17/11/2023
Panggung atau Mezbah
Di dalam pelayanan kita selalu akan ada dua sisi kecenderungan yang akan muncul, apakah sebagai PANGGUNG, atau sebagai MEZBAH.
Panggung membuat kita menuntut.
Tetapi Mezbah membuat kita rela meletakkan.
Panggung seringkali membuat diri kita menghirup pujian dan menikmati suara tepuk tangan.
Tetapi Mezbah sunyi dari gempita penghargaan.
Panggung mengerjakan sesuatu yang sesaat dan lalu hilang.
Tetapi Mezbah mengerjakan suatu yang kekal.
Panggung adalah suatu kebanggaan.
Tetapi Mezbah adalah suatu ekspresi pengosongan diri dan ketaatan.
Panggung selalu mendorong kita untuk berebut yang paling depan.
Tetapi Mezbah membuat kita bersedia berada di paling bawah untuk diinjak supaya saudara kita bisa naik.
Panggung selalu menyediakan lampu sorot yang sangat terang , menyilaukan kemudian hilang lenyap tak bebekas.
Tetapi Mezbah adalah suatu titik sinar kecil yang kian lama kian terang namun akhirnya menjadi suluh yang sangat cemerlang.
Panggung adalah ekspresi bahwa “aku bisa”, “aku mampu”…
Tetapi Mezbah adalah ekspresi “aku hanya hamba yang dimampukan”…
Panggung seringkali membuat kita merasa aku adalah yang terutama dan terpenting.
Tetapi Mezbah membuat kita tersungkur dengan gemetar dan sadar bahwa kita ini bukan siapa-siapa.
Panggung adalah bau kedagingan yang menyengat dan akan tetap tercium walau terbungkus parfum termahal sekalipun.
Tetapi Mezbah adalah bau harum yang menetes keluar dari kedagingan yang di-iris-iris dan diletakkan dengan air mata.
Panggung adalah rumah bagi para bintang untuk beraksi.
Tetapi Mezbah adalah tempat para hamba untuk mempersembahkan diri…
“Minta Anugerah dari TUHAN, untuk mengerti betapa pentingnya membangun Mezbah dan menyingkirkan Panggung dalam setiap pelayanan kami… Amin.”
Mazmur 43:4