Teman Curhat

Teman Curhat Curhat seputar masalah kehidupan, percintaan, keluarga, karir dan sebagainya Teman Curhat adalah ruang aman untuk kamu yang butuh didengar.

Kami hadir untuk menemani, mendengarkan, dan berbagi solusi tanpa menghakimi.

01/06/2026

Kira-kira diterima nggak ya?

24/05/2026

Tingkah laku bayi kembar lucu🤣

 Senyum TerakhirmuAku tak tahu harus menulis apa lagi. Aku melirik jam dinding di kamarku. Ini sudah larut malam, dan ka...
27/03/2026



Senyum Terakhirmu

Aku tak tahu harus menulis apa lagi. Aku melirik jam dinding di kamarku. Ini sudah larut malam, dan kau masih tetap ada di pikiranku. Aku tahu tak akan mudah menghapus bayangmu. Heh, betapa bodohnya aku, masih berharap kau akan kembali. Tapi apakah salah jika aku berharap sesuatu yang tak mungkin terjadi?

Aku menghembuskan napas, menatap layar handphone-ku dengan mata berkaca-kaca. Aku masih menyimpan pesan terakhirmu untukku. Apa kau tahu? Aku merindukan saat aku selalu menunggu telepon darimu, saat aku ingin lompat kegirangan ketika menerima telepon darimu. Tapi apakah mungkin hal itu kembali terulang?

Malam semakin larut. Cahaya bulan memasuki celah-celah jendelaku. Kau mungkin masih ingat saat kau menghapus air mataku dan berkata semua akan baik-baik saja. Tapi kau salah. Salah besar. Semuanya sangat buruk ketika kau pergi. Aku merindukanmu. Kapan kau kembali?

Aku selalu bertanya, kapan kau kembali? Mungkin pertanyaanku sangat bodoh, tapi aku hanya menginginkan jawaban darimu. Dan aku kembali bertanya, kapan kau menjawabnya? Waktu terus berjalan. Yah, kau tahu itu. Dan kau pun tahu bahwa waktu tak bisa terulang. Aku hanya ingin kau ada di sampingku, menemaniku.

Aku masih ingat saat kau berkata akan pulang. Kau menyuruhku untuk menunggumu. Aku menunggumu, selalu menunggu. Tapi yang terjadi malah seperti ini. Seseorang menelponku dan berkata kau sedang dalam keadaan kritis. Bagaimana bisa? Dan kau tahu? Saat itu rasanya kakiku tak sanggup untuk berdiri, rasanya napasku tak dapat berhembus.

Aku segera datang ke rumah sakit untuk melihat keadaanmu. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang kulihat. Kau terbaring lemah dengan luka di sekujur tubuhmu. Sungguh, aku tak sanggup. Aku duduk di sampingmu dan menggenggam tanganmu. Air mataku terjatuh. Kenapa semua ini bisa terjadi padamu?

Aku selalu bicara dan bicara, berharap kau bisa sadarkan diri dan kembali mengoceh bersamaku. Ternyata harapanku tak sia-sia. Perlahan matamu terbuka. Saat itu kau tersenyum padaku. Kau menghapus air mataku. Kau bilang bahwa aku ini sangat cengeng. Kau bilang bahwa aku harus selalu tersenyum. Dan kau bilang kau sangat mencintaiku.

Aku sangat bahagia mendengar semua itu. Kurasa kau pun juga bahagia. Kau kembali menoleh ke arahku. Dan di saat yang bersamaan kau menghembuskan napasmu. Perlahan-lahan matamu tertutup rapat. Tanganmu terjatuh dari genggamanku. Aku diam terpaku. Apa yang terjadi?

Aku segera berlari memanggil dokter. Aku tak mau sesuatu terjadi padamu. Kau tak boleh meninggalkanku.

Kulihat beberapa orang suster dan seorang dokter keluar dari sana. Mereka menatapku dengan wajah murung. Aku benar-benar tak mengerti maksud tatapan itu. Aku berlari dan ingin tahu bagaimana keadaanmu. Apa kau baik-baik saja?

Tapi wajahku memucat. Kakiku tak sanggup lagi menopang tubuh ini. Air mataku jatuh tak tertahan. Sekujur tubuhmu kini tertutup oleh kain putih.

Aku tak menyangka senyum itu adalah senyum terakhirmu. Aku tak menyangka hari itu adalah hari terakhir aku melihatmu. Aku memang cengeng. Aku tak bisa menahan air mataku. Apa kau bisa melihat aku menangis? Aku ingin kau menghapus air mataku.

Aku tak sanggup harus melewati hari-hariku tanpamu. Kembalilah, kumohon.

Aku benar-benar tak sanggup berdiri di dekat pusaramu. Aku tak sanggup membaca tulisan yang tertera di nisan itu. Aku tahu aku tak bisa menyalahkan waktu atau siapa pun. Tapi aku ingin waktu bisa kembali berputar saat kau masih bersamaku. Aku ingin melihat senyummu, suaramu, wajahmu.

Air mataku semakin tak tertahan saat menulis surat ini. Biarkanlah aku menangis malam ini. Aku tahu cinta tak akan mungkin mati. Aku harap kau bahagia di sana.

Aku merindukanmu.

Pengirim: im

  Persahabatan yang Terlalu DalamAku mengenalnya baru 5 bulan terakhir ini.Selama 5 bulan ini aku berteman dengannya.Dia...
26/03/2026



Persahabatan yang Terlalu Dalam

Aku mengenalnya baru 5 bulan terakhir ini.
Selama 5 bulan ini aku berteman dengannya.

Dia baik banget. Dia juga perhatian banget sama aku. Makin hari rasa persahabatan ini berubah menjadi rasa yang paling dalam di hatiku. Kalian pasti tahu apa itu.

Setiap kata yang dia ucapkan selalu berkesan banget buat aku. Hingga akhirnya aku sadar kalau aku ini hanyalah seorang sahabat, enggak lebih. Tapi terkadang aku selalu merasa cemburu bila melihat dia bersama cewek lain. Rasanya aku ingin marah, tapi hatiku tak kuasa marah padanya.

Akhirnya aku mencoba untuk melupakan semua pikiran ini dari benakku. Tapi ternyata hasilnya justru membuat penderitaanku sendiri. Terkadang aku berpikir, sebenarnya perasaanmu terhadapku itu seperti apa. Aku ingin sekali tahu hal itu, tapi apa daya aku tak mampu untuk mencoba mengetahuinya.

Hari itu aku mencoba untuk menghindar darimu. Tapi kamu selalu bertanya kenapa. Kenapa persahabatan kita tak seindah dulu. Jantungku hampir berhenti mendengar pertanyaan itu. Jujur, waktu itu aku takut banget. Aku mencoba mencari seribu alasan, tapi ternyata kamu tahu kalau itu hanyalah alasan belaka.

Kini kamu marah banget sama aku. Aku bingung sekali. Sudah dua minggu kita enggak bertemu. Rasanya kangen banget. Sekarang aku hanya bisa pasrah dengan keadaan. Mungkin memang ini akhir dari persahabatan kami.

Pengirim: Ima

  Liburan ke Villa Berhantu di PuncakNih cerita pas aku lagi liburan ke sebuah villa di Puncak. Waktu itu kami ber-7 mut...
25/03/2026



Liburan ke Villa Berhantu di Puncak

Nih cerita pas aku lagi liburan ke sebuah villa di Puncak. Waktu itu kami ber-7 mutusin buat liburan ke sana, niatnya refreshing habis ujian. Kebetulan ada salah seorang temen aku yang punya villa di sana, tapi kata dia sih tuh villa udah jarang banget ditempatin, cuma ada orang yang jagain dan ngebersihin aja. Ya gapapa lah, yang penting ada tempat.

Pagi-pagi kami berangkat menuju Puncak pakai mobil temen aku. Aku yang saat itu lagi jomblo sempet mupeng lihat temen-temen aku yang bawa pasangan masing-masing. Jah, aku doang yang sendirian.

Beberapa jam kemudian kami udah sampai di villa temen aku itu. Tapi aku nggak nyangka, itu villa kok udah kayak rumah korban perang aja. Aku pikir bakal jadi sebuah villa yang besar, bersih, dan punya pemandangan indah. Eh taunya malah villa yang bener-bener serem, nggak keurus, dan kotor banget.

Setelah diselidiki, ternyata yang harusnya ngurusin villa itu udah nggak lagi di situ. Alias selama ini villa itu memang nggak terawat. Karena udah kepalang tanggung, ya kami pikir coba dulu. Siapa tahu di dalamnya masih bersih, setidaknya bisa buat istirahat lah.

Kami langsung masuk karena temen aku udah megang kuncinya. Ternyata bener, bagian dalam villa masih cukup bersih dan semua lampu masih berfungsi. Ternyata bagian luarnya doang yang nggak keurus.

Kami santai-santai dari siang sampai sore. Lalu bikin acara bakar-bakar, bukan bakar rumah loh, di taman belakang. Nikmatin udara malam Puncak yang dingin plus api unggun. Ya kalian tau lah, kayak di film-film. Tapi sekali lagi aku mupeng sendiri karena jomblo.

Kami makan-makan sambil cerita lucu dan nyanyi-nyanyi nggak jelas sampai sekitar pukul 10 malam.

Karena udah capek seharian senang-senang, kami semua masuk ke dalam villa. Lagi-lagi aku mupeng. Kamar di situ cuma ada tiga, dan aku harus ngalah kasih "kesempatan" buat tiga temen aku sama pasangan masing-masing. Akhirnya aku mutusin buat tidur aja di sofa.

Untung tadi sempet bawa DVD player plus cukup banyak kaset buat hiburan. Tadi siang sih udah sempet nonton, tapi cuma beberapa film.

Aku pilih film komedi, ya buat menghilangkan rasa mupeng dan sendirian aku tadi. Halah, kesannya lebay banget.

Sambil ngakak sendirian aku nggak tau apa yang temen-temen aku lagi kerjain di kamar masing-masing. Tiba-tiba aku kaget karena ada suara orang nyeret-nyeret rantai.

Awalnya aku kira itu dari film. Tapi bukan ah, di film nggak ada adegan kayak gitu. Karena penasaran, aku langsung pause dan coba cari sumber suara itu dari mana.

Aku coba ngintip ke arah taman depan dari balik tirai jendela.

Anjis, aku kaget banget pas lihat ada sosok rambut hitam panjang lagi main-mainin rantai yang biasa dipasang di p**a loteng.

Crek, crek, crek.

Dia goyangin rantai itu pelan yang bikin suasana makin serem.

Weks. Aku langsung ngibrit lari ke sofa lagi dan sok cool play film sambil ketawa maksa buat ngilangin takut.

Anjis, mendadak aku kebelet kencing. Nggak tau karena kebanyakan ketawa atau karena udara emang dingin banget. Kamar mandinya ada di lorong paling ujung, harus ngelewatin tiga kamar tadi.

Aku jalan ke arah kamar mandi sambil iseng nempelin kuping ke tiga pintu kamar tadi. Siapa tau terdengar suara-suara aneh.

Huah, lega rasanya.

Aku langsung balik ke depan TV, tapi kok DVD film yang tadi aku pause malah ke-play sendiri.

Walah sialan, siapa nih yang mencet-mencet tombol. Aku jadi bingung udah sampai mana tadi.

Sambil kesel sendiri aku coba playback buat cari bagian terakhir yang aku tonton.

Loh kok remotenya nggak ada ya. Cuma ada remote TV di situ.

Weks, jatuh mungkin. Atau kedudukan sama aku ya.

Aku cari-cari di sofa tapi nggak ada. Akhirnya aku lihat itu remote ada di atas meja dekat tirai jendela tadi.

Brrr.

Mendadak bulu kuduk aku merinding semua, keinget sama apa yang aku lihat tadi di luar.

Ah bodo amat. Aku mau lanjutin nonton film.

Akhirnya aku ambil itu remote. Pas lagi ambil, aku coba intip dari celah tirai yang sedikit kebuka.

Fiuh. That thing has gone.

Yaudah aku balik nonton sampai aku terganggu lagi sama suara orang di kamar mandi yang lagi mainin flush.

Aku udah yakin itu pasti aneh-aneh, jadi nggak usah aku gubris.

Suara di kamar mandi berhenti, gantian suara rantai lagi bunyi.

Anjiss.

Dalam hati aku bilang, ini mah emang niat ngerjain aku.

Aku langsung matiin DVD, ambil selimut, dan nutupin badan sama muka aku. Maksain buat tidur.

**THE NIGHTMARE WILL BEGIN.**

Beberapa saat aku nutup muka aku, suara rantai itu bunyi lagi. Sekarang malah tambah jelas karena TV udah aku matiin.

Huah.

Jantung aku dag dig dug nggak jelas. Badan keringetan meskipun udara dingin.

Lalu tiba-tiba semua jadi sepi. Suara rantai nggak ada lagi. Cuma ada suara binatang malam aja. Nggak termasuk "binatang" yang di kamar ya.

Tiba-tiba ada suara orang jalan dari arah belakang. Suaranya makin dekat ke arah aku.

Aku nggak tahan kalau harus ketakutan kayak gitu. Mending aku lihat tuh jurik, jerit, pingsan, atau apalah. Daripada cuma denger suara dan pikiran aku sendiri yang bikin aku makin takut.

Aku langsung tarik napas, berlagak sok berani, buka selimut, lalu duduk.

Dor.

Nggak ada apa-apa.

Padahal tadi aku yakin suara itu mendekat ke aku.

Tik tok, tik tok.

Cuma ada suara jam dinding yang nunjukin udah jam 23.45 malam.

Pas lagi lihat jam, aku kaget mampus.

Aku bisa lihat pantulan aku di kaca lemari di samping jam.

Ada aku.

Dan ada...

HUUUAAA.

ADA SESUATU DI BELAKANG AKU.

Aku nggak berani nengok.

Ahh. Aku bisa jelas banget lihat "thing" berambut panjang yang tadi aku lihat di luar. Aku cuma bisa lihat rambutnya yang panjang sampai ke bawah.

Waktu itu posisi aku lagi duduk, dan cermin tadi cuma setinggi perut sampai kepala aku.

Itu makhluk nggak gerak. Dia cuma berdiri tepat di belakang aku.

Kalian tau gimana rasanya.

Biasanya aku cuma lihat hal-hal kayak gini di film. Tapi kali ini aku ngalamin sendiri.

ANJEEEES SEREM GILAK.

Aku coba alihin pandangan mata aku ke bawah. Sesekali aku intip itu "mas drong" masih ada atau nggak.

Sampai akhirnya dia hilang. Mungkin boring karena aku cuekin.

Fiuh.

Aku ambil selimut mau kembali ke posisi bertahan, alias ngumpet.

Baru aja mau tiduran...

Mendadak lampu mati semua.

Byaaarrr.

Nggak bisa dilukiskan rasanya.

Aku yang saking takutnya udah siap mau teriak, tapi ada yang duluan. Temen cewek aku di kamar teriak duluan.

Mereka semua langsung keluar dari kamar, disusul aku yang lari ketakutan keluar villa.

Sampai di luar, temen-temen aku juga lagi panik dan nggak bisa ngomong apa-apa.

Ternyata mati lampu tadi bukan karena kejadian gaib. Memang satu daerah situ mati semua lampunya, nggak tau kenapa.

Nggak ada yang berani lihat ke arah villa dalam situasi gelap gulita itu.

Sekitar tiga menit kemudian lampu kembali nyala. Kami semua masuk ke dalam dan akhirnya ngumpul di salah satu kamar.

Baru setelah itu kami bisa cerita.

"Loe gapapa di luar tadi?" salah satu temen aku nanya.

"Gapapa gimana maksudnya?" aku balik nanya bingung.

"Iya, tadi aku denger suara berisik di luar. Aku kira lo yang lagi mondar-mandir malam-malam gini," jawab temen aku yang lain.

"Tapi pas aku lihat keluar, malah ada yang lagi berdiri di samping lo. Nah otomatis aku nggak berani lah. Aku langsung SMS yang lain buat ngasih tau kalau lo lagi ada yang nemenin," lanjutnya.

"Aku khawatir sih, tapi aku nggak mau bikin lo panik. Jadi kami semua diem aja di kamar."

AAA.

Segala binatang keluar dari mulut aku denger cerita mereka.

Takut, kesel, campur bingung bikin aku makin lemes aja.

"Jadi yang tadi aku lihat bener ya?" tanya aku yang masih sedikit shock.

"Emang lo lihat apaan?" tanya temen aku penasaran.

"Itu."

Tiba-tiba lampu mati lagi.

Dan tanpa pikir panjang, kami semua langsung maksain tidur.

Pagi-pagi kami bangun, langsung beres-beres, dan mutusin pulang hari itu juga.

Padahal rencananya mau nginep tiga hari.

-- Unknown

  Railway Line DilemmaA group of small children are playing near two train tracks. The first line is an active line that...
24/03/2026



Railway Line Dilemma

A group of small children are playing near two train tracks. The first line is an active line that the train still runs frequently, while the second line is no longer active. Just a kid playing in an idle path, while other kids playing in an active path.

Suddenly a train was seen approaching at high speed. You happen to be in front of the crossing panel that governs the direction of the train. Would you move the direction of the train onto a dead line and save most kids playing, but have to sacrifice a child in a dead line? Or you just let the train stay on track?

Let's stop for a moment and think, what decision is the best we make.

Most people would choose to switch direction of a train and sacrifice only one child. You may have the same choice, because saving multiple children and losing only one child looks like a rational decision and can be morally and emotionally justified.

However, did you realize that the child who chooses to play on the deactivated train tracks is actually on the right side because he/she chose a safe place? Ironically, he just had to be sacrificed because of the negligence of his friends playing in dangerous places.

This kind of dilemma happens all around us every day. In office, in society, in politics, and especially in democratic life, the minority must often be sacrificed for the interest of the majority. No matter how careless or misguided the majority is. The life of a child who chooses not to play with his friends on a dangerous train track is spared, and may not even have much to regret.

A friend who posted this story is of the opinion that he will not change the direction of the train. He believes that children playing on the train tracks that are still active were aware that it was dangerous. They were most likely to run soon when they heard a train approaching.

Conversely, if the direction of the train is diverted to an inactive line, the child who is playing there will almost certainly not be aware of the danger because he never thought that the train will go through the line. In addition, there is a possibility that the train line will be deactivated because it is no longer safe. If the train is diverted onto that lane, not only a child will be at risk, but also all the passengers on the train. The attempt to save a group of children by sacrificing one child could end up costing hundreds of lives of passengers.

We must realize that life is full of difficult decisions. Sometimes decisions taken quickly aren't always the right ones.

Remember that something that's right isn't always popular, and something that's popular isn't always true.

Sumber: Unknown



Dilema Jalur Kereta

Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api. Jalur pertama adalah jalur aktif yang masih sering dilewati kereta api, sementara jalur kedua sudah tidak aktif. Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif, sedangkan anak-anak lainnya bermain di jalur yang masih aktif.

Tiba-tiba terlihat sebuah kereta api mendekat dengan kecepatan tinggi. Kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah kereta tersebut. Apakah Anda akan memindahkan arah kereta ke jalur yang sudah tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain, tetapi harus mengorbankan seorang anak yang berada di jalur yang tidak aktif? Atau Anda akan membiarkan kereta tetap berada di jalur yang seharusnya?

Mari berhenti sejenak dan berpikir, keputusan apa yang sebaiknya kita ambil.

Sebagian besar orang akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan satu anak. Anda mungkin memiliki pilihan yang sama, karena menyelamatkan banyak anak dan hanya kehilangan satu anak terlihat sebagai keputusan yang rasional serta dapat dibenarkan secara moral maupun emosional.

Namun, sadarkah Anda bahwa anak yang memilih bermain di jalur kereta yang sudah tidak aktif sebenarnya berada di pihak yang benar karena ia memilih tempat yang aman? Ironisnya, ia justru harus dikorbankan karena kecerobohan teman-temannya yang bermain di tempat berbahaya.

Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kantor, di masyarakat, di dunia politik, dan terutama dalam kehidupan demokrasi, pihak minoritas sering kali harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas. Tidak peduli betapa ceroboh atau kelirunya pihak mayoritas tersebut. Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur kereta yang berbahaya menjadi dikesampingkan, dan bahkan mungkin tidak akan banyak disesalkan.

Seorang teman yang mengirimkan cerita ini berpendapat bahwa ia tidak akan mengubah arah laju kereta. Ia percaya bahwa anak-anak yang bermain di jalur kereta yang masih aktif sadar bahwa jalur tersebut berbahaya. Mereka kemungkinan besar akan segera berlari ketika mendengar suara kereta mendekat.

Sebaliknya, jika arah kereta dialihkan ke jalur yang tidak aktif, anak yang sedang bermain di sana hampir pasti tidak akan menyadari bahaya karena ia tidak pernah berpikir bahwa kereta akan melewati jalur tersebut. Selain itu, ada kemungkinan jalur kereta dinonaktifkan karena sudah tidak aman. Jika kereta dialihkan ke jalur itu, bukan hanya seorang anak yang terancam, tetapi juga seluruh penumpang di dalam kereta. Upaya menyelamatkan sekelompok anak dengan mengorbankan satu anak justru bisa berakhir dengan mengorbankan ratusan nyawa penumpang.

Kita harus menyadari bahwa hidup penuh dengan keputusan sulit. Terkadang keputusan yang diambil dengan cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.

Ingatlah bahwa sesuatu yang benar tidak selalu populer, dan sesuatu yang populer tidak selalu benar.

Sumber: Unknown

  Kuyang Pemangsa JaninPercaya atau tidak, ini pengalaman seorang calon ibu yang dikejar-kejar kuyang, makhluk siluman y...
23/03/2026



Kuyang Pemangsa Janin

Percaya atau tidak, ini pengalaman seorang calon ibu yang dikejar-kejar kuyang, makhluk siluman yang dipercaya masyarakat Tanjung Redep, Kalimantan Timur, memangsa janin dalam kandungan.

Setelah menikah di Jakarta pada Juni 1994, saya mengikuti suami yang bertugas sebagai anggota Polri di Kota Tanjung Redep, Kabupaten Berau. Kami tinggal di sana sekitar tiga tahun, dari Juni 1994 hingga Juni 1996.

Di Bali, orang mengenal leak sebagai ā€œhantu silumanā€ yang dapat membuat orang sakit atau meninggal. Di pedalaman Berau, Kalimantan Timur, konon ada dukun yang bisa mengubah wujud menjadi binatang, biasanya kucing atau burung. Fenomena ini disebut kuyang.

Leak dan kuyang memang berbeda. Wujud asli leak bisa laki-laki atau perempuan, sedangkan kuyang hanya perempuan. Leak sudah sangat canggih, dapat bersalin rupa menjadi motor, mobil, atau bahkan pesawat. Kuyang hanya bisa berubah menjadi burung atau kucing. Sasaran leak bisa siapa saja, dari anak kecil hingga orang tua. Kuyang terbatas pada ibu hamil dan bayinya.

---

# # # Jangan Mau Diusap Perutnya

Ketika saya hamil awal September 1994, tetangga saya, Bu Sukamto, penduduk asli Berau, menasihati agar berhati-hati bila bertemu kuyang. Biasanya kuyang berjalan-jalan pada siang hari sambil berpura-pura menjajakan barang dagangan.

Ciri-cirinya, menurut Bu Sukamto, adalah seorang wanita berusia sekitar 50-an yang memakai selendang untuk menutupi bekas operasi di lehernya. Pada malam hari, kepalanya akan terpisah dari tubuhnya dan berubah menjadi burung malam atau kucing.

Kuyang tidak pandang usia janin dalam kandungan. Beberapa teman saya yang kandungannya baru empat atau lima bulan hilang dimangsa kuyang. Mereka ibu muda seperti saya, pendatang baru di Berau yang belum mengetahui cerita tentang makhluk ini.

Biasanya, kuyang mengusap perut calon korban sambil menanyakan usia kandungan. Jika itu terjadi, wanita hamil harus membalas mengusap perut kuyang. Itulah cara melawan siluman itu.

Untungnya, saya tidak pernah bertemu langsung dengannya karena suami selalu berada di rumah saat kuyang berkunjung. Namun, Bu Sukamto menekankan agar tetap waspada karena kuyang pantang menyerah, bahkan hingga hari persalinan. Saat itulah ia akan berubah menjadi burung malam atau kucing.

Untuk membedakan kucing biasa dan kucing jadi-jadian, menurut cerita penduduk, suara saat mendarat di atap rumah sangat keras, seperti bunyi benda berat jatuh. Namun, ini hanya terdengar jika tidak terkena ajian sirep yang membuat orang tertidur.

---

# # # Pertemuan Menegangkan

Dua hari sebelum melahirkan, pada 7 Mei 1995, saya sedang berbincang dengan ibu saya di ruang makan. Suami saya sudah terlelap tidur pukul 19.30, hal yang tidak biasa. Menjelang pukul 21.00, terdengar bunyi benda berat jatuh di atap ruang duduk.

Saya tahu itu kuyang, tapi tidak tahu wujudnya: burung atau kucing. Sepuluh detik kemudian, seekor kucing muncul di kursi yang saya duduki sebelumnya. Dengan mata lapar, ia menatap saya. Saya berteriak dan lari keluar. Suami bangun dan menabrak kucing itu hingga jatuh. Tetangga berdatangan, tetapi akhirnya kucing itu hanya diusir ke luar dan lenyap tanpa bekas.

Keesokan harinya, kami memutuskan menginap di rumah sakit untuk aman dari kuyang. Malam itu, sekitar pukul 02.00, saya dan suami melihat wanita tua mendekat dari jauh. Suami menyuruhnya pergi karena ia mengaku sebagai petugas dapur rumah sakit. Beruntung, ia meninggalkan kami.

Pada 9 Mei 1995, pukul 10.21, saya melahirkan putra pertama dengan selamat. Pertarungan mempertahankan bayi dari kuyang akhirnya berakhir.

---

# # # Kehamilan Kedua

Akhir 1995, saya hamil lagi. Saat itu, suami bertugas jauh, enam jam perjalanan dari Tanjung Redep, sehingga saya tidak bisa menghindar sepenuhnya dari pertemuan dengan kuyang. Untungnya, ia tidak menyentuh saya. Hanya dengan cepat saya menghindar.

Penduduk setempat percaya bahwa yang bertatapan mata dengan kuyang akan kesulitan saat melahirkan. Seorang guru teman saya pernah bertemu kuyang siang hari. Saat melahirkan, seisi rumahnya tertidur, hanya bermimpi melahirkan. Namun bayi dalam perutnya hilang tanpa bekas. Seisi rumah pun geger.

Saya hanya berdoa agar kelak bisa melahirkan di luar Kalimantan. Tuhan Mahakuasa tetap melindungi. Pada April 1996, permintaan pindah suami diterima. Akhir Juni 1996, kami pindah ke Bali. Sepuluh hari kemudian, saya melahirkan melalui operasi caesar pada 11 Juli 1996.

Saya bersyukur dikaruniai seorang putra dan putri yang selamat dari incaran kuyang. Yang terpenting, Tuhan Mahakuasa dan Mahapengasih selalu melindungi kami.

- NN

  Sincerity in LoveIt is very difficult to imbibe in life sincere feelings, sincere to love or to be loved, sincerely to...
22/03/2026



Sincerity in Love

It is very difficult to imbibe in life sincere feelings, sincere to love or to be loved, sincerely to let go of the person we love.

If the person I love does not know my feelings, and then he asks to be introduced to a friend, or maybe asks to be looked for a partner, maybe that is the way to sincerity. My happiness is your happiness, and your happiness is my happiness. Maybe that's how this mind learns to be sincere.

I new that love can hurt so much Love can also torture, so great. But why do we still love? Why is pain because of this and that, suffering because of someone, still we seek and desire? Is all this death to ego and own personality? Why?

All of this is caused by one thing... L O V E .
Yes, my love for you.

Pengirim: Anisah



Keikhlasan dalam Cinta

Sangat sulit menanamkan dalam kehidupan perasaan ikhlas, ikhlas untuk mencintai atau dicintai, ikhlas melepas orang yang kita cintai.

Jika orang yang kucinta tidak mengetahui perasaanku, dan kemudian dia meminta dikenalkan kepada teman, atau mungkin meminta dicarikan pasangan, mungkin itulah jalan menuju keikhlasan. Bahagiaku adalah bahagiamu, dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Mungkin itulah cara pikiran ini belajar ikhlas.

Aku tahu bahwa cinta bisa sangat menyakitkan. Cinta juga bisa menyiksa, begitu hebatnya. Tapi mengapa kita tetap mencintai? Mengapa kesakitan karena ini dan itu, penderitaan karena seseorang, tetap kita cari dan ingini? Apakah semua ini adalah kematian terhadap ego dan kepribadian sendiri? Mengapa?

Semua ini disebabkan oleh satu hal… CINTA.
Tentulah, cintaku padamu.

Pengirim: Anisah

Promo Shopee Hari Ini:
https://s.shopee.co.id/60MvAjq6Bj

   Bahagiamu adalah BahagiakuAku mencintainya dengan sepenuh hatiku. Aku mencoba melepaskan semuanya, inginku, hasratku,...
21/03/2026



Bahagiamu adalah Bahagiaku

Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku. Aku mencoba melepaskan semuanya, inginku, hasratku, obsesiku, bahkan diriku sendiri. Sampai aku nyaris melupakan siapa aku. Pantaskah ia mendapatkan semua pengorbananku? Kini yang kuinginkan darinya hanyalah kebahagiaan, kebahagiaan yang membuatnya tersenyum lebar, memancar dari wajahnya. Meskipun semua itu harus kupertukarkan dengan kebahagiaanku sendiri. Sakit rasanya, tapi harus kulakukan, karena aku mencintainya sepenuh hati.

Ketika ia menggenggam tanganku, terasa ada ikatan tak kasat mata yang menghubungkan kami. Saat ia membelai rambutku dengan lembut, aku seperti anak kecil yang terbuai oleh sentuhan ibunya. Ketika ia memelukku, terasa desir kehangatan mengalir di darahku, mampu membuatku melupakan semua masalah di dunia ini. Rasa aman, nyaman, dan tenang hadir dalam pelukannya. Namun, semua itu harus kulepaskan.

Aku melepaskannya dari ikatan yang membatasi langkahnya, hingga ia bebas terbang ke mana pun ia ingin. Tak ada yang menghalanginya, mengikatnya, atau menahan langkahnya. Kini, hanya doaku yang menyertainya.

Semoga kau bahagia.

Pengirim: N

  Little Girl RevengeThis story is quite popular in Japan.A girl named Miho moved from the big city to the countryside i...
20/03/2026



Little Girl Revenge

This story is quite popular in Japan.

A girl named Miho moved from the big city to the countryside in search of a job. One day, she got the news that her mother was seriously ill and her hope of life was getting thinner. The news had Miho rushing back to his hometown, his first return since leaving town a few years ago.

Miho on the afternoon train to the city. The day was getting dark and when we arrived at the station, no one picked him up. He decided to walk home on the train tracks. While walking on the railroad, Miho ran into a little girl. Miho feels familiar with the girl, as if he had known her before.

When Miho crossed the railroad, the little girl held her hand strongly and stared at her silently. As the rail gate began to descend signaling the train was about to pass, Miho let go of the girl's hand and ran across. He didn't get to see if the little girl crossed too. To the other side, Miho is educating. He asked himself if the little girl was okay, but eventually calmed down and rushed away.

At home, Miho meets his older brother who has changed drastically since he left town. Her sister dropped out of school to finance their mother's treatment. Miho is upset that no one is asking for his help. And the fights took place. Miho's older brother said that Miho is no longer his younger brother since he left home. Miho is heartbroken and crying himself to sleep.

That night, Miho woke up hearing the sounds of conversation. While turning on the television, he saw the little girl on the screen. Miho asked who she was and where she came from, but the girl quietly watched the television. Because of annoyance Miho slapped him. Suddenly the lights flashed brightly, turns out her sister woke up. When Miho points to the TV, no one there.

The next day, Miho was visiting his mother in the hospital. He wanted to apologize for his death several years ago, but his mother refused to forgive and sent him away.

On the way home, Miho met the little girl again. She smiled and ran into the old school building. Miho remembers, that was their primary school. It's hearing the boys voice bothering someone. While Miho was sifting through the sound, he saw the children locking something in the classroom locker. When opened, the cupboard was empty, but the children's faces turned horribly full of blood.

A little girl appeared in front of Miho and touched his forehead saying, "Remember." "Miho seemed to go back in time, seeing his little self protecting the girl. The girl was an orphan and they became best friends.

But being friends with that girl brings a dilemma. Miho didn't want to be away from his friends, so he walked away when she was being disturbed. One day, the girl fell down the stairs and was seriously injured. When the girl crossed the rail with a support stick, her clothes got stuck. The train ran over him.

Miho saw the scene in his memory and found himself lying on the same rail, where the girl died. Little girl shows up smiling then disappears. The train is approaching Miho, and the fate is the same.



Dendam Gadis Kecil

Cerita ini cukup populer di Jepang.

Seorang gadis bernama Miho pindah dari kota besar ke pedesaan untuk mencari pekerjaan. Suatu hari, ia mendapat kabar bahwa ibunya sakit parah dan harapan hidupnya semakin menipis. Kabar itu membuat Miho bergegas pulang ke kota asalnya, kepulangan pertamanya sejak meninggalkan kota beberapa tahun lalu.

Miho menumpang kereta sore menuju kota. Hari mulai gelap dan saat tiba di stasiun, tidak ada seorang pun yang menjemputnya. Ia memutuskan berjalan pulang melewati rel kereta. Saat berjalan di rel, Miho berpapasan dengan seorang gadis kecil. Miho merasa familiar dengan gadis itu, seolah pernah mengenalnya di masa lalu.

Ketika Miho menyeberang rel, gadis kecil itu memegang tangannya kuat dan menatapnya diam-diam. Saat gerbang rel mulai menurun menandakan kereta akan lewat, Miho melepaskan tangan gadis itu dan berlari menyeberang. Ia tidak sempat melihat apakah gadis kecil itu menyeberang juga. Sesampainya di seberang, Miho bergidik. Ia bertanya pada dirinya sendiri apakah gadis kecil itu baik-baik saja, tapi akhirnya menenangkan diri dan bergegas pergi.

Di rumah, Miho bertemu kakak lelakinya yang sudah berubah drastis sejak ia meninggalkan kota. Kakaknya berhenti sekolah untuk membiayai pengobatan ibu mereka. Miho kesal karena tidak ada yang meminta bantuannya. Pertengkaran pun terjadi. Kakak Miho mengatakan bahwa Miho bukan lagi adiknya sejak pergi dari rumah. Miho sakit hati dan menangis hingga tertidur.

Malam itu, Miho terbangun mendengar suara percakapan. Saat menyalakan televisi, ia melihat gadis kecil itu di layar. Miho bertanya siapa dia dan dari mana datangnya, tapi gadis itu diam memandangi televisi. Karena kesal, Miho membentaknya. Tiba-tiba lampu menyala terang, rupanya kakaknya terbangun. Ketika Miho menunjuk ke TV, tidak ada siapa pun di sana.

Keesokan harinya, Miho menjenguk ibunya di rumah sakit. Ia ingin meminta maaf atas kepergiannya beberapa tahun lalu, tapi ibunya menolak memaafkan dan mengusirnya.

Dalam perjalanan pulang, Miho bertemu lagi dengan gadis kecil itu. Gadis itu tersenyum dan berlari ke gedung sekolah tua. Miho teringat, itu adalah sekolah dasar mereka dulu. Ia mendengar suara anak-anak lelaki mengganggu seseorang. Saat Miho menelusuri suara itu, ia melihat anak-anak itu mengunci sesuatu di lemari kelas. Saat dibuka, lemari kosong, tapi wajah anak-anak itu berubah mengerikan penuh darah.

Gadis kecil muncul di hadapan Miho dan menyentuh dahinya sambil berkata, "Ingatlah." Miho seolah kembali ke masa lalu, melihat dirinya kecil melindungi gadis itu. Gadis itu anak yatim piatu dan mereka menjadi sahabat sejati.

Namun berteman dengan gadis itu membawa dilema. Miho tidak mau dijauhi teman-temannya, sehingga ia menjauh saat gadis itu diganggu. Suatu hari, gadis itu terjatuh dari tangga dan terluka parah. Saat gadis itu menyeberang rel dengan tongkat penyangga, bajunya tersangkut. Kereta melindasnya.

Miho melihat adegan itu di ingatannya dan menemukan dirinya terbaring di rel yang sama, di tempat gadis itu mati. Gadis kecil muncul tersenyum lalu menghilang. Kereta menghampiri Miho, dan nasibnya pun sama.

Address

Jalan Karya Wisata
Medan
20144

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Teman Curhat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share