16/03/2026
Persami Pramuka yang Bikin Merinding
Oke, sebelum mulai, aku mau bilang, ini sebenernya cerita dari temen aku, sebut saja Doni. Waktu itu sekitar tahun 90-an, pas dia masih kecil, imut-imut gitu, masih kelas 4 SD. Jadi, ya, waktu itu masih ada yang namanya persami, perkemahan Sabtu-Minggu gitu lah. Doni ikut pramuka, dan rumahnya di Jogja, daerah Jetis. Kemahnya diadakan di Kaliurang, deket Tlogo Putri, lereng selatan Merapi.
Biasalah, anak-anak SD yang ikut pramuka, kadang acara resmi itu bikin bosan. Nah, pas malam api unggun, semua anak dan pembina lagi ngumpul bakar-bakar dan nyanyi-nyanyi. Doni sama gengnya mulai bosan, pengen iseng, ya ngerokok. Mereka udah siapin rokoknya dari rumah. Anak kecil, kumpul sama teman-teman, ide nakal langsung muncul.
Mereka mutusin buat cari tempat yang agak sepi, jauh dari pandangan pembina. Satu per satu, mereka mundur dari lingkaran api unggun, nunggu di pojokan lapangan buat kumpul semua.
Abis itu, mereka jalan menyusuri jalan kecil di atas lapangan sambil ngobrol dan bercandaan nggak jelas. Nah, pas Doni ada di depan, tiba-tiba dia lihat sosok orang tua mirip petani, pakai caping lebar dan baju petani, turun dari atas. Sebagai anak Jawa, mereka otomatis nyapa, "Monggo Pak." Tapi anehnya, si bapak nggak merespons. Jalan dia lancar banget, nggak ada bunyi langkah biasa, kayak naik skateboard aja gitu. Wajahnya nggak kelihatan, soalnya gelap dan caping menutupi kepala, nggak ada yang bawa senter.
Anak-anak nggak terlalu curiga, mereka pikir mungkin si bapak buru-buru pulang. Setelah kira-kira 200 meter dari lapangan, mereka berhenti di pinggir jalan, mulai nongkrong dan ngerokok. Gelap, dingin, di tengah hutan pinus Kaliurang. Satu per satu rokok dibagi, ngobrol santai.
Tiba-tiba ada yang turun lagi dari atas. Sosoknya persis sama seperti bapak petani tadi. Semua diem. Kok bisa ada lagi, padahal tadi mereka udah papasan. Yang ini berhenti di ujung atas, tepat di depan tempat Doni dan teman-temannya nongkrong.
Suasana tiba-tiba aneh. Dingin, tapi beda dari biasanya. Semua masih santai, pikir mereka, ah mungkin bapaknya capek. Tapi tiba-tiba si bapak merogoh sakunya. Semua mata tertuju padanya. Masih gelap, wajah tertutup caping. Tapi terdengar jelas dia bilang, "Ngampil korek e dik."
Doni, yang paling dekat, nyodorkan korek api. Dia mau menghormati orang tua, nyalain rokok bapak itu. Tapi aneh, koreknya nggak nyala. Sekali, dua kali patah. Doni panik, ambil beberapa batang lagi. Pas akhirnya nyala, saat dia deketin ke rokok bapak, Doni teriak kenceng banget.
Mulut bapak itu bukan mulut manusia normal. Sobekannya vertikal, dari bawah hidung sampai janggut. Kumisnya panjang, jarang, cuma beberapa helai, kaya kumis macan. Teman-teman Doni kaget parah. Mereka langsung lari ke bawah, meninggalkan Doni yang ambruk pingsan.
Pembina yang ada di bawah segera dipanggil. Doni ditemukan pingsan, langsung dibawa ke RS Sardjito. Katanya, pas di RS, Doni ngigo terus menggumam, "Lambene lambene," bibirnya bibirnya.