JalanCerita

JalanCerita JalanCerita adalah sebuah platform berisi kisah-kisah perjalanan di seputar Nusa Tenggara Timur, dit

๐— ๐—˜๐— ๐—•๐—จ๐—ฅ๐—จ ๐— ๐—”๐—ก๐—ง๐—ฅ๐—”๐— ๐—”๐—จ๐——๐—˜๐— ๐—จ{Belu}Alih-alih menggigil sempoyongan, Reiner Koli justru amat tenang dan kontemplatif.  Angin subu...
08/12/2021

๐— ๐—˜๐— ๐—•๐—จ๐—ฅ๐—จ ๐— ๐—”๐—ก๐—ง๐—ฅ๐—”
๐— ๐—”๐—จ๐——๐—˜๐— ๐—จ
{Belu}

Alih-alih menggigil sempoyongan, Reiner Koli justru amat tenang dan kontemplatif. Angin subuh yang berderu kencang dari tubir Gunung Lakaan lalu menari-nari di rembang bukit batu sama sekali tidak membuat pria paruh baya itu huyung barang selangkah pun. Ia seolah terlingkupi taksu dalam taksa fajar.

Dengan khidmat ditatapnya tiap menhir, lalu perlahan membentangkan sehelai kain tenun berlarik ungu di permukaan sebuah dolmen. Kemudian, pelan-pelan dua buah kotak anyaman lontar diletakkannya di atas kain itu. Dari sana saya melihat tangannya membagi-bagi daun siri, butiran pinang, juga tepung kapur. Mulutnya merapal kalimat-kalimat, entah mantra apa, dalam bahasa Bunaq yang tidak saya mengerti. Demikianlah Reiner mendarmakan sajen serta doa bagi para karuhunnya.

โ€œMaudemu, bukit batu ini dulunya adalah kediaman leluhur kami, sekaligus pusat kerajaan Tahakae Maudemu Lakoto yang sulit ditaklukkan. Di sini terdapat istana serta perkampungan, dengan gerbang dari batu yang sangat sempit,โ€ urai Reiner sembari melangkah mendahului saya. Ia mulai meniti kepalan batu raksasa di sisi selatan bukit yang permukaannya runcing-runcing bagai gerigi gerjaji. Tepi batu ini langsung berjurang, mendebarkan. Seakan-akan kami mengapung di atas awan Cumulonimbus nan beku. Jika terpeleset, maka dengan segera kami akan bersua roh-roh leluhur Reiner.

Taburan kartika di cakrawala berkedip-kedip yang penghabisan kalinya menjelang matahari muncul. Begitu juga rembulan tampak perlahan mengabur dayanya. Manusia-manusia di kaki bukit batu Mandemu segera terjaga dari tidur, dan akan mengisi hari dengan aktifitasnya. โ€œManusia adalah anak-anak matahari dan bulan,โ€ begitu bunyi syair Zapan, semacam ungkapan lisan suku Bunaq. Bagi mereka, matahari merupakan ibu (๐ธ๐‘š๐‘’ โ„Ž๐‘œ๐‘ก), sedangkan bulan adalah ayah (๐ด๐‘š๐‘Ž โ„Ž๐‘ข๐‘™).

โ€œDi atas bukit ini sebelumnya ada sejumlah Aitos, patung kayu berukir kepala manusia simbol para leluhur. Aitos adalah penghubung antara bumi dengan langit, perantara manusia dengan bulan serta matahari,โ€ tutur Reiner lagi.

Sekarang, Aitos-aitos telah lenyap dari bukit batu. Begitu juga bumi dan langit berjarak amat jauh. Tapi pikiran saya, sekonyong, malah memunculkan hipotesa mengenai kehidupan ekstraterestrial. Apakah suku Bunaq, sebagaimana suku arkais Rapanui di Pulau Paskah (Cile), dulunya melakukan kontak langsung dengan kehidupan luar bumi? Bukankah Aitos bagi orang Bunaq sama halnya Moai untuk orang Rapanui? Oh, saya terlalu terpengaruh oleh serial TV ๐ด๐‘›๐‘๐‘–๐‘’๐‘›๐‘ก ๐ด๐‘™๐‘–๐‘’๐‘›๐‘ .

Berasal dari Gunung Lakaan, bersama suku Melus, suku Bunaq disebut sebagai penduduk Belu asli sekaligus salah satu suku tertua di Pulau Timor. Mereka memiliki bahasa sendiri yang unik, dan mendiami zona tapal batas pegunungan Lamaknen. Keturunannya menyebar ke dua arah; baik ke Timor Leste maupun ke Timor barat.

Kata Reiner, karena posisi persebaran inilah yang menyebabkan timbulnya polemik perbatasan. โ€œKalau kamu perhatikan peta Belu baik-baik, kamu akan melihat bahwa wilayah pegunungan Lamaknen ini menjorok masuk ke dalam wilayah Timor Leste. Gara-gara ini dulu Lamaknen sempat diwacanakan hendak dibarter dengan Oecusse, enklav Timor Leste di Timor Barat sana. Namun ide itu gagal. Seandainya berhasil, maka Lamaknen, yang mencakup Maudemu, gunung Lakaan, padang Fulan Fehan, serta air terjun Mauhalek sudah tentu telah jadi milik Timor Leste sekarang,โ€ ujarnya.

Mendengarkan Reiner sambil memvisualisasikan penjelasannya dalam benak, saya merasa yakin Maudemu dan daerah sekitarnya tentu menjadi zona yang rawan saat konflik Timor Leste bergejolak.

๐Š๐ž๐ฌ๐š๐ค๐ฌ๐ข๐š๐ง ๐•๐ž๐ญ๐ž๐ซ๐š๐ง ๐๐ž๐ซ๐š๐ง๐ 
Maudemu, desa yang terselip di antara bukit-bukit marmer Lamaknen tampaknya tempat yang ideal untuk mengawetkan cerita dan sejarah. Saya butuh dua jam berkendaraan untuk menjangkaunya dari Atambua. Jalanan menuju ke sini sedang dikerjakan, membedaki siapa saja dengan debu, tapi penduduknya senang karena akses ke desa mereka akan terbuka. Kata mereka, sebelum jalan diperbaiki, perlu empat-lima jam untuk mencapai Maudemu.

"Saya pernah melewati jalan lebih tajam daripada runcing batu-batu ini, melihat darah lebih merah daripada fajar ini. Empat puluh tujuh tahun lampau, ketika tentara Indonesia mewajibkan kami, pemuda-pemuda gunung, untuk menjadi garda militer mereka jelang Operasi Seroja. Saya berusia awal dua puluhan waktu itu, bertubuh kecil dengan semangat yang membumbung," ujar Yosef Bauliko.

Pria veteran operasi invasi Indonesia atas Timor Timur itu mengisahkan pengalamannya semalam suntuk, tanpa surut energinya, dari sejam awal saya tiba di desanya hingga malam berganti pagi. Barangkali kejadian masa perang itu tidak akan pernah terhapus dari ingatannya, dan bisa jadi juga saya adalah orang kesekian yang mendengarkan Yosef.

Kepadanya saya mengisahkan tentang pendakian bukit batu bersama Reiner pada subuh yang berangin kencang menggigilkan kaki. Bahwa jaket dan kain tenun di badan saya berkibar-kibar seumpama bendera yang hendak lepas dari tiang, dan onggokan batu-batu besar berpermukan runcing-runcing membuat pijakan saya kerapkali hilang kendali. Dia membalas kisah saya dengan kalimat agak menginsinuasi; โ€œItu tak seberapa ketimbang perang," katanya.

Di bawah bukit batu itu, kata Yosef, terbentang ngarai lapang yang bagian selatannya saling silang dipagari perbukitan gundul Baupos, Saranloro, dan Tasrato. "Ada sungai Misi yang terjepit di antaranya. Sungai itulah yang memisahkan Timor Barat dengan Timor Timur, memisahkan orang-orang suku Bunaq menjadi dua negara. Saya dan kawanan tentara pernah menyisir sungai itu dalam gulita ketika milisi Fretelin membakar kampung di belakang Gunung Lakaan. Tak ada yang hidup. Bagi mereka kami adalah musuh, bagi kami mereka adalah hantu."

Saya membacakan berita tentang kematian Habibie, mantan Presiden RI yang menggelontorkan opsi referendum bagi Timor Leste tahun 1999, 23 tahun setelah Operasi Seroja menjadikan Timor Leste sebagai provinsi termuda.

"Terus terang, saya kecewa saat mengetahui hasil jajak pendapat waktu itu. Rasanya sia-sia pengorbanan kami. Saya kehilangan masa muda, begitu pun mereka yang tewas dalam gerilya atau yang dibunuh diam-diam." Terasa sekali api perjuangan belum padam dari pikiran dan jiwa Yosef, kendati perang telah usai.

Yosef menengadakan pandangannya, lalu sejurus kemudian berkata, "tapi tanpa referendum pasti kemelut Timor Leste akan tetap ada hingga sekarang. Perang serta kematian olehnya akan terus berlanjut. Mungkin sudah seperti itu prosesnya โ€“referendum- agar damai tercipta. Kita semua menginginkan ketenteraman, bukan? Orang Tetun bilang Moris Diak, kami orang Bunaq menyebutnya Uloi: Hidup yang baik."

Saya meninggalkan Maudemu dengan bermacam pikiran, juga perasaan damai yang aneh. Kelok-kelok rute jalan berdebu, dan hilang munculnya bukit-bukit marmer Lamaknen seolah menyiratkan banyaknya cerita yang masih terbekap oleh mantra. Saya akan datang lagi untuk memburunya.

**
๐‘†๐‘ก๐‘œ๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘ก๐‘’๐‘™๐‘™๐‘’๐‘Ÿ & ๐‘ƒโ„Ž๐‘œ๐‘ก๐‘œ๐‘”๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘โ„Ž๐‘’๐‘Ÿ: ๐‘‰๐ด๐ฟ๐ธ๐‘๐‘‡๐ผ๐‘๐‘‚ ๐ฟ๐‘ˆ๐ผ๐‘† (.indonesia)
๐‘‡๐‘ข๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘›๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘–๐‘๐‘ข๐‘๐‘™๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘– ๐‘š๐‘Ž๐‘—๐‘Ž๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘๐‘’๐‘ ๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘ก ๐ฟ๐‘–๐‘œ๐‘› ๐ด๐‘–๐‘Ÿ

๐——๐—˜๐—ฅ๐—จ ๐——๐—˜๐—•๐—จ ๐—ฆ๐—”๐—š๐—จ{Flores Timur}Tugu berwujud pilar pualam putih itu hampir tiga meter tingginya. Kelihatan janggal berdiri ...
02/11/2021

๐——๐—˜๐—ฅ๐—จ ๐——๐—˜๐—•๐—จ ๐—ฆ๐—”๐—š๐—จ
{Flores Timur}

Tugu berwujud pilar pualam putih itu hampir tiga meter tingginya. Kelihatan janggal berdiri sendirian di antara kepungan rumah-rumah nelayan sederhana. Pada permukaan pilar yang menghadap ke laut, terdapat relief sebuah jangkar berhiaskan mahkota โ€˜๐˜’๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ท๐˜ข๐˜ฏ ๐˜•๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ.โ€™ Di kaki tugu dua buah prasasti tersemat, salah satu bertuliskan demikian; ๐˜๐˜ช๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜™๐˜ถ๐˜ด๐˜ต ๐˜“๐˜ถ๐˜ช๐˜ต๐˜ซ๐˜ฆ ๐˜ท๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜‰๐˜ฐ๐˜ณ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜“๐˜ถ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ก๐˜ฆ๐˜ฆ (Di sini beristirahat Luitje van der Borg Letnan Maritim).

โ€œSang letnan Luitje terbunuh saat membantu Kerajaan Adonara dalam Perang Hongi,โ€ terang Muhammad Sarabiti, warga lokal, yang mendampingi kami siang itu. โ€œKetika mendengar Luitje meninggal, tunangannya rela berlayar dari Belanda ke mari dan memprakarsai berdirinya tugu ini. Patah hati perempuan itu tak terbendung, sehingga usai tugu diresmikan, dia meminta supaya ujung tugu ditembak dengan meriam. Potongan pucuk tugu lantas dibawanya ke Belanda sebagai kenangan abadi akan sang kekasih,โ€ lanjut Muhammad Sarabiti dengan nada kalem.

Saya termangu mendengar kisahnya, betapa cinta dua manusia asing terejawantah dengan cara yang luar biasa dalam kecamuk perang lokal berabad silam. Apalagi membaca keterangan tambahan pada plakat, saya menyadari bahwa Luitje van der Borg, pria Belanda tersebut, tewas terbunuh di usia yang masih begitu muda, 25 tahun. Mirip seperti melankolia asmara Romeo & Juliet atau Jack & Rose, sama-sama dialami muda-mudi yang sepadan usianya. Namun, bila latar cerita mereka terlalu jauh di Eropa dan dianggap fiksi, maka kisah Luitje dan tunangannya ini bisa jadi kisah paling romantis yang nyata adanya.

Bisakah dibayangkan, bagaimana tunangan Luitje mengarungi lautan berbulan-bulan p**ang ke Belanda sambil membawa potongan pilar tugu itu? Dan siapa sangka romansa ini terjadi di Sagu, kampung sunyi di pesisir Adonara, p**au yang teronggok dari tabir timur Flores? Saya bahkan baru tahu sekarang!

๐—ฆ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—ฑ๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ
Dilihat sepintas, Sagu hanyalah kampung kecil di tepian pantai. Bila berkendaraan kemari pun orang-orang harus siap melindasi jalan debu berbatu. Dibandingkan wilayah lain di Pulau Adonara yang telah rapi dan tersentuh aspal mulus, kampung ini malah tampak tak terurus, kisut tak diacuhkan. Padahal, pada abad Pertengahan, Sagu adalah sentra Kerajaan Adonara sekaligus bandar perniagaan laut yang ramai. Barangkali perpecahan antar kerajaan-kerajaan lokal akibat seteru bangsa-bangsa kolonial dahulu masih menyisahkan sentimen hingga masa kini.

Terpisahkan beberapa meter saja dari tugu Luitje, Muhammad Sarabiti mempertemukan saya dengan Arifin Nueng Ape, satu dari keturunan raja Adonara. Kediaman Arifin yang berdinding papan dan beratap seng penuh korosi itu ternyata terletak dalam kompleks istana raja yang telah roboh dua dekade lalu. Saya melihat pagar batu yang mengitari area luas itu, sumur antik, juga sisa gerbang di sisi utara.

โ€œDulu istananya berbentuk rumah panggung dikelilingi pagar batu dengan sejumlah gerbang,โ€ kata Arifin sembari menunjukkan foto istana yang disimpannya baik-baik. Di ruang tamu saya melihat dua meja bundar dari marmer asli berukir amat indah, warisan istana yang tersisa.

Arifin mengisahkan bahwa pusat kerajaan sebenarnya berada di atas bukit di kampung tua Adonara, kemudian dipindahkan ke Sagu demi mempermudah aktifitas dan transportasi maritim pada masa pemerintahan raja Arkiang Kamba di tahun 1700an. โ€œBeliau juga yang mempelopori pembangunan masjid di sebelah istana ini dan Islam berkembang jadi agama mayoritas di pesisir,โ€ urai Arifin. Ia memamerkan koleksi keris juga peci peninggalan raja Arkiang, kemudian membawa saya melihat makam sang raja yang berada di halaman samping masjid.

โ€œJika sempat, usai dari sini, berkunjunglah ke kampung tua Adonara. Dari nama kampung itulah kemudian digunakan sebagai identitas keseluruhan p**au ini. Ada sisa benteng Portugis di sana,โ€ ujar Arifin.

Mendengar kata-kata terakhirnya mengenai keberadaan benteng Portugis, membuat saya seperti diberi kejutan tambahan. Ini jelas sebuah perjalanan meretas denai-denai sejarah nan azamat. Belum banyak yang mengisahkan tentang hal ini, dan antusiasme saya jelas terlecut.

๐—•๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ผ๐—ฟ๐˜๐˜‚๐—ด๐—ถ๐˜€ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐——๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐˜‚
Untuk sampai ke kampung tua Adonara dari Sagu kendaraan harus memutar sekitar 10 km. Ini lantaran topografi daerahnya yang berbukit-bukit, sedangkan bila melalui jalur laut hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit. Setelah melintasi jalan raya, lantas berbelok menelusuri jalan kecil di punggung bukit yang lebih sepi berlatar Gunung Ile Boleng di timur dan lautan di barat.

Menjelang kampung tua Adonara, vista sebelah utara jalan memaparkan sebuah ngarai berisi air. โ€œItu Danau Kota Kaya,โ€ kata Tarwan Stanislaus, jurnalis yang memberi saya tumpangan kendaraan. Lantaran sedang kemarau dan mengalami sedimentasi, volume airnya menipis. Ditambah desakan pertumbuhan pemukiman di tepian batas antara danau dengan laut akan membuat debit airnya kian menyusut. โ€œKatanya dulu bebek Australia sering bermigrasi kemari,โ€ imbuh Tarwan. Pemandangan dari punggung bukit ke danau ini cukup memikat dan jadi perhentian yang menenangkan bagi para pelintas.

Benteng Portugis yang saya incar ternyata langsung berada di pinggir jalan. Bahkan, saya menduga sepertinya bagian dari benteng telah digerus untuk dijadikan badan jalan. Struktur konstruksinya hampir sama dengan benteng di Lohayong - Pulau Solor, gelondong batu-batu yang terususun dan direkatkan dengan bahan calcium carbonate.

Sebuah bastion berbentuk ruangan persegi dengan beberapa lubang pengintai menyisahkan sejumlah meriam kecil. Bastion ini jika tidak dilindungi dengan segera maka akan lenyap dalam beberapa tahun mendatang. Meriam-meriam lain berserakan di pekarangan rumah warga kampung, seolah tidak dipedulikan sama sekali. Orang-orang hanya memandangi saya dengan diam sewaktu saya mengamati detail demi detail meriam itu.

Kampung tua Adonara ini bertengger di ujung bukit, membentuk tanjung. Sebuah lokasi ideal untuk membangun benteng atau fortification yang diidam-idamkan bangsa Portugis. Saya kesulitan untuk mencari referensi terkait benteng ini karena nyaris tidak ada catatan sama sekali mengenainya, mencari di Google pun tidak ada yang membahasnya. Sayang sekali, apakah begini nasib peninggalan-peninggalan bersejarah di sudut negeri?

Saya membayangkan lagi Sagu yang terlantar, tugu Luitje, lalu benteng serta kampung tua Adonara. Tempat-tempat dengan nilai historis luar biasa seperti ini semestinya tidak jadi korban abadi seteru masa lalu. Tidak harus merana lalu lenyap oleh deru debu waktu. Bisakah kita memanfaatkan sisi historisnya, menyoroti estetikanya, dan mengubahnya menjadi permai untuk mendamaikan friksi-friksi masa lampau?

**
๐‘†๐‘ก๐‘œ๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘ก๐‘’๐‘™๐‘™๐‘’๐‘Ÿ & ๐‘ƒโ„Ž๐‘œ๐‘ก๐‘œ๐‘”๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘โ„Ž๐‘’๐‘Ÿ: ๐‘‰๐ด๐ฟ๐ธ๐‘๐‘‡๐ผ๐‘๐‘‚ ๐ฟ๐‘ˆ๐ผ๐‘† (.indonesia)
๐‘‡๐‘ข๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘›๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘–๐‘๐‘ข๐‘๐‘™๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘– ๐‘š๐‘Ž๐‘—๐‘Ž๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘๐‘’๐‘ ๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘ก ๐ฟ๐‘–๐‘œ๐‘› ๐ด๐‘–๐‘Ÿ

๐—˜๐—ž๐—ฆ๐—ฃ๐—˜๐——๐—œ๐—ฆ๐—œ ๐—˜๐—ฅ๐—จ๐—ฃ๐—ฆ๐—œ ๐—•๐—”๐—ง๐—จ๐—ง๐—”๐—ฅ๐—”{Pulau Komba, Lembata}Brice Taussad, teman perjalanan asal Prancis, melempar tanya untuk kali k...
04/10/2021

๐—˜๐—ž๐—ฆ๐—ฃ๐—˜๐——๐—œ๐—ฆ๐—œ ๐—˜๐—ฅ๐—จ๐—ฃ๐—ฆ๐—œ ๐—•๐—”๐—ง๐—จ๐—ง๐—”๐—ฅ๐—”
{Pulau Komba, Lembata}

Brice Taussad, teman perjalanan asal Prancis, melempar tanya untuk kali ketiga,โ€Bagaimana? Kamu masih ragu?โ€ Matanya yang abu-abu cemerlang itu seolah membara di bawah redup lampu malam. Kami menyantap ikan bakar di kafe sekitar Pelabuhan Lewoleba - Lembata, dan saya masih dirundung kebimbangan antara ikut ajakannya atau memilih tinggal di Lewoleba.

Terus terang, saya tidak begitu yakin berlayar semalaman dengan kapal motor kecil. Apalagi ke Batutara. Saya telah mendengar banyak kalimat menyeramkan dari penduduk Lembata mengenai gunung di tengah samudra tersebut. Katanya, arus laut sangat kencang menuju ke sana, jarak amat jauh butuh waktu sekitar delapan sampai sepuluh jam guna mencapainya, serta p**au gunung itu tak berpenghuni, banyak hantunya. Dulu, orang-orang yang diketahui mempraktikan ilmu hitam, biasa disingkirkan ke p**au itu.

Saya tidak percaya hal-hal angker, tapi saya sangat enggan berlayar selama delapan jam terobang-ambing terseret arus di atas kapal kecil, malam-malam p**a. Rasanya tak siap bila harus mengalami adegan seperti dalam film ๐ฟ๐‘–๐‘“๐‘’ ๐‘œ๐‘“ ๐‘ƒ๐‘–. Selain itu, mabuk laut merupakan momok lebih mengkhawatirkan ketimbang bertemu hantu. Bagaimana dapat menikmati pemandangan bila kepala pusing dan perut mual-mual?

โ€œAyolah, Val. Kita sudah jauh-jauh dari Bali ke Lembata. Batutara sudah dekat. Kalau mabuk, minum saja obat dan kamu bisa tidur lelap di atas kapal. Bangun pagi kita sudah sampai sambil lihat matahari terbit,โ€ urai Brice lagi.

Akhirnya, saya menyerah. Tak elok membiarkan teman seperjalanan pergi sendirian. Brice sudah mengimpikan kunjungan ke Batutara sejak lama. Usai mendatangi Lamalera untuk melihat kampung pemburu paus dan mendaki Gunung Ile Ape, ia tetap mencari kemungkinan mencapai Batutara. Ia tak menggubris berbagai cerita negatif, membuatku bertanya-tanya kenapa orang kulit putih selalu punya nyali lebih? Mereka senantiasa ingin mengeksplor sudut-sudut tersembunyi. Memang, jika dicermati kebanyakan destinasi menarik di negeri ini yang kita datangi seolah ampas yang telah lebih dulu dikunjungi orang bule. Jiwa petualangan mereka lebih kuat ketimbang orang Indonesia yang (maaf) umumnya berpelesir ke sebuah tempat setelah lokasi itu telanjur pop**ar. Apalagi sekarang orang berbondong ke mana-mana demi dibilang โ€˜eksis.โ€™

๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—Ÿ๐—ฎ๐˜‚๐˜ ๐—ฆ๐˜†๐—ฎ๐—ต๐—ฑ๐˜‚
Atas bantuan teman-teman lokal Lewoleba, kami menemukan kapal yang bersedia membawa kami ke Batutara. Bukan perkara gampang mencari kapal lantaran cerita-cerita angker telah membuat gentar para nelayan. Hanya mereka yang paham dan mengenal seluk-beluk Batutara yang mau menerima tawaran. Itu pun dengan sejumlah isyarat. Misalnya, kami musti mematuhi pantangan-pantangan yang diyakini penduduk saat tiba di sana nanti.

Biaya sewa kapal kecil pun tak murah. Jika tidak pandai mengambil hati, bisa-bisa habis Rp. 6 juta. Untungnya, kami hanya membayar separuh harga. Brice sangat cepat akrab dengan pemilik kapal, ditunjang p**a kemampuan Bahasa Indonesianya yang mengundang simpati. Jadilah kami punya kelebihan anggaran untuk belanja bekal makan-minum.

Kami berangkat jam sembilan malam, dengan perhitungan tiba di Batutara pas fajar menyingsing. Nahkoda kapal memberitahu bahwa kondisi laut sedang tenang sehingga waktu tempuh dapat kurang dari biasanya. Laut surut saat kami berangkat. Dua sampan kecil dengan senter menyala redup mengangkut kami dari pantai ke kapal. Ini rasanya seolah hendak mengungsi dari perang atau diam-diam melarikan diri.

Kapal melaju mulus. Ukurannya yang semula tampak rawit, ternyata lumayan lega menampung kami delapan orang. Selain saya dan Brice, ada Mathil teman lain asal Prancis, tiga awak kapal, serta dua kawan Lewoleba; Adji dan Vergi. Mungkin karena kenyang usai makan malam ditambah kelelahan menyiapkan perjalanan ini, kami tidak bercakap panjang setelah kapal meninggalkan Lewoleba. Masing-masing hanyut dengan pikiran sendiri.

Tidak ada sinar rembulan, bintang-bintang bertaburan di langit jadi penghias alam satu-satunya usai hilang bayangan daratan. Tidak ada p**a perasaan cemas. Sebaliknya justru kedamaian menjalari hati saya. Arung laut yang begitu syahdu. Tidur malam itu adalah saat lelap paling santai yang pernah saya alami di atas sebuah kapal kecil. Hanya dua kali saya terjaga dan pijar ribuan bintang senantiasa jadi dandanan malam manakala saya membuka mata.

๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ถ๐˜ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ, ๐—ฃ๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ ๐—”๐—ฝ๐—ถ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐—ฒ๐˜๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป
Sekitar pukul 04.00 dini hari, kapal merapat di p**au, di depan sebuah tanjung yang lebat oleh pohon. Ternyata kami sudah sampai. Pulau ini punya nama sendiri yakni Pulau Komba. Gunung Batutara berada berada di sisi sebelah timur p**au ini. Pagi yang masih begitu awal memunculkan aura mistis menawan.

Pulau Komba amat rimbun hijau, benar-benar natural jarang tersentuh. Pohon-pohon tumbuh menjulang serta rapat, dililiti tumbuhan merambat yang menjatuhkan sulur-sulurnya bagai ular. Di temaram pagi kabut bergayut di hutan, suara hewan-hewan entah apa namanya berkeriau. Sungguh ini p**au yang ๐˜ค๐˜ณ๐˜บ๐˜ฑ๐˜ต๐˜ช๐˜ค. Saya teringat kisah pelayaran para penjelajah masa silam, terbayang sosok Marcopolo dan Vasco da Gama dengan kapal ekspedisi mereka. Barangkali seperti ini rasanya datang ke tanah-tanah baru yang belum dijamah.

Suasana masih remang namun awak-awak kapal menampakkan kesibukan yang tak lazim. Saya melihat masing-masing mereka mengeluarkan senjata seperti senapan kayu, tapi punya panah runcing di ujungnya. Setelah mengamati lautan sesaat, mereka terjun berbarengan. ๐˜š๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ณ๐˜ง๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ. Memanah ikan!

Tidak menunggu lama, ikan-ikan seakan menyerahkan diri begitu saja. โ€œKita akan bakar nanti untuk lauk makan siang,โ€ kata salah satu awak kapal sumringah. Setelah dirasa cukup, mereka berbenah lagi, lalu kami meninggalkan tanjung kecil itu.

Seirama kapal bergerak, di ufuk timur langit perlahan berubah warnanya. Ungu, jambon, merah, jingga, asfar. Momen terbit matahari di tengah lautan yang transenden. Pemandangan seperti ini sewaktu kecil pernah beberapa kali saya alami saat naik kapal laut, tapi kapalnya tidak sekecil yang sekarang. Sensasinya jelas beda, ada degubnya, apalagi ketika menoleh ke belakang, ternyata kami sudah berada di lambung Gunung Batutara.

Asap gunung itu mengepul. Dalam suasana yang sepi hening, kami bisa mendengar suara kertak-kertak dari dalam tubuh gunung, tanda dia sedang aktif.

โ€œ๐˜‹๐˜ถ๐˜ง๐˜ง๐˜ด๐˜ด๐˜ดโ€ฆ.๐˜ด๐˜ด๐˜ด,โ€ sebuah letupan terjadi, disusul pijar api pada puncaknya. Oh, ini mendebarkan, tapi juga menakjubkan. Saya merasa konyol, bisa-bisanya ke sini demi melihat gunung meletus di jarak yang demikian dekat, terapung-apung di laut p**a.

โ€œBawa kapal merapat ke kaki gunung. Kita bisa mendarat di sana,โ€ titah nahkoda. Apa? Merapat dan turun ke kaki gunung yang sementara batuk-batuk itu?

โ€œTenang, di musim seperti ini Batutara meletup beberapa kali saja sehari. Itu pun tidak besar. Kita hapal aktivitasnya,โ€ kata nahkoda. Saya memandang ke arah Brice dan Mathil. Kedua teman itu malah tersenyum girang. Baiklah, jika perkiraan nahkoda meleset dan terjadi apa-apa, setidaknya saya tidak sendirian.

**
๐‘†๐‘ก๐‘œ๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘ก๐‘’๐‘™๐‘™๐‘’๐‘Ÿ & ๐‘ƒโ„Ž๐‘œ๐‘ก๐‘œ๐‘”๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘โ„Ž๐‘’๐‘Ÿ: ๐‘‰๐ด๐ฟ๐ธ๐‘๐‘‡๐ผ๐‘๐‘‚ ๐ฟ๐‘ˆ๐ผ๐‘† (.indonesia)
๐‘‡๐‘ข๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘›๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘–๐‘๐‘ข๐‘๐‘™๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘– ๐‘š๐‘Ž๐‘—๐‘Ž๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘๐‘’๐‘ ๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘ก ๐ฟ๐‘–๐‘œ๐‘› ๐ด๐‘–๐‘Ÿ

**aukomba

๐—”๐—ญ๐—”๐— ๐—”๐—ง๐—ง๐—œ๐—ก๐—๐—จ ๐—˜๐—ง๐—จ {Nagekeo}Menjelang sore di jalanan sepi Boawae-Aesesa, hamparan sabana yang menyelimuti lekuk-lekuk buki...
30/09/2021

๐—”๐—ญ๐—”๐— ๐—”๐—ง
๐—ง๐—œ๐—ก๐—๐—จ ๐—˜๐—ง๐—จ
{Nagekeo}

Menjelang sore di jalanan sepi Boawae-Aesesa, hamparan sabana yang menyelimuti lekuk-lekuk bukit bersilau bagai tersiram butiran emas. Nun di selatan, Gunung Ebulobo menjulang agung, leluasa menatap ke siapa pun yang bergerak menyusuri jalan, tak terkecuali saya. Kelengangan rute ini, juga pemandangan pegunungan yang membiru oleh tebing lembah nan curam menjadikannya salah satu lintasan yang paling saya sukai di Flores, terlebih bila bertualang sendirian.

Titik-titik berpanorama aduhai mudah saya temukan di sepanjang lintasan ini. Warga setempat menyadari kepermaian alam mereka, namun hanya mampu berkomentar, โ€œbelum ada yang berbuat sesuatu untuk menjadikannya obyek wisata.โ€ Hal yang membuat saya sadar bahwa ketergantungan warga terhadap pemerintah masih sangat tinggi, dan inisitif bersifat kreatif dalam pengembangan pariwisata masih seputar wacana kaum muda lokal.

Saya segera melajukan sepeda motor ke tanduk bukit, di mana sebuah kampung tradisional berada. Nama kampung ini Tutubhada. Tidak seberapa besar, namun warga melestarikan konsep hunian masa silam, dengan rumah-rumah adat yang berdiri saling berhadapan mengitari lapangan luas.

Telah tersiar kabar bahwa di Tutubhada akan digelar ritual Etu, tinju tradisional yang telah dipraktekkan berabad-abad lamanya. Saya pernah membaca sekilas, dan sangat tertarik untuk menyaksikannya sendiri. Makanya dari jauh hari sudah saya siapkan waktu khusus demi datang langsung. Lagip**a, belum banyak orang yang mengenal ritual ini. Etu tidak setenar tradisi Perang Pandan di Bali atau Tarian Caci di Manggarai, meskipun sama-sama merupakan ritual pertarungan berdarah. Bahkan Etu lebih brutal karena para petarung tidak dilengkapi perisai untuk menangkis serangan lawan.

Ketika saya memasuki pelataran kampung, suara sahut-sahutan nyaring terdengar. Sebuah pertarungan sedang terjadi. Tapi, bukankah Etu baru akan dihelat besok? Apakah saya salah informasi? โ€œHari ini Etu Co'o, khusus bagi anak-anak. Bukan pertarungan serius. Hanya semacam pengenalan tradisi bagi generasi belia. Giliran orang dewasa nanti besok. Lebih ramai,โ€ terang Bapa Dami, salah satu warga.

Toh, saya amat menyukai pertarungan โ€˜main-mainโ€™ untuk anak-anak ini. Mereka tampak bersemangat dan menjiwai. Hentakan kaki yang mengepulkan debu, ekspresi wajah yang mengintimidasi lawan, ditambah sorot kuning cahaya matahari dari barat, membuat semua terasa begitu sinematik.

๐„๐ฅ๐ž๐ฆ๐ž๐ง ๐๐ž๐ฅ๐š๐ค๐ฌ๐š๐ง๐š๐š๐ง ๐„๐ญ๐ฎ
Keesokan harinya, suasana di Tutubhada berubah sibuk. Orang-orang dari seluruh penjuru datang berduyun. Warga telah membuat pagar pembatas agar arena pertarungan tidak terganggu.

Saya kembali menemui Bapa Dami. โ€œEtu, sederhananya dalam bahasa Indonesia disebut sebagai tinju adat.,โ€ pria bersarung hitam-kuning itu menjelaskan. โ€œTidak diketahui pasti sejak kapan tradisi Etu dimulai, namun ini merupakan ajang pembuktian kewibawaan dan harga diri para pria di Nagekeo,โ€ terang Bapa Dami. Barangkali, di jaman dahulu Etu berfungsi sebagai momen mencari ksatria dari berbagai kampung. Siapa yang juara mungkin diangkat sebagai pemimpin perang.

Seperti tinju konvensional, Etu menerapkan pertarungan satu lawan satu (man to man). Bedanya, di sini tanpa sarung tangan. Satu-satunya senjata yang dipakai para petarung adalah โ€™Kepoโ€™ atau sebutan lainnya โ€˜Wholetโ€™, yakni gelungan stratum pangkal kelapa sebesar stik tali skipping.

Ada elemen-elemen yang terlibat dalam Etu. Misalnya wasit dalam pertarungan yang disebut โ€˜Sekaโ€™. Bisa dua hingga tiga Seka dibutuhkan. Mereka dibantu pengendali para petarung berjuluk โ€˜S**eโ€™. Tugasnya mengendalikan para petarung agar tidak menyerang dan melukai lawan secara serampangan. Caranya kerja S**e cukup unik, yakni memegang ujung bagian belakang sarung yang dikenakan kedua petarung.

Etu pun ternyata ada promotornya, bergelar โ€˜Pai Etuโ€™, yang bertugas mencari dan menakar kekuatan kedua petarung. Pai Etu musti mampu menimbang lawan yang setara untuk masing-masing peserta. Para petarung secara sukarela berkontribusi.

Dalam sekali perhelatan Etu, bisa belasan pasang calon petarung. Tidak ketinggalan harus ada tabib untuk mengobati luka. Tabib tersebut akan membacakan mantra serta memberi penyembuhan dengan teknik tersendiri.

๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฎ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป
Begitu semuanya siap, Etu lantas dibuka dengan pukulan gendang serta gong. Pemuka adat mengambil tempat aman dalam arena, berdampingan dengan penghibur. Di Nagekeo, seorang penghibur Etu mahir menari secara otodidak. Saya pun dikenalkan dengan sosok penghibur yang legendaris, bernama Bapa Silvester Sera. Bila ia tampil, suasana sontak tambah hidup. Bapa Silvester menciptakan ragam gerak tari yang rancak, menirukan gerakan satwa seperti burung atau rusa. โ€œSampai sekarang, kemahiran tari beliau belum tergantikan. Dia menari sekaligus memukul gendang,โ€ puji Bapa Dami.

Satu demi satu para petarung pun masuk ke arena Etu. Masing-masing dengan teknik serang dan hindarnya sendiri. Sering beberapa jurus-jurus beladiri dipamerkan, kadang mengundang tawa. Namun, ketika salah satu petarung mendapat serangan telak di wajahnya hingga berdarah, maka situasi berubah panas serta seru. Tatapan penuh keberanian dan mengintimidasi ditunjukkan keduanya. Sorak sorai membahana. Para Seka maupun S**e dibuat kewalahan untuk melerai.

Memang, jika dilihat, pertarungan ini tampak brutal. Namun juga agak paradoks sebab di sisi lain, orang-orang menampakkan wajah ceria. Ditambah lagi ibu-ibu melambaikan selendang mereka sembari menyanyi di pinggir arena, bak pemandu sorak. โ€œNyanyian para ibu itu disebut Dio, fungsinya sebagai penyemangat pertarungan,โ€ tambah Bapa Dami lagi.

Tetap saja saya bergidik ngeri ketika salah satu petarung dihantam wajahnya hingga darah mengucur deras dari hidung serta pelipisnya. Pertarungan langsung dihentikan seketika. Tidak ada ketetapan waktu membagi ronde demi ronde. Para Seka dan S**e sudah punya insting sendiri kapan tiap pertarungan harus dihentikan sejenak ataukah disudahi. Saat pertarungan berakhir, kedua ksatria diwajibkan untuk berpelukan sebagai tanda perdamaian. โ€œTidak ada dendam dalam Etu, dan semua bentuk pertarungan berakhir di dalam arena saja,โ€ tegas Bapa Dami.

Saya kagum pada falsafah tradisi ini. Etu bukanlah pertikaian sembarangan. Azamat Etu adalah ajang untuk menunjukkan kesejatian pria Nagekeo: kekuatan fisik, keberanian, wibawa, sportifitas, dan persaudaraan. Hingga ritual ini selesai digelar dan kampung Tutubhada perlahan sepi, saya terus mengingat kalimat yang dikatakan Bapa Dami. โ€œDarah yang menetes dalam Etu merupakan lambang pengorbanan lelaki untuk menghidupi keluarganya. Darah yang semestinya juga jadi pemersatu, bukan pemecah bela. Darah untuk persaudaraan, bukan permusuhan.โ€

**
๐‘†๐‘ก๐‘œ๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘ก๐‘’๐‘™๐‘™๐‘’๐‘Ÿ & ๐‘ƒโ„Ž๐‘œ๐‘ก๐‘œ๐‘”๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘โ„Ž๐‘’๐‘Ÿ: ๐‘‰๐ด๐ฟ๐ธ๐‘๐‘‡๐ผ๐‘๐‘‚ ๐ฟ๐‘ˆ๐ผ๐‘† (.indonesia)
๐‘‡๐‘ข๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘›๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘–๐‘๐‘ข๐‘๐‘™๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘– ๐‘š๐‘Ž๐‘—๐‘Ž๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘๐‘’๐‘ ๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘ก ๐ฟ๐‘–๐‘œ๐‘› ๐ด๐‘–๐‘Ÿ

๐—ง๐—”๐—ก๐——๐—” ๐— ๐—”๐—ง๐—” ๐——๐—”๐—ฅ๐—œ๐—ก๐—”๐— ๐—”๐—ง๐—” {Sabu Raijua}Suatu ketika, Robo Aba dan pengikutnya berburu babi hutan di lereng perbukitan Radja ...
30/09/2021

๐—ง๐—”๐—ก๐——๐—” ๐— ๐—”๐—ง๐—” ๐——๐—”๐—ฅ๐—œ
๐—ก๐—”๐— ๐—”๐—ง๐—”
{Sabu Raijua}

Suatu ketika, Robo Aba dan pengikutnya berburu babi hutan di lereng perbukitan Radja Mara. Karena dilihatnya tanah di perbukitan tersebut layak dijadikan perkampungan serta strategis untuk berburu, maka sang pemimpin adat nan gagah itu pun memindahkan kampung mereka ke Radja Mara. Ia juga memberikan nama teranyar bagi hunian baru mereka: Namata.

Kisah Robo Aba itu terjadi berabad-abad lampau, dan diyakini sebagai legenda awal mula berdirinya kampung adat Namata. โ€œKami adalah keturunan Robo Aba, kampung leluhur kami sebelumnya berada di Hanga Rae Robo, sebelah barat p**au ini, sebelum dipindahkan kemari,โ€ urai Mama Elisabeth, penghuni kampung yang rumahnya berada tepat di jantung Namata. Perempuan itu bersungguh-sungguh menjelaskan, seakan ia tidak ingin hal ihkwal mengenai sejarah kampungnya simpang siur. โ€œYa, harus disampaikan terus. Supaya orang tidak keliru bercerita sep**angnya dari sini,โ€ tangkasnya lagi.

Saya mendatangi kampung ini di pagi yang cerah. Berada di lereng bukit dengan pepohonan yang jarang, Namata menghadap ke arah timur ke titik matahari terbit. Beberapa ratus meter di bawahnya, sebuah sungai kecil mengalir, dan persawahan terbentang. Jika berkendaraan, hanya butuh sepuluh menit dari Seba, pusat kota kabupaten Sabu Raijua. Saya memilih berjalan kaki kesini, hitung-hitung sebuah trekking. Lagip**a penginapan saya letaknya tak seberapa jauh.

Sebenarnya ada banyak kampung tradisional bertebaran di p**au Sabu. Hampir di tiap kecamatan memilikinya. Ada juga yang ukuran kampungnya lebih besar dengan jumlah rumah adat lebih banyak. Namun Namata dapat dikatakan sebagai salah satu yang istimewa. Selain karena berposisi ideal, juga lantaran keunikan yang diempunyainya. Inilah alasan kenapa ia jadi destinasi โ€˜must visitโ€™ bagi siapapun yang bertandang ke Sabu.

๐—ง๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—–๐—ถ๐˜‚๐—บ ๐—›๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ด & ๐—”๐—ถ๐—ฟ ๐—š๐˜‚๐—น๐—ฎ
Ketika saya tiba di Namata, ada sebuah kejutan awal yang sempat membingungkan. Mama Elisabeth dan cucu-cucunya menyambut kedatangan saya bukan dengan jabatan tangan, tapi maju satu per satu menempelkan ujung hidung mereka ke hidung saya. Ini aksi yang seketika meluruhkan rasa keterasingan, seolah saya langsung jadi bagian dari mereka. Padahal saya sama sekali baru tiba di p**au ini.

Kebiasaan menempelkan ujung hidung saat bertemu ternyata merupakan tradisi orang Sabu yang dilaksanakan setiap hari. Terjadi pada siapapun dan dimanapun. Kalau pas pasar mingguan digelar, kita akan melihat mereka bagaikan armada semut-semut merah yang saling menempelkan hidung setiap kali berpapasan. โ€œDalam bahasa Sabu, kami menyebutnya ๐ป๐‘’๐‘›๐‘”๐‘’โ€™๐‘‘๐‘œ, atau umumnya dibilang Cium Hidung,โ€ Mama Elisabeth menjelaskan. Tidak diketahui persis sejak kapan kebiasaaan itu muncul. Selain lambang persaudaraan, cium hidung juga tanda kejujuran. โ€œKita harus saling menatap dulu sebelum melakukannya. Itu memberi keyakinan bahwa orang yang berhadapan dengan kita adalah orang baik,โ€ lanjutnya.

Suhu udara di Sabu lumayan panas, dan p**au ini tidak memiliki hutan. Pohon yang paling mudah dijumpai adalah lontar. Dari pohon itulah warga mendapatkan minuman manis yang mereka sebut Donahu, atau Air Gula. Di Namata, Mama Elisabeth menyodorkan secerek air gula untuk saya minum. Manis, sejuk, dan segar. Cocok sekali melawan hawa panas saat matahari meninggi.

โ€œKalau musim kemarau, minum Donahu saja mampu menguatkanmu berjalan kaki sehari penuh tanpa perlu menyenduk nasi,โ€ kata Mama Elisabeth meyakinkan. Saya tidak meragukan kalimatnya, karena untuk bertahan di p**au minim sumber air seperti Sabu ini, tetesan manis dari lontar adalah pelepas dahaga yang mujarab.

๐— ๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜๐—ต ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—˜๐—น๐—ถ๐—ฝ๐˜€
Yang membuat Namata spesial yakni taburan bebatuan megalith di tengah halaman kampung. Tidak seperti batu-batu megalith di kebanyakan kampung tradisional yang berupa pilar-pilar tegak atau meja-meja pipih, di Namata bentuknya sangat kontradiktif yaitu seperti telur-telur berukuran raksasa.

Bentuk bulatnya bukan dibikin oleh tangan manusia tapi dari proses alami. Jika diamati lebih dekat, bebatuan tersebut lebih menyerupai pasir yang mengeras. Menurut penelitian para ahli geologis, diperkirakan ini adalah hasil evolusi neotektonik, pelapukan pada tanah yang terjadi di masa purbakala. Namun, saya masih takjub kenapa bentuknya elips.

Warga Namata percaya bahwa batu-batu ini berdaya magis. Jumlahnya 20 batu. Masing-masing batu memiliki nama dan strata. Bahkan ada batu yang tidak boleh disentuh sama sekali oleh pengunjung karena dianggap paling keramat, hanya kepala suku yang boleh menempatinya saat ritual adat dilangsungkan.

Beberapa rumah tradisional dibangun di sekeliling bebatuan. Beratap daun lontar, rumah tradisional dinamakan ๐ด๐‘š๐‘š๐‘ข ๐‘Ÿ๐‘ข๐‘˜๐‘œ๐‘˜๐‘œ. Saya perhatikan bagian atapnya, salah satu ujung atap dari rumah-rumah itu agak menjorok menghadap ke arah barat.

โ€œ๐ด๐‘š๐‘š๐‘ข ๐‘Ÿ๐‘ข๐‘˜๐‘œ๐‘˜๐‘œ itu wujud perahu terbalik. Jadi sejarahnya, leluhur kami orang Sabu adalah pelaut. Saat memutuskan untuk menetap, mereka membangun rumah berdasarkan bentuk sebuah perahu. Bagian atap yang menghadap ke barat itu menjelaskan bahwa mereka datang dari arah barat,โ€ urai Mama Elisabeth.

Saya mengitari sejenak untuk memperhatikan detail arsitektur. Tapi perhatian saya masih tertumpuk pada batu-batu elips. Di sisi atas halaman terdapat semacam area kosong berbentuk petak. โ€œItu untuk sabung ayam. Setiap ritual adat digelar, biasanya diadakan p**a sabung ayam,โ€ Mama Elisabeth merespon. Katanya, sabung ayam bagi masyarakat p**au Sabu merupakan aktifitas hiburan yang sangat lazim. Tiap rumah, terutama di kampung-kampung pasti memelihara ayam untuk disabung. โ€œKadang saya pikir tak ada hewan yang lebih penting bagi orang Sabu selain ayam sabung,โ€ tawa perempuan paru baya itu.

Melihat saya masih setia berada di antara bebatuan megalith, Mama Elisabeth mengambilkan kain-kain tenunannya. โ€œKalau mau foto disitu, pakai saja kain tenun mama ini. Lebih bagus,โ€ ujarnya. Dia bahkan membantu mengikatkan kain ke badan saya dengan sukacita. Salah satu keponakannya yang juga turut hadir disitu dimintanya untuk menemani saya berfoto. Ditunjukkannya beberapa batu yang boleh saya sentuh dan naiki.

Saat hendak pamit p**ang, saya mendapatkan sebotol air gula cuma-cuma dari Mama Elisabeth. โ€œUntuk diminum saat jalan,โ€ katanya tulus. Rasanya waktu terlalu singkat di Namata namun saya mendapatkan lebih dari yang saya harapkan. Terutama sosok Mama Elisabeth yang ramah serta baik hati. Cerita-cerita tentang sejarah Namata, batu-batu elips, dan rumah adat mereka saya bawa serta bersama sebotol air gula. Tanda mata dari Namata yang tak akan lekang di ingatan.

**
๐‘†๐‘ก๐‘œ๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘ก๐‘’๐‘™๐‘™๐‘’๐‘Ÿ & ๐‘ƒโ„Ž๐‘œ๐‘ก๐‘œ๐‘”๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘โ„Ž๐‘’๐‘Ÿ: ๐‘‰๐ด๐ฟ๐ธ๐‘๐‘‡๐ผ๐‘๐‘‚ ๐ฟ๐‘ˆ๐ผ๐‘† (.indonesia)
๐‘‡๐‘ข๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘›๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘–๐‘๐‘ข๐‘๐‘™๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘– ๐‘š๐‘Ž๐‘—๐‘Ž๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘๐‘’๐‘ ๐‘Ž๐‘ค๐‘Ž๐‘ก ๐ฟ๐‘–๐‘œ๐‘› ๐ด๐‘–๐‘Ÿ

Address

Maumere

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when JalanCerita posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to JalanCerita:

Share