Sharing is Caring

Sharing is Caring Ruang berbagi empati & kemanusiaan. Catatan tentang bertahan, peduli, dan harapan kecil.

Dikelola oleh satu manusia yang terus belajar hidup.

⭐ Dukungan dengan bintang bila berkenan

Update Psikolog Forensik: Ini Bukan Tentang “Anak Sakit Jiwa”Hasil evaluasi psikolog forensik menyebutkan bahwa anak ini...
03/01/2026

Update Psikolog Forensik: Ini Bukan Tentang “Anak Sakit Jiwa”

Hasil evaluasi psikolog forensik menyebutkan bahwa anak ini tidak mengalami gangguan jiwa klinis seperti skizofrenia, PTSD berat, atau conduct disorder.

Yang justru ditemukan adalah tingkat kecerdasan yang sangat tinggi.

Artinya, ini bukan kasus anak dengan gangguan mental, melainkan anak normal yang tumbuh dalam situasi emosional yang tidak normal.

Anak dengan kecerdasan tinggi cenderung:
• Lebih sensitif terhadap konflik
• Lebih cepat menangkap ketegangan emosional
• Lebih mudah memikul beban yang sebenarnya belum sesuai dengan usianya

Mereka bisa tampak tenang, pendiam, bahkan “dewasa”, padahal di dalamnya sedang bekerja proses emosi yang sangat kompleks.

Ketika rumah tidak menjadi ruang aman,
ketika emosi tidak diberi tempat untuk diproses, ketika ketakutan, marah, dan bingung harus dipendam sendirian, maka emosi itu tidak hilang. Ia hanya menunggu jalan keluar.

Dan emosi yang dipendam terlalu lama akan mencari jalannya sendiri, sering kali dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.

Ini bukan pembenaran atas tindakan.
Ini upaya memahami akar, agar tragedi serupa tidak terulang.

Anak tidak selalu “nakal” atau “sakit” ketika berperilaku ekstrem.
Kadang mereka hanya kelelahan menahan beban yang terlalu berat untuk usia mereka.

📌 Refleksi untuk kita sebagai orang dewasa:
Anak tidak membutuhkan rumah yang sempurna,
mereka membutuhkan rumah yang aman secara emosional.

Tempat di mana takut boleh diucapkan,
marah boleh diproses,
dan diam tidak selalu berarti baik-baik saja.

Share jika perlu. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk belajar bersama.










Tragedi Anak 12 Tahun di Medan: Apa yang Bisa Kita PelajariBeberapa minggu lalu, di tengah bencana banjir, muncul kabar ...
30/12/2025

Tragedi Anak 12 Tahun di Medan: Apa yang Bisa Kita Pelajari

Beberapa minggu lalu, di tengah bencana banjir, muncul kabar yang mengguncang hati banyak orang tua: seorang anak 12 tahun diduga melukai ibunya hingga meninggal. Media sosial langsung ramai menuding orang tua, terutama ayah. Tapi cerita ini jauh lebih kompleks daripada sekadar rumah tangga yang tidak harmonis.

Anak ini berprestasi, hafal banyak surah, sering memenangkan lomba, dan pendiam. Namun, diamnya bukan berarti ia baik-baik saja. Trauma melihat kakaknya dipukuli, ancaman pisau di rumah, dan konflik keluarga membuatnya mencari “ruang aman” di dunia digital, misalnya lewat game atau konten yang mengandung kekerasan.

Sebagai orang yang paham soal mental health, aku menyadari bahwa trauma kecil yang terus berulang bisa membentuk cara anak melihat dunia. Perilaku ekstrem tidak selalu soal “orang tua tidak akur” atau gosip orang ketiga. Anak 12 tahun bisa kuat dan agresif ketika menghadapi stres, depresi, atau marah akibat kekerasan di rumah.

Mendidik anak bukan hanya tentang memberi tahu mana yang benar, tapi bagaimana cara yang benar. Sikap orang tua di rumah jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar teori di sekolah atau pengajaran agama. Anak itu peniru dunia, apa yang mereka lihat di rumah membentuk cara mereka merespons dunia.

Perubahan perilaku anak, seperti pendiam yang tiba-tiba muncul, bukan tanda dewasa lebih cepat, tapi bisa jadi alarm bahwa ada luka atau tekanan yang terpendam. Dunia digital memberi “ruang aman” bagi anak, tapi tanpa pendampingan, ruang itu bisa menimbulkan kecanduan dan risiko emosi yang tidak terkendali.

📌 Pesan untuk orang tua: Ilmu parenting penting, tapi aplikasinya lebih penting. Perhatikan tumbuh kembang anak, awasi emosi mereka, dan jangan hanya fokus pada prestasi atau kepatuhan. Kesadaran dan pendampingan adalah kunci agar tragedi serupa tidak terjadi di keluarga kita.

_Share jika bermanfaat_

Siang hari sering terasa penuh tanpa disadari.Rumah tetap harus berjalan,dapur tetap menyala,dan hidup tetap minta diraw...
21/12/2025

Siang hari sering terasa penuh tanpa disadari.

Rumah tetap harus berjalan,
dapur tetap menyala,
dan hidup tetap minta dirawat.

Kalau hari ini kamu belum sempat duduk tenang,
semoga nanti ada jeda kecil untukmu.

Pertanyaan ringan:
👉 Siang ini kamu sedang sibuk atau santai?





Hari ini cukup ramai.Banyak suara, banyak sudut pandang.Malam ini aku memilih diam sebentar,bukan karena tidak peduli,ta...
20/12/2025

Hari ini cukup ramai.
Banyak suara, banyak sudut pandang.

Malam ini aku memilih diam sebentar,
bukan karena tidak peduli,
tapi karena setiap manusia punya batas tenaga.

Tidak semua hal harus dijelaskan.
Tidak semua rasa harus diperdebatkan.

Jika hari ini terasa melelahkan,
kamu tidak sendirian.

Pertanyaan:
👉 Malam ini, apa satu hal kecil yang ingin kamu lepaskan agar bisa tidur lebih tenang?







20/12/2025

Menguatkan peran ayah di sekolah adalah langkah yang baik.

Namun, keterlibatan ayah perlu berjalan seiring dengan empati dan perlindungan ruang aman anak—termasuk bagi mereka yang tumbuh tanpa sosok ayah.

Catatan reflektif lengkap tentang hal ini saya tuliskan di postingan sebelumnya di halaman ini.









Tentang Surat Himbauan Kehadiran Ayah dan Ruang Aman Anak(Catatan dari seorang akademisi, ibu, dan anak)Saya mendukung s...
19/12/2025

Tentang Surat Himbauan Kehadiran Ayah dan Ruang Aman Anak

(Catatan dari seorang akademisi, ibu, dan anak)

Saya mendukung surat himbauan keterlibatan ayah dalam pengambilan rapor di sekolah.
Niatnya baik, dan penting.

Namun, sebagai akademisi, ibu, dan anak, saya ingin mengajak kita melihat satu sisi yang sering luput: ruang aman anak.

Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana evaluasi tumbuh kembang anak yang disampaikan di ruang publik justru berujung pada luka, bukan pembelajaran.

⬇️ Tulisan lengkap saya lanjut di bawah ya❤️

Ini adalah catatan dari seorang akademisi, ibu, dan anak berdasarkan pengalaman yang saya lihat sendiri.

Saya menyambut baik surat himbauan keterlibatan ayah dalam pengambilan rapor di sekolah. Niat kebijakan ini menurut saya sangat positif: mendorong kehadiran ayah, memperkuat relasi ayah–anak, serta membantu ayah mengenal proses tumbuh kembang anak secara langsung, bukan hanya melalui laporan pasangan.
Sebagai seorang anak yang tumbuh dalam keluarga dengan ayah yang bekerja keras, saya memahami bagaimana rasanya tumbuh dalam situasi fatherless secara emosional. Ayah saya tidak ke mana-mana; beliau hadir secara fisik dan bertanggung jawab. Namun, kami tidak sepenuhnya terhubung secara emosional. Kami saling mengenal secara fisik, tetapi kedekatan emosional kami tidak terjalin hangat sebagaimana idealnya.
Karena itulah saya justru mendukung langkah yang membuka ruang dialog antara ayah, sekolah, dan anak, agar ayah dapat benar-benar mengenal anak yang ia perjuangkan siang malam untuk dipenuhi kebutuhannya. Jangan sampai seperti pepatah, “tak kenal maka tak sayang.”
Terlebih, perlu ditegaskan bahwa himbauan ini bukan kewajiban, melainkan ajakan baik yang patut diapresiasi.
Namun, sebagai seorang ibu dan akademisi, saya juga merasa penting untuk mengingatkan satu hal: kebijakan yang baik perlu disertai kepekaan dalam implementasinya, agar tidak melukai anak, terutama mereka yang tidak memiliki sosok ayah dalam hidupnya karena berbagai sebab. Hari rapor seharusnya tetap menjadi hari yang aman dan membahagiakan bagi setiap anak.
Saya ingin menambahkan satu catatan berdasarkan pengalaman yang pernah saya saksikan secara langsung.
Dalam konteks pengambilan rapor oleh ayah, saya pernah menyaksikan bagaimana koreksi guru yang disampaikan di ruang publik dapat memicu emosi ayah. Bukan karena ayah tidak peduli, melainkan karena koreksi tersebut dimaknai sebagai kegagalan dirinya sebagai ayah, terlebih ketika disampaikan di hadapan banyak orang, di mana kita ketahui mayoritas yang hadir pada momen ini seringkali adalah ibu-ibu.
Sebagian ayah, khususnya yang terbiasa memikul beban sebagai pencari nafkah dan jarang terlibat dalam ruang evaluasi pendidikan, tidak selalu memiliki ruang aman untuk mengelola rasa malu dan tekanan emosional tersebut.
Emosi yang tidak selesai di ruang sekolah kemudian dibawa pulang. Dalam pengalaman yang saya saksikan, anak justru menjadi pihak yang menerima dampaknya. Anak diperlakukan keras karena dianggap mempermalukan orang tua. Jika pola ini tidak disadari dan diperbaiki, ia berpotensi meninggalkan trauma pada anak, bahkan menular sebagai pola pengasuhan yang keliru.
Di sisi lain, saya juga berharap bahwa ketika ayah terbiasa hadir di sekolah dan berkumpul dengan sesama ayah, rasa canggung dan malu itu dapat berkurang. Ayah dapat saling belajar, menyadari bahwa setiap anak memiliki proses tumbuh kembangnya masing-masing, dan bahwa setiap ayah menghadapi tantangan yang serupa. Perlakuan yang setara membantu menurunkan beban personal karena tidak ada yang merasa disorot secara khusus.
Meski demikian, penyampaian koreksi tumbuh kembang anak tetap sebaiknya dilakukan di ruang yang privat, aman, dan solutif. Dengan demikian, evaluasi benar-benar menjadi ruang belajar bersama bagi orang tua dan sekolah, bukan sumber tekanan yang berisiko dibawa pulang dan berdampak pada anak. Karena evaluasi sejatinya adalah proses mencari solusi, bukan menimbulkan masalah baru, rasa malu bagi orang tua, atau trauma bagi anak.
Catatan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan ayah maupun sekolah. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk melindungi anak sekaligus mendukung ayah agar dapat menjalankan perannya dengan lebih aman secara emosional.
Menguatkan peran ayah dan menjaga ruang aman anak bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya bisa berjalan bersama, jika pendidikan berangkat dari empati.
Mendukung kehadiran ayah, sambil memastikan setiap anak tetap merasa aman dan dihargai.












Halaman ini pernah menjadi ruang berbagi.Lalu lama diam.Hari ini ia dihidupkan kembali.Bukan sebagai komunitas besar,tap...
19/12/2025

Halaman ini pernah menjadi ruang berbagi.
Lalu lama diam.

Hari ini ia dihidupkan kembali.
Bukan sebagai komunitas besar,
tapi sebagai ruang empati.

Di sini akan ada cerita tentang kemanusiaan,
tentang makhluk hidup yang sering terlewat,
dan tentang bertahan, meski tidak selalu kuat.

Jika kamu sedang lelah,
semoga halaman ini bisa menemani.

Dan jika suatu hari tulisan di sini berarti untukmu,
itu sudah lebih dari cukup.

Pertanyaan:
👉 Apa satu hal kecil yang membuatmu masih bertahan hari ini?

Semangat Sore untuk sahabat Sharing is Caring❤️

Address

Medan

Telephone

+6281396161276

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sharing is Caring posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sharing is Caring:

Share