Info toba

Info toba Media informasi

Kepala Badan sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Samosir.
28/12/2025

Kepala Badan sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Samosir.

25/12/2025

Selamat Natal 🎄
Senantiasa Bersukacita

18/12/2025

Sebuah Liputan Yg mengharukan.

Jurnalis itu penting untuk memberikan informasi lewat media. Masih bertanya, kenapa tayangan ini kemudian dihapus dari laman media terkait.

Apa benar Media itu ada tekanan dari Pemerintah ?

18/12/2025

Mari kita Kawal.
Dan sesegera mungkin Perusahaan TPL ditutup.

Kisah Haru Narapidana Dilepaskan dan Cari Keluarganya di TamiangSeorang laki-laki muda berperawakan kurus tinggi mendeka...
17/12/2025

Kisah Haru Narapidana Dilepaskan dan Cari Keluarganya di Tamiang

Seorang laki-laki muda berperawakan kurus tinggi mendekat ke arah mobil yang ditumpangi IDN Times dalam perjalanan dari Kota Langsa menuju Aceh Tamiang. Sambil memegang kresek berisi nasi bungkus, laki-laki itu memelas.

“Boleh menumpang bang? Mohon saya menumpang ke Kuala Simpang,” katanya.

Saat itu, para relawan banjir Aceh Tamiang dari lembaga langsung mempersilakan naik ke atas mobil. Raut wajahnya langsung berubah senyum.

Saat berkenalan, para relawan di atas bak mobil, terkejut. Laki-laki itu adalah Muhammad Muchsin (34). “Saya dari Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Kajhu bang. Napi di sana,” ujar Muchsin.

Ternyata, Muchsin sudah berhari – hari di perjalanan. Tekadnya cuma satu. Bertemu dengan anak istrinya yang menjadi penyintas banjir di Desa Kota Lintang Bawah, Aceh Tamiang. Di hari itu, dia belum tahu bagaimana nasib anak dan istrinya.

Muchsin mengaku dibebaskan oleh Kepala Lapas Kajhu. Meski pun harusnya dia Bebas pada Februari 2026 mendatang. Dia harus menjalani vonis 18 bulan penjara karena kasus narkoba, g***a kering.

Pada 26 November 2025 lalu, Muchsin kaget saat melihat pemberitaan di televisi Lapas. Aceh Tamiang diterjang banjir bandang. Saat itu dia bingung. Istri dan putrinya yang masih balita, berada di tempat mertuanya di Desa Kota Lintang Bawah.

Dari berita dan informasi yang didapatnya, daerah itu terdampak paling parah. Pemukiman warga porak poranda tersapu banjir. Sejumlah orang dikabarkan menjadi korban jiwa.

Setiap hari sejak banjir menerjang, Muchsin cemas. Dia dihantui ketakutan yang mendalam. Setiap hari hanya bisa menangis, berharap keluarganya baik-baik saja. Kian bingung kala dia baru bisa bebas dua bulan lagi.

“Saya komunikasi dengan anak istri satu bulan setengah yang lalu melalui sambungan telepon. Lepas itu tidak pernah lagi,” ungkapnya.

Di saat itu, solidaritas rekan-rekan satu selnya muncul. Mereka memohon supaya Muchsin mendapat kesempatan mencari istri dan anaknya.

Sungguh tidak disangka, tiba – tiba Kepala Lapas memberikannya izin untuk ke luar dari sel. “Saya dibebaskan. Mungkin dilihatnya saya setiap hari menangis di dalam sel. Kemudian kawan satu sel juga mendukung,” kata Muchsin.

Sebelum bebas, rekan – rekan di dalam sel mengumpulkan uang. Terkumpullah Rp18 ribu yang menjadi bekal Muchsin menuju Aceh Tamiang.

Muchsin diberikan izin ke luar dari sel sejak Jumat (5/12/2025) petang. Sejak itu perjuangan beratnya di mulai. Dari Banda Aceh dia menumpangi sejumlah kendaraan yang melintas. Banyak orang yang memberikannya tumpangan. Tapi hanya sedikit yang mengetahui statusnya sebagai narapidana.

“Jika ada yang nanya baru saya kasih tahu. Ada yang takut, ada yang malah kasih semangat,” katanya.

Perjuangannya tidak mulus. Muchsin bertahan hidup di jalanan berhari – hari. Dia harus memelas kepada sejumlah penjual makanan. Banyak yang merasa iba, memberikannya makanan. Tidak jarang juga dia mendapat penolakan.

Setiap hari mulai gelap, Muchsin mencari masjid. Di situ dia bermalam dan menahan lapar. Belum lagi perjuangannya harus menerobos banjir di beberapa daerah yang masih terendam saat itu.

“Baju udah basah dan kering di badan. Nanti kalau di masjid saya cuci baju, sudah kering sedikit saya pakai lagi. Jalan lagi saya,” katanya.

Selama perjalanan ke Aceh Tamiang, Muchsin banyak terdiam. Pandangannya tertuju pada kondisi pemukiman yang dihantam bandang.

Disela itu, Muchsin sempat bercerita bagaimana pertemuannya dengan sang istri. Mereka menikah pada 2018 lalu. Dia bertemu sang istri saat menjadi juru masak di salah satu kedai kuliner di Banda Aceh.

Saat itu, sang istri sedang berkuliah di Banda Aceh. Dia sering berkunjung ke kedai kuliner tempat Muchsin bekerja.

“Dia sering makan di tempat saya sama teman-temannya. Karena sama – sama anak rantau juga kan. Jadi setiap dia bawa kawan, saya kasih diskon saja terus,” ujar laki – laki asal Kelurahan Keude Kuta Binjei, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, Aceh itu.

Lama berkenalan, keduanya sepakat untuk menikah. Mereka pun dikaruniai seorang putri pada 2020 lalu. Hingga dia terjerat kasus narkoba pada 2023 lalu.

Sebelum memasuki kawasan Kuala Simpang, Muchsin melahap nasi yang didapatnya dari pedagang makanan di Langsa. Dia kembali menatap kondisi Aceh Tamiang yang porak poranda.

“Nanti saya turun di jembatan aja yah bang,” kata Muchsin.

Jembatan yang dimaksud Muchsin adalah jembatan Sungai Tamiang. Dari atas jembatan bisa terlihat bagaimana kondisi Desa Kota Lintang Bawah.

Pemukiman hancur, kayu gelondongan di mana – mana. Kini warga bertahan di tenda – tenda pengungsian. Dari atas terlihat, hanya satu masjid yang bertahan dari terjangan banjir.

“Rumah saya dekat masjid itu. Sebelum masjid,” ungkapnya sambil menunjuk dari atas jembatan.

Selepas melewati jembatan, Muchsin pun pamit. Dengan terburu – buru dia berjalan ke arah Kota Lintang Bawah. “Doakan saya yah bang, bisa bertemu anak sama istri. Saya bersyukur bisa dibebaskan dari Lapas,” pungkasnya.

Air bah menghantam Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025 lalu. Meluap dari sungai Tamiang bersama lumpur dan gelondongan kayu.

Sebanyak 12 kecamatan atau hampir seluruh Tamiang terendam. Tepatnya ada 475 titik banjir. Ada 58 orang meninggal dunia menurut data per Jumat 12 Desember 2025 petang. Angka kematian tertinggi dari 18 kabupaten/kota di Aceh yang terdampak.

Banjir mengakibatkan 59.220 kepala keluarga dengan 209.460 jiwa menjadi pengungsi. Ada 2.811 rumah yang terdampak banjir. Membuat para penyintas harus kehilangan tempat tinggal.

Di sisi pertanian, ada 8.161 hektar yang rusak hingga gagal panen. Banjir juga merusak berbagai fasilitas publik. Ada 62 kantor rusak dengan berbagai tikngkatan. Sebanyak 33 rumah ibadah rusak.

Kondisi ini membuat Tamiang lumpuh total. Jamak warga menyebut, banjir kali ini seperti tsunami kedua. Warga mengingat, banjir terparah terjadi pada 1996 dan 2006. Namun dampaknya tidak seperti saat ini. Belum diketahui, kapan kondisi Aceh Tamiang kembali normal. Sama seperti di daerah lain. Baik di Aceh, Sumatera Utara hingga Sumbar. (Sumber : IDN Times/Prayugo Utomo

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperbarui total korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Su...
13/12/2025

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperbarui total korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat lewat Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025.

Hingga Sabtu (13/12/2025) pukul 9.30 WIB, tercatat korban meninggal mencapai 995 jiwa dan 226 lainnya hilang.

Dari 995 yang dinyatakan meninggal, 343 merupakan warga Sumatera Utara, 241 dari Sumatera Barat, dan 411 dari Aceh.

BNPB juga mencatat jumlah kerusakan pada rumah-rumah warga dan sejumlah fasilitas yang terdampak. Tertera, 158 ribu rumah rusak, 52 kabupaten terdampak.

Lalu data kerusakan terdiri dari 1.200 fasilitas umum, 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung/kantor, dan 145 jembatan.

| Narasi Daily

Ribuan Massa dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi unjuk rasa (unras) di Kantor Gubernur Sumut Jalan Pangeran D...
10/11/2025

Ribuan Massa dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi unjuk rasa (unras) di Kantor Gubernur Sumut Jalan Pangeran Diponegoro Medan, Senin (10/11/2025).

Dalam kegiatan ini, mereka meminta Gubernur Sumut Bobby Nasution menemui mereka.

Sejumlah koordinator menceritakan perjuangan mereka agar TPL tersebut ditutup, Namun hingga saat ini tak kunjung ditutup.

Berbagai poster kritikan dan sindiran untuk pemerintah.

Setiap koordinator yang menyuarakan aksi mengatakan, sudah banyak korban dan kerugian yang dialami masyarakat khususnya di Kabupaten karena adanya PT Toba Pulp Lestari (TPL)

"Keluar Bobby, kantor Gubernur ini dibangun dari uang rakyat bukan uang dari TPL, Keluar-keluar kau Bobby, Usir TPL bukan lagi ditutup tapi diusir, teriak usir-usir, usir TPL, usir TPL sekarang juga," teriak koordinator unras disambung teriakan massa.

Menurutnya, pemerintah juga takut kepada perusahaan, poster keritikan itu juga terlihat dibawa oleh massa

"Sekarang pemerintah takut pada perusahaan bukan sama rakyat,"tulisan poster ini.

Massa terlihat kesal karena Bobby Nasution tak kunjung menemui mereka. Karena itu mereka kompak menyanyikan lagu O Tana Batak.

Dimana lagu ini menceritkan tentang cintanya masyarakat kepada tanah batak.

Selain itu mereka juga menyanyikan lagu karangan mereka sendiri agar TPL segera ditutup dan diusir.

"O Tano Batak, Haholongan HU, Sai na Masihol Do Au Tu Ho, Dang Olo Modom, dang nop matakku sai namalungun do au sai naeng tu ho," teriak mereka menyanyikan satu bait lirik lagu dari O Tana Batak.

Selain itu, ketua koordinator juga mengatakan aksi ini digelar dalam rangka Hari Pahlawan.

Dan menunjukkan tidak adanya penghargaan untuk pahlawan Lingkungan yang sudah menyuburkan tanah batak di Kabupaten Toba.
Tribun Medan :

25/09/2025
Mayat wanita tanpa kepala yang sudah membusuk ditemukan di sungai Aek Bolon, Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Senin (2...
23/07/2025

Mayat wanita tanpa kepala yang sudah membusuk ditemukan di sungai Aek Bolon, Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Senin (21/07-2025).

Meskipun sudah membusuk, mayat Mrs X itu berhasil dievakuasi gabungan tim Inafis Polres Tanah Karo, Polsek Tigapanah, TNI dari Koramil 02 Tigapanah yang dibantu masyarakat.

Kanit Reskrim Polsek Tigapanah, Ipda Rikardo Situmeang, mengatakan mayat wanita itu awalnya ditemukan warga pada hari Minggu kemarin (20/07-2025) yang sedang mencari ikan.

"Penemuan mayat pada hari Minggu siang kemarin. Disampaikan kepada Kepala Desa dan diteruskan ke Polsek Tigapanah sudah menjelang Sore. Sehingga diputuskan melakukan evakuasi pada hari ini, " ujarnya.

Dikatakannya, saat dievakuasi, posisi mayat dalam keadaan telentang dan tanpa kepala. Prediksi sementara, mayat itu berjenis kelamin perempuan, umurnya ditaksir sekitar 40 tahun dengan tinggi badan ditaksir sekitar 160 cm dan tanpa identitas.

"Usai dievakuasi dari aliran sungai melalui dinding tebing yang curam, Mrs X langsung kita bawa ke RSU Kabanjahe menggunakan mobil Inafis Polres Tanah Karo, " bebernya.

Situmeang menyebut, pihaknya akan melakukan autopsi ke RSU Bhayangkara Polda Sumut, sekaligus melalukan penyelidikan untuk mencari identitas korban melalui media elektronik dan media sosial atau dengan menggunakan Mambis.

"Sampai saat ini kita akan lakukan penyelidikan penyebab meninggalnya Mrs X. Memang pada saat dilakukan evakuasi didapati tali yang terikat di kaki sebelah kiri, " tutupnya.

Sumber: www.reuters.co.id

Satu unit Mobil bermuatan Bahan bakar solar laka tunggal di jalan Sidikalang-Medan,lebih tepatanya di Sumbul Pegagan.
18/07/2025

Satu unit Mobil bermuatan Bahan bakar solar laka tunggal di jalan Sidikalang-Medan,lebih tepatanya di Sumbul Pegagan.

Address

Medan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Info toba posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share