Dakwah Online

Dakwah Online Dunia Hanya Tempat Mencari Bekal Untuk Di Akhirat Nanti

Coba ingat ingat dulu, kapan kita terakhir membaca AL-QUR'AN...
26/11/2020

Coba ingat ingat dulu, kapan kita terakhir membaca AL-QUR'AN...

24/08/2020

Mudah² an org² yg membenci kalian secepat nya di berikan hidayah wahai saudara² kami...
Kami selalu mendoakan kalian wahai saudara² kami...
Kami juga akan selalu mencintai kalian saudara² kami...
😭😭😭

30/07/2020

Kisah ini diceritakan seorang ahli sejarah dan wartawan Turki bernama Ilham Bardakci dan Said Terzioglu. Saat itu tanggal 21 Mei 1972, Ilhan dan Said sedang berada di daerah Masjid Al Aqsha. Dirinya sedang berjalan di daerah halaman Masjid Al Aqsha saat matanya melihat sang serdadu tersebut.

Tinggi sang serdadu tua itu kurang lebih dua meter dengan wajah yang penuh bekas luka Serdadu tersebut berdiri dengan tegap mengawasi rombongan ahli sejarah tersebu Tinggi sang serdadu tua itu kurang lebih dua meter dengan wajah yang penuh bekas luka dan sepasang mata tajam. Serdadu tersebut berdiri dengan tegap mengawasi rombongan ahli sejarah tersebut.

Pria ini bernama Kopral Hasan Igdirli, lelaki berusia 93 ini adalah tentara terakhir Turki Ustmani yang meninggalkan masjid al-Aqsha, pada tahun 1982, bukan p**ang ke negaranya, tapi berp**ang ke rahmatullah.

Hasan bercerita, dirinya berasal dari Iğdır, Anatolia. Kala itu, pas**annya menggempur Inggris di Terusan Suez dalam sebuah perang besar. Namun tentaranya kalah hingga semua pas**an ditarik keluar dari Al-Quds.

“Ketika Negara Utsmani jatuh, dan agar tidak terjadi penjarahan dan perampokan di kota – al-Quds – pas**an Turki meninggalkan satu unit tentara sampai pas**an Inggris memasuki al-Quds, (biasanya pas**an yang menang tidak memperlakukan unit tentara yang kalah diperlakukan sebagai tawanan seperti ketika bertemu mereka). Saya bersikeras agar saya menjadi salah satu anggota unit ini dan menolak untuk kembali ke negara saya.

“Al-Quds adalah Pusaka Sultan Selim Han (Sultan Ottoman ke-9 dan Khalifah Utsmaniyah pertama). Tetap bertugas jaga di sini. Jangan biarkan orang-orang khawatir tentang ‘Ottoman (Utsmaniyah) telah mundur; apa yang akan kita lakukan sekarang”. Orang-orang Barat akan bers**acita jika Ottoman meninggalkan kiblat pertama umat Islam dari nabi kita tercinta. Jangan biarkan kehormatan Islam dan kemuliaan Ottoman diinjak-injak,” ujar seorang letnan, pemimpin Kopral Hasan.

“Kami tinggal di al-Quds karena kami takut saudara-saudara kami di Palestina akan mengatakan bahwa Utsmani meninggalkan mereka. Kami ingin Masjid al-Aqsha tidak menangis setelah 4 Abad. Kami ingin sultannya para nabi, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, tidak bersedih. Kami tidak ingin dunia Islam berduka dan berkabung,” ujar Kopral Hasan.

Sumber video: Son Muhafız 'Kudüs' ~ Penerjemah video: ~ Sumber artikel: Hidayatullah.com

04/07/2020

Coba kita renungkan...
Apa yg udah kita lakukan untuk agama ini? Apa yg udah kita perjuangkan untuk agama ini???
Astagfirullah...😭😭😭

Assalamualaikum warahmattullahi wabarakattuhBahan renungan"SUNGGUH DURHAKANYA ANAK YANG MENDO'AKAN ORANG TUANYA HANYA 5 ...
29/06/2020

Assalamualaikum warahmattullahi wabarakattuh

Bahan renungan

"SUNGGUH DURHAKANYA ANAK YANG MENDO'AKAN ORANG TUANYA HANYA 5 KALI SEHARI"
( Apalagi Sama sekali tidak mendoakanya)
Astagfirullah!!!

Oleh : Ustadz Arifin Nugroho

Saya pernah datang ke Kairo - Mesir.

Pada saat sholat Dhuhur ada kajian dari Syaikh yang mengisi kajian sambil berjualan buku.

Di akhir kajian, saya sempatkan utk membeli buku yang di jual oleh Syaikh tadi.

Judul bukunya "Melipat gandakan Keuntungan Dengan Berbakti Kepada Orangtua."

Dalam satu bab di buku tersebut di bahas mengenai *Adab Kepada Orangtua

Dimana dikatakan bahwa "Sungguh durhaka seorang anak yang hanya mendo'akan kedua orangtuanya hanya 5 kali dalam satu hari."

Saya bingung, kenapa kita sudah mendo'akan orangtua sehari 5 kali, kok masih di bilang anak durhaka ?

Saya coba balik lagi ke Masjid tempat saya membeli buku tersebut, saya tanyakan kepada pengurus kajian di Masjid itu, di mana saya bisa menemui Syaikh yang kemarin memberi kajian di Masjid ini.

Dan setelah saya dapatkan nomor ponselnya, saya hubungi dan kami janjian untuk bertemu di sebuah Masjid yang kebetulan beliau sedang mengisi kajian juga.

Selesai kajian, saya bertemu dengan beliau, dan saya bertanya, kenapa kok seorang anak yang sudah mendo'akan kedua orangtuanya 5 kali sehari, masih di katakan anak yang durhaka ?

Syaikh itu kemudian meminta kepada saya untuk membacakan do'a untuk kedua orangtua.

Dan saya bacakan do'a yang biasa saya baca setelah sholat.

"Rabighfirli waliwalidayya"

"Stop", kata si Syaikh.
"Ulangi lagi".

"Rabighfirli waliwali dayya"
"Stop, ulangi lagi."

"Rabighfirli waliwalidayya"
"Stop, ulangi lagi".

Terus saya ulangi sampai sepuluh kali.

Kemudian si Syaikh bertanya kepada saya, "Apakah kamu capek?"
"Tidak, Syaikh"
"Apakah kamu sampai berkeringat ?"
"Tidak, Syaikh"
"Apakah kamu sampai mengeluarkan uang membaca do'a seperti yang kamu baca tadi ?"

Kembali saya jawab tidak

"Kamu gak perlu mengeluarkan uang, kamu gak perlu mengeluarkan keringat, kamu gak perlu mengeluarkan tenaga yang besar hanya untuk membacakan do'a ampunan kepada kedua orangtuamu."

"Tapi kenapa kamu hanya bisa memintakan ampunan buat orangtuamu sehari semalam cuma 5 kali ?"

"Padahal sejak kamu masih berada dalam perut ibumu, berapa banyak keringatnya yang sudah ibumu keluarkan karena beratnya menanggung kamu yang berada diperutnya ?"

"Betapa sakitnya ibumu saat melahirkan kamu, berapa besar biaya yang sudah dikeluarkan kedua orangtuamu untuk membesarkan kamu?"

"Dan sebagai balasannya, kamu hanya bisa mendo'akan kedua orangtuamu cuma 5 kali dalam sehari semalam?"

"Padahal satu kali saat kamu membacakan do'a untuk kedua orangtuamu, *Rabighfirli waliwalidayya*, saat itu juga satu dosa dari orang tuamu dihapuskan ALLAH Subhaanahu Wa Ta'alaa ".

"Dan ada sebuah kisah, dimana ada seorang orangtua yang saat dia dimakamkan penuh dengan dosa, tiba-tiba, saat orangtua tersebut sedang kesusahan di alam kuburnya, ALLAH Subhaanahu Wa Ta'alaa berikan keringanan dan ALLAH berikan kemuliaan."

"Sampai-sampai si ahlul kubur bingung, kenapa dia diangkat derajatnya seperti ini ?"

"Kemudian jawab malaikat, "Ini berkat do'a anak-anakmu"

Masya Allah...

Sekarang, apakah kita masih berat untuk membacakan do'a untuk kedua orangtua kita sehari lebih dari 50 kali ?

Renungkanlah .....

"Surat dari ramadhan untukku"😭😭😭"Saudaraku, sebentar lagi aku akan pergi,Sudah hampir habis waktuku bertamu,Namun sering...
23/05/2020

"Surat dari ramadhan untukku"😭😭😭

"Saudaraku, sebentar lagi aku akan pergi,
Sudah hampir habis waktuku bertamu,
Namun seringkali aku ditinggal sendirian.
Walau aku sering dikatakan istimewa,
Namun perlakuanmu tak luar biasa terhadapku.
Oleh-olehku nyaris tak kau sentuh…
Al-Quran hanya dibaca sekilas,
kalah dengan update status di media sosial.
Shalatmu pun sudah mulai tak khusyu,
kalah bersaing dengan ingatan akan lebaran, baju baru, dan mudik,…..
Kamu juga tak terlalu banyak minta ampunan kepada Allah,
karena sibuk menumpuk harta demi THR dan shopping.
Malam dan siangmu pun tak banyak dipakai berbuat kebajikan,
kalah dengan bisnis yang sedang panen saat Ramadhan.
Tak p**a banyak kau bershadaqah,
karena khawatir tak cukup buat mudik dan liburan.
Saudaraku, aku seperti tamu yang tak diharapkan.
Hingga, sepertinya kau tak kan menyesal kutinggalkan.
Padahal aku datang dengan kemuliaan,
seharusnya tak p**ang dengan kesia-siaan.
Aku sebentar lagi pergi dan belum tentu kan kembali datang padamu.
Sehingga seharusnya kau menyesal telah menelantarkanku.
Semoga kau sadar sebelum aku benar-benar pergi…
Karena umurmu hanyalah cerita singkat yang akan dipertanggungjawabkan dengan panjang.

Ramadhanmu.

Dulu, saya mengira sholat dhuha, sholat tahajjud, membaca Al Qur’an dan membaca zikir itu dapat menjadi penyebab terbuka...
13/05/2020

Dulu, saya mengira sholat dhuha, sholat tahajjud, membaca Al Qur’an dan membaca zikir itu dapat menjadi penyebab terbukanya pintu rezeki (dapat kekayaan harta).

Padahal justru ibadah-ibadah itu sndiri adalah rezeki.

Karena yg saya pahami bahwa rezeki itu adalah berwujud uang, gaji yg besar, banyak order , banyak job, urusan kerjaan lancar, banyak tabungan di bank, punya banyak aset, seperti kendaraan, properti disana-sini

Intinya rezeki itu adalah: “HARTA”

Namun setelah mencari tahu lebih dalam tentang apa makna rezeki dalam Islam, ternyata saya salah besar

Bahwa ternyata, langkah kaki yang dimudahkan untuk hadir ke majelis ilmu, itu adalah rezeki.

Langkah kaki yg dimudahkan untuk shalat berjamaah di masjid adalah rezeki.

Hati yg Allah jaga jauh dari sifat iri hati, dengki, dan kebencian, adalah rezeki.

Punya temen yang sholeh dan saling mengingatkan dalam kebaikan, itu juga rezeki.

Saat keadaan sulit serta penuh keterbatasanpun itu juga rezeki, karena mungkin jika kita dalam keadaan sebaliknya justru akan membuat kita cond**g bersikap kufur, sombong, angkuh dan bisa lupa diri.

Punya orang tua yang sakit-sakitan, ternyata itu adalah rezeki, karena itu merupakan ladang amal pembuka pintu surga bila kita tulus Ikhlas mengurusnya.

Tubuh yang sehat adalah rezeki.
Bahkan saat diuji dengan sakit, itu juga bentuk lain dari rezeki karena sakit adalah penggugur dosa.

Dan mungkin akan ada jutaan list lainnya bentuk2 rezeki yang kita tidak sadari.

Suami istri dan anak2 sehat itu rezeki, anak-anak dapat bersekolah lancar itu rezeki.

Hidup rukun sama tetangga itu juga rezeki.

Bahkan bila Anda mendapatkan kiriman kajian tausiah keagamaan yg mengajak dan mengingatkan tentang kebajikan, itu juga rezeki, karena Anda akan mendapatkan ilmu darinya.

Justru yang harus kita waspadai adalah ketika hidup kita serba berkecukupan, penuh dengan kemudahan dan kesenangan, padahal begitu banyak hak Allah yang belum mampu atau tidak kita tunaikan.

Astaghfirullah

ۚ ﻭَﻣَﺎ ٱﻟْﺤَﻴَﻮٰﺓُ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎٓ ﺇِﻻَّ ﻣَﺘَٰﻊُ ٱﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Al-Hadid – 57:20)

Semoga bermanfaat.
Aamiin…

07/05/2020

Sholat Idul Fitri Saat Corona...
Tidak ada alasan untuk tidak sholat...

BUKTI CINTA KHADIJAH ISTRI RASULULLAHAdakah yang bisa menggantikanposisi Khadijah di hati Nabi Muhammad ?Pernah Aisyah c...
04/05/2020

BUKTI CINTA KHADIJAH ISTRI RASULULLAH

Adakah yang bisa menggantikan
posisi Khadijah di hati Nabi Muhammad ?

Pernah Aisyah cemburu karena nabi masih sering menyebut Khadijah padahal beliau telah wafat. Nabi berkata dengan tegas ‘Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku.
Dan Allah telah mengaruniakan dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan.

Untuk perjuangan agama ini. Dua per tiga kekayaan kota mekkah milik Khadijah, namun seluruh kekayan beliau diserahkan kepada suaminya, untuk menegakkan risalah ini.

Namun saat Khadijah hendak menjelang wafat tidak ada kafan yang digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.

Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan, diantaranya dengan kulit kayu

Dikisahkan, suatu hari Nabi s.a.w p**ang dari pada Dakwah islam, ketika p**ang masuk ke dalam rumah biasa Khadijah menyambut berdiri di depan pintu

Ketika Khadijah hendak berdiri menyambut Nabi s.a.w berkata, “wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu”.

Ketika itu Khadijah sedang menyus**an Fatimah yang ketika itu masih bayi

Seluruh kekayaan mereka telah habis

Sehingga ketika Fatimah menyusu
Bukan air susu yang keluar akan tetapi darah..

Maka Nabi s.a.w lalu mengambil Fatimah dan diletakkan di tempat tidur.

Sekarang Nabi s.a.w berbaring di pangkuan Khadijah yang lelah seusai berjumpa dengan manusia dalam berdakwah dengan menghadapi caci, maki , fitnah manusia ketika itu..

Nabi tertidur.. ketika itulah Khadijah dengan belaian kasih saying membelai kepala Nabi s.a.w.. tak terasa air mata Khadijah menetes di p**i Nabi s.a.w

Nabi pun terjaga.. “wahai Khadijah. Kenapa engkau menangis?”.

“adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?”

“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan..”

“..tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauhi dirimu, seluruh kekayaanmu habis”

“Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad..?”

Khadijah pun berkata

“Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah”

“Bukan itu yang kutangiskan”

“Dahulu aku memiliki kemuliaan..”

“.. kemuliaan itu aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”

“Dahulu aku memiliki kebangsawanan..”

“.. kebangsawanan itu aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”

“Dahulu aku memiliki harta kekayaan..”

“..seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”

“Wahai Rasululloh”

“sekarang aku tak punya apa-apa lagi”

“Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini”

“Wahai Rasululloh.. sekiranya aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai”

“sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan”

“engkau hendak menyebarangi sungai.. dan engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan”

“.. maka galilah lubang-lubang kuburku dan ambilah tulang belulangku”

“kau jadikanlah sebagai jembatan untuk menyebrangi sungai itu”

“Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah”

“Ingatkan mereka kepada yang hak”

“Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasululloh”

Subhanallah, indah sekali jalinan cinta kasih karena Allah. Semoga para wanita bisa meneladani pengorbanan Siti Khadijah mendukung suami, dan para suami bisa meneladani Rasulullah saw dalam mendidik istri tercinta.

ENTAH SIAPA PENULISNYA TAPI SUNGGUH 😭😭😭muhasabah diriBolu Pisang dan Es Krim ~"Ma, kakak  ranking satu, mana janji mama ...
27/04/2020

ENTAH SIAPA PENULISNYA TAPI SUNGGUH 😭😭😭muhasabah diri
Bolu Pisang dan Es Krim ~

"Ma, kakak ranking satu, mana janji mama mau beliin es krim," rengek Dika putra sulungku. Sejak p**ang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila si sulung yang baru kelas dua SD akan meraih ranking satu, pikirku saat berjanji paling dia hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa.

"Sabar ya, Nak, tunggu ibu gajian tanggal satu," janjiku, padahal aku pun tahu tanggal satu nanti upah menjadi buruh cuci separuhnya akan habis menyicil hutang pengobatan ketika almarhum suami sakit dulu.

Dika cemberut. Aku tahu dia kecewa. Tak banyak pinta anak ini sebenarnya, hanya sebuah es krim ketika ia ranking satu. Tapi bagiku itu barang mahal.

Ah seandainya saja Dika ranking dua atau tak usahlah ranking sekalian, ia pasti tak sekecewa ini.

Keterpurukan hidupku bermulai ketika suami yang tiap hari bekerja sebagai buruh bangunan kecelakaan dan lumpuh. Tiap Minggu harus bolak balik kontrol ke rumah sakit, walau pakai BPJS namun kerepotan ini tetap membutuhkan biaya hingga hutang pun menumpuk.

Ketika suami akhirnya pergi selamanya, hutang-piutang pun berdatangan meminta haknya untuk dilunasi.

Aku pasrah. Memohon kepada si pemberi hutang agar memberi kelonggaran dengan mencicil.

Bukan tak mau bekerja lebih giat lagi, namun selain Dika, aku memiliki Anita putri bungsuku yang masih berusia dua tahun. Tak semua orang mau menerima pekerja rumah tangga yang membawa balita.

Sejak itu aku melakukan kerja apapun, mulai dari buruh cuci, hingga upahan membuat kue. Kebetulan kata orang-orang bolu pisang buatanku enak.

(Mbak, bisa buatin bolu pisang?) Sebuah pesan masuk.

Aku bersorak. Alhamdulillah tak sia-sia mengisi pulsa data beberapa hari yang lalu dan mengaktifkan WA ku. Ada pesanan masuk.

(Bisa Mbak, mau berapa loyang?)

(2 loyang, ngambilnya habis Zuhur bisa?)

(Bisa Mbak.) Aku menyanggupi.

(Tapi bolu pisangnya jangan pakai gula ya, biar manisnya ngambil dari pisangnya saja. Anakku alergi gula.)

(Siap, Mbak. Otw dibuat.)

(Berapa harganya?)

(50.000 Mbak.)

(40.000 saja ya, kan gak pakai gula.)

Aku menelan ludah. Ya Tuhan, padahal dalam tiap loyangnya aku hanya mengambil untung 20.000.

(Ya sudah karena Mbak ngambil dua, aku kasih.)

(Oke, tapi aku gak bisa ngambil ke rumah ya, Mbak. Aku mau pergi liburan, jadi jam 1 aku tunggu di depan SMP yang ada di simpang itu.)

(Oke siap.)

Aku segera gerak cepat menyiapkan semua bahan dan mulai bekerja. Baru jam sembilan berarti masih banyak waktu luang. Kebetulan ada pisang Ambon yang belum terpakai jadi gak perlu beli ke pasar.

Alhamdulillah aku bisa mendapat untung dua puluh ribu dari penjualan dua loyang bolu pisang.

Sepuluh ribunya bisa buat beli es krim harga lima ribu untuk si sulung dan bungsu dan sisanya untuk tambahan belanja besok.

Setelah sholat Zuhur, jam 12.30 aku segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Si sulung mengekor langkahku dengan riang karena terbayang es krim yang bakal didapat. Si bungsu sedang tidur siang jadi kugend**g saja.

Tempat janjian kami cukup jauh sekitar setengah kilometer dari rumah. Walau tengah hari dan terik matahari tengah garang menyerang, aku tetap semangat, demi 20.000.

Jam satu kurang lima menit kami telah tiba di tempat janjian. Mungkin sebentar lagi yang memesan akan datang.

Sepuluh menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun tak kunjung ada tanda bila si pemesan akan datang.

Beberapa pesan telah kukirim sejak tadi namun hanya terkirim dan belum dibaca.

Aku menelpon berkali-kali pun tak kunjung diangkat. Sudah hampir satu jam menanti.

Si sulung telah lelah dan merengek sementara si bungsu telah bangun dan ikut meraung karena kepanasan.

Ting! Sebuah pesan masuk. Hatiku bersorak, dari si pemesan kue.

(Ya Allah Mbak, maaf ya aku lupa. Ini suami berubah pikiran, awalnya dia bilang berangkat habis Zuhur eh tahunya jam sepuluh udah mau buru-buru. Jadi gak sempat kasih kabar. Mbak, jual bolunya sama orang lain saja ya, aku udah otw ke kampung.)

Aku langsung terduduk lemas. Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Apalagi ini? Aku tak meminta banyak ya Allah, hanya es krim saja.

Peluhku yang sudah sejak tadi mengucur, kini bercampur dengan air mata.

Siapa yang ingin membeli bolu pisang tanpa gula dengan rasa manis yang alakadarnya?

Ya Allah, berkali aku menyeka air mata yang terus membasahi wajah.

Sulungku berhenti merengek, ia langsung diam melihat air mataku. Lama ia menatapku iba. Kedua netranya mulai berkaca. Tak tega hati ini melihatnya. Ia hanya ingin es krim seharga 5000 ya Allah.

"Dika gak akan minta es krim lagi Bu, tapi ibu jangan nangis." Dika kecilku berkata dengan suara yang bergetar. Sepertinya ia pun menahan tangis.

"Kita p**ang, Nak," ucapku. Dika mengangguk, si bungsu pun tangisnya mulai mereda. Sepertinya ia mengerti akan kegundahan hati ini.

Ya Allah, beginilah rasanya. Sakit ya Allah, sakit, sakit, sepele bagi mereka namun begitu berat bagiku. Bahan-bahan bolu itu adalah modal terakhir dan kini seolah sia-sia.

Ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Berat, sungguh berat, belum lama suamiku pergi dan kini rasanya aku lemah.

Tak banyak ya Allah hanya ingin es krim saja, itu saja, untuk menyenangkan buah hatiku dan kini bukan untung yang kudapat malah kerugian yang telah nyata di depan mata.

Aku baru saja memasuki halaman rumah kontrakan ketika Bu Tia tetanggaku kulihat telah menunggu.

"Eh, ibunya Dika, dicariin, untung cepat p**ang."

"Ada apa Bu?" tanyaku. Semoga saja wanita baik ini akan memberikanku perkerjaan. Apa saja boleh, bahkan yang terkasar sekalipun akan kuterima. Tapi gak mungkin, di rumah besarnya sudah ada dua pembantu yang siap sedia. Aku kembali membuang anganku.

"Gini, ibu jangan tersinggung ya." Bu Tia menatapku.

Aku mengangguk, ingin kukatakan bila rasa tersinggung itu sudah lama lenyap dalam kamus hidupku.

"Papanya anak-anak kan baru p**ang jemput kakek neneknya dari bandara. Ya dasar laki-laki tahunya kan cuma nyenengin anak tapi gak tahu yang baik. "

Aku mengangguk walau belum paham kemana arah pembicaraan.

"Masa dia ngebeliian anak-anak es krim sampai lima buah. Padahal anakku kan masih batuk pilek parah. Jadi, daripada buat rusuh, mau ya Bu nerima es krim ini, untuk Dika dan adiknya." Bu Tia menyerahkan plastik putih berisi es krim padaku.

Aku terdiam tak sanggup berkata-kata.

"Asikkk." Dika bersorak, aku masih bergeming.

"Lo, yang ibu bawa itu apa?" tanya Bu Tia melirik kantong hitam berisi dua kotak bolu pisangku.

"Bolu pisang Bu, tapi gak manis, kebetulan yang mesan batal. "

"Wah kebetulan, neneknya di rumah itu diabetes jadi gak bisa makan manis. Saya beli ya untuk cemilan."

"Benar Bu?" Aku bertanya tak percaya.

"Iya, berapa harganya?"

"Berapa saja, Bu. Terserah, asal jadi uang."

"Ya sudah." Bu Tia menyerahkan dua lembar uang merah ke dalam genggamanku.

"Ya Allah Bu ini kebanyakan ," ucapku.

"Sudah, gak apa. Ambil saja, kalau mesan yang kayak gini emang mahal kok Bu." Bu Tia langsung mengambil kantong berisi bolu pisang dan bergegas pergi.

Aku masih diam dengan air mata yang mulai menetes lagi. Baru saja mengeluh akan pahitnya hidup dan kini semua telah terbayar lunas.

***

Bu Tia meletakkan bolu pisang yang baru ia beli di atas meja makan.

Ia duduk dan memandang dua kotak bolu pisang itu dengan tatapan berkaca.

Sungguh zolim sebagai tetangga, bahkan ada seorang janda yang kesusahan pun ia tak tahu. Sementara baru saja ia membeli tas branded seharga jutaan dan tak jauh dari rumahnya ada seorang anak yatim merengek pada ibunya hanya demi sebuah es krim.

Untung saja Fahri putranya bercerita, bila tidak pastilah kezoliman ini akan terus berlangsung.

"Ma, tadi yang juara 1 Dika, tetangga kita yang di ujung itu." lapor putra sulungnya.

"Bagus d**g, les dimana dia?"

"Gak les kok, Ma. Orang dia miskin kok."

"Hey, gak boleh menghina orang lain." Bu Tia melotot pada putranya.

"Gak menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh Ma, masa kan ibunya janji mau beliin dia es krim kalau ranking satu eh pas dia ranking malah ibunya bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Dika ya , Ma. Mana kalau di sekolah dia s**a mandang jajanan temannya kayak ngeiler gitu tapi pas dikasih dia nolak. Malu mungkin ya, Ma." Fahri bercerita panjang lebar.

Bu Tia terdiam.

Ya Allah mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktiv ikut kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar.

"Ma, bolunya gak ada rasa, kurang enak," ucap Fachri membuyarkan lamunannya.

"Sengaja, makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles selai buah."

"Ohhh, gitu ya. Tumben mama pesan bolu tawar."

"Lagi pengen aja."

Bu Tia menghela napas panjang. Tak akan terulang lagi, jangan sampai ada tangis anak yatim yang kelaparan di sekitarnya.

Anak yatim itu bukan tanggung jawab ibunya saja tapi keluarga dan orang sekitar.

***

Sepele bagi kita namun berarti bagi mereka.

Ada kala sisa nasi kemarin sore yang tak tersentuh di atas meja makan kita adalah mimpi dari anak-anak yang telah berhari-hari terpaksa hanya berteman dengan ubi rebus saja.

Jangan heran menatap binar seseorang yang begitu terharu ketika gaun pesta yang menurut kita sudah ketinggalan jaman itu kita berikan pada mereka.

Uang lima puluh ribu yang sangat mudah lenyap ketika dibawa ke mini market bertukar dengan kinderj*y dan beraneka jajanan yang habis dalam sekejap itu adalah setara dengan hasil kerja keras seorang buruh dari subuh hingga menjelang Magrib.

Bersedekah itu gak perlu banyak, sedikit saja dari yang kita punya. Memberi itu jangan menunggu kaya, saat kekurangan lah justru diri harus lebih bermurah hati.

Beruntunglah bila di sekitar begitu banyak ladang sedekah dimana kita dapat menukar rupiah menjadi pahala. Kaya itu bukan pada jumlah harta tapi bagaimana kita membelanjakannya. Akherat itu ada dan sudah kah kita menyiapkan hunian di sana?

Pengingat diri agar lebih peka. Ingat ini salah satu kerja maqami kesholehan sosial agar peduli tetangga kita

Semoga bermanfaat.....

NAMA-NAMA PEJUANG PERANG BADARNama-nama pejuang perang badar, perang besar pertama nabi Muhammad saw ? Selama ini kita s...
21/04/2020

NAMA-NAMA PEJUANG PERANG BADAR

Nama-nama pejuang perang badar, perang besar pertama nabi Muhammad saw ? Selama ini kita sudah sering membaca cerita tentang perang badar, namun kita jarang sekali membaca tentang nama-nama pejuang dalam perang tersebut. Berikut ini adalah nama nama Para Pejuang AHLUL BADR yang berjumlah 313 orang :

1. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

2. Abu Bakar as-Shiddiq Radliyallahu 'Anhu.

3. Umar bin al-Khattab Radliyallahu 'Anhu.

4. Utsman bin Affan Radliyallahu 'Anhu.

5. Ali bin Abu Tholib Karramallahu Wajhah.

6. Talhah bin ‘Ubaidillah Radliyallahu 'Anhu.

7. Bilal bin Rabbah Radliyallahu 'Anhu.

8. Hamzah bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.

9. Abdullah bin Jahsyi Radliyallahu 'Anhu.

10. Al-Zubair bin al-Awwam Radliyallahu 'Anhu.

11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim Radliyallahu 'Anhu.

12. Abdur Rahman bin ‘Auf Radliyallahu 'Anhu.

13. Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.

14. Sa’ad bin Abi Waqqas Radliyallahu 'Anhu.

15. Abu Kabsyah al-Faris Radliyallahu 'Anhu.

16. Anasah al-Habsyi Radliyallahu 'Anhu.

17. Zaid bin Harithah al-Kalbi Radliyallahu 'Anhu.

18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi Radliyallahu 'Anhu.

19. Abu Marthad al-Ghanawi Radliyallahu 'Anhu.

20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.

21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.

22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.

23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.

24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.

25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) Radliyallahu 'Anhu.

26. Salim (maula Abu Huzaifah) Radliyallahu 'Anhu.

27. Sinan bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.

28. ‘Ukasyah bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.

29. Sinan bin Abi Sinan Radliyallahu 'Anhu.

30. Abu Sinan bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.

31. Syuja’ bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.

32. ‘Utbah bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.

33. Yazid bin Ruqais Radliyallahu 'Anhu.

34. Muhriz bin Nadhlah Radliyallahu 'Anhu.

35. Rabi’ah bin Aksam Radliyallahu 'Anhu.

36. Thaqfu bin Amir Radliyallahu 'Anhu.

37. Malik bin Amir Radliyallahu 'Anhu.

38. Mudlij bin Amir Radliyallahu 'Anhu.

39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i Radliyallahu 'Anhu.

40. ‘Utbah bin Ghazwan Radliyallahu 'Anhu.

41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) Radliyallahu 'Anhu.

42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi Radliyallahu 'Anhu.

43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) Radliyallahu 'Anhu.

44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah Radliyallahu 'Anhu.

45. Umair bin Abi Waqqas Radliyallahu 'Anhu.

46. Al-Miqdad bin ‘Amru Radliyallahu 'Anhu.

47. Mas’ud bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.

48. Zus Syimalain Amru bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi Radliyallahu 'Anhu.

50. Amir bin Fuhairah Radliyallahu 'Anhu.51. Suhaib bin Sinan Radliyallahu 'Anhu.

52. Abu Salamah bin Abdul Asad Radliyallahu 'Anhu.53. Syammas bin Uthman Radliyallahu 'Anhu.

54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam Radliyallahu 'Anhu.

55. Ammar bin Yasir Radliyallahu 'Anhu.

56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i Radliyallahu 'Anhu.

57. Zaid bin al-Khattab Radliyallahu 'Anhu.

58. Amru bin Suraqah Radliyallahu 'Anhu.

59. Abdullah bin Suraqah Radliyallahu 'Anhu.

60. Sa’id bin Zaid bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) Radliyallahu 'Anhu.

62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi Radliyallahu 'Anhu.

63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli Radliyallahu 'Anhu.

64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli Radliyallahu 'Anhu.

65. Amir bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.

66. Amir bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.

67. Aqil bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.

68. Khalid bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.

69. Iyas bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.

70. Uthman bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.

71. Qudamah bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.

72. Abdullah bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.

73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.

74. Ma’mar bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.

75. Khunais bin Huzafah Radliyallahu 'Anhu.

76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm Radliyallahu 'Anhu.

77. Abdullah bin Makhramah Radliyallahu 'Anhu.

78. Abdullah bin Suhail bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah Radliyallahu 'Anhu.

80. Hatib bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

81. Umair bin Auf Radliyallahu 'Anhu.

82. Sa’ad bin Khaulah Radliyallahu 'Anhu.

83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah Radliyallahu 'Anhu.

84. Amru bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.

85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.

86. Safwan bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.

87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.

88. Sa’ad bin Muaz Radliyallahu 'Anhu.

89. Amru bin Muaz Radliyallahu 'Anhu.

90. Al-Harith bin Aus Radliyallahu 'Anhu.

91. Al-Harith bin Anas Radliyallahu 'Anhu.

92. Sa’ad bin Zaid bin Malik Radliyallahu 'Anhu.

93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.

94. ‘Ubbad bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.

95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.

96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz Radliyallahu 'Anhu.

97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi Radliyallahu 'Anhu.

98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj Radliyallahu 'Anhu.

99. Salamah bin Aslam bin Harisy Radliyallahu 'Anhu.

100. Abul Haitham bin al-Tayyihan Radliyallahu 'Anhu.

101. ‘Ubaid bin Tayyihan Radliyallahu 'Anhu.

102. Abdullah bin Sahl Radliyallahu 'Anhu.

103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

104. Ubaid bin Aus Radliyallahu 'Anhu.

105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd Radliyallahu 'Anhu.

106. Mu’attib bin ‘Ubaid Radliyallahu 'Anhu.

107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.

108. Mas’ud bin Sa’ad Radliyallahu 'Anhu.

109. Abu Absi Jabr bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.

111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah Radliyallahu 'Anhu.

112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail Radliyallahu 'Anhu.

113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar Radliyallahu 'Anhu.

115. Sahl bin Hunaif bin Wahib Radliyallahu 'Anhu.

116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.

117. Mubasyir bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.

118. Rifa’ah bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.

119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.

120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy Radliyallahu 'Anhu.

121. Rafi’ bin Anjadah Radliyallahu 'Anhu.

122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid Radliyallahu 'Anhu.

123. Tha’labah bin Hatib Radliyallahu 'Anhu.

124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.

125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.

126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.

127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.

128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.

129. Asim bin Adi al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.

130. Jubr bin ‘Atik Radliyallahu 'Anhu.

131. Malik bin Numailah al-Muzani Radliyallahu 'Anhu.

132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.

133. Abdullah bin Jubair Radliyallahu 'Anhu.

134. Asim bin Qais bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.

135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.

136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.

137. Salim bin Amir bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.

138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah Radliyallahu 'Anhu.

139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.

140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah Radliyallahu 'Anhu.

141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

142. Sa’ad bin Khaithamah Radliyallahu 'Anhu.

143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah Radliyallahu 'Anhu.

144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) Radliyallahu 'Anhu.

145. Al-Harith bin Arfajah Radliyallahu 'Anhu.

146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair Radliyallahu 'Anhu.

147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

148. Abdullah bin Rawahah Radliyallahu 'Anhu.

149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

152. Subai bin Qais bin ‘Isyah Radliyallahu 'Anhu.

153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah Radliyallahu 'Anhu.

154. Abdullah bin Abbas Radliyallahu 'Anhu.

155. Yazid bin al-Harith bin Qais Radliyallahu 'Anhu.

156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah Radliyallahu 'Anhu.

157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

159. Sufyan bin Bisyr bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

160. Tamim bin Ya’ar bin Qais Radliyallahu 'Anhu.

161. Abdullah bin Umair Radliyallahu 'Anhu.

162. Zaid bin al-Marini bin Qais Radliyallahu 'Anhu.

163. Abdullah bin ‘Urfutah Radliyallahu 'Anhu.

164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais Radliyallahu 'Anhu.

165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai Radliyallahu 'Anhu.

166. Aus bin Khauli bin Abdullah Radliyallahu 'Anhu.

167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah Radliyallahu 'Anhu.

169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

170. Amir bin Salamah Radliyallahu 'Anhu.

171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad Radliyallahu 'Anhu.

172. Amir bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.

173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah Radliyallahu 'Anhu.

174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan Radliyallahu 'Anhu.

175. ‘Ubadah bin al-Somit Radliyallahu 'Anhu.

176. Aus bin al-Somit Radliyallahu 'Anhu.

177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus Radliyallahu 'Anhu.

179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah Radliyallahu 'Anhu.

180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam Radliyallahu 'Anhu.

181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam Radliyallahu 'Anhu.

182. Amru bin Iyas Radliyallahu 'Anhu.

183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy Radliyallahu 'Anhu.

185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah Radliyallahu 'Anhu.

186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah Radliyallahu 'Anhu.

187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.

188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah Radliyallahu 'Anhu.

189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais Radliyallahu 'Anhu.

190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.

191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan Radliyallahu 'Anhu.

192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus Radliyallahu 'Anhu.

193. Ka’ab bin Humar al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.

194. Dhamrah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

195. Ziyad bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

196. Basbas bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.

198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.

200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.

201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) Radliyallahu 'Anhu.

202. Abdullah bin Amru bin Haram Radliyallahu 'Anhu.

203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.

204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.

205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.

206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

207. Hubaib bin Aswad Radliyallahu 'Anhu.

208. Thabit bin al-Jiz’i Radliyallahu 'Anhu.

209. Umair bin al-Harith bin Labdah Radliyallahu 'Anhu.

210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur Radliyallahu 'Anhu.

211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ Radliyallahu 'Anhu.

212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ Radliyallahu 'Anhu.

213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais Radliyallahu 'Anhu.

214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr Radliyallahu 'Anhu.

215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr Radliyallahu 'Anhu.

216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.

217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.

218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr Radliyallahu 'Anhu.

219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr Radliyallahu 'Anhu.

220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah Radliyallahu 'Anhu.

221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

222. Sawad bin Razni bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram Radliyallahu 'Anhu.

224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram Radliyallahu 'Anhu.

225. Abdullah bin Abdi Manaf Radliyallahu 'Anhu.

226. Jabir bin Abdullah bin Riab Radliyallahu 'Anhu.

227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.

228. An-Nu’man bin Yasar Radliyallahu 'Anhu.

229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir Radliyallahu 'Anhu.

230. Qutbah bin Amir bin Hadidah Radliyallahu 'Anhu.

231. Sulaim bin Amru bin Hadidah Radliyallahu 'Anhu.

232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) Radliyallahu 'Anhu.

233. Abbas bin Amir bin Adi Radliyallahu 'Anhu.

234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad Radliyallahu 'Anhu.

235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais Radliyallahu 'Anhu.

236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah Radliyallahu 'Anhu.

237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus Radliyallahu 'Anhu.

238. Qais bin Mihshan bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.

239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.

240. Jubair bin Iyas bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.

241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman Radliyallahu 'Anhu.

242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.

243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.

244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih Radliyallahu 'Anhu.

245. Al-Fakih bin Bisyr Radliyallahu 'Anhu.

246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.

247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.

248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.

249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.

250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.

251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.

252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.

253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.

255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.

256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir Radliyallahu 'Anhu.

257. Khalifah bin Adi bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan Radliyallahu 'Anhu.

259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari Radliyallahu 'Anhu.

260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.

261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza Radliyallahu 'Anhu.

263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru Radliyallahu 'Anhu.

264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.

265. Mas’ud bin Aus bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.

269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.

270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.

271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.

272. Abdullah bin Qais bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.

273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.

274. Ishmah al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.

275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi Radliyallahu 'Anhu.

276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.

277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan Radliyallahu 'Anhu.

278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

279. Ubai bin Ka’ab bin Qais Radliyallahu 'Anhu.

280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais Radliyallahu 'Anhu.

281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram Radliyallahu 'Anhu.

282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.

283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl Radliyallahu 'Anhu.

284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.

285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.

286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi Radliyallahu 'Anhu.

287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik Radliyallahu 'Anhu.

288. Abu Salit bin Usairah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik Radliyallahu 'Anhu.

290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.

291. Muhriz bin Amir bin Malik Radliyallahu 'Anhu.

292. Sawad bin Ghaziyyah Radliyallahu 'Anhu.

293. Abu Zaid Qais bin Sakan Radliyallahu 'Anhu.

294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim Radliyallahu 'Anhu.

295. Sulaim bin Milhan Radliyallahu 'Anhu.

296. Haram bin Milhan Radliyallahu 'Anhu.

297. Qais bin Abi Sha’sha’ah Radliyallahu 'Anhu.

298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru Radliyallahu 'Anhu.

299. ‘Ishmah al-Asadi Radliyallahu 'Anhu.

300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik Radliyallahu 'Anhu.

301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah Radliyallahu 'Anhu.

302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.

304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru Radliyallahu 'Anhu.

305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.

306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.

307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal Radliyallahu 'Anhu.

308. Ka’ab bin Zaid bin Qais Radliyallahu 'Anhu.

309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi Radliyallahu 'Anhu.

310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.

311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah Radliyallahu 'Anhu.

312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj Radliyallahu 'Anhu.

313. Oleh bin Syuqrat Radliyallahu 'Anhu.

Wallahu A'lam

Sumber : Kitab Aslul Qodr/asma badar karya Syaikh Abuya Dimyati Bin Syaikh Amin Al-Jawi Al-Bantani

Address

Medan

Telephone

082266036744

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dakwah Online posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category