19/12/2025
Tentang Surat Himbauan Kehadiran Ayah dan Ruang Aman Anak
(Catatan dari seorang akademisi, ibu, dan anak)
Saya mendukung surat himbauan keterlibatan ayah dalam pengambilan rapor di sekolah.
Niatnya baik, dan penting.
Namun, sebagai akademisi, ibu, dan anak, saya ingin mengajak kita melihat satu sisi yang sering luput: ruang aman anak.
Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana evaluasi tumbuh kembang anak yang disampaikan di ruang publik justru berujung pada luka, bukan pembelajaran.
⬇️ Tulisan lengkap saya lanjut di bawah ya❤️
Ini adalah catatan dari seorang akademisi, ibu, dan anak berdasarkan pengalaman yang saya lihat sendiri.
Saya menyambut baik surat himbauan keterlibatan ayah dalam pengambilan rapor di sekolah. Niat kebijakan ini menurut saya sangat positif: mendorong kehadiran ayah, memperkuat relasi ayah–anak, serta membantu ayah mengenal proses tumbuh kembang anak secara langsung, bukan hanya melalui laporan pasangan.
Sebagai seorang anak yang tumbuh dalam keluarga dengan ayah yang bekerja keras, saya memahami bagaimana rasanya tumbuh dalam situasi fatherless secara emosional. Ayah saya tidak ke mana-mana; beliau hadir secara fisik dan bertanggung jawab. Namun, kami tidak sepenuhnya terhubung secara emosional. Kami saling mengenal secara fisik, tetapi kedekatan emosional kami tidak terjalin hangat sebagaimana idealnya.
Karena itulah saya justru mendukung langkah yang membuka ruang dialog antara ayah, sekolah, dan anak, agar ayah dapat benar-benar mengenal anak yang ia perjuangkan siang malam untuk dipenuhi kebutuhannya. Jangan sampai seperti pepatah, “tak kenal maka tak sayang.”
Terlebih, perlu ditegaskan bahwa himbauan ini bukan kewajiban, melainkan ajakan baik yang patut diapresiasi.
Namun, sebagai seorang ibu dan akademisi, saya juga merasa penting untuk mengingatkan satu hal: kebijakan yang baik perlu disertai kepekaan dalam implementasinya, agar tidak melukai anak, terutama mereka yang tidak memiliki sosok ayah dalam hidupnya karena berbagai sebab. Hari rapor seharusnya tetap menjadi hari yang aman dan membahagiakan bagi setiap anak.
Saya ingin menambahkan satu catatan berdasarkan pengalaman yang pernah saya saksikan secara langsung.
Dalam konteks pengambilan rapor oleh ayah, saya pernah menyaksikan bagaimana koreksi guru yang disampaikan di ruang publik dapat memicu emosi ayah. Bukan karena ayah tidak peduli, melainkan karena koreksi tersebut dimaknai sebagai kegagalan dirinya sebagai ayah, terlebih ketika disampaikan di hadapan banyak orang, di mana kita ketahui mayoritas yang hadir pada momen ini seringkali adalah ibu-ibu.
Sebagian ayah, khususnya yang terbiasa memikul beban sebagai pencari nafkah dan jarang terlibat dalam ruang evaluasi pendidikan, tidak selalu memiliki ruang aman untuk mengelola rasa malu dan tekanan emosional tersebut.
Emosi yang tidak selesai di ruang sekolah kemudian dibawa pulang. Dalam pengalaman yang saya saksikan, anak justru menjadi pihak yang menerima dampaknya. Anak diperlakukan keras karena dianggap mempermalukan orang tua. Jika pola ini tidak disadari dan diperbaiki, ia berpotensi meninggalkan trauma pada anak, bahkan menular sebagai pola pengasuhan yang keliru.
Di sisi lain, saya juga berharap bahwa ketika ayah terbiasa hadir di sekolah dan berkumpul dengan sesama ayah, rasa canggung dan malu itu dapat berkurang. Ayah dapat saling belajar, menyadari bahwa setiap anak memiliki proses tumbuh kembangnya masing-masing, dan bahwa setiap ayah menghadapi tantangan yang serupa. Perlakuan yang setara membantu menurunkan beban personal karena tidak ada yang merasa disorot secara khusus.
Meski demikian, penyampaian koreksi tumbuh kembang anak tetap sebaiknya dilakukan di ruang yang privat, aman, dan solutif. Dengan demikian, evaluasi benar-benar menjadi ruang belajar bersama bagi orang tua dan sekolah, bukan sumber tekanan yang berisiko dibawa pulang dan berdampak pada anak. Karena evaluasi sejatinya adalah proses mencari solusi, bukan menimbulkan masalah baru, rasa malu bagi orang tua, atau trauma bagi anak.
Catatan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan ayah maupun sekolah. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk melindungi anak sekaligus mendukung ayah agar dapat menjalankan perannya dengan lebih aman secara emosional.
Menguatkan peran ayah dan menjaga ruang aman anak bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya bisa berjalan bersama, jika pendidikan berangkat dari empati.
Mendukung kehadiran ayah, sambil memastikan setiap anak tetap merasa aman dan dihargai.