16/09/2026
Perjalanan Aris Sanda sebagai sopir di Papua berakhir dengan tragis.
Pria yang dikenal telah melayani perjalanan publik sejak 2013 itu dilaporkan menjadi korban penembakan oleh kelompok bersenjata di jalur Trans Wamena-Nduga, Papua Pegunungan.
Sebelum wafat, Aris diduga disandera terlebih dahulu. Dia dipaksa untuk membuat video sambil mengibarkan bendera bergambar bintang kejora dan menyampaikan pernyataan dukungan untuk kemerdekaan Papua.
Saat itu, Aris sedang membawa penumpang dari Wamena menuju Mbua. Kelompok bersenjata menghadang kendaraan yang dikemudikannya dan memerintahkan semua penumpang untuk turun.
Beberapa penumpang kemudian dibebaskan, tetapi Aris tetap ditahan. Kendaraan yang digunakannya juga dilaporkan dibakar di lokasi.
Video penyanderaan Aris menyebar di media sosial. Dalam rekaman berdurasi sekitar 1 menit 48 detik, Aris terlihat berdiri bersama beberapa orang bersenjata. Dia mengenakan jaket hitam dan celana pendek. Salah satu bagian video menunjukkan Aris mengangkat bendera bergambar bintang kejora.
Suasana semakin tegang karena beberapa orang di sekitarnya tampak membawa senjata api dan parang. Bahkan, dalam rekaman tersebut terlihat ada senjata yang diarahkan ke kepala Aris.
Di bawah ancaman, Aris diminta menyampaikan dukungannya terhadap kemerdekaan Papua. Dia juga mengatakan bahwa dirinya telah bekerja sebagai sopir di Papua sejak 2013.
“Saya sebagai pendatang, sopir dari dulu sudah melayani dari 2013 sampai sekarang sampai 2026 saya masih jalan di sini karena saya percaya Papua itu bisa merdeka.”
Meskipun beberapa penumpang dilepaskan, Aris tetap ditahan, dan kendaraannya dilaporkan dibakar di lokasi kejadian.