indonesia mewajibkan kami, pemuda-pemuda gunung, untuk menjadi garda militer mereka jelang Operasi Seroja. Saya berusia awal dua puluhan waktu itu, bertubuh kecil dengan semangat yang membumbung," ujar Yosef Bauliko.
Pria veteran operasi invasi Indonesia atas Timor Timur itu mengisahkan pengalamannya semalam suntuk, tanpa surut energinya, dari sejam awal saya tiba di desanya hingga malam berganti pagi. Barangkali kejadian masa perang itu tidak akan pernah terhapus dari ingatannya, dan bisa jadi juga saya adalah orang kesekian yang mendengarkan Yosef.
Kepadanya saya mengisahkan tentang pendakian bukit batu bersama Reiner pada subuh yang berangin kencang menggigilkan kaki. Bahwa jaket dan kain tenun di badan saya berkibar-kibar seumpama bendera yang hendak lepas dari tiang, dan onggokan batu-batu besar berpermukan runcing-runcing membuat pijakan saya kerapkali hilang kendali. Dia membalas kisah saya dengan kalimat agak menginsinuasi; โItu tak seberapa ketimbang perang," katanya.
Di bawah bukit batu itu, kata Yosef, terbentang ngarai lapang yang bagian selatannya saling silang dipagari perbukitan gundul Baupos, Saranloro, dan Tasrato. "Ada sungai Misi yang terjepit di antaranya. Sungai itulah yang memisahkan Timor Barat dengan Timor Timur, memisahkan orang-orang suku Bunaq menjadi dua negara. Saya dan kawanan tentara pernah menyisir sungai itu dalam gulita ketika milisi Fretelin membakar kampung di belakang Gunung Lakaan. Tak ada yang hidup. Bagi mereka kami adalah musuh, bagi kami mereka adalah hantu."
Saya membacakan berita tentang kematian Habibie, mantan Presiden RI yang menggelontorkan opsi referendum bagi Timor Leste tahun 1999, 23 tahun setelah Operasi Seroja menjadikan Timor Leste sebagai provinsi termuda.
"Terus terang, saya kecewa saat mengetahui hasil jajak pendapat waktu itu. Rasanya sia-sia pengorbanan kami. Saya kehilangan masa muda, begitu pun mereka yang tewas dalam gerilya atau yang dibunuh diam-diam." Terasa sekali api perjuangan belum padam dari pikiran dan jiwa Yosef, kendati perang telah usai.
Yosef menengadakan pandangannya, lalu sejurus kemudian berkata, "tapi tanpa referendum pasti kemelut Timor Leste akan tetap ada hingga sekarang. Perang serta kematian olehnya akan terus berlanjut. Mungkin sudah seperti itu prosesnya โreferendum- agar damai tercipta. Kita semua menginginkan ketenteraman, bukan? Orang Tetun bilang Moris Diak, kami orang Bunaq menyebutnya Uloi: Hidup yang baik."
Saya meninggalkan Maudemu dengan bermacam pikiran, juga perasaan damai yang aneh. Kelok-kelok rute jalan berdebu, dan hilang munculnya bukit-bukit marmer Lamaknen seolah menyiratkan banyaknya cerita yang masih terbekap oleh mantra. Saya akan datang lagi untuk memburunya.
**
๐๐ก๐๐๐ฆ๐ก๐๐๐๐๐ & ๐โ๐๐ก๐๐๐๐๐โ๐๐: ๐๐ด๐ฟ๐ธ๐๐๐ผ๐๐ ๐ฟ๐๐ผ๐ (.indonesia)
๐๐ข๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐โ ๐๐๐ ๐๐ค๐๐ก ๐ฟ๐๐๐ ๐ด๐๐